Membandingkan Play Books dan Scoop

google-play-books

Sudah sejak setahun terakhir ini saya rutin membaca buku elektronik (ebook). Banyak hal yang membuat saya memutuskan untuk meninggalkan buku fisik. Selain karena harga ebook relatif lebih murah, sistem pembelian dan pembayaran ebook pun kini sudah semakin mudah.

Hal itu tak lepas dari munculnya aplikasi-aplikasi penyedia ebook yang saling berlomba menyediakan fitur-fitur unggulan untuk menggoda para pecinta buku agar beralih ke ebook. Jika tiga atau empat tahun yang lalu saya hanya mengandalkan PDF reader untuk membaca ebook yang sebelumnya sudah saya download, kini saya punya lebih banyak pilihan. Play Books, Scoop, Bookmate, dan Wayang Force adalah beberapa aplikasi penyedia ebook yang pernah saya coba.

Di antara keempat aplikasi tadi, dua nama yang saya sebut pertama adalah yang paling sering saya gunakan.

Play Books

Aplikasi besutan google ini sudah saya  gunakan sejak dua tahun yang lalu. Pengguna smartphone android biasanya akan menemukan aplikasi ini sebagai bawaan.

Play Books  punya banyak fitur bagus yang membuat saya sangat nyaman membaca. Selain itu, koleksi buku di Play Books cukup lengkap. Kita dengan mudah menemukan buku-buku populer dari dalam maupun luar negeri.

Play Book juga terintegrasi dengan Play Store sehingga pembelian buku bisa dilakukan lewat potong pulsa.

Keunggulan Play Books

+ Pembayaran bisa dengan potong pulsa/ voucher

+ Ada fitur reflowing text untuk menyesuaikan ukuran teks dengan layar gadget

+ Koleksi buku-buku populer dalam dan luar negeri cukup lengkap

+ Bisa membeli buku per bab

+ Bisa upload PDF untuk dibaca di aplikasi Play Books

+ Bisa dibaca melalui smarphone, tablet, atau browser PC

+ Ada banyak promo dan diskon

screenshot_2017-02-22-21-16-13-499_com-google-android-apps-books
tampilan Play Books, ukuran huruf bisa disesuaikan dengan layar, nyaman

Kekurangan Play Books

Buku harus dibeli, tak ada pilihan untuk meminjam atau berlangganan

– Koleksi tidak cepat diupdate

bookplay
koleksi buku saya di Play Books

 

Scoop

hipwee-getscoop-square
Scoop

Berbeda dengan Play Books yang tidak menyediakan pilihan untuk meminjam buku, Scoop menyediakan pilihan itu dengan sistem berlangganan premium per bulan. Dengan membayar biaya berlangganan  premium seharga Rp 89.000 kita bisa membaca hampir semua koleksi buku milik Scoop yang jumlahnya ribuan.

Tak hanya itu, kita juga bebas membaca majalah-majalah maupun surat kabar populer terbaru selama sebulan. Saya pernah sekali mencoba berlangganan Scoop Premium beberapa bulan lalu, waktu itu biayanya masih  Rp 49000/ bulan.

Sayangnya saya hanya sempat menyelesaikan satu buku saja, yakni Pemburu di Manchester Biru. Tetapi kalau dihitung-hitung  sebenarnya saya nggak terlalu rugi karena  saya juga membaca empat edisi majalah Bola di bulan itu. (Kalau tidak salah harga satu edisi majalah bola sekitar Rp 7500)

Yang menjadi kekurangan terbesar Scoop adalah aplikasinya yang kurang ramah dengan gadget berlayar kecil. Smartphone saya cuma punya layar selebar 4.7 inci  sehingga saya harus sering zoom in zoom out saat membaca di Scoop. Saat saya coba membaca lewat PC pun saya tetap tidak nyaman karena loadingnya yang terlalu lama, bahkan untuk berganti halaman pun butuh waktu beberapa detik.

Saya rasa membaca buku-buku di Scoop akan lebih nyaman dengan menggunakan tablet berukuran setidaknya 7 inch.

