Akhir dari Kesombongan Man. United


“Jika kita memecat manajer hanya karena 1 musim yang buruk, kita menjadi CHELSEA

Jika kita membeli pemain-pemain mahal untuk meraih prestasi, kita menjadi CITY

Jika kita mengungkit kejayaan masa lalu untuk menghibur diri, kita menjadi LIVERPOOL

Dan

Jika kita mempertahankan manajer tanpa trofi selama beberapa tahun, kita menjadi ARSENAL.

Jadi, lakukan saja apa yang harus kita lakukan,
dengan gaya UNITED.”

 

Entah siapa yang menciptakan gambar yang berisi kata-kata keren di atas, yang jelas orang itu pasti tidak akan pernah membayangkan kondisi Manchester United saat ini.

Sudah bukan rahasia lagi kalau MU adalah klub yang terkenal dengan kesombongannya. Kalau anda pernah bertemu dengan fans Man. United (biasanya sering karena jumlah mereka banyak) anda pasti tahu persis apa yang saya maksud.

Kata-kata yang paling sering mereka ucapkan adalah, “Not arrogant, just better” (Nggak sombong, kami cuma lebih baik saja).
Kalimat itu hampir selalu terdengar, apalagi kalau tim kebanggan mereka itu berhasil menang dengan cara-cara “tidak biasa” yang membuat iri fans klub lain.

Itulah alasan kenapa Fans Man. United banyak dibenci oleh fans-fans klub lain.
Fans Arsenal tentu tak akan lupa dengan olok-olok Fans MU soal puasa gelar sejak 2004.

“Hey, tahukah kalian? Fans Arsenal tidak pernah membahas tentang gelar juara di twitter. Terakhir kali mereka juara, twitter belum ada”.

Atau tentang prestasi Arsenal yang selalu berada di 4 besar selama bertahun-tahun.

“Peringkat 4 adalah puncak klasemen bagi Arsenal, mereka merayakannya seolah-olah mendapatkan trofi juara”

Tak perlu saya tulis juga bagaimana mereka mengolok-olok tim-tim lain seperti Liverpool, Manchester City, ataupun Chelsea.
Maka dari itu tak diragukan lagi banyak orang yang bergembira akhir-akhir ini.

Setelah bertahun-tahun berdiam diri menyaksikan timnya dipecundangi, mereka kini tertawa terbahak-bahak menyaksikan kehancuran si Sombong United.
Ada perasaan puas melihat Si Setan Merah akhirnya kena batunya.
Seperti perasaan seorang anak yang membungkam para pembully-nya, begitulah mungkin yang dirasakan para fans-fans tim rival United.

Puncaknya adalah ketika beberapa hari yang lalu Manchester United memecat David Moyes, manajer yang hanya sempat 10 bulan memimpin United.
Kabar yang mengejutkan mengingat United tidak punya sejarah memecat manajer dan fakta bahwa para Fans MU amat gembira mendengar berita ini membuatnya semakin aneh.

Coba baca kembali kata-kata fans United yang saya tulis di awal tulisan ini. Kali ini kata-kata itu tidak tampak keren lagi, bahkan cenderung menggelikan.

Mereka sudah memecat manajer mereka, mereka sudah menghabiskan banyak uang musim ini untuk meningkatkan prestasi meski gagal, dan mereka kini menghibur diri dengan mengingat kejayaan masa lalu.

Jadi, kemana perginya UNITED WAY?

Menutup tulisan ini, saya ingin mengutip sebuah twit yang cukup menarik dari salah seorang fans Liverpool.

“Do you know what’s worse than
celebrating 4th place like a trophy?
Celebrating your manager getting
sacked, like a trophy”

(Tahukah anda apa yang lebih buruk dari pada merayakan peringkat 4 seperti juara? Merayakan pemecatan manajer kalian seperti juara.)

Poor Man.Utd!

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!