A Man Called Ove (Buku & Film)

Buku

review ulasan a man called ove buku film
gambar : amazon.com

Sinopsis

Sesuai judulnya, buku ini bercerita tentang sosok laki-laki bernama Ove.

Jadi siapakah Ove?

Tak terlalu sulit untuk menggambarkannya. Ove adalah seorang pria tua berusia 59 tahun. Dia galak, kurang ramah,dan selalu menganggap orang lain (terlebih yang lebih muda darinya) sebagai idiot tak berguna. Ove juga, seperti orang tua pada umumnya, membenci  teknologi-teknologi terbaru.

Tetapi di samping sifat-sifat negatifnya tersebut, Ove punya sifat-sifat baik.. Ove adalah seorang yang jujur dan punya prinsip yang kuat. Ia sangat rajin, disiplin dan menghargai peraturan.

Ove juga pandai memperbaiki segala hal, baik itu mesin, sepeda, ataupun sekedar beres-beres rumah.

Satu hal lagi, Ove adalah pria yang setia, terbukti ia tak pernah sekalipun mengganti merek mobilnya, Saab.

Istrinya, Sonja, adalah satu-satunya wanita yang pernah dekat dengannya. Ove sangat mencintai Sonja bahkan meski berbagai musibah terus menimpa rumah tangga mereka dan Sonja meninggal karena kanker. Ove selalu mengunjungi makam Sonja untuk bercerita mengenai apapun di depan batu nisan sang istri.

Tetapi tak bisa dipungkiri kematian Sonja meninggalkan kehilangan yang begitu besar bagi Ove. Didorong oleh keinginan menyusul sang istri, pria tua itu kemudian mulai membuat rencana-rencana untuk mengakhiri hidupnya. Namun takdir tampaknya tak mengijinkannya. Usaha bunuh dirinya selalu gagal akibat gangguan-gangguan dari orang-orang di sekitarnya.

Semua bermula dari kedatangan tetangga barunya Patrick dan istrinya Parvaneh yang sedang mengandung beserta dua orang puteri mereka.

Satu per satu sosok-sosok lain muncul dan membuat Ove terus sibuk dan jengkel. Dari mulai Adrian, pemuda yang memintanya mengajari memperbaiki sepeda. Jimmy tetangganya yang gemuk. Rune teman sekaligus ‘rival’-nya  yang terbaring sakit. Petugas dinas sosial berkemeja putih yang sangat dibencinya. Sampai seekor kucing liar malang yang memaksa Ove untuk memeliharanya.

Review

Kisah Ove memang adalah kisah sedih, tetapi bukan kisah melankolis dan penuh depresi. Tidak, malahan ada banyak sekali humor yang diselipkan di dalam buku ini, meski kebanyakan adalah humor-humor gelap yang sedih juga.

Sosok Ove yang digambarkan sebagai pria yang selalu mengedepankan pikiran daripada perasaannya juga membuatnya sebagai pribadi yang ironis. Di satu sisi ia kesepian. Di sisi lain ia juga malas berurusan dengan orang-orang ‘idiot’ di sekitarnya.

Ada banyak kilas balik mengenai kehidupan masa kecil Ove yang berat dan kisah cintanya yang unik. Melalui kilas balik ini saya jadi lebih memahami tentang kenapa Ove bisa punya sifat-sifat tadi.

Kehadiran Patrick, Parvaneh, dan kedua putrinya yang berusia 7 dan 3 tahun menjadi pemanis cerita tersendiri di buku ini. Mereka seolah tak pernah bosan membuat Ove kesal. Apalagi kedua putri Parvaneh yang terus mengganggu Ove meski pria tua itu selalu menunjukkan wajah galak.

Tak ketinggalan juga kisah kucing liar yang akhirnya dipelihara oleh Ove. Bagian yang menceritakan interaksi Ove dengan si kucing menurut saya adalah bagian terlucu di buku ini.

A Man Called Ove diakhiri dengan happy ending. Tetapi entah kenapa saya nyaris tak bisa menahan air mata saat membaca bab terakhir.

Saya begitu terharu dan emosional. Sosok Ove terasa begitu dekat, seolah-olah saya telah mengenalnya begitu lama.

Judul              :  A Man Called Ove

Penulis          :  Fredrik Backman, Inggrid Nimpoeno (Penerjemah)

Terbit             : 2014/ Noura Books

Rating            :  4.34/ 5 (goodreads)

Ebook            :  Play Store

 

Film

review ulasan a man called ove buku film
gambar : IMDb.com

Begitu selesai membaca novel A Man Called Ove, saya segera menonton adaptasi filmnya yang berjudul En Man Som Heter Ove. Kenapa judulnya begitu? Ya karena film ini diproduksi di Swedia, negara asal Ove.

