Antara Kasus Ahok dan Kartu Merah Arturo Vidal

kasus-ahok
gambar: hotsports.rs

 

Apa hubungannya kasus Ahok dengan Kartu Merah Arturo Vidal di perempat final Liga Champions beberapa waktu lalu?

Simak “cocoklogi” saya berikut ini…

 

 

Hari ini ibukota kembali ramai. Beribu-ribu orang melakukan aksi damai dengan tuntutan untuk segera memberikan vonis kepada terdakwa kasus penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Aksi ini bukan kali pertama, saya tidak tahu pasti, mungkin yang keempat atau yang kelima. Yang jelas kasus yang menimpa Ahok ini telah beberapa bulan ini menjadi bahan perbincangan dan pertengkaran di dunia nyata maupun di media sosial.

Saya tertarik membahas topik ini karena kasus ini mengingatkan saya pada kontroversi yang terjadi di dunia sepakbola beberapa waktu lalu.

Pada babak perempatfinal UEFA Champions League (UCL) lalu tersaji sebuah pertandingan menarik antara dua klub besar, Real Madrid melawan Bayern Munchen.

Madrid yang bertindak sebagai tuan rumah kala itu diunggulkan karena telah mengantongi kemenangan 2-1 di kandang Bayern. Namun Bayern yang pantang menyerah ternyata mampu balas mengungguli tuan rumah 2-1 dengan masih menyisakan 10 menit.

Di titik itu Bayern berada dalam situasi bagus. Satu gol lagi berhasil mereka cetak akan membuat Madrid wajib membalas dengan dua gol karena aturan gol tandang.

Lalu terjadilah momen kontroversial itu.

Gelandang muda Madrid, Marco Asensio yang sedang menggiring bola dengan kecepatan tinggi, ditekel oleh gelandang Bayern, Arturo Vidal.

ahok

Vidal sebenarnya bermain bagus pada laga itu, namun ia telah mengantongi satu kartu kuning sejak babak pertama.

Tekel yang ia lakukan sekilas terlihat sangat keras. Asensio pun mengerang kesakitan dan puluhan ribu suporter tuan rumah bersorak, menuntut wasit memberikan kartu kuning kedua untuk Vidal.

Dan benar, wasit mengeluarkan kartu kuning dari kantongnya. Kartu lain yang berwarna merah juga ia keluarkan, karena sesuai peraturan, kartu kuning kedua sama dengan kartu merah.

Para pemain Bayern melayangkan protes keras kepada wasit sementara penonton layar kaca disuguhi tayangan ulang tekel Vidal ke Asensio.

Dalam tayangan ulang tersebut terlihat Vidal sebenarnya melakukan tekel bersih, mengenai bola, meski memang gerakan kakinya terbilang agresif.

Tapi keputusan wasit tak dapat diganggu gugat.

Bayern pun harus bermain dengan 10 pemain di sisa pertandingan plus tambahan waktu. Seperti sudah diduga, mereka tak kuasa menahan gempuran Madrid dan harus rela dibobol tiga kali di babak perpanjangan waktu. Skor akhir adalah 4-2 untuk Madrid.

Kembali ke kasus Ahok, saya rasa setahun yang lalu dia sedang berada dalam posisi yang bagus, sama seperti Vidal dan Bayern tadi.

Sejumlah survei yang dilakukan menjelang pilkada DKI memprediksi sang petahana Gubernur DKI tersebut akan kembali menang dan menjabat.

Akan tetapi Ahok sudah menerima “Kartu kuning” pertamanya  jauh sebelum itu. Saat Jokowi diangkat sebagai presiden dan Ahok ditunjuk menjadi orang no. 1 di DKI, beberapa ormas Islam menolak Ahok yang seorang non-muslim menjabat gubernur ibukota yang mayoritas muslim.

Sejak saat itu ia harus berhati-hati karena seperti Vidal, hanya butuh satu “tekel” lagi untuk membuatnya berada dalam tekanan besar.

