Luis Milla Out ?

luis milla mengecewakan

“Melawan Malaysia kami akan melakukan permainan terbaik, karena kami sudah berlatih keras. Saya yakin dengan kemampuan semua pemain.”

Begitulah kata-kata yang terlontar dari mulut Luis Milla, pelatih timnas u 23 Indonesia sebelum laga pertama babak kualifikasi Piala Asia u 23 melawan Malaysia di National Stadium Bangkok sore tadi.

Sembilan puluh menit lebih saya dan seluruh pendukung timnas menanti janji pelatih asal Spanyol itu, tetapi permainan terbaik timnas tak pernah muncul.

Sebaliknya, anak-anak asuhan Milla malah menyuguhkan 30 menit pertama terburuk sepanjang saya menonton timnas. Dalam rentang setengah jam para pemain negeri jiran dengan mudahnya mencetak gol ke gawang timnas lewat proses yang sangat sederhana, umpan-umpan silang dan set-piece.

Parahnya timnas merespon setiap gol yang bersarang ke gawang mereka dengan buruk. Tak ada perubahan permainan berarti meski skor berubah dari 0-0, 0-1, 0-2, dan 0-3.

Para pemain timnas bermain naïf dengan terus mengandalkan umpan-umpan panjang ke kedua sisi lapangan. Pola itu mungkin ampuh jika diterapkan di kompetisi lokal. Tetapi ini kompetisi resmi internasional, para pemain yang tampil adalah yang terbaik di negaranya masing-masing.

Sebuah tim tak bisa hanya mengandalkan satu pola di ajang seperti ini. Apalagi jika tim itu dilatih oleh seorang  pria yang katanya pernah membawa Spanyol menjuarai Piala Eropa u 21.

Salah Sejak Awal

Keanehan strategi Luis Milla sebetulnya sudah dimulai saat pemilihan 11 pemain yang akan mengawali pertandingan.

timnas u 23

Sejumlah nama-nama beken secara mengejutkan tidak tampil sejak menit pertama.

Evan Dimas yang merupakan gelandang terbaik di Indonesia saat ini, dicadangkan oleh Milla. Demikian pula dengan Rezaldi Hehanusa, bek kiri asal Persija yang tampil apik selama uji coba.

Tak ketinggalan, Hansamu Yama yang merupakan bek tengah utama timnas di ajang AFF 2016 lalu juga tak dimainkan.

Entah apa yang dibenak Milla, ia lebih memilih trio Hanif Sjahbandi, Gian Zola, dan M Hargianto di lini tengah.

Pemilihan Gian Zola saya rasa masih masuk akal karena ia tampil cukup bagus di laga uji coba.

Tetapi memainkan Hargianto dan Hanif Sjahbandi secara bersamaan adalah sebuah kesalahan besar. Bukan hanya karena kedua pemain tersebut mempunyai tipikal yang serupa, tetapi juga karena keduanya bukanlah pemain yang pas untuk menjalankan strategi umpan-umpan terobosan ke sisi sayap yang diperlihatkan timnas sepanjang pertandingan tadi.

Inilah yang menurut saya membuat permainan timnas tidak pernah efektif sepanjang babak pertama. Hargianto seringkali tidak akurat dalam memberikan umpan. Sedangkan Zola dan Sjahbandi sama sekali tak terlihat perannya.

Ketiadaan Hansamu juga sangat terasa di lini belakang. Pemain kita hampir selalu kalah dalam duel-duel bola atas, termasuk dua gol Malaysia yang tercipta dari sundulan memanfaatkan situasi set-piece.

Ini masih diperparah dengan kurang baiknya koordinasi di lini belakang yang membuat para pemain Malaysia begitu gampang menerobos pertahanan Indonesia lewat umpan-umpan silang.

Luis Milla Out?

Menonton pertandingan sore tadi tadi membuat saya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sudah dilakukan oleh Luis Milla? Apakah pria Spanyol itu memang orang yang tepat untuk menangani timnas?

Perlu diingat timnas kali ini dipersiapkan dengan sangat matang, setidaknya untuk ukuran Indonesia. PSSI bahkan sampai membuat aturan aneh yang mengharuskan setiap klub di Liga 1 untuk memainkan minimal 3 orang pemain local berusia di bawah 23 tahun setiap pertandingan agar memudahkan pelatih untuk memilih pemain.

Tim ini juga menjalani pelatihan yang lumayan panjang, kurang lebih tiga bulan. Mereka juga sempat menjalani serangkaian laga ujicoba baik lokal maupun internasional.

Saya rasa kita semua sudah tak bisa memahami alasan apapun yang dikemukakan Milla. Sejak partai ujicoba pertama melawan Myanmar 4 bulan lalu, tim ini seperti tidak berkembang.

Semangat, passion, dan sikap pantang menyerah juga sepertinya tak dimiliki oleh skuad asuhan Milla. Bagaimana bisa sebuah tim yang sedang tertinggal 0-3 membiarkan pemain lawan leluasa untuk menguasai bola. Tak ada pressing, tak ada upaya untuk benar-benar mengejar ketertinggalan.

Saya ingatkan sekali lagi, sore tadi kita tidak menghadapi lawan yang sangat kuat macam Australia atau Thailand. Kita menghadapi Malaysia yang pincang dan punya persiapan lebih minim.

 

Kalau cuma mau kalah 0-3 dari Malaysia tak perlulah jauh-jauh mencari pelatih ke Spanyol.

Pergi saja ke kota Malang dan cari pria yang bernama Aji Santoso.

 

 

Catatan:

Permainan timnas jauh membaik di babak kedua setelah masuknya Evan Dimas, Asnawi Mangkualam, dan Yabes Roni. Ini semakin menegaskan kalau ada yang salah dengan strategi yang diterapkan oleh Coach Luis Milla sejak awal.

 

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

2 replies to Luis Milla Out ?

  1. Lho bukannya luis milla itu pelatih timnas senior?

    Klo saya sih bilang emang timnas sepakbola indonesia itu kena kutukan. Udah lama sekali nggak juara sementara negara2 lain bergiliran juara aff.

    bukan masalah pelatihnya sepertinya, melainkan masalah mental pemain yg belum bisa bermain untuk menang. seperti MU yg ditinggal fergie, pemainnya lupa bagaimana untuk menang dan mentalnnya buruk.

    • Milla menangani 2 tim mas, senior sama u 22. Tapi karena yang senior lagi nggak ada agenda, jadi dia fokus di u 22.

      Sebenarnya bukan masalah juara atau nggak sih. Suporter juga sebenarnya nggak menuntut itu, apalagi di level asia. Masalahnya dari sisi permainan tim ini kayak nggak punya skema dan pola yang rapi.

      Beda dengan tim di AFF 2016 lalu yang walaupun nggak juara tapi selalu bermain maksimal di tiap pertandingan.

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!