Rush: Bukan Sekedar Film Balapan

Beberapa waktu lalu di dunia maya terjadi pembicaraan yg cukup ramai mengenai film “Rush”. Saya cukup penasaran juga saat itu, tapi baru kemarin saya menonton filmnya.
Saya tidak akan membahas tentang aktor-aktornya ataupun sutradaranya. Saya lebih tertarik membahas cerita dan makna yg saya dapat di film ini.

Film Rush diangkat dari kisah nyata persaingan antara 2 pebalap F1 terbaik pada masanya, Niki Lauda dan James Hunt.
Mengambil latar peristiwa tahun 1975-76, film ini menampilkan gambar yg menurut saya cukup realistis.

Kisah diawali dg kalahnya Niki Lauda oleh James Hunt di ajang pra-F1. Lauda kesal karena Hunt membalap dg mengabaikan keselamatan dan hanya mementingkan kemenangan semata. Dari situlah persaingan dimulai.

James Hunt akhirnya terpilih sbg pembalap muda terbaik saat itu. Lauda tak tinggal diam, ia meninggalkan keluarganya dan mempertaruhkan semua yg dimilikinya demi bisa bergabung ke tim BRM, tim yg berkompetisi di ajang balap mobil terpopuler di dunia F1. Di sini saya sedikit heran, bisa-bisanya pebalap muda yg belum punya nama dg mudah berkompetisi di F1 hanya dg membayar sejumlah uang. Saya tidak yakin hal ini bisa dilakukan di masa kini.

Berita tentang keberhasilan Lauda menembus F1 sampai di telinga Hunt. Namun sayangnya meskipun Ia adalah pebalap muda terbaik tahun itu, tidak ada satupun tim F1 yg mau mengontraknya.

Saya bisa merasakan kekecewaan Hunt. Sangat menyakitkan saat menerima kenyataan kalau ternyata prestasi kita tak lebih berharga daripada sejumlah uang.
Tapi Hunt tak menyerah, dg dana seadanya Ia berhasil membentuk tim sendiri tanpa sponsor bernama Hesketh.

Sementara itu di BRM, Lauda setim dg pebalap senior Clay Regazzoni. Meskipun kalah pengalaman dari rekan setimnya itu, Lauda lebih ahli dalam meningkatkan performa mobilnya. Hal ini membuat Regazzoni kagum dan membawanya turut serta saat ia pindah ke Ferrari.

Berada di tim sekelas Ferrari membuat Lauda di atas angin. Skill membalapnya yg luar biasa ditambah kemampuannya mengoptimalkan kecepatan mobilnya membuat ia dg mudah merebut gelar juara dunia tahun 1975.

Sementara Hunt tidak mampu berbuat banyak dg mobilnya yg paspasan. Meskipun demikian dialah satu-satunya pebalap yg mampu setidaknya mengimbangi Lauda di beberapa balapan.

Di akhir musim, Hunt harus menerima kenyataan kalau timnya bangkrut. Diapun terancam tak bisa membalap di musim selanjutnya karena tak punya tim.
Pada momen ini saya kembali merasakan kepedihan dan rasa frustasi Hunt.

Situasi sedikit membaik saat tim saingan ferrari, McLaren mengumumkan kalau ada satu pebalapnya yg mengundurkan diri. Hunt dg cepat mengajukan diri untuk menjadi pebalap pengganti.
Setelah bersusah payah meyakinkan sang pemilik tim dan berjanji akan mengalahkan Ferrari dan Lauda, Hunt akhirnya berhasil mendapatkan keinginannya.

Di musim 1976 bersama McLaren yg notabene memiliki mobil yg setara dg Ferrari, situasi lebih seimbang.
Tetapi tetap saja Hunt kesulitan mengimbangi Lauda yg sangat sempurna dan konsisten.
Ia bahkan harus rela kemenangannya di satu balapan dibatalkan karena ukuran mobilnya tidak memenuhi standar. Padahal kelebihannya hanya dalam hitungan centimeter saja.

Lauda tampak akan kembali merebut juara dunia hingga terjadi sebuah tragedi mengerikan di Grand Prix Jerman. Di sirkuit Nurenburing yg terkenal maut Lauda mengalami kecelakaan hebat yg hampir merenggut nyawanya. James Hunt bisa dibilang secara tidak langsung turut bertanggung jawab atas insiden ini.

