13 Reasons Why, Mengungkap Misteri di Balik Kematian Seorang Gadis SMA

mv5bytfmnzrlnwytmmfmni00ztfilwjhodgtogm5odq5ntgxzwuwl2ltywdlxkeyxkfqcgdeqxvymtexndq2mti-_v1_sy1000_cr006741000_al_
13 Reasons Why/IMDb

Seorang gadis SMA ditemukan sudah tak bernyawa di kamar mandi rumahnya. Kedua pergelangan nadinya robek, gadis itu bunuh diri.

Tak ada yang tahu pasti penyebab gadis itu nekat menghabisi nyawanya sendiri. Tak juga polisi, guru-guru, maupun kedua orangtuanya.

Akan tetapi gadis itu meninggalkan 13 buah rekaman suara yang tersimpan dalam 7 buah kaset pita. Kaset rekaman yang berisi alasan kenapa ia bunuh diri itu hanya diberikan kepada orang-orang yang bertanggung jawab akan kematiannya.

Itulah inti dari 13 reasons Why.  sebuah serial web produksi Netflix yang dirilis awal April lalu.

Serial ini cukup banyak menarik perhatian pengguna media sosial dan mendapatkan rating 9.0 di situs IMDb!

Saya sendiri pertama kali mengetahui serial ini dari sebuah  podcast yang saya dengarkan.

Tak butuh lama  untuk menyelesaikan seluruh episode 13 Reasons Why. Mungkin cuma sekitar 5 hari saja karena saya melahap dua sampai tiga episode berdurasi sejam setiap harinya.

Sinopsis

Sekilas, sekolah itu tampak seperti SMA-SMA lainnya. Kalau ada satu hal yang cukup unik dari sekolah itu adalah murid-muridnya yang sangat beragam.

Ada yang berkulit putih, ada yang berkulit hitam, ada yang berwajah latin, ada yang berwajah asia, ada yang normal, ada yang gay, ada yang lesbian, ada yang tattoan tapi nggak pakai narkoba,dll.

Selebihnya, itu adalah SMA biasa, tempat dimana semua orang ingin eksis dan populer.

Ada anak-anak yang menjadi populer karena  tergabung dalam tim basket sekolah.  Ada yang karena aktif dalam organisasi sekolah. Namun ada juga anak-anak yang hanya fokus belajar dan tak begitu populer di sekolah. Biasanya, anak-anak seperti ini jumlahnya sangat sedikit.

Clay Jensen, bisa dibilang adalah salah satu dari anak tersebut. Dia tak terlalu populer di sekolah meskipun sebenarnya dia tergolong pintar dan punya wajah yang lumayan ganteng, kombinasi antara Herjunot Ali dan Ander Herrera.

mv5bmtk2nte4ndi0m15bml5banbnxkftztgwnjazntqwmji-_v1_sx1500_cr001500999_al_
Clay Jensen dan Hannah Baker di 13 Reason Why/ IMDb

Clay adalah salah satu orang yang paling terpukul atas kematian Hannah Baker, si cewek yang nekat bunuh diri itu. Clay memendam rasa yang tak sempat ia ungkapkan kepada gadis itu.

Clay juga adalah salah satu orang yang mendapatkan kaset-kaset rekaman suara Hannah, yang artinya, ia juga punya andil atas kematiannya!

Clay pun berusaha menguak misteri yang menyelimuti kematian Hannah. Sambil mendengarkan kaset rekaman tersebut, ia menelusuri tempat-tempat dimana Hannah mengalami berbagai peristiwa tak mengenakkan.

Satu per satu misteri pun terkuak. Tiap rekaman berisi satu nama beserta perbuatan-perbuatan buruk yang telah mereka lakukan kepada Hannah.

Review

Dari segi cerita, 13 reasons why menurut saya sangat menarik. Ide cerita yang sudah menarik itu dieksekusi ke dalam 13 episode yang selalu berhasil menciptakan ketegangan yang intens.

Hal ini membuat saya selalu merasa “lelah batin” setiap kali menyelesaikan sebuah episodenya.

Katherine Langford yang memerankan Hannah mampu membuat saya bergidik setiap kali mendengar suaranya yang khas. Sosoknya yang cantik dan bermata sayu pun semakin membuat saya terus berempati kepada Hannah.

Pemeran Clay Jensen, Dylan Minette pun berhasil membuat saya merasakan betapa frustrasinya seorang cowok yang kehilangan gadis yang dicintainya dan terlebih dirinya merupakan salah satu penyebab gadis itu bunuh diri.

Satu hal yang paling saya suka dari serial ini adalah editing-nya yang  sangat bagus.

