Bagaimana Blog Mengubah Saya Menjadi Manusia yang Lebih Baik (Obrolin Giveaway)

Kenapa bikin blog?

Pertanyaan ini sering saya tanyakan kepada diri sendiri, namun tak pernah bisa saya jawab dengan benar-benar yakin.

Saya rasa hasrat saya untuk menulis bermula sekitar lima atau enam tahun yang lalu, saat saya sedang gencar-gencarnya mencari bahan-bahan bacaan. Dari mulai buku-buku perpustakaan hingga artikel-artikel dari internet. Continue reading Bagaimana Blog Mengubah Saya Menjadi Manusia yang Lebih Baik (Obrolin Giveaway)

Serumah.com, Sebuah Solusi Bagi Para Perantau

serumah.com tempat berbagi kamar

Sebagai seseorang yang lahir di abad 20 dan besar di abad 21, saya merasakan betul betapa kontrasnya kehidupan, sebelum dan sesudah adanya internet dan smartphone.

Hal ini kadang membuat saya suka berandai-andai, apa jadinya jika segala kemajuan teknologi yang ada saat ini, datang lebih cepat, lima atau sepuluh tahun lebih awal.

Continue reading Serumah.com, Sebuah Solusi Bagi Para Perantau

Selfhosting dan Kesulitan-Kesulitan yang Saya Alami

bingung
knowyourmeme.com

Sebulan sebelum memutuskan untuk berpindah ke self hosting, saya rutin membaca berbagai artikel mengenai kelebihan dan kekurangannya.

Saya ingat ada sebuah artikel yang mengibaratkan pindah ke self hosting seperti berpindah ke rumah sendiri dimana pemilik situs bebas melakukan apapun terhadap situsnya tanpa takut terkena hukuman, seperti halnya yang beberapa kali terjadi pada situs-situs yang menumpang di hosting milik wordpress ataupun blogspot.

Perbandingan tadi mungkin tepat. Betul, sekarang saya merasa bahwa situs ini merupakan milik saya sendiri dan saya bebas melakukan apa saja.

Tetapi ini adalah rumah yang sangat sepi. Jauh berbeda dengan rumah lama saya yang numpang di wordpress.

Continue reading Selfhosting dan Kesulitan-Kesulitan yang Saya Alami

0-0

1
gambar: shutterstock.com

Berkumpul dan saling bermaaf-maafan di hari raya Idul Fitri sudah menjadi tradisi di keluarga kami. Bahkan meski sebagian besar di antara kami bukanlah muslim.

Setiap kali lebaran tiba kami akan ikut berkeliling kampung, mengunjungi rumah orang-orang sepuh untuk saling meminta maaf.

Di antara berbagai macam ucapan permohonan maaf, satu yang selalu saya ingat adalah kata-kata ini,

Mohon maaf lahir batin, 0-0 ya!

Sebuah ungkapan yang unik karena di dalamnya terkandung istilah yang biasa ditemui di dunia olahraga, ‘0-0’.

Termasuk juga di sepak bola di mana skor 0-0 sangat sering terjadi. Bahkan konon banyaknya skor 0-0 di sepakbola adalah salah satu penyebab olahraga terpopuler di dunia ini kurang diminati oleh masyarakat Amerika Serikat.

Saya sendiri tak menyangkal kalau pertandingan sepak bola seringkali membosankan apalagi jika berakhir dengan 0-0. Tetapi saya percaya tak semua pertandingan sepakbola yang berakhir dengan skor 0-0 membosankan.

Salah satu contohnya adalah skor 0-0  yang terjadi di pertandingan yang mempertemukan tim besar melawan tim kecil.

Bagi saya skor 0-0 di pertandingan seperti ini sangat seru dan menarik karena di luar prediksi banyak orang.

Skor 0-0 juga bisa memberikan pelajaran penting bagi kedua tim yang bertanding.

Bagi tim yang lebih kuat, skor 0-0 adalah sebuah pengingat  untuk tidak jumawa karena mereka tak bisa selalu meraih kemenangan.

Sedangkan bagi tim yang lebih lemah skor 0-0 bermakna harapan. Bahwa dengan kerja keras dan pengorbanan, mereka ternyata bisa mengimbangi tim yang lebih hebat.

 
Sekarang saya jadi berpikir jangan-jangan orang-orang yang menyebut ‘0-0’ dalam ucapan maafnya tadi mencoba untuk mengingatkan saya agar tidak pernah merasa sombong ketika sedang berada di atas dan tidak berkecil hati saat mengalami titik terendah di dalam hidup.

Mungkin mereka sebenarnya ingin berkata,

Mohon maaf lahir batin! Jangan sombong ya!

atau

Mohon maaf lahir batin! Jangan putus asa ya!