Kemudian seperti kita tahu, “tekel” itu datang dalam bentuk pidato Ahok di depan warga Kepulauan Seribu. Rekaman video yang berisi ucapannya yang menyinggung salah satu ayat dalam Al Quran dengan cepat menyebar. Sebagian besar umat muslim marah besar karena menganggap Ahok telah menghina kitab suci mereka. Namun tak sedikit juga yang berpendapat bahwa Ahok tidak bermaksud menghina Al Quran.

Tetapi kasus itu kadung membesar. Serangkaian aksi unjuk rasa kemudian dilakukan untuk menuntut pengadilan terhadap Ahok.

Kasus itu jugalah yang membuat elektabilitas Ahok menurun drastis. Iapun harus puas finish sebagai runner up di Pilkada lalu.

Kini kasusnya telah memasuki babak tambahan waktu. Sama seperti Vidal dan Bayern, ia memang telah kalah (dalam Pilkada), namun sebenarnya Ahok belum mendapatkan “kartu kuning” keduanya. Ia baru akan mendapatkannya setelah menerima vonis nanti.

Lalu akankah ia menerima “kartu kuning” keduanya?

Tak ada yang tahu.

Yang jelas,  sang “wasit” (dalam hal ini hakim) sebaiknya jangan mendengarkan “sorakan penonton” maupun protes dari kedua belah pihak. Lebih baik ia fokus kepada “tayangan replay” dan “laws of the game”  sehingga ia bisa mengambil keputusan terbaik.

 

Karena tak seperti seorang wasit sepakbola, ia punya cukup waktu dan petunjuk untuk mempertimbangkan itu semua.

 

 

Agar Sinetron Indonesia Lebih Menarik

91712-0_663_382
Anak Jajanan/ viva.co.id

 

Kalian tentu sudah berulang kali mendengar tentang buruknya kualitas sinetron Indonesia.

Selama ini saya terus bertanya-tanya, kenapa stasiun TV masih mempertahankan tayangan yang jelas-jelas mendapatkan kritik dari banyak pihak.

Oke, jawabannya adalah karena rating.

Tetapi kenapa kualitas sinetron Indonesia terus buruk padahal beberapa tahun belakangan ini ada banyak film-film bagus yang beredar di bioskop?

Negeri ini juga tak kekurangan pengarang-pengarang handal yang jago menciptakan cerita-cerita yang bagus, lihat betapa banyaknya novel-novel bagus yang beredar di pasaran.

Sampai akhirnya beberapa saat lalu saya mendapati sebuah “pencerahan” tentang sinetron dari hasil mendengarkan Podcast Awal Minggu-nya Adriano Qalbi.

 

Apa itu podcast? Baca di sini: Mari Mendengarkan Podcast

 

Di situ Adri mengundang Bene Dion, seorang stand up comedian yang lumayan terkenal. Tak banyak yang tahu kalau dia juga adalah seorang penulis skenario film. Bahkan, Bene tak bisa dianggap penulis sembarangan. Pria asal Aceh itu adalah penulis skenario film terlaris Indonesia sampai dengan saat ini yakni Warkop DKI Reborn.

Selama kurang lebih satu jam berbincang di PAM, Bene banyak menceritakan pengalaman-pengalaman menariknya sebagai seorang penulis skenario. Dari situlah terkuak fakta-fakta menarik yang membuat saya bisa mengerti kenapa sinetron Indonesia kurang menarik dan cenderung monoton.

 

Tak Ada Alur Cerita yang Jelas

Normalnya, jika seseorang ingin membuat cerita, biasanya ia sudah tahu, siapa saja karakter-karakternya, apa yang menjadi masalah utama, dan bagaimana endingnya. Semua itu nyatanya tak dilakukan oleh para produser sinetron. Bahkan, menurut Bene, sebuah skenario sinetron bisa digarap oleh beberapa orang yang berbeda secara dadakan sehingga kadang ceritanya bisa melompat tak terkendali.

