Kisah Sepasang Sepatu

Pengalaman ini saya dapat sewaktu di Jakarta. Salah satu pengalaman yang membuat saya malu, selain tragedi GBK tentunya.
Sampai saat ini tidak ada seorangpun yang tahu kisah ini, kecuali saya sendiri.

Ok, sekitar setahun lalu( saya lupa tanggalnya ) saya pergi dari tempat kos saya di daerah Jakarta Barat menuju Blok M.
Tujuan saya waktu itu ada 2, membeli sepatu baru & membeli buku-buku bacaan.
Saya berangkat sekitar pukul 3 sore sendirian. Saya memang cukup sering jalan sendiri seperti itu.

Lalu kenapa harus ke Blok M?

Ada beberapa alasan yang membuat saya memutuskan untuk berbelanja di sana.
Pertama, soal sepatu. Saya adalah tipe orang yang lebih mengutamakan harga daripada kualitas. Itu berlaku juga untuk sepatu. Tidak heran kalau dalam 1 tahun ini, saya sudah ganti sepatu sebanyak 4 kali.

Nah, di blok M saya sering melihat ada banyak lapak penjual sepatu. Sebelumnya saya memang belum pernah membeli sepatu di sana namun setidaknya saya pernah melihat harga yang tertulis besar di lapak-lapak itu, Rp 30.000,00!
Jadi, sudah jelas kan kenapa saat saya butuh sepatu baru, tempat pertama yang terlintas dalam pikiran saya adalah Blok M?

Itu alasan yang pertama.

Alasan kedua adalah di Blok M ada banyak sekali lapak buku bajakan. Bukan DVD ya…tapi buku. Di sana hanya ada 3 jenis buku, buku bekas, buku bajakan, dan buku asli tapi cacat. Cacat di sini dalam artian dari luar buku ini tampak bagus, namun setelah membacanya barulah kita sadar kalau ada sesuatu yang kurang yaitu halaman. Dan yang hilang bukan hanya 1 atau 2 halaman tetapi 10 atau 20!

Maka dari itu saya lebih memilih membeli buku bajakan. Meskipun kertasnya buram karena hasil fotokopian, tetapi halamannya lengkap dan yang terpenting harganya….jauh dari harga buku aslinya. Jika buku aslinya berharga 80.000 maka yang bajakan paling-paling cuma 25.000. Sebagai pecinta buku sejati, tentu saya selalu tertarik berburu buku di Blok M.

Nah, berbekal alasan itulah saya dengan mantap pergi ke blok M.

Cukup lama juga perjalanannya, karena saat saya sampai di sana hari sudah mulai gelap. Sayapun langsung menuju lapak sepatu yang terletak tidak jauh dari tempat pemberhentian bus yang saya naiki.

Mulailah saya melihat-lihat sepatu. Si penjual yang kelihatannya masih muda ini (25 tahun-an) menyambut saya dengan ramah. Sayapun melihat sepasang sepatu dan mencobanya. Ternyata nggak pas, kekecilan. Tanpa disuruh si penjual itupun langsung pergi ke lapak sebelahnya dan mencarikan sepatu yang pas di kaki saya.

Begitu kembali, dia membawa sepasang sepatu yang agak besar, lalu menyuruh saya mencobanya. Memang pas, tetapi saya berubah pikiran. Saya sedikit tidak enak juga kepada si penjual, karena itu saya ngomong gini:

“Entar aja ya Bang, saya mau ke mall dulu.”

“Lho kenapa? kan sudah saya carikan yang pas.”
Tampangnya kelihatan sedikit gusar, tetapi saya coba ngeles lagi,

“Iya Bang, sepatunya sih cocok, tapi saya mau cari yang warna hitam. Nggak ada kan?”

Saya langsung sadar saya salah ngomong begitu penjual itu pergi ke lapak sebelah dan kembali dengan membawa sepatu hitam.
Dia langsung menyuruh saya mencobanya.

“Gimana, mau yang itu?”, katanya.