Keunggulan Scoop

+ Tak harus membeli buku, bisa berlangganan bulanan

+ Koleksi majalah sangat lengkap

+ Meski tak punya koleksi buku selengkap Play Books, ada beberapa buku yang hanya ditemukan di Scoop

+ Ada banyak promo dan diskon

screenshot_2017-02-22-21-17-43-889_com-appsfoundry-scoop
ebook Mata Hari (kiri), hanya saya temukan di Scoop

 

Kekurangan Scoop

– Repot dibaca di smartphone berlayar kecil

– Loading aplikasi lama dan berat

– Pembayaran tak bisa dengan potong pulsa, harus dengan kartu kredit, ATM transfer, atau internet banking.

screenshot_2017-02-22-21-17-15-845_com-appsfoundry-scoop
tampilan Scoop, ukuran huruf tak bisa disesuaikan dengan layar, harus rajin-rajin zoom in dan zoom out

 

Karena alasan-alasan di atas selama ini saya lebih suka menggunakan Play Books untuk membeli dan membaca ebook.

Tetapi saya kadang masih menggunakan Scoop karena, seperti yang sudah saya tulis di atas, ada buku-buku yang hanya tersedia di Scoop saja.

Bagi kalian yang hobi membaca dan selama ini masih enggan untuk beralih ke ebook tak ada salahnya untuk mencoba 2 aplikasi di atas.

 

 

gambar: androidcommunity.com, hipwee.com

 

Review Buku: Hector and The Search for Happiness

88503_f
source: here

Kejarlah kebahagiaan sampai ke negeri China.

Barangkali itu adalah pesan yang ingin disampaikan penulis buku Hector and The Search for Happiness.

Buku ini merupakan buku best seller karya penulis berkebangsaan  Prancis, Francois Lelord yang sampai saat ini kabarnya sudah terjual lebih dari dua juta kopi.

Sinopsis

Hector adalah seorang pria yang memiliki hidup yang nyaris sempurna. Ia sangat sukses dan begitu dihormati sebagai psikolog . Ia juga memiliki kekasih cantik nan cerdas dalam diri Clara.

Tetapi suatu ketika Hector merasa hidupnya hampa. Penyebabnya, ia sering menerima pasien-pasien yang mengeluhkan kehidupan mereka yang tidak bahagia meski bergelimang harta dan ketenaran.

Hal itu membuat Hector penasaran akan makna kebahagiaan yang sebenarnya.

Hector memutuskan untuk berpetualang ke negeri-negeri asing untuk menemukan arti kebahagiaan sejati. Perjalanannya itu membawanya ke belahan dunia lain, tempat-tempat dimana ia menemukan kehidupan yang jauh berbeda dengan kehidupannya sekarang.

Hector mengunjungi Tiongkok dan bertemu dengan sahabatnya, seorang biksu, serta seorang gadis cantik yang mengajarkannya banyak hal. Ia juga mengunjungi Afrika guna mengunjungi sahabat lainnya yang menemukan kebahagiaan di tempat paling miskin dan paling berbahaya di dunia itu.

Terakhir, Hector mengunjungi  keluarga mantan kekasihnya di Amerika. Ia belajar tentang arti kebahagiaan dari keluarga kecil mereka.

Sembari melakukan perjalanan, Hector mencatat pelajaran-pelajaran yang ia dapatkan, di antaranya,

“Membuat perbandingan bisa merusak kebahagiaan.”

“Kebahagiaan pada dasarnya tergantung pada cara kita memandang sesuatu, seperti konsep gelas setengah penuh atau setengah kosong.”

“Kebahagiaan adalah peduli terhadap kebahagiaan orang-orang yang kita cintai.”

 

Review

Meski berlabel bestseller dan disebut-sebut sebagai buku yang inspiratif oleh banyak orang, saya tidak terlalu menikmati buku ini. Entah kenapa saya tidak bisa nyambung dengan karakter Hector. Mungkin karena di kehidupan saya orang seperti Hector susah dibayangkan keberadaannya. Mungkin juga karena kisah dalam buku ini terlalu klise. Tak banyak hal-hal baru yang saya dapatkan dari buku ini.

Lagipula saya tinggal di negara dimana orang sudah merasa bahagia jika punya penghasilan cukup serta pasangan hidup.

Tak seperti di negeri Hector, ukuran kebahagiaan di sini sangat sederhana sampai-sampai kalimat “Bahagia itu sederhana” sering saya jumpai dimana-mana.

Mungkin buku ini akan jauh lebih mengena jika dibaca oleh orang-orang yang terbiasa hidup mapan.

Tetapi terlepas dari itu semua, saya harus mengakui bahwa  Hector and The Search for Happiness adalah buku yang nyaman dibaca. Bahasanya cukup sederhana dan mudah diikuti. Saya cukup betah membaca buku setebal sekitar 270 halaman ini.