 

Tayang Setiap Hari

Saat saya masih SD dulu kayaknya tidak ada sinetron yang tayang setiap hari. Paling sering sebuah sinetron tayang hari Senin sampai Jumat. Itupun durasinya paling lama hanya satu jam.

Sekarang ini semua sinetron tayang setiap hari. Saya cukup kaget ketika beberapa hari yang lalu menonton sebuah sinetron yang ternyata menayangkan 2 episode sekaligus per hari. Saya tak bisa membayangkan bagaimana proses shooting sinetron tersebut. Apakah para pemain dan kru sinetron tersebut harus menginap di lokasi shooting?

Belum lagi kalau ada efek visualnya. Bagaimana cara tim editor menyelesaikan tugasnya?

Wajar jika hasilnya tak maksimal. Mereka ini seperti kerja rodi, tak pernah libur. Bahkan jam kerja mereka lebih panjang dari seorang buruh pabrik.

Jadi jangan heran jika melihat ada sebuah adegan pacaran di sinetron yang pemerannya terlihat males dan ogah-ogahan. Bukan karena akting mereka yang jelek, mereka sebenarnya lelah. Sorot mata kelelahan sangat gampang untuk dilihat dan tak mungkin bisa ditutupi.

 

Episode yang Terlalu Banyak

Bayangkan jika novel Harry Potter dibuat menjadi serial TV dengan 1000 episode. Kira-kira masihkah ceritanya menarik?

Ada 2 kemungkinan yang terjadi, pertama J.K. Rowling memaksakan diri menulis cerita sendirian secepat dan sesering mungkin. Atau kemungkinan kedua, Rowling meminta bantuan kepada beberapa penulis untuk menyelesaikan tulisannya.

Dua-duanya kemungkinan akan menghasilkan tulisan yang buruk. Saking banyaknya episode, penulisnya lama-lama akan kebingungan dan ceritanya akan semakin nyeleneh. Bisa jadi di episode ke 666 akan ada judul, “Harry Potter and The Swapped Son/Daughter”.

 

Mungkin saya terlalu jauh berkhayal, tetapi intinya adalah, semakin banyak episode sebuah sinetron, semakin rendah pula kualitasnya, dan semakin tidak meninggalkan kesan apapun bagi para penontonnya.

 

……

 

Menurut saya jika 3 hal di atas bisa diubah, sinetron Indonesia akan jauh lebih menarik. Sinetron tak perlu “mendidik” seperti yang disarankan banyak orang itu. Tak perlu juga menghadirkan cerita yang penuh kejutan seperti Westworld.

Bahkan sinetron-sinetron absurd macam Tuyul dan Mbak Yul, Jin dan Jun, dan Jinny Oh Jinny pun dulu sangat menarik sekali dan  sampai saat ini saya kadang masih suka nontonin di Youtube.

Saya tak bisa membayangkan 5 atau 10 tahun lagi akan ada orang yang pengen nonton lagi  sinetron Anak Jajanan .

 

 

 

 

“Fitsa Hats” adalah Bukti Betapa Kita Menyepelekan Kegiatan Membaca

hrt4xwzuev
gambar: twitter

Kalian tahu apa itu Fitsa Hats?

Well, mungkin saja kata-kata itu sangat asing dan tak memiliki makna, tetapi tidak belakangan ini.

Kepopuleran Fitsa Hats bermula dari beredarnya dokumen keterangan seorang saksi dalam kasus sidang dugaan penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kemarin lusa. Dalam dokumen yang berisi data diri saksi Novel Chaidir Hasan Bamukmin atau lebih dikenal dengan Habib Novel itu diketahui dirinya pernah bekerja di restoran Pizza Hut. Tetapi anehnya nama restoran Pizza yang tertulis di situ adalah “Fitsa Hats”.