 

Entahlah, yang jelas saat ini, kepada seluruh teman-teman bloger dan pembaca blog ini, saya ingin mengucapkan,

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin!

 0-0 ya! 

‘Saya’ / ‘Aku’ / ‘Gue’, Sebuah Dilema

saya, aku, atau gue
giphy.com

 

Dulu, saat awal-awal ngeblog, saya pernah mengalami dilema yang sangat pelik. Saya selalu ragu memilih kata ganti pertama yang akan saya gunakan dalam postingan-postingan saya.

Ini terlihat seperti masalah sepele, namun benar-benar menghambat produktifitas saya dalam menulis.

Saya bimbang memilih di antara “Saya”, “Aku”, atau “Gue”. Ketiganya punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

 

Jika menggunakan kata ganti “Saya”, postingan saya akan terlihat sopan namun terlalu kaku. Hubungan saya dengan pembaca juga rasanya menjadi jauh.

“Gue” , sementara itu terasa lebih santai dan akrab. Tetapi ada kesan bahwa penulis “sok akrab” dan kurang sopan. 

Sedangkan “Aku” bisa membuat penulis terlihat akrab sekaligus tetap sopan. Namun “aku” terasa egois dan tak peduli dengan pembacanya. “Aku” lebih pantas digunakan untuk menulis buku harian yang sifatnya rahasia dan sangat pribadi.

 

Sebenarnya ada solusi mudah untuk memecahkan masalah di atas, tak usah gunakan kata ganti pertama. Ini sangat mungkin diterapkan. Postingan sebelum ini sama sekali tak memiliki kata ganti orang pertama.

Tetapi saya sadar jika saya menerapkannya pada semua postingan, blog ini akan kehilangan subjektivitasnya. Padahal itu adalah salah satu kenikmatan membaca blog.

 

Lalu, kenapa saya akhirnya memilih menggunakan kata ganti “saya”?

 

Alasan yang pertama adalah karena terinspirasi dari penulis-penulis lain.

Seperti yang sudah pernah saya bahas, beberapa bulan terakhir saya lebih suka membaca artikel-artikel berbentuk Feature & Opini.

Artikel opini adalah tulisan yang sangat subjektif, sama dengan artikel-artikel yang ada di kebanyakan blog. (Meski ada juga blog yang isinya semua 100% fakta, misal: blog tutorial)

Kebanyakan artikel opini yang saya baca, menggunakan kata ganti “Saya”. Meski demikian artikel-artikel tersebut ternyata tetap berhasil membuat saya merasa dekat dengan penulis. Dari situ saya sadar bahwa sangat mungkin menggunakan kata ganti “saya” tanpa terlihat kaku. Perkara ini lebih bergantung kepada bagaimana penulis merangkai kata-katanya.

 

Alasan lainnya adalah di kehidupan sehari-hari saya memang lebih sering menggunakan kata “saya” sebagai kata ganti.

“Aku” sama sekali tidak saya gunakan dalam bahasa sehari-hari dan mungkin tak akan pernah saya gunakan kecuali suatu saat saya menjadi aktor dan harus akting menjadi remaja labil yang sedang jatuh cinta.

Sementara “gue” hanya saya gunakan jika ada orang yang mengajak saya berbincang menggunakan kata ganti tersebut.

 

Alasan yang terakhir adalah karena di dunia nyata saya memang orangnya termasuk kaku. Saya ingin jika suatu saat bertemu dengan orang yang hanya mengenal saya lewat tulisan-tulisan saya, ia tak akan terlalu kaget.

Tak mungkin kan tulisan saya bergaya “gue elo” – “gue-elo” padahal di kehidupan nyata saya orangnya biasa aja, kalau nggak pakai “saya-kamu/anda/situ” ya “aku-kowe/sampean”.

Lain halnya jika saya membuat tulisan fiksi. Saya bisa bebas menggunakan kata ganti apa saja karena tulisan itu tak mewakili saya pribadi.

 

Beberapa waktu lalu saya memutuskan untuk merazia postingan-postingan non-fiksi yang menggunakan kata ganti “Gue” dan “Aku” di blog ini. Sebagian saya privat, namun sebagian kecil yang saya anggap bagus tidak saya apa-apakan.

Berikut ini adalah dua di antaranya:

 

Invisible or Time Traveller? (gue)

Bukan Nama yang Buruk (aku)

 

Sebagai penutup, perlu saya tegaskan kalau ini adalah pendapat saya tentang tulisan saya sendiri. Tentu saja saya tak punya pikiran yang sama saat membaca tulisan-tulisan blog lain.

Lagipula seorang bloger harusnya lebih sibuk meningkatkan kualitas tulisannya daripada memusingkan pemilihan kata ganti orang pertama.

Kecuali kalau bloger tersebut adalah pemilik FIRMANSTEA BLOG.