Serial ini seringkali menampilkan gambar dari sebuah kejadian di masa lalu, lalu tiba-tiba beralih ke masa kini. Kadang juga keduanya digabung sehingga menambah kesan dramatis.

Selain itu, saya juga suka lagu-lagu soundtrack serial ini. Lagu-lagu bagus yang selalu diputar di akhir episode ini seolah-olah menjadi penawar kesedihan dan depresi tiap kali selesai menonton sebuah episode.

Kesimpulan

Meski serial ini sangat bagus dan menarik, sebaiknya jangan ditonton saat kondisi hati sedang tak enak.

Pada episode-episode awal mungkin serial ini cukup nyaman untuk ditonton. Tetapi makin lama anda akan tertular rasa depresi dan kesedihan yang diceritakan di serial ini. Terutama di tiga episode akhir yang menurut saya cukup mengerikan.

Serial ini bisa saja memicu penonton yang pikirannya tak jernih untuk meniru apa yang dilakukan Hannah Baker, membalas dendam dengan cara bunuh diri.

Akan tetapi saya juga mendapat beberapa pelajaran yang bisa didapat dari 13 reasons why ,

  • Jika pernah kepikiran untuk bunuh diri, ingatlah orangtua, bayangkan perasaan mereka. Serial ini menggambarkan kepedihan orangtua yang anaknya bunuh diri.
  • Perhatikan orang-orang terdekat. Jika mereka terlihat sedang punya masalah, tawarkan bantuan. Jangan diam saja, jika tak mau menyesal kemudian.
  • Kalau pernah menyakiti perasaan orang lain segera minta maaf, siapa tahu dia merupakan tipe orang yang tidak mudah melupakan sesuatu.
  • Selalu berpikir positif. Setiap masalah pasti ada solusinya dan jangan pernah merasa seorang diri. Meski sedikit, percayalah selalu ada orang yang peduli kepada kita.

Silahkan tonton serial ini, tetapi jangan lupa siapkan hati dan pikiran sebelum menontonnya.

 

Baca juga: Review 13 Reasons Why Part 2: Novel, Karakter, dan Soundtrack

Review: Hidden Figures

Hidden Figures
Hidden Figures

 

Perjalanan saya “memburu” film-film peraih nominasi Academy Awards 2017  masih belum berakhir. Kali ini pilihan saya jatuh kepada Hidden Figures.

Hidden Figures adalah film yang diangkat dari kisah nyata yang terjadi di tahun 60-an. Saat itu Uni Soviet dan Amerika Serikat sedang bersaing ketat dalam hal ekspedisi antariksa.

Keberhasilan Soviet melucurkan satelit buatan yang diikuti dengan keberhasilan Yuri Gagarin menjadi orang pertama yang menjelajah ruang angkasa membuat Badan Antariksa Amerika (NASA) berada dalam tekanan.

Film ini memperlihatkan upaya keras Amerika untuk bisa menandingi dan bahkan melampaui pencapaian yang dicapai oleh Soviet.

Kita tahu pada akhirnya NASA berhasil mengungguli Soviet dengan keberhasilan mereka mengirim manusia ke bulan. Akan tetapi perjalanan tersebut tidak mudah dan melibatkan banyak orang.

Termasuk tiga wanita cerdas dan pemberani yang jasa-jasanya tertutupi selama puluhan tahun yang menjadi karakter utama di film Hidden Figures ini.

Sinopsis

Katherine Goble ( diperankan oleh Taraji. P Hanson), Dorothy Vaughan (Octavia Spencer), dan Mary Jackson (Jannele Monae) adalah tiga wanita cerdas yang bekerja sebagai Matematikawan untuk NASA.

Di antara ketiganya, Katherine adalah yang paling menonjol. Sejak kecil kemampuannya dalam  matematika sudah terlihat. Katherine kecil mampu memecahkan soal-soal yang tak bisa diselesaikan oleh anak-anak yang lebih tua darinya.

Sayangnya, saat itu rasisme masih menjadi hal yang wajar di Amerika. Alhasil, ketiga wanita  yang berasal dari kaum kulit hitam tersebut pun tak mendapat perlakuan yang selayaknya di NASA, tempat mereka bekerja.

Para pekerja berkulit hitam tak pernah dipercaya untuk mengisi posisi-posisi penting. Mereka hanya dipekerjakan untuk menghitung dan dianggap sebagai  mesin kalkulator.

Dengan keberanian, kerja keras dan kecerdasan mereka, akhirnya Katherine, Dorothy, dan Mary mampu membuktikan bahwa mereka mampu memberikan kontribusi besar bagi NASA dan layak mendapat perlakuan yang setara dengan pekerja-pekerja lain.