Sontak istilah “Fitsa Hats” pun menjadi viral dan  melahirkan banyak meme-meme lucu.

 

 

source: twitter

 

Tak bisa dipungkiri tertulisnya “Fitsa Hats” di dokumen sebuah persidangan memang sangatlah lucu karena mematuhi rumus komedi yakni tragedi + timing.

Siapa yang menyangka dalam sebuah dokumen resmi terdapat  plesetan dari sebuah brand restoran terkenal?

Lain hal jika istilah “Fitsa Hats” muncul pada sebuah sketsa komedi. Orang-orang akan menganggap itu lelucon garing . Tetapi frasa ini tertulis di dalam dokumen dari sebuah persidangan yang paling disoroti saat ini. Sidang yang nyaris selalu dipenuhi tensi tinggi.

Kemunculan lelucon “Fitsa Hats” ibarat hujan deras di bulan Agustus.

 

Belakangan Habib Novel mengakui kalau ia tidak membaca dengan teliti dokumen tersebut sebelum menandatanginya.

Jawaban tersebut membuat saya sedih karena seolah mempertegas masalah besar yang dimiliki bangsa ini.

 

Minat baca masyarakat Indonesia yang memprihatinkan.

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel yang menyebut bahwa minat baca masyarakat Indonesia adalah salah satu yang terendah di dunia.Bahkan minat baca kita masih kalah dibanding negara-negara di Asia Tenggara seperti Singapura dan Malaysia.

Kondisi ini semakin memprihatinkan di era sosial media sekarang ini. Salah satu bahaya terbesarnya adalah maraknya berita-berita hoax yang beredar. Banyak orang malas membaca dan mencari tahu keaslian berita yang mereka temukan di Facebook atau Twitter. Parahnya lagi, mereka dengan senang hati menyebarkan informasi yang belum tentu benar tersebut.

Yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar, begitu kata Zen RS , seorang jurnalis dan penulis senior.

Harus diakui kata-kata tersebut sangat tepat menggambarkan kondisi saat ini.

Banyak orang membaca judul berita, melewati isinya dan langsung menuju kolom komentar. Padahal terkadang judul tak benar-benar menggambarkan isi dari berita tersebut.

Hal yang nyaris serupa juga bisa ditemui di Play Store. Kalian pasti sering menemui ulasan-ulasan aplikasi seperti “Kasih tiga bintang dulu, kalau bagus entar saya tambahin”.

Bagaimana bisa seseorang memberikan penilaian jika belum pernah merasakan pengalaman mengunakan aplikasi tersebut?

 

Kembali ke “Fitsa Hats”, saya rasa ada hal yang bisa kita pelajari dari viral-nya istilah itu. Bahwa sesuatu yang berkaitan dengan hukum bukanlah hal yang bisa disepelekan.

Tanpa sadar sebenarnya saya dan kita semua banyak menemui pernyataan-pernyataan hukum. Terms of Condition WordPress, Facebook, Twitter, Google .

Apakah kalian membacanya sebelum membuat akun?

Jujur, saya tak pernah membacanya.

Berarti kita juga pernah melakukan kesalahan yang sama seperti yang Habib Novel lakukan.

Contoh lainnya saya pernah menginstal sebuah aplikasi di laptop. Karena buru-buru saya tak sempat membaca detail instalasi. Hasilnya, saya menginstal banyak aplikasi tidak jelas dan harus repot-repot meng-uninstalnya satu per satu.

Hal-hal tersebut bisa saya hindari kalau saja saya meluangkan sedikit waktu untuk membaca.

Habib Novel dan saya beruntung tak mengalami kerugian yang berarti karena malas membaca. Tetapi jika ini menjadi kebiasaan bukan tidak mungkin kemalasan itu menimbulkan kerugian yang lebih besar.

Jangan sampai ada lagi “Fitsa Hats”- “Fitsa Hats” lainnya.

Mari lebih rajin membaca.