Hari Ini Setahun yang Lalu

Hari ini setahun yang lalu.

Aku masih ingat dengan jelas peristiwa itu.

Ingatan itu memang begitu membekas di pikiranku dan mengambil tempat khusus di dalam memori otakku.
Sekuat apapun aku mencoba membersihkannya, ingatan itu selalu masih ada di sana, tak terjangkau…tak tersentuh.

Akhirnya kuputuskan untuk menuliskannya…berharap agar ia juga ikut keluar dari pikiranku seiring dengan kata demi kata yang kutulis.

Kalideres, 15 Juni 2013

Aku menjalani aktivitas seperti biasanya….sebenarnya ini diluar kebiasaan karena harusnya kami sudah menjalani libur akhir semester, ya kami…aku dan kawan-kawan seangkatanku sekaligus kawan-kawan serumahku yang bisa dihitung dengan jari telapak tangan saja.

Hari itu kami menjalani ‘lembur wajib’ untuk membayar hutang-hutang kami. Ya…sebagai anak-anak penerima beasiswa dari sebuah perusahaan kami memang tidak pernah mengeluarkan uang sepeser pun untuk biaya pendidikan. Bahkan jika kami punya ‘hutang’ karena merusakkan barang-barang milik perusahaan, kami membayarnya bukan dengan uang melainkan dengan sesuatu yang lebih berharga dari itu….waktu.

Aku masih ingat hari itu aku amat bersemangat…tapi semangatku dengan cepat mengendur.
Hari itu tidak banyak pekerjaan yang bisa kulakukan. Alih-alih mengerjakan benda yang sudah pasti bentuknya dan jelas proses pengerjaaannya, aku malah diberi perintah untuk memperbaiki kursi-kursi yang ada di kelas. Ini adalah tipikal pekerjaan yang amat tidak kusukai.

Tetapi aku bukanlah tipe orang yang terbuka menunjukkan ketidaksukaanku. Jadi aku kerjakan saja pekerjaan itu.

Cukup aneh…setelah beberapa lama aku justru menikmati pekerjaan ini. Waktu jadi terasa cepat…aku hampir menyelesaikan pekerjaanku saat tiba-tiba salah seorang instrukur ( baca: dosen) yang berbadan gemuk dan (maaf) berambut botak menemuiku dan menyuruhku untuk pergi ke ruang instruktur.

Aku cukup kaget juga, tadinya aku ingin menyelesaikan pekerjaanku yang tinggal sedikit itu terlebih dahulu, tapi Beliau memintaku untuk segera menuju ke ruangan karena ada pengumuman penting.

Setelah membersihkan diri sejenak, aku menuju ruang instruktur yang letaknya di atas. Aku memastikan lagi pakaianku sudah rapi sebelum memasuki ruangan.
“Tuhan, berikanlah yang terbaik untukku”, batinku dalam hati saat memasuki ruangan yang tidak begitu luas itu.

Sebuah meja kayu besar tampak mendominasi ruangan itu. Saat aku masuk, sudah ada 3 buah kursi yang semuanya diduduki. Satu oleh instruktur gemuk yang tadi memanggilku, di sampingnya duduk manajer (baca: rektor) seorang pria tua dengan wajah oriental, dan terakhir seorang pria bertubuh kecil dan berkacamata, ia juga salah seorang instukturku.

Di ujung meja yang lain, ada sebuah kursi..tempat dimana aku harus duduk sehingga aku persis berhadapan dengan mereka.

“Kamu sudah tahu kenapa kamu dipanggil?”, sang Manager mengawali perbincangan.

“Belum”, jawabku. Pertanyaan retorik…sebuah formalitas yang tidak perlu, pikirku.

“Apakah kamu sudah menduga apa yang akan kami sampaikan?”, sang Manajer kembali melontarkan pertanyaan yang amat retorik.
Tapi dalam hatiku, aku tahu apa yang ia maksud.

“Saya tidak mau menduga-duga pak, saya tidak suka melakukan itu”, jawabku tidak sabar.

“Ok, jadi begini, pertama-tama kami mau mengumumkan nilai ujianmu kemarin..

Si manajer menjelaskan panjang lebar soal nilai-nilaiku. Seperti sudah kuduga, nilaiku amat bagus pada mata pelajaran teori tetapi nilai praktikku sebaliknya.

Sampai tiba saatnya Si Manajer mengucapkan sebuah pernyataan, pernyataan pendek yang merupakan inti dari pertemuan yang amat panjang itu.

“Kamu tidak bisa melanjutkan pendidikanmu lagi di sini. Nilai praktikmu tidak memenuhi syarat untuk naik ke tingkat selanjutnya”

Aku masih ingat bagaimana perasaanku saat itu. Aku tidak bisa mengungkapkannya tapi sampai saat ini aku masih bisa merasakannya. Perasaan tidak berdaya yang amat dalam.

Pikiranku tertuju pada kedua orangtuaku, teman-temanku, gereja, sekolah lamaku….

Aaaaaaaggggghhhh

Bagaimana perasaan kedua orangtuaku saat melihat aku pulang membawa kegagalan?

Bagaimana jadinya bila aku harus meninggalkan teman-teman dan lingkunganku yang selama ini membuatku nyaman??

Apa yang ada di benak orang-orang saat tahu kalau seorang anak yang menjadi lulusan terbaik dari jurusan pemesinan di sekolahnya gagal dalam ujian, padahal materi yang diujikan adalah materi-materi tentang pemesinan??

Bukankah itu sama dengan burung yang gagal terbang, ikan yang tak pandai berenang dan singa yang takut berpetualang???

Dan pertanyaan yang paling menyiksa adalah

Bagaimana masa depanku selanjutnya? Apakah masih secerah dulu? Apakah benar-benar akan seindah yang diprediksi banyak orang???

Aku meninggalkan ruangan itu dengan banyak pertanyaan yang sulit kujawab.

Di bawah, kawan-kawanku nampak menungguku dengan cemas. Aku mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan tegar.
Sejujurnya aku tidak tahu harus berpura-pura tegar atau menunjukkan perasaanku yang sebenarnya.
Satu-satunya keinginanku saat itu adalah segera pulang, tidur dan berharap saat aku terbangun aku tidak ingat apapun yang telah terjadi dan berharap itu semua hanya mimpi.

Hari ini, setahun setelah peristiwa itu terjadi, aku telah kembali menata jalan menuju masa depanku.

Namun, seperti selembar kertas yang tidak pernah kembali sempurna setelah diremas…hidupku tidak pernah sama lagi.

Ya…sebuah kegagalan yang tak akan pernah bisa kulupakan.
Kegagalan yang membuatku menjalani hidup ini dengan pragmatis…sebuah pelajaran untuk terus berubah dari waktu ke waktu.
Karena percuma apabila aku tidak berubah, semua orang akan berubah dan lama-lama aku akan terpaksa berubah juga.

Tetapi seperti sebuah lubang di tengah jalan, hidup selalu punya cara untuk mengingatkan kita bahwa jalan yang rata dan mulus sempurna mustahil ada di dunia ini.
Saat melewati lubang itu, kita menjadi sadar bahwa di depan masih akan ada lubang-lubang lainnya…baik yang lebih dangkal ataupun lebih dalam.

Apakah kita bisa menghindarinya???

Sayang sekali karena hidup menjawab, “Tidak”.

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!