Nonton Bola di TV di GBK Biar Greget

Sudah lama aku ingin memposting di blogku ini, tapi akhirnya baru bisa terwujud sekarang.

Sekitar bulan Juni 2013 (aku lupa persisnya tanggal berapa), aku dan beberapa temanku berencana untuk menonton pertandingan persahabatan antara Indonesia vs Belanda di stadion Gelora Bung Karno.

Sebulan sebelumnya, kami sudah mendapatkan tiket. Semua itu berkat jasa dari salah seorang teman kami yg asli Jakarta. Dia dikenal sebagai seorang “calo” ulung. Sebut saja namanya S. Butuh tiket apa saja, ngomong saja ke dia pasti dapat. Yang paling sering kami pesan ke dia adalah tiket kereta api saat pulang kampung.

Nah..waktu itu Si S menawari kami tiket Indonesia vs Belanda dg harga murah, kelas tribun atas.Aku tentu saja langsung pesan. Selain karena ingin menyaksikan kehebatan timnas Indonesia dan Belanda secara langsung, aku juga ingin melihat kemegahan stadion GBK.

Di hari H, kami berangkat dengan motor dari kos-kosan kami di Kalideres ke Senayan.
Aku membonceng salah seorang temanku, sebut saja AH.

Meski kami sudah berangkat ke Senayan, namun tiket pertandingan masih dibawa oleh S. Rencananya kami akan ketemuan di GBK dan masuk bersama-sama.

Perjalanan ke GBK sangat jauh dan macet pula. Awalnya kami berangkat bersama-sama, termasuk si S.

Lama kelamaan, aku dan AH tertinggal cukup jauh dari teman lainnya. Dan kami…tidak tahu jalan. Alhasil kami mulai sering berhenti untuk bertanya pada orang sekitar.
AH terlihat frustasi krn semua orang yg kami tanyai tampaknya memberikan petunjuk jalan yg salah.

Sementara kami sibuk mencari jalan, teman-teman sudah sampai, tinggal kami berdua. Kami coba tanya mereka soal jalan, tp susah krn kami bahkan tidak melewati jalan yg sama dg mereka.

Untungnya kami bertemu dg sekelompok pemuda yg naik motor sambil mengibarkan merah putih. Pastinya mereka mau ke GBK. Kami mengikuti mereka dan akhirnya sampai juga.

Kami sampai di GBK pukul 19.50 sementara kickoff pertandingan pukul 20.30.
Masih ada banyak waktu memang, tapi kami masih harus mencari teman2 kami di tempat seluas ini.

“Mar, kamu di sini dlu…aku mau lihat dulu ke sana..siapa tau ketemu seseorang”, kata AH kepadaku.

“OK, aku juga mau beli minum dulu.”

Jadilah aku dan AH berpisah.

Yang terjadi berikutnya adl sebuah pengalaman terkonyol dlm hidupku.

Setelah membeli minuman, aku masuk ke kompleks stadion. Berharap menemukan AH dan teman2 dg gampang, aku terkejut.

Beribu-ribu orang berjalan di kompleks stadion. Aku mencoba sekuat tenaga menemukan mereka tapi nihil. Mustahil. Mereka bisa saja berada di sisi lain stadion.

Aku mengeluarkan HP, mau menghubungi mereka, tp ya ampun! Aku baru ingat…pulsaku kemarin sudah habis aku belikan paket internet. Gila…aku mulai mencari counter pulsa. Akhirnya aku dapat, tapi 10 menit lagi pertandingan dimulai.
Lalu aku coba menghubungi mereka. Susah sekali! Mungkin krn banyaknya aktivitas panggilan di situ saat itu.

Sementara aku terus mencoba, terdengar sorakan riuh dari dalam stadion, diikuti dg suara musik yg biasa terdengar saat para pemain masuk dan lalu lagu kebangsaan.
Aku langsung lemas.

Kucoba untuk memutari seluruh kompleks stadion yg luas itu, berharap menemukan teman-temanku tapi nihil. Yg kutemukan justru calo tiket yg entah kenapa banyak sekali. Aku heran..pertandingan sudah dimulai, tapi mereka masih saja menawarkan tiket.
Dan akhirnya hpku bergetar, ada pesan dari temanku, “sorry ya aku udh masuk…terpaksa kamu kami tinggal…sorry banget”

Ah…aku langsung sadar kalo malam itu aku tidak akan pernah masuk ke dalam stadion.
Aku melihat pintu masuk telah ditutup.
Sementara di luar stadion masih banyak orang2. Ternyata mereka memang sengaja datang, tapi tidak untuk masuk stadion. Kayaknya cuma mau cari keramaian.
Dan aku lihat di salah satu sisi luar stadion banyak orang berkumpul. Aku penasaran, aku dekati mereka.

Ternyata mereka sedang melihat ke dalam stadion. Ternyata itu merupakan semacam pintu gerbang bagi mobil polisi atau mungkin ambulan untuk masuk ke stadion.
Memang dari situ aku bisa melihat bagian dalam stadion. Aku bisa melihat hijaunya rumput lapangan. Tapi aku sama sekali tidak bisa melihat pemain, bola, atau gawang.

