Cermin-Cermin : Mimpi

Cermin adalah cerita-cerita fiksi mini yang saya buat dengan kata kunci/tema tertentu.

Tema kali ini adalah “Mimpi”.

 

 

1

 

Brian bisa merasakan genggamannya yang mantap saat menekan gagang pintu itu, menariknya, lalu menutupnya kembali.

Langkahnya tak pernah terasa seringan ini. Di ujung ruangan sudah ada seorang pria yang menunggunya.  Brian mengucapkan salam, tersenyum, dan menjabat tangan pria berkumis tebal itu.

“Boleh saya duduk Pak?”

Brian ingat betul petuah dari buku yang pernah dibacanya, Jangan sekali-kali kau duduk sebelum pewawancara menyuruhmu melakukannya.

“Silakan duduk lalu langsung perkenalan..!”

Brian menarik kursi dengan hati-hati, mencoba duduk setegak mungkin.

“Nama saya Brian Rahardja pak, saya lulusan S1 teknik mesin, saya ingin melamar sebagai teknisi di perusahaan bapak.”

Pria tua itu tersenyum, “OK baiklah, silakan keluar!”

“Tapi pak, bapak belum menanyai saya apapun?”

“Sudah cukup, silakan keluar!”, Pria itu mengatakannya dengan nada datar yang persis sama seperti tadi.

Dengan berat hati Brian meninggalkan ruangan itu. Langkahnya yang tadi sangat mantap kini melemah.

Sampai di luar gedung ia berhenti sejenak, menengok ke tempat kegagalannya barusan.

Ia terkejut saat membaca huruf-huruf yang tertulis di sana,

RUMAH MAKAN AYAM KAMPUNG

“Bruk”

Brian merasa ada sesuatu yang menabraknya dari belakang. Ia jatuh menelungkup.

“Brian, Brian, Brian,…”

“Bangun Brian….

Suara Ibunya terdengar dengan jelas.

“Brian bangun, sudah jam 7, nanti kamu telat ke tempat wawancara!”

 

 

2

 

Tadi malam aku bermimpi. Aku mengingatnya dengan jelas. Aku berada di sebuah ruangan yang amat kukenal. Itu adalah perpustakaan SMA-ku dulu. Kondisinya masih sama persis seperti saat terakhir kali aku ke sana. Meja-meja dan kursi-kursi ditata berhadap-hadapan sementara rak-rak berisi buku diletakkan di tiap-tiap sisi ruangan.

Kucoba berkeliling mencari-cari buku yang menarik. Anehnya, aku tak melihat ada orang lain yang berada di ruangan itu. Seingatku, penjaga perpustakaan, seorang wanita bertubuh gemuk yang galak itu biasanya selalu mengawasiku. Ia akan marah kalau aku terlalu lama memilih-milih buku dan membuat perpustakaan itu harus buka lebih lama.

Di rak dekat pintu keluar aku menemukan buku The Alchemist karya Paulo Coelho. Dulu, buku ini adalah salah satu buku favoritku. Aku membacanya berkali-kali dan tak pernah bosan.

Kubuka lembaran-lembaran buku itu dan sekali lagi aku merasakan bau khas kertas yang sudah tak pernah kucium sejak 30 tahun yang lalu. Sejujurnya aku sangat merindukan saat-saat itu.

Sayup-sayup kudengar suara lembut dari kejauhan. Suara itu semakin lama semakin kuat.

Oh Tuhan, itu adalah suara yang kudengar persis empat puluh tahun yang lalu. Ingatan itu tiba-tiba muncul. Aku panik, kulemparkan The Alchemist lalu menuju pintu keluar. Tak bisa terbuka, pintunya terkunci dari luar.

Kuambil sebuah kursi kayu, mencoba memecahkan jendela.

Sesaat sebelum aku menghantamkan kursi itu sesuatu yang kuat menarikku ke belakang, menghempaskanku ke kasur tempat tidurku.

Aku terbangun dengan napas terengah-engah dan tubuh penuh keringat seolah baru saja berlari marathon.

Sudah 40 tahun sejak tsunami itu melanda kampung halamanku, merenggut kedua orangtuaku dan teman-temanku.

 

 

Terima kasih telah membaca kumpulan cerita mini saya.

Cerita ini merupakan fiksi belaka, kesamaan nama tokoh dan cerita adalah sebuah ketidaksengajaan. 🙂

 

Cermin lainnya:

Cermin-Cermin: Kertas

 

 

 

 

 

 

 

Cermin-Cermin: Kertas

Di bawah ini ada beberapa cerita mini (cermin) buatan saya. Saat ini saya masih kesulitan membuat cerita yang lebih panjang sehingga saya putuskan untuk membuat cerita-cerita mini yang mengandung kata kunci tertentu. Kata kunci yang saya gunakan kali ini adalah “Kertas”.

paper-315772_1280
source: pixabay.com

 

1.

