Si Keras Kepala Barcelona

 

Saya jarang sekali melewatkan pertandingan sepakbola, tetapi kemarin saya absen nonton pertandingan sepakbola paling ditunggu-tunggu pecinta sepakbola, el classico antara Barcelona melawan Real Madrid.

Saat pertandingan berlangsung saya sedang dalam perjalanan dan ketiduran di bus sehingga baru tahu hasilnya pada pagi hari.
Real Madrid kali ini memenangkan laga dengan skor 2-1.

Sebenarnya hasil itu bukan merupakan kejutan melihat performa kedua tim akhir-akhir ini.
Saat saya melihat statistik penguasaan bola, tidak juga ada yang aneh. Barcelona seperti biasanya selalu menguasai bola 2 kali lebih lama dari tim manapun yang menjadi lawannya.

Namun tiba-tiba saya berpikir. Kalau tidak salah ini adalah kekalahan ketiga Barca berturut-turut. Mereka kalah 3 kali dengan skor tipis, 0-1, 0-1, & 1-2.
Cara mereka kalah pun sama, mereka selalu menguasai bola lebih dari 60%, tetapi semuanya sia-sia.

Bagi saya Barcelona terlihat seperti manusia yang keras kepala, tidak mau belajar, dan tidak efektif.

Mereka begitu keras kepala memainkan pola yang sama bahkan meskipun banyak tim sudah tahu kelemahan mereka.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan filosofi bermain mereka, banyak orang menyukainya dan sejarah membuktikan kalau cara itu telah berhasil membawa mereka meraih kejayaan.

Tapi mereka seakan lupa kalau banyak hal sudah berubah. Tim-tim lain bertambah cerdik dan kuat.
Sementara mereka diam, puas dengan gaya permainan mereka, bersikeras tidak mau mempelajari cara-cara baru.

Bukankah ini mirip dengan manusia yang juga seringkali tidak mau berubah, padahal dunia terus berubah .

Hal yang tak kalah menarik dari Barcelona adalah mereka memang nyaris selalu mendominasi penguasaan bola, tetapi mereka melakukan usaha tembakan yang lebih sedikit dari tim lawan yang memegang bola lebih singkat.

Ini menggelikan, seperti seorang pemburu yang memegang senapan selama satu jam namun tak pernah mendapat hasil buruan, sementara pemburu lain justru berhasil mendapatkan buruan meskipun ia hanya memegang senapan selama setengah jam.

Lalu untuk apa menguasai bola banyak-banyak tanpa ada usaha lebih untuk menjebol gawang? Bukankah gol adalah tujuan bermain bola?

Lagi-lagi Barcelona terlihat seperti manusia yang bingung. Ia punya senapan tetapi ia sungkan menembakkannya, ia lebih suka memegang senapan itu dan memamerkannya kepada buruannya, bukannya langsung menembaknya.

Kegagalan demi kegagalan yang dialami FC Barcelona memberikan banyak pelajaran bagi kita.
Sebuah peringatan bagi semua manusia kalau dunia ini terus berputar dan berubah. Jika kita mau selamat, satu-satunya jalan adalah mau berubah, jangan sampai sifat keras kepala membuat kita enggan berubah dan akhirnya sulit mencapai tujuan.

Liga Terbaik di Dunia?

Akhir akhir ini terjadi perdebatan sengit di kalangan pecinta sepakbola.

Kompetisi manakah yang merupakan Liga terbaik di dunia?

Sebagian besar menjawab Liga Inggris, cukup banyak yang menjawab Liga Spanyol.
Sementara beberapa orang yang anti mainstream menyebut Liga Jerman, Italia, atau Perancis.

Tidak bisa dipungkiri, kandidat terkuat Liga terbaik di dunia adalah Liga Inggris. Sebagai bukti, Liga Inggris (Premier League)saat ini merupakan kompetisi yang paling banyak ditonton di dunia.

Lalu apakah sebenarnya kriteria kompetisi sepakbola terbaik di dunia?