Namun sekali lagi, untuk ukuran buku best seller, buku ini cukup mengecewakan. Terlebih ada yang membandingkan buku ini dengan karya brilian Paulo Coelho, The Alchemist.

Bagi saya itu seperti membandingkan tahu bulat dengan tahu bakso, “isi”-nya  jauh berbeda.

 

Judul          :     Hector and The Search for Happiness

Halaman  :     272

Penerbit   :     Noura Books, Oktober 2015

Ebook        :     Play Store

 

Catatan:

Buku ini telah diadaptasi ke layar lebar pada tahun 2014. Baru-baru ini saya menonton filmnya dan pendapat saya tak jauh berbeda dengan bukunya, sangat biasa.

Jika tertarik, saya sarankan kalian menonton filmnya terlebih dulu sebelum membaca bukunya. Dengan cara itu mungkin kalian lebih bisa mengapresiasi bukunya.

 

 

Buku: Berpetualang di Inggris Lewat Pemburu di Manchester Biru

pemburu-di-manchester-biru_1bt3k9m94t9h11e32is4qo9n9a
foto: goal.com

Sebagai seseorang yang hobi membaca, saya selalu suka membaca tulisan apapun yang saya temui. Namun semakin lama dengan banyaknya pilihan bacaan , saat ini saya lebih selektif. Sudah jarang saya tertarik membaca buku yang belum banyak dibaca dan di-review.

Tetapi saya bersyukur membaca Pemburu di Manchester Biru meski review tentang buku ini masih minim.

Pada awalnya saya tertarik membaca buku ini hanya karena saya sangat menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan sepakbola. Terlebih buku-buku sepakbola berbahasa Indonesia jumlahnya masih sangat sedikit.

Tak disangka ternyata buku ini menyimpan kisah yang lebih mendalam .

Pemburu di Manchester Biru mengisahkan pengalaman sang penulis, Hanif Thamrin, seorang jurnalis yang sempat bekerja di salah satu stasiun tv swasta di Indonesia. Ia juga merupakan seorang penggemar berat sepakbola yang kebetulan klub favoritnya sama dengan saya, Juventus.

Meski sudah memiliki pekerjaan yang mapan di Indonesia, Hanif belum merasa puas. Ia punya cita-cita bekerja sebagai jurnalis di Inggris. Keinginannya bukan tanpa alasan, Hanif pernah bekerja di Kedutaan Besar Indonesia di London. Ia sangat menyukai ibukota Inggris tersebut.

Namun tidaklah mudah untuk menjadi seorang jurnalis di negara maju seperti Inggris. Hanif harus melanjutkan kuliahnya di Inggris untuk mendapatkan ijazah S2 sebagai salah satu syaratnya.

Ia pun nekat berangkat ke Inggris dengan modal seadanya. Pekerjaan di stasiun TV yang sebenarnya sudah sangat nyaman ia tinggalkan demi mengejar cita-cita.

Kehidupannya di London kali ini sangat kontras dengan kehidupannya dulu. Jika dulu ia hidup mewah dengan segala fasilitas dari Kedutaan Besar, kini ia harus ekstra berhemat.

Perjuangan Hanif untuk bertahan hidup di tengah kerasnya London dan usahanya untuk mewujudkan impiannya inilah yang menjadi cerita utama dalam buku ini.

Kita diajak merasakan betapa sulitnya seorang asing  untuk mendapatkan  pekerjaan sambilan di kota London. Kalaupun diterima kerja, pekerjaan tersebut adalah pekerjaan kasar yang menguras tenaga. Ditambah lagi sembari bekerja ia juga dituntut untuk  tetap fokus kuliah sehingga nyaris tak ada waktu untuk beristirahat.

Pada akhirnya setelah menyelesaikan S2-nya takdir membawanya ke Manchester. Ia diterima kerja sebagai jurnalis di Manchester City dan menjadi satu-satunya orang Indonesia yang bekerja untuk  klub sepakbola ternama di Inggris tersebut.

Hanif tak hanya mewujudkan cita-citanya tetapi juga  menjalani apa yang diimpikan oleh setiap fans sepakbola di seluruh dunia.

Pemburu di Manchester Biru adalah salah satu buku paling inspiratif yang pernah saya baca. Gaya bercerita  yang tak terlalu santai namun ringan membuat saya dengan mudah terhanyut ke dalam dunia penulis .  Caranya mengekspresikan momen-momen saat ia bertemu secara langsung dengan para bintang sepakbola benar-benar mewakili perasaan seorang fans sepakbola.