Entah apa yg ada di pinggiran orang-orang itu. Yang jelas saat aku pergi dr situ mereka masih mengamati bagian dalam stadion itu seakan-akan mereka bisa menikmati pertandingan.

Gila….,! pikirku.

Aku lalu melihat ada warung kopi di kompleks stadion. Di situ ada lumayan banyak orang dan mereka semuanya menatap layar televisi, menonton pertandingan yg sedang berlangsung di dalam.

Aku mendekat dan lalu memesan segelas kopi. Aku ikut menyaksikan pertandingan itu.
Aneh sekali rasanya menonton pertandingan sepakbola di tv sementara stadion tempat berlangsungnya pertandingan berada tepat di depan mataku.

Di sela-sela menonton, terdengar sorakan dari dalam stadion. Aku heran, karena aku melihat di TV tidak terjadi kejadian apapun.
Dan ternyata beberapa detik kemudian terjadi gol.

Aku baru sadar kalau sorakan tadi adl sorakan krn gol itu. Apa yg terjadi di TV tampaknya terlambat 2 sampai 3 detik dari stadion.
Jadi saat aku melihat tv, aku bisa tahu sebuah tendangan menjadi gol atau tidak. Cukup dengarkan sorakan dari dalam stadion. Kalau sorakannya panjang itu pasti gol. Kalau pendek itu berarti tendangannya melenceng atau ditepis kiper.

Tapi aku sempat mendengar sorakan pendek. Aku pikir itu sebuah tendangan yg melenceng, ternyata itu adalah suara ketawa penonton saat kiper tim Indonesia terpeleset ketika menendang hehehe.
Ketawanya kok bisa kompak kayak gitu ya?

Sampai pertandingan berakhir aku duduk saja di warung itu. Bergembira bersama dengan para tukang ojek dan para pedagang yg tidak punya tiket masuk stadion. Sesekali kami berteriak, kadang kami diam saja karena tegang. Rasanya tidak seperti sedang menonton tv 14 inchi. Ini lebih mirip acara nonton bareng di kafe. Bahkan lebih nyaman daripada saat aku nonton bareng di sebuah mall.

Sungguh sebuah pengalaman yg menarik. Saat pertandingan usai aku langsung membayar kopiku lalu segera pergi ke tempat parkir. Aku harus cepat karena para suporter sudah mulai keluar dr stadion.

Sesampai di parkiran aku benar2 lupa tempat parkir motor temanku. Waduh…kukeluarkan hpku, tapi…
Ya Tuhan…baterai hpku habis.
Benar2 tidak tepat waktu!

Kini aku hanya tinggal mengandalkan ingatanku saja.
Lalu aku baru sadar…bukan di sini tempatnya. Tadi saat berangkat, setelah dari parkiran aku menyebrang jalan. Jadi aku harus temukan jalan itu dulu.
Nah…itu dia, aku menyeberang jalan dan memang di seberang jalan itulah tempat parkirnya.

Di pinggir jalan kulihat banyak sekali pedagang. Dan di salah satu gerobak inilah aku lihat temanku, si AH. Postur gendut dan kulit hitamnya sangat kukenali. Dia nampaknya sedang membeli air.

Kupukul punggungnya dengan keras. Dia berbalik , saat melihatku ekspresi wajahnya seperti melihat orang yg baru bangkit dari kubur.
Aku tertawa…entah karena lega, entah karena menertawakan kebodohanku, atau karena melihat ekspresi wajahnya. Mungkin juga perpaduan ketiganya.

Kamipun langsung pulang. Anehnya, AH dg gampang menemukan jalan, semacam jalan pintas menuju kos kami, seolah-olah Ia sudah paham betul lika-liku semua jalan di Jakarta.
Kenapa nggak dari tadi?, pikirku. Kami bahkan sampai kos hanya dalam waktu 20 menit. Kami sampai di kos lebih cepat daripada teman2 kami yg pulang duluan.

Itulah pengalaman yg hampir susah aku lupakan sampai saat ini. Mungkin seumur hidup aku akan ingat.
Sampai saat ini, sampai aku tidak tinggal di Jakarta lagi, aku sama sekali belum pernah memasuki stadion GBK.
Setelah kejadian itu aku memang sempat ke Senayan lagi. Tapi ke Mall bukan ke stadion.

Meski begitu aku tetap masih memendam keinginanku untuk bisa masuk ke dalam stadion Gelora Bung Karno.
Suatu hari nanti aku akan kembali ke Senayan.
Tunggu aku GBK!
(DYF)

PS: Sekarang aku baru mengerti kenapa dulu suporter Indonesia menyebut GBK adl stadion yg “angker”. Aku sudah merasakannya sendiri hihi.

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

0 replies to Nonton Bola di TV di GBK Biar Greget

  1. Pingback:

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!