Penggemar premier league akan dengan mudah menjawab, “Liga terbaik di dunia adalah liga yang tidak didominasi oleh satu atau dua klub, klub kecil sering mengejutkan klub besar dan banyak kejutan.”
Tidak peduli klub klub dari liga tersebut berprestasi di Liga Champions atau tidak, yang penting mereka mampu memberi hiburan.

Apakah cuma itu kriterianya?

Well, kalau cuma itu saja, cobalah tengok kompetisi dalam negeri kita.
Indonesia Super League (ISL) memenuhi semua kriteria di atas.
Tidak ada satu klub pun yang mendominasi ISL. Belum ada klub yang berhasil menjadi juara 2 musim berturut-turut. Bahkan klub yang baru juara di musim sebelumnya bisa terdegradasi di musim berikutnya, sebaliknya klub yang baru promosi bisa menjadi juara.

Klub besar kalah dari klub kecil?

Sering!!!, apalagi kalau klub “kecil” tersebut main di kandang sendiri. Ada kemungkinan tim tamu yang punya nama besar justru dibantai dengan skor telak.

Kalau cuma dilihat dari ketatnya kompetisi, ISL bisa disebut lebih unggul dari BPL. Lalu apakah ISL adalah kompetisi yang lebih baik dari BPL?
Tidak juga.

Nah, dari contoh di atas, bisa kita simpulkan kalau BPL disebut sebagai salah satu liga terbaik di dunia bukan karena ketatnya kompetisi.

Saya lebih setuju kalau hal-hal inilah yang sebenarnya mengorbitkan pamor liga Inggris.

1. Uang.

Tanpa adanya investor asing yang membeli klub-klub liga Inggris, tidak mungkin premier league bisa seperti sekarang.
Asal tahu saja, pada tahun 2004, Liga Italia masih menjadi tontonan yang lebih populer dari BPL.
Setelahnya, perlahan lahan kepopuleran Liga Inggris semakin jauh meninggalkan Italia. Jelas ada hubungannya dengan uang karena di tahun 2004, Roman Abramovic membeli sebuah klub Inggris yang miskin prestasi, Chelsea FC. Sampai sekarangpun kebanyakan klub klub Inggris dikuasai oleh asing.

2. Pengelolaan Liga.

Liga Inggris adalah sebuah kompetisi yang dikelola dengan baik. Lihat saja, dari mulai fasilitas, stadion dll semua dikelola dengan amat baik. Tidak heran kalau semua orang sangat tertarik.
Bandingkan dengan Liga Italia misalnya, maka akan terdapat jurang yang dalam di antara keduanya. Saat ini semua klub EPL sudah punya stadion milik sendiri, sementara di Italia, hanya Juventus yang punya stadion pribadi. Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi di Spanyol.

3. Media dan penyiaran.

Berbicara soal penyiaran, Liga Inggris memang sangat menarik untuk disaksikan.
Saya pernah mencoba membandingkan siaran langsung Liga Inggris dengan liga liga lain dan memang menonton siaran langsung liga Inggris jauh lebih menarik. Suara komentator, penyajian statistik dan pengambilan gambar sebuah pertandingan Liga Inggris benar benar menarik, bahkan lebih menarik dari piala dunia sekalipun.
Kepopuleran Liga Inggris juga tidak lepas dari campur tangan media.
Media Inggris sangat sering membahas hal hal yang bahkan tidak ada hubungannya dengan sepakbola, seperti kasus perselingkuhan, perseteruan antar pemain/ pelatih dll.

Menurut saya 3 hal itulah yang membuat Liga Premier Inggris menjadi begitu populer saat ini.
Faktor yang paling penting tentu saja adalah uang.
Saya sangat yakin apabila Liga Spanyol atau Italia dibanjiri oleh para investor asing yang sangat loyal mengeluarkan dana untuk klubnya, Liga Inggris akan bisa disaingi.

Sampai dengan saat itu, kita tidak bisa menentukan kompetisi sepakbola terbaik di dunia.
Sama halnya kita tidak bisa menentukan satu pembalap terbaik dari para pembalap yang kecepatan mobilnya tidak sama.