Sebelum balapan dimulai, Lauda sebenarnya menolak untuk melanjutkan balapan karena kondisi lintasan yg amat basah akibat hujan deras. Namun Hunt yg sangat berambisi mengejar perolehan poin Lauda bersikeras agar balapan tetap dilanjutkan.

Akibat insiden ini, Lauda menderita luka bakar yg amat parah. Bahkan organ dalamnya seperti paru-parupun juga terbakar. Ia mau tidak mau harus absen balapan.
Situasi ini tentu saja menguntungkan James Hunt yg seolah tanpa saingan. Perlahan-lahan perolehan poinnya mulai mendekati poin Lauda.
Sementara Lauda hanya bisa menonton jalannya balapan dari rumah sakit.

Ada sebuah adegan yg sangat mengganggu bagi saya. Saat dokter mengeluarkan cairan dari paru-paru Lauda. Digambarkan dg jelas betapa menyakitkannya proses ini. Sebuah selang logam sepanjang sekitar setengah meter dimasukkan ke dlm paru2 Lauda melalui mulut dlm keadaan sadar! Lauda yg berniat segera terjun kembali ke lintasan seolah tak menghiraukan rasa sakit yg luar biasa. Apalagi ia mendengar tentang kemenangan demi kemenangan yg diraih Hunt.

Dan secara mengejutkan, satu bulan setelah kecelakaan, Lauda kembali membalap. Dengan gagah berani Ia menggeber mobilnya meski kepalanya penuh dg perban dan luka bakarnya belum kering.
Ia berhasil menempati posisi 4 pada balapan dan mempertahankan diri di puncak klasemen meski hanya unggul 3 poin dari Hunt.

Akhirnya sampailah pada seri terakhir F1 musim itu, seri penentuan.
Pada hari balapan, hujan kembali turun dg derasnya. Lagi2 trauma kecelakaan membayangi para pembalap. Namun demi gelar juara, Lauda dan Hunt berani mengambil risiko terburuk.

Balapan pun tetap dilaksanakan. Di sini para penonton diajak untuk merasakan situasi balapan saat hujan deras. Saya baru sadar kalau lintasan yg tergenang air sangat berbahaya bg pembalap. Pembalap benar2 tidak bisa melihat bentuk sirkuit krn cipratan air yg menghalangi pandangan. Dalam kondisi spt ini seorang pembalap hanya bisa mengandalkan feelingnya saja.

Setelah 2 putaran, secara mengejutkan Lauda kembali ke Pit dan menghentikan balapan. Dg kondisinya yg kurang fit dan kondisi lintasan yg tidak memadai, sangat mungkin dia kembali mengalami kecelakaan. Jika sebelumnya ia begitu bernafsu untuk menjadi juara, kali ini dia lebih bijaksana dan memahami perasaan istrinya yg begitu khawatir terhadapnya.

Namun, mundurnya Lauda tak membuat Hunt dg mudah merebut gelar juara dunia. Minimal ia harus merebut posisi 3 untuk menyalip perolehan poin Lauda. Bukan pekerjaan yg gampang jika melihat kondisi trek.

Para anggota timnya pun memperingatkannya untuk tidak terlalu bernafsu menggeber mobilnya. Namun Hunt tak menggubrisnya. Diwarnai dg tergelincirnya mobil2 di depannya, Hunt berhasil mengungguli beberapa pembalap dan menempati posisi 3 saat finish. Gelar juara pun diraihnya secara dramatis.

Itulah satu-satunya gelar yg diraih James Hunt, sedangkan Lauda memiliki 3 gelar sepanjang karirnya. Namun bagi Hunt, satu gelar sudah cukup untuk membuktikan kalau kemampuannya tak kalah dg Lauda.

Di adegan terakhir film Rush, Niki Lauda mengatakan bahwa James Hunt adalah tipe orang membalap demi mengejar kebahagiaan. Sementara Lauda sendiri adl tipe orang yg gila akan prestasi.
Namun terlepas dr rivalitas yg begitu panas antara mereka berdua, tak ada rasa benci dan dendam yg timbul. Sebuah rivalitas klasik yg patut diteladani di masa kini.

Film ini adl film yg akan disukai oleh semua kalangan, baik penggila balap maupun bukan.
Karena film ini bukan hanya bercerita soal balapan, bukan hanya soal kemenangan dan gelar juara.
Lebih dari itu film ini akan mengajarkan kita arti perjuangan hidup yg sesungguhnya dan harga yg harus dibayar untuk menjadi seorang juara sejati.

 

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!