Brian memegangi kertas itu dengan gugup. Tubuhnya entah kenapa tak bisa berhenti gemetaran. “Semuanya akan baik-baik saja”, batinnya menyemangati diri sendiri.

Tetapi tampaknya itu tak berhasil, keringat dingin kini malah membasahi seluruh tubuhnya.

“Saudara Brian Raharja, silakan memasuki ruangan wawancara.”

Brian terhenyak mendengar namanya dipanggil, ia segera bangkit berdiri, tetapi tubuhnya melemas. Hal terakhir yang dia ingat adalah pandangannya mulai kabur kemudian semuanya menjadi gelap.

 

2.

Salah satu kegiatan favorit Rendra adalah mengunjungi toko buku. Meski sebenarnya dia hanya membeli buku sekali saja setiap bulannya , ia selalu rutin ke toko buku itu dua kali seminggu. Entah kenapa, berada di tengah lembaran-lembaran kertas membuat ia merasa nyaman.

Karena seringnya mengunjungi toko buku tua itu, ia jadi hafal dengan situasi di sana. Pada hari Senin, biasanya toko itu sangat sepi. Selain dirinya, hanya ada dua pengujung lain, seorang  wanita berusia 40an yang mengenakan baju merah terang bersama dengan putri kecilnya. Mereka selalu terlihat sedang asyik membaca sebuah majalah.

Sementara di hari Jumat, pengunjung sedikit lebih ramai. Rendra tak sempat memperhatikan para pengunjung satu per satu, tetapi setahunya, dua orang yang ia lihat di hari Senin juga ada di hari Jumat.

Tetapi Senin itu ia hanya menjumpai seorang gadis muda yang tak pernah dilihatnya. Gadis berambut panjang itu mungkin baru berumur sekitar duapuluhan. Ia tampak sedang sibuk memilah-milah majalah.

Sambil melihat-lihat buku-buku biografi, Rendra bertanya-tanya kenapa hari ini si wanita berbaju merah tidak datang.

Ia terkejut saat tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.

“Maaf mas, boleh minta tolong nggak?”, pinta si gadis yang ternyata sudah berdiri di sampingnya.

“Tentu, kenapa tidak?”, Rendra girang karena ia tak pernah berbincang dengan gadis secantik itu sebelumnya.

“Bisa minta tolong bantu cariin majalah Bunga, saya cari-cari dari tadi nggak ketemu”.

“Loh, majalah Bunga kan sudah tidak terbit sejak tujuh tahun yang lalu. Tentu saja sudah nggak ada di sini.”, Rendra heran, kenapa gadis itu menanyakan sebuah majalah kuno.

“Wah begitu ya, padahal saya pengen banget baca majalah itu. Dulu waktu masih kecil Almarhumah Ibu sering mengajak saya ke sini, kami biasanya membaca majalah Bunga.”, gadis itu tampak tak bisa menyembunyikan kesedihannya.

“Saya ikut sedih mendengarnya “, sahut Rendra bersimpati. Dari dekat, gadis itu tampak tak asing baginya.

“Terimakasih mas.”, gadis itu tersenyum manis meski setetes air mata membasahi pipinya.

“Maafkan  saya karena menanyakan ini, tapi apakah ibumu dulu suka memakai baju berwarna merah terang?”

Gadis itu terkejut, “Bagaimana mas bisa tahu?”

Saat itulah Rendra menyadari siapa sebenarnya gadis itu. Ia merasakan hawa dingin mulai merasuki tubuhnya.

 

3.

Pada suatu sore yang mendung aku sedang membereskan barang-barang lama di rumah.

Aku menemukan tumpukan kertas berdebu yang sudah menguning.
Kubuka lembar demi lembar tumpukan itu dan merasakan sensasi yang cukup menyenangkan. Sudah sejak tiga puluh tahun yang lalu kertas sudah tak lagi digunakan. Sekarang semuanya serba elektronik.

Kertas-kertas ini sangat kotor, aku berpikir lebih baik jika dibuang saja. Tetapi kemudian aku menemukan selembar kertas bergambar yang tak asing. Gambar itu adalah potret fotoku saat berusia 20-an. Di belakangku berdiri kedua orangtuaku, menatap ke arah kamera sambil tersenyum tipis.

Sekejap mataku terasa panas, napasku sedikit tertahan. Aku berusaha keras untuk menahannya tetapi setetes air mata hangat jatuh dan membasahi pipi.
Aku berhasil menahan diri untuk tidak meneteskan lebih banyak air mata. Aku tersenyum sambil berharap bisa kembali ke masa di saat foto itu diambil.

Sayangnya hal itu tidak mungkin karena meski perkembangan teknologi berjalan amat cepat selama 30 tahun belakangan, mesin waktu tak kunjung ditemukan.

 

 

Terima kasih telah membaca kumpulan cerita mini saya. Cerita ini merupakan fiksi belaka, kesamaan nama tokoh dan cerita hanyalah kebetulan semata. 🙂