Satu-satunya kekurangan buku ini mungkin adalah halamannya yang terlalu sedikit yang membuat ada beberapa bagian yang kurang diceritakan secara detail. Saya rasa ada  beberapa kisah yang masih bisa diceritakan lebih jauh.

Tetapi secara umum buku ini sangat menarik dan layak dibaca terutama oleh para pecinta sepakbola yang bermimpi suatu saat akan menyaksikan penampilan klub-klub eropa secara langsung.

Bagi  yang sedang merantau jauh dari kampung halaman baik untuk bekerja atau kuliah , banyak kisah-kisah yang akan menyentuh karena kemungkinan besar kalian pernah mengalaminya.

 

Judul           : Pemburu di Manchester Biru
Penulis       : Hanif Thamrin
Penerbit     : Gramedia
Cetakan      : Pertama, Juli 2016
Halaman     : 154 hlm

 

Nasional. Is. Me, Pandji Pragiwaksono dan Buku-Bukunya

menerbitknbuku

Halo, kali ini saya akan sedikit mereview buku- buku karangan Pandji Pragiwaksono yang beberapa lalu saya baca.

Saya pertama kali melihat penampilan Pandji di acara tv “Hole in The Wall”. Tetapi saya tidak begitu memperhatikan Pandji sampai saat saya mulai menyukai Stand Up Comedy.

Awalnya saya tidak tahu kalau Pandji adalah seorang comic juga. Belakangan saya tahu kalau dia merupakan perintis stand up comedy di Indonesia.
Saya mulai tertarik dengan sosoknya. Saya mencari Video-video stand up nya di Youtube, saya juga memfollow akun twitter @pandji dan membaca tulisan-tulisannya di blog pandji.com. Di situ saya menemukan beberapa buku karangannya yang bisa didownload secara gratis.

Tidak banyak buku bagus yang diberikan secara gratis oleh penulisnya. Jadi bayangan saya buku karya Pandji ini mungkin nggak laku dan isinya nggak menarik.

Buku yang pertama saya baca berjudul “Nasional. Is. Me”, lalu kemudian “Menghargai Gratisan” dan terakhir “Merdeka Dalam Bercanda”.

Nasional. Is. Me

Dari awal membaca buku ini saya langsung tertarik. Buku ini sangat enak dibaca. Gaya bahasanya sangat mudah dipahami. Membaca buku ini seperti mendengarkan cerita menarik dari seorang sahabat.

Buku ini berisi kisah hidup Pandji dari masa ia remaja sampai sekarang .
Bagian yang paling saya suka dari buku ini adalah saat Pandji menceritakan perjalanannya ke beberapa kota di Indonesia. Gaya berceritanya yang sangat bagus membuat bagian ini benar-benar menarik.

Namun bukan itu saja yang saya dapatkan dari buku Nasional. Is. Me. Sesuai judulnya buku ini juga menyadarkan saya akan kekayaan bangsa ini dan masalah masalahnya. Melalui buku ini Pandji berhasil menggugah rasa nasionalisme saya.
.
Meskipun ada bagian yang sedikit membosankan  tetapi secara umum buku ini sangat nyaman dibaca namun tetap berbobot.

Menghargai Gratisan

Puas dengan Nasional. Is. Me, saya lalu tertarik membaca buku karangan Pandji lainnya yang judulnya cukup menarik, Menghargai Gratisan.
Buku ini memberikan pengetahuan yang amat berguna bagi saya.

Dalam buku ini Pandji membahas tentang pembajakan yang semakin marak di Indonesia. Namun yang saya kagum, sebagai seorang yang menjadi korban pembajakan dia sama sekali tidak “berteriak” mengutuk pembajakan.

Pandji memiliki pendapat sendiri soal pembajakan dan saya rasa ini benar.
Pembajakan bukanlah faktor utama menurunnya penjualan produk asli. Menurutnya, seorang penikmat seni sejati akan membeli barang asli karena barang tersebut mempunyai value yang tidak dimiliki barang bajakan.
Oleh karena itu andaikata barang bajakan tidak ada penjualan produk asli tidak akan mengalami kenaikan berarti. Para pembeli bajakan akan memilih untuk tidak membeli sama sekali apabila bajakan tidak ada.

Melalui buku ini saya juga sadar kalau tak selamanya sesuatu yang gratis itu membawa kepada kebaikan.
Sesuatu yang gratis cenderung akan disia-siakan. Orang-orang cenderung menganggap rendah sesuatu yang gratisan. Maka solusinya bukan menggratiskan segala sesuatu tetapi menjadikannya murah dan terjangkau.

