Agar Sinetron Indonesia Lebih Menarik

91712-0_663_382
Anak Jajanan/ viva.co.id

 

Kalian tentu sudah berulang kali mendengar tentang buruknya kualitas sinetron Indonesia.

Selama ini saya terus bertanya-tanya, kenapa stasiun TV masih mempertahankan tayangan yang jelas-jelas mendapatkan kritik dari banyak pihak.

Oke, jawabannya adalah karena rating.

Tetapi kenapa kualitas sinetron Indonesia terus buruk padahal beberapa tahun belakangan ini ada banyak film-film bagus yang beredar di bioskop?

Negeri ini juga tak kekurangan pengarang-pengarang handal yang jago menciptakan cerita-cerita yang bagus, lihat betapa banyaknya novel-novel bagus yang beredar di pasaran.

Sampai akhirnya beberapa saat lalu saya mendapati sebuah “pencerahan” tentang sinetron dari hasil mendengarkan Podcast Awal Minggu-nya Adriano Qalbi.

 

Apa itu podcast? Baca di sini: Mari Mendengarkan Podcast

 

Di situ Adri mengundang Bene Dion, seorang stand up comedian yang lumayan terkenal. Tak banyak yang tahu kalau dia juga adalah seorang penulis skenario film. Bahkan, Bene tak bisa dianggap penulis sembarangan. Pria asal Aceh itu adalah penulis skenario film terlaris Indonesia sampai dengan saat ini yakni Warkop DKI Reborn.

Selama kurang lebih satu jam berbincang di PAM, Bene banyak menceritakan pengalaman-pengalaman menariknya sebagai seorang penulis skenario. Dari situlah terkuak fakta-fakta menarik yang membuat saya bisa mengerti kenapa sinetron Indonesia kurang menarik dan cenderung monoton.

 

Tak Ada Alur Cerita yang Jelas

Normalnya, jika seseorang ingin membuat cerita, biasanya ia sudah tahu, siapa saja karakter-karakternya, apa yang menjadi masalah utama, dan bagaimana endingnya. Semua itu nyatanya tak dilakukan oleh para produser sinetron. Bahkan, menurut Bene, sebuah skenario sinetron bisa digarap oleh beberapa orang yang berbeda secara dadakan sehingga kadang ceritanya bisa melompat tak terkendali.

 

Tayang Setiap Hari

Saat saya masih SD dulu kayaknya tidak ada sinetron yang tayang setiap hari. Paling sering sebuah sinetron tayang hari Senin sampai Jumat. Itupun durasinya paling lama hanya satu jam.

Sekarang ini semua sinetron tayang setiap hari. Saya cukup kaget ketika beberapa hari yang lalu menonton sebuah sinetron yang ternyata menayangkan 2 episode sekaligus per hari. Saya tak bisa membayangkan bagaimana proses shooting sinetron tersebut. Apakah para pemain dan kru sinetron tersebut harus menginap di lokasi shooting?

Belum lagi kalau ada efek visualnya. Bagaimana cara tim editor menyelesaikan tugasnya?

Wajar jika hasilnya tak maksimal. Mereka ini seperti kerja rodi, tak pernah libur. Bahkan jam kerja mereka lebih panjang dari seorang buruh pabrik.

Jadi jangan heran jika melihat ada sebuah adegan pacaran di sinetron yang pemerannya terlihat males dan ogah-ogahan. Bukan karena akting mereka yang jelek, mereka sebenarnya lelah. Sorot mata kelelahan sangat gampang untuk dilihat dan tak mungkin bisa ditutupi.

 

Episode yang Terlalu Banyak

Bayangkan jika novel Harry Potter dibuat menjadi serial TV dengan 1000 episode. Kira-kira masihkah ceritanya menarik?

Ada 2 kemungkinan yang terjadi, pertama J.K. Rowling memaksakan diri menulis cerita sendirian secepat dan sesering mungkin. Atau kemungkinan kedua, Rowling meminta bantuan kepada beberapa penulis untuk menyelesaikan tulisannya.

Dua-duanya kemungkinan akan menghasilkan tulisan yang buruk. Saking banyaknya episode, penulisnya lama-lama akan kebingungan dan ceritanya akan semakin nyeleneh. Bisa jadi di episode ke 666 akan ada judul, “Harry Potter and The Swapped Son/Daughter”.