Saya akui filmnya tak mengecewakan. Nyaris semua cerita penting di dalam buku juga dihadirkan di dalam film. Kisah Ove kecil, masa mudanya dengan istrinya, Parvaneh, kedua anak perempuan Parvaneh, Jimmy, Rune, Adrian, bahkan si kucing liar pun digambarkan dengan tepat, sesuai bukunya. Meski saya agak heran juga kok ada ya kucing liar yang segemuk dan se-lucu itu.

Rolf Lassgård memerankan sosok Ove dengan sangat baik. Sikap galaknya benar-benar mirip seperti di buku. Bedanya, di film Ove sesekali masih senyum sementara di buku seingat saya tak sekalipun pria tua itu diceritakan tersenyum.

Beberapa cerita dipercepat, wajar karena tak mungkin memasukkan semua yang ada di dalam buku ke dalam film berdurasi dua jam.

Dan ya, meski saya sudah tahu persis seperti apa film ini akan berakhir, tetap saja saya masih merasakan rasa haru yang sama seperti saat membaca bab terakhir bukunya.

Benar-benar sebuah film adaptasi yang mendekati sempurna.

Judul           :   En man som heter Ove

Sutradara   :   Hannes Holm

Pemain       :    Rolf LassgårdBahar ParsFilip Berg, dll 

Rating        :   7.7 ( IMDb)

 

Kesimpulan

A Man Called Ove adalah sebuah kisah yang membuat perasaan campur aduk, antara senang, sedih, dan terharu. Kisah ini mungkin tak berisi terlalu banyak ketegangan, drama, atau kejutan, tetapi sangat menghibur.

Saya rasa tak ada bedanya entah membaca bukunya dulu baru menonton filmnya atau sebaliknya. Namun jika tak membaca bukunya anda akan kehilangan beberapa momen lucu. Misalnya interaksi antara Ove dengan kedua anak perempuan Parvaneh dan dengan kucing piaraannya yang tak semuanya ditampilkan di film.

 

 

Fakta-fakta :

    • Fredrik Backman awalnya menulis kisah Ove di blognya.  Di sana lebih dari 1000 pembaca blognya  memintanya menerbitkan Novel tentang Ove.
    • Buku A Man Called Ove terjual 840ribu kopi di Swedia dan telah diterjemahkan ke dalam 38 bahasa.
    • Di Amerika Serikat buku ini juga sangat laris, terjual lebih dari sejuta kopi dan telah dicetak ulang 40 kali.
    • Filmnya berhasil menyabet 13 penghargaan dan 23 nominasi termasuk dua nominasi Academy Award (Oscar) 2017 untuk kategori Best Foreign Language Film of the Year & Best Achievement in Makeup and Hairstyling.

 

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

5 replies to A Man Called Ove (Buku & Film)

  1. Penasaran. Keren reviewnya.

    Ini buku fiksi atau gmn mas?

    • Eh iya, ini fiksi mas. Awalnya cuma dari cerpen di blog. Kabarnya nama Ove juga atas usulan dr salah satu pembaca blog tsb.

  2. Aha, begitu pertama main di Bio Swedia, suami langsung ngajak nonton ini. Padahal dia termasuk ga gt doyan nonton. Si Rolf Lassgård itu emang aktor kawakan Swedia. Filmnya banyak. Aku nonton ini lumayan terharu, komedi campur haru. Dan aku langsung tulis review singkatnya di blogspot aku yang lama. Tapi aku baru tau kalau ternyata ada bukunya. Pemeran wanita asal Iran di film ini gagal terbang ke acara Oscar kemaren terkait issue dari Mr DT. Masuk berita lokal sini

  3. Bukunya belum, filmnya sudah. Kayaknya tahun lalu atau awal tahun. Lupa banget.

  4. Wah berarti semuanya berawal dari tulisan blog? Luar biasa klo begitu karena bukunya pada akhirnya laris. Begitu pula dengan pencapaian filmnya.

    Jadi, penasaran dengan bukunya. Tapi kayaknya nggak mungkin tahun ini hunting buku, soalnya tumpukan buku masih segunung dan harus diselesaikan lebih dahulu. Tapi akan saya catat judul bukunya, siapa tahu tahun depan klo mau belanja buku akan coba nyari buku ove. 😀

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!