Lebaran, Liburan, & Kebahagiaan

       Lebaran & liburan. Dua kata yang begitu disukai oleh masyarakat Indonesia, termasuk saya. Keduanya juga identik dengan mudik atau pulang kampung. Tahun ini untuk kedua kalinya saya mendapatkan kesempatan untuk mudik ke kampung halaman, dan untuk kedua kalinya pula saya tidak memanfaatkan kesempatan tersebut.
Bukan karena saya tidak pengen pulang ke kampung halaman..bukan!! Semua orang pasti akan dengan senang hati pulang ke kampung halaman. Terlebih jika mereka telah merantau sekian lama, bekerja keras, dan kembali ke kampung dengan membawa kemajuan. Tentu ada rasa bangga yang luar biasa saat kita bertemu dengan keluarga atau teman di kampung halaman lalu mereka berkata, “Hey, kau kelihatan lebih keren sekarang!”.
 Sungguh perasaan yang tak ternilai !
Saya bahkan rela melakukan apa saja dan memberikan
apapun yang saya miliki untuk bisa merasakan perasaan itu.

Namun saya tetap tidak mengubah keputusan saya, Saya TIDAK akan pulang kampung tahun ini.

Mungkin banyak orang mempertanyakan keputusan ini, namun lubuk hati saya meyakinkan, “Kamu harus tetap di sini!”. Jarang sekali ia setegas itu, jadi saya putuskan untuk percaya penuh kepadanya.
 Saat saya menulis tulisan ini, situasi rumah kontrakan tempat saya nge-kos ini sangat sepi. Padahal sekarang baru jam setengah dua. Suasana di malam hari tentunya lebih sunyi lagi.
Asal kalian tahu, rumah tempat saya kos adalah sebuah rumah berlantai tiga yang berisi sekitar 20an kamar dengan bentuk dan ukuran sama. (kamar-kamar hanya ada di lantai 1 & 2, lantai 3 adalah teras tempat menjemur baju.) Semua kamar dibuat berhadap hadapan sehingga otomatis ada semacam lorong di tengah-tengahnya.
Saat malam tiba, lorong di lantai 1 cukup terang karena ada sebuah lampu terpasang tepat di tengah-tengah. Kebetulan kamar saya berada di lantai 2 dan di ujung terjauh dari tangga. Sementara di lorong lantai 2 tak ada lampu sama sekali…gelap!!
 Jika saya berjalan ke kamar di malam hari, mau tidak mau saya harus melewati “lorong kegelapan” itu. Ada sedikit perasaan merinding saat saya berjalan terburu-buru menuju kamar. Sementara di kiri kanan kamar-kamar gelap yang ditinggalkan para penghuninya itu mengingatkan saya kepada kamar-kamar di rumah sakit atau bangsal yang sering muncul dalam film-film horror.

Hiiiiii…..

Tapi saya punya cukup keberanian untuk menghadapi itu semua. Padahal kalau dipikir-pikir dulu saya adalah seorang yang sangat penakut.
Waktu saya masih kecil, saya sangat takut saat malam tiba dan harus tidur sendirian. Namun entah kenapa semakin saya tumbuh, perasaan takut itu semakin hilang, digantikan oleh rasa takut yang lain…takut mengecewakan orang lain.

Yah, itulah memang risiko tinggal sendiri. Rasa takut dan sepi akan selalu ada meski tidak dominan. Tetapi jujur saya katakan kalau saat ini saya bahagia. Bukan karena uang, sahabat, pacar atau apapun. Saya bahagia karena ada sesuatu dalam diri saya yang memancarkan kebahagiaan…lubuk hati saya yang paling dalam!

 Selamat lebaran ! Semoga kalian bahagia, dimanapun
kalian berada!!

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!