 

Merdeka Dalam Bercanda

Buku ini sangat menginspirasi. Isinya membahas tentang perjuangan Pandji dalam menciptakan budaya Stand Up Comedy di Indonesia.

Meskipun membahas tentang komedi tapi isinya bisa dibilang serius.
Pandji membahas Stand Up Comedy secara lengkap. Bagaimana susahnya memulai budaya stand up comedy di Indonesia hingga sekarang menjadi trend.
Dalam buku ini Pandji juga mengatakan tujuannya memajukan stand up comedy di Indonesia.

Stand Up Comedy menurutnya akan membuat kita menjadi lebih terbuka dan tidak sensitif terhadap kritik.
Kadang memang Stand Up Comedy terasa terlalu berani menyinggung hal-hal yang dianggap tabu. Tapi justru di sinilah keuntungannya. Seringkali kita merasakan ada yang salah dengan hidup ini namun kita diam karena merasa hal itu tabu untuk diungkapkan. Stand up comedy bisa mengajarkan kita untuk berani mengungkapkan kegelisahan kita ini dan menertawakannya. Karena seberat apapun materi yang dibawakan dalam stand up comedy akan selalu berakhir dengan tawa kebahagiaan.

Saya benar benar bisa melihat dari sudut pandang  seorang stand up komedian saat membaca buku ini.

Itulah sedikit review dari buku-buku karya Pandji.
Saya rasa, kelebihan utama dari buku-buku karya Pandji adalah, ia mampu menulis seolah-olah seperti ia sedang berbicara sehingga para pembaca merasa seperti sedang mendengarkan seseorang yang bercerita.
Dan tentu saja tulisan-tulisannya mampu memberi inspirasi bagi banyak orang, termasuk saya.

Kepuasan Membaca Novel Dan Brown: The Lost Symbol

OK sesuai judulnya, aku mau bahas tentang buku, novel lebih tepatnya.

Beberapa hari yg lalu aku baru saja menyelesaikan lembar terakhir buku “The Lost Symbol” -nya Dan Brown yg total berjumlah 757 halaman. Semua itu kulahap habis dlm waktu kurang dr seminggu woww!

Aku sendiri juga nggak tau kenapa aku begitu cepet baca novel ini. Yang jelas saat baca novel ini, aku nggak merasa lagi baca. Membaca halaman demi halaman buku ini lebih seperti nonton film!

Kata-katanya, alur ceritanya, misterinya, semua yang ada dalam buku ini seolah-olah “memaksa” kita untuk menciptakan sendiri sebuah “film” di dlm otak kita. Klo udah larut dlm ceritanya dijamin deh, nggak bakalan mau berhenti baca buku ini. Nggak heran kalo buku ini jd best seller internasional dan bahkan menimbulkan sensasi di seluruh dunia.

Aku sendiri beruntung bisa dapet e-book ini gratis hehehe

Buku ini sebenarnya merupakan Lanjutan dari novel-novel Dan Brown sebelumnya yg Menampilkan Robert Langdon professor cerdas ahli simbologi yg berpenampilan sederhana.

Dikisahkan Ia dipaksa memecahkan sandi untuk menemukan harta paling berharga di muka bumi ini oleh seorang asing yang menculik sahabatnya Peter Solomon.

Misteri demi misteri tidak dipecahkannya dengan mudah. Ia harus berhadapan dg CIA yg menganggapnya mengganggu keamanan nasional.

Lewat buku ini aku juga dikenalkan dengan gedung-gedung terkenal di AS seperti US Capitol, House of Temple dan tempat-tempat lain yang semuanya memilki misteri dan legendanya sendiri-sendiri.

Yang begitu menarik dari novel ini adl tokoh Robert langdon yg menurut saya rendah hati namun cerdas
Selain itu Langdon sepertinya selalu beruntung. Ya, ia selalu bisa memecahkan simbol-simbol yg terlihat sangat tidak masuk akal.

Bahkan ketika buku ini menceritakan bahwa ia tenggelam di dalam kotak sempit yg berisi air penuh, saya pikir dia takkan lolos lg dr kematian, namun ternyata ia bisa lolos.

Memang ada kekurangan dr buku ini yaitu cukup mustahil bahwa semua kekacauan yg diceritakan oleh buku ini ternyata hanya dilakukan oleh seorang tokoh saja yg bernama Malakh.

Well, apapun itu buku ini tetaplah sebuah buku yang berkualitas yang layak untuk coba kalian baca. Sekian, Terima Kasih