Ada Apa dengan Persib?

Ada apa dengan persib
gambar: viva.co.id

Punya pemain-pemain berkualitas. Centang.

Keuangan tim sehat, dana dari sponsor lancar. Centang.

Dukungan supporter luar biasa, stadion selalu penuh saat main di kandang. Contreng.

 

Seharusnya dengan kondisi- kondisi  seperti di atas, sebuah klub sepakbola minimal bisa bertengger di papan atas klasemen.

Tetapi kenyataannya hal itu tak dialami oleh Persib Bandung.

Digadang-gadang sebagai kandidat kuat peraih gelar juara Liga 1 musim ini, Persib justru tampil melempem sampai dengan pekan ke 14. Lord Atep dkk hanya mampu bertengger di posisi ke 12 kalsemen sementara.

ada apa dengan persib

Mirisnya, Persib sejauh ini baru berhasil mencetak 13 gol. Artinya rata-rata memasukkan Persib kurang dari 1 gol per laga. Catatan itu menjadi yang terburuk kelima di Liga, hanya unggul dari Perseru Serui (9 gol), Persiba Balikpapan & Gresik United (10 gol), serta Semen Padang (12 gol).

Beberapa waktu yang lalu saya memang sempat memprediksi bahwa Persib akan sulit menjuarai liga, tetapi saya benar-benar tak menyangka mereka akan tercecer di papan tengah.

Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Persib hingga tim ini bisa begitu terpuruk?

 

Terlalu Mengandalkan Kandang

Hal ini sudah saya bahas di artikel terdahulu. Memiliki banyak pendukung fanatic memang ada keuntungan dan kerugiannya. Keuntungannya tentu mereka selalu mendapatkan dukungan yang luar biasa kala bermain di kandang. Sedangkan kerugiannya adalah saat menjalani laga tandang, ada perbedaan mental yang diperlihatkan oleh para pemain.

Salah satu contoh yang paling kentara adalah pada laga tandang menghadapi Gresik United beberapa waktu lalu. Kala itu meski Persib akhirnya mampu menang dengan skor 0-1, mereka terus tertekan sepanjang pertandingan. Bahkan gol yang diciptakan oleh Billy Keraf baru terjadi di menit-menit terakhir.

Padahal Gresik United adalah tim yang bisa dibilang berada selevel di bawah Persib. Saya cukup yakin jika laga itu dimainkan di kandang Persib,  Maung Bandung akan menang mudah, mungkin dengan selisih 2 atau 3 gol.

 

Pelatih

Menjadi pelatih di kesebelasan sebesar Persib tentu tidak mudah. Ada banyak tekanan dari supporter setiap kali tim mendapatkan hasil yang kurang memuaskan. Hal itu pasti dirasakan betul oleh Djajang Nurjaman.

Saya percaya beliau adalah pelatih yang bagus, terbukti dengan raihan gelar juara Liga Indonesia tahun 2014 dan juga Piala Presiden 2016.

Tetapi harus diingat, di 2014 Djajang tak mendapatkan tekanan sehebat saat ini. Saat itu Persib bukanlah favorit juara. Lagipula kompetisi saat itu dibagi menjadi dua wilayah dan diakhiri dengan system gugur yang membuat Persib bisa benar-benar memaksimalkan kekuatan dukungan suporternya.

Saya rasa ini adalah saat yang tepat bagi Persib untuk berpisah dengan Djajang. Bukan hanya bagi Persib, tetapi juga bagi Coach Djajang sendiri yang selalu tampak tertekan setiap kali mendampingi timnya.

Kedatangan pelatih baru akan menciptakan suasana baru yang sangat dibutuhkan untuk membangkitkan kembali semangat para pemain.

Pembelian Pemain yang Kurang Tepat

Di awal musim Persib mengejutkan dunia sepakbola nasional dan internasional dengan mendatangkan Michael Essien, mantan pemain Chelsea, Real Madrid, dan AC Milan.

Tak cukup sampai di situ, Umuh Muchtar , manajer Persib kembali menggebrak dengan memperkenalkan rekrutan baru lainnya, Carlton Cole, yang merupakan striker yang cukup di segani di Liga Inggris pada zamannya.

Tetapi 14 pekan berlalu dan kedua pemain tersebut tak menampilkan performa yang sesuai harapan. Essien sebenarnya lumayan, peraih gelar Liga Champions Eropa itu masih mampu mencetak 2 gol dan membuat beberapa assist.

Tetapi Carlton Cole, penyerang legendaries West Ham United itu belum sekalipun mencetak gol. Jangankan cetak gol, main aja jarang.

Dari sini barulah ketahuan bahwa pembelian dua pemain kelas dunia yang cukup fenomenal tersebut ternyata tidak tepat.

Essien memang tampil cukup bagus setiap kali bermain, tetapi masalahnya ia jarang main sejak menit pertama. Kemungkinan besar penyebabnya adalah fisiknya yang sudah menurun akibat usianya yang sudah tak muda lagi.

Tetapi argument tadi bisa dipatahkan begitu melihat kondisi serupa di tim-tim lain.

Mohammed Sissoko dan Didier Zokora masih mampu tampil penuh untuk Mitra Kukar dan Semen Padang. Peter Odemwingie yang usianya tak terpaut jauh dari Essien malah tampil gemilang bersama Madura United.

Sedangkan bagi  Carlton Cole kompetisi Liga 1 sepertinya memang tidak cocok untuknya.

Cole sebenarnya punya postur tinggi menjulang yang menjadi modal bagus untuk bisa memenangi duel melawan bek-bek tim-tim liga 1 yang lebih pendek darinya.

Masalahnya Persib dan sebagian besar tim Liga 1 tak memiliki pengumpan bola lambung yang andal. Itulah kenapa di kompetisi Indonesia jarang kita liat ada sebuah gol sundulan yang berasal dari sebuah umpan sempurna yang terencana.

Gol-gol di liga 1 lebih banyak tercipta dari umpan terobosan ataupun umpan silang mendatar. Dalam system permainan seperti ini, sebuah tim lebih membutuhkan penyerang yang lincah dan berani berduel. Ini tentu merupakan mimpi buruk bagi seorang Carlton Cole yang mempunyai badan tinggi besar dan usia yang tak lagi muda.

 

Saya rasa Persib masih memiliki peluang untuk kembali ke papan atas, asalkan mereka segera berbenah. Jika melihat klasemen sampai dengan pekan 14, Persib sebenarnya hanya tertinggal 7 poin dari pemuncak klasemen PSM Makassar. Mereka juga cuma berselisih 4 poin dari peringkat keempat. Di sisa 20 laga yang masih harus dijalani semua tim, tentu peluang untuk merangsek ke papan atas atau bahkan menjadi juara masih terbuka lebar.

Satu hal yang pasti, para pemain Persib harus benar-benar menyadari bahwa mereka membawa nama klub besar, klub yang sudah sepantasnya berada di jalur perburuan juara.

Klub yang tak seharusnya hanya menargetkan untuk sekedar lolos dari degradasi.

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

2 replies to Ada Apa dengan Persib?

  1. Padahal ada michael essien. Tapi ngomong2 essien dibayar berapa ya kok mau bermain di liga indonesia?

    Lumayanlah dikit2 bisa menambah pamor liga indonesia karena ada pemain kelas dunia :-D.

    • Kabarnya sih nilai kontrak Essien mencapai 11 milliar rupiah/ tahun mas. Itu jumlah yang kecil untuk dia sih sebenarnya, cuman dia kayaknya emang pengen mencari pengalaman baru. Lagipula kalau mau main di eropa juga udah nggak mungkin.

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!