“Emang ini hitam, tapi modelnya beda sama yang tadi Bang. Udah ya…saya mau ke dalam dulu”

“Eh..jangan pergi gitu aja dong Mas!”

“Saya mau masuk ke dalam dulu, mau cari buku, nanti saya ke sini lagi.”

“Jangan gitu dong, Mas kan udah liat-liat, harus beli dong. Hargai kita dong, kita juga dagang”

“Tapi mas saya mau masuk dulu.”

“Enggak bisa, pokoknya mas harus beli dulu, saya udah capek-capek nyariin tadi..hargain saya dong!”

Saat itu, saya sadar saya terjebak. Si penjual tampak marah dan yang lebih seremnya lagi teman-temannya yang jualan di lapak sebelah tampak menatap saya dengan pandangan yang sama. Saya juga baru sadar kalau dari tadi tidak ada satupun pembeli kecuali saya!

Kalau saya nekat lari, saya bisa bayangkan apa yang terjadi. Mereka tidak mungkin melepaskan saya begitu saja. Oh…saya benar-benar menyesal tadi pergi sendirian. Setidaknya saya nggak mungkin kelihatan selemah dan sebodoh ini.

Si penjual tampaknya tahu persis posisi saya,

“Nih, saya udah bungkusin sepatu yang tadi,” katanya.

“Ya udah berapa?”

Saya akhirnya menyerah daripada keselamatan saya terancam. Setelah membayar sepatu seharga 50.000 itu saya buru-buru pergi dari tempat terkutuk itu.
Masih terngiang sampai saat ini kata-kata terakhir yang diucapkan penjual itu,

“Makasih mas! Sering-sering dateng ke sini ya!

“Nggak akan pernah!!!”, jawabku dalam hati.

Kejadian itu membuat saya tidak fokus dan satu-satunya hal yang saya pikirkan saat itu hanyalah segera beli buku lalu pulang secepatnya.

Sudah larut malam ketika saya pulang. Saya pulang naik bus transjakarta. Seperti biasa, busnya selalu penuh, tapi saya beruntung bisa duduk di kursi belakang.

“Mau ke mana mas?”, kata orang di sebelah saya.

“Kalideres Pak” , jawabku.

Saya sebenarnya lagi nggak mood untuk ngobrol, tapi entah kenapa orang ini berhasil mengajak saya bicara panjang lebar.
Ia bercerita kalau dia adalah seorang buruh bangunan yang kerjanya pindah-pindah. Katanya dia mau pulang ke kampungnya di Banten.

“O..jadi Bapak pernah kerja di Blok M juga ya?”

“Iya mas, tapi nggak enak di sana. Masih lebih nyaman di tempat saya sekarang. Lagian saya juga pernah mengalami kejadian nggak enak di sana?”

“Kejadian apa Pak?”

“Iya waktu itu saya mau beli sepatu di lapak di luar mall itu. Saya nggak jadi beli, eh yang jualan marah marah. Saya dan teman saya sampai dikejar-kejar sama si penjualnya. Pokoknya saran saya kamu kalau mau beli sepatu jangan di situ deh, mending ke mall nya aja sekalian. Lebih aman. Saya mah sudah kapok.”

“Iya pak”, jawabku meskipun dalam hati berteriak, ” telat pak…saya sudah menjadi korban.”

Saya sampai di rumah malam sekali, tapi untungnya saat itu adalah malam minggu.
Begitu saya datang, teman-teman kos langsung menyambut saya dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Eh, kamu beli sepatu ya di Blok M, mana sini aku lihat?”

“Enggak kok saya cuma beli buku nih”

Saya menyimpan rapat bungkusan sepatu itu. Saya menaruhnya di lemari dan tidak pernah membukanya. Bahkan sampai kini, saat saya sudah pulang ke kampung teman-teman saya tidak pernah tahu tentang keberadaan sepatu itu. Sampai saat ini juga saya belum pernah memakai sepatu itu. Mungkin karena saya trauma.

Sepatu itu akan selalu mengingatkan saya tentang sebuah peristiwa yang membuat saya merasa menjadi orang paling bodoh sedunia.

 

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!