 

Mungkin saya terlalu jauh berkhayal, tetapi intinya adalah, semakin banyak episode sebuah sinetron, semakin rendah pula kualitasnya, dan semakin tidak meninggalkan kesan apapun bagi para penontonnya.

 

……

 

Menurut saya jika 3 hal di atas bisa diubah, sinetron Indonesia akan jauh lebih menarik. Sinetron tak perlu “mendidik” seperti yang disarankan banyak orang itu. Tak perlu juga menghadirkan cerita yang penuh kejutan seperti Westworld.

Bahkan sinetron-sinetron absurd macam Tuyul dan Mbak Yul, Jin dan Jun, dan Jinny Oh Jinny pun dulu sangat menarik sekali dan  sampai saat ini saya kadang masih suka nontonin di Youtube.

Saya tak bisa membayangkan 5 atau 10 tahun lagi akan ada orang yang pengen nonton lagi  sinetron Anak Jajanan .

 

 

 

 

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

15 replies to Agar Sinetron Indonesia Lebih Menarik

  1. Saya nggak suka liat sinetron. Jadi gak bisa memberi penilaian. Cuma memang sering baca kalo sinetron sekarang parah2-ha ha ha……

    • Sekali-sekali nonton mas, kalau pengen lihat ada adegan orang yang lagi pacaran tapi ngantuk hahaha

  2. Ya bgitulah sinetron kita, mas. Demi rating apapun diupayakan, padahal bila terlalu dipaksakan maka hasilnya pun adalah compelling story.

    Bahkan ada seorang teman saya yang berkata bahwa karakter/tokoh di anime terlihat lebih real dan manusiawi ketimbang tokoh2 di sinetron. Apa mungkin itu karena tokoh2 sinetron terlalu hitam-putih dan anime terlalu abu-abu? Apa paradigma itu masih relevan?

    • Betul itu mas. Mana ada orang yang jahat banget tanpa ada kebaikannya sedikitpun kalau bukan di sinetron. 😀

      • Oya, mungkin Anda punya akses k beberapa pmbuat skenario sinetron? Biar kita kasih tahu…hehe…

        • Walah, jangankan kenal mas, namanya saja saya nggak pernah tahu. 😀
          Tetapi siapapun penulisnya, kalau nggak dikasih cukup waktu kayaknya hasilnya bakalan sama saja mas.

  3. Tidak ada asap kalo tidak ada api.. orang2 dibalik sebuah sinetron itu tidak sepenuhnya salah.. mereka2 yang suka menonton juga patut disalahkan.. sudah tau sinetronnya tidak jelas tapi masih juga ditonton.. trus dampaknya gimana.. otomatis rating pasti naik.. coba kalo tidak ada yang nonton.. ratingnya pasti turun dan ujungnya sinetronnya ga lanjut alias mati..

    • Iya sih, masalahnya metode penentuan ratingnya juga nggak terlalu jelas bang. Saya pernah baca kalau lembaga yg menentukan rating TV itu cuma melakukan survey ke rumah2 tertentu sehingga hasilnya bisa jadi tak terlalu akurat.

  4. Banyak juga yang suka drama korea ya. Saya juga sebenarnya kepengen nonton tapi ini serial TV barat aja yang bagus-bagus belum saya tontonin. 😀

  5. hahaha iya ya. ada gak nanti yang masih nyariin sineton anak jalanan.
    .
    aku udah enggak pernah lagi nonton sinetron. soalnya sukanya drama korea.haha
    iya karena alurnya jelas, visualnya jelas dan bagus, berkualitas pula.
    harus ada penulis skenario yang membawa dunia persinetronan indonesia ke jalurnya lagi.
    .
    btw, bang. aku udah nonton Spirited Away, kereeen
    bang udah nonton Kimi No Na Wa?

    • Suguhan Korea lebih greget gitu ya? Hhm..

    • Udah dong, bahkan udah pernah saya review juga.
      Kalau belum pernah nonton drama korea kira-kira harus mulai dari mana ya? Ada saran mb?

      • ummm drama korea yang genre thriller : signal, voice
        yang endingnya nyesek : Uncontrollably Found, My Love From The Stars
        .
        duh banyak bang. huehehe. nonton signal dulu gih bang.

  6. Salam kenal!

    Haha iya emang kondisi pertelevisian Indonesia sekarang masih memprihatinkan.

    Terima kasih sudah berkunjung!

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!