 

Review

Tak seperti La La Land, Arrival, atau Moonlight yang ramai dibahas di media-media sosial, Hidden Figures relatif tak terlalu populer.

Padahal film ini menurut saya sangat brilian. Ceritanya bagus, akting para aktor dan aktrisnya meyakinkan , dan banyak pesan moral yang disampaikan.

Perjuangan ketiga karakter utama di film ini sangat menarik untuk diikuti. Bagaimana mereka menghadapi perlakuan rasis dalam nyaris segala hal membuat saya sangat berempati.

Bayangkan, untuk urusan toilet saja terdapat pengkotak-kotakan. Ada toilet khusus untuk orang berkulit putih dan untuk orang non kulit putih.

Belum lagi dalam bidang pendidikan. Orang-orang kulit hitam selalu mendapatkan perlakuan berbeda. Ada sekolah-sekolah maupun perpustakaan-perpustakaan yang tidak mengijinkan mereka untuk masuk karena hanya dikhususkan untuk orang-orang berkulit putih.

Meski ada banyak momen-momen yang menggambarkan diskriminasi terhadap kaum kulit hitam di film ini,  kita juga tak bisa menyalahkan kaum kulit putih 100%.

Mereka seperti tak menyadari adanya diskriminasi terhadap kaum non-kulit putih dan menganggap aturan-aturan tadi adalah hal yang wajar.

Upaya Katherine, Dorothy, dan Mary dalam menyadarkan mereka inilah yang membuat ada banyak adegan-adegan yang membuat saya merinding di film ini.

Salah satunya adalah adegan saat Mary mengajukan tuntutan di pengadilan agar ia bisa berkuliah di sekolah khusus kulit putih.

I plan on being an engineer at NASA, but I can’t do that without taking them classes at that all-white high school, and I can’t change the color of my skin. So I have no choice, but to be the first, which I can’t do without you, sir. Your honor, out of all the cases you gon hear today, which one is gon matter hundred years from now? Which one is gon make you the first?

Mary Jackson, Hidden Figures

Mary mengatakan kalimat-kalimat tersebut dengan sangat lantang dan membuat sang hakim tak bisa berbuat apapun selain mengabulkan tuntutannya.

Janele Monae yang berperan sebagai Mary jelas adalah karakter favorit saya di film ini, meski sebenarnya pemeran Dorothy dan Katherine juga tak kalah memikat.

Selain itu ada dua pemeran pembantu yang cukup menarik perhatian saya.

Yang pertama adalah Mahersala Alli, peraih pemeran pembantu terbaik Oscar 2017. Meski Ali mendapatkan Oscar berkat perannya di film Moonlight, perannya sebagai Kolonel Jim Johnson (Kekasih Katherine) cukup bagus .

Yang kedua adalah Jim Parsons yang berperan sebagai Paul Stafford, rekan sekerja Katherine. Sebagai seseorang yang nge-fans sama aktingnya sebagai Sheldon Cooper di serial The Big Bang Theory, saya sangat antusias dengan kehadirannya.

Jim mampu membawakan karakter yang benar-benar berbeda di film ini dengan baik. Tak seperti Sheldon Cooper yang cerewet, jenius, dan menyebalkan, Stafford adalah pribadi yang serius dan tak banyak bicara meski sama menyebalkannya.

 

Kesimpulan

Film ini setidaknya memberikan dua pesan penting

  •  Setiap orang harus mendapat perlakuan sama, tak peduli apapun warna kulit, atau suku asal mereka. Slogan “FIGHT AGAINST RACISM” yang sering diperlihatkan di pertandingan-pertandingan sepakbola internasional benar-benar harus dilakukan.
  • Matematika adalah ilmu yang sangat penting. Bahkan meski kita tak pernah tahu penerapannya di dalam kehidupan sehari-hari. Setelah menonton film ini kita akan sadar betapa pentingnya sebuah perhitungan dan bahkan di luar sana ada orang-orang yang mempercayakan hidup dan matinya kepada perhitungan-perhitungan matematis.

 

Hidden Figures sangat cocok ditonton oleh kita orang Indonesia yang hidup di negara yang memiliki banyak sekali perbedaan.

Film ini akan memberikan sudut pandang baru dan bisa jadi akan menyadarkan kita bahwa mungkin, entah sadar atau tidak, kita pernah bersikap tidak adil kepada orang-orang lain di sekitar kita.

9/10

 

Baca juga review film-film pemenang/peraih nominasi oscar lainnya:

La La Land & Arrival

Manchester by the Sea, Hacksaw Ridge, Moonlight

 

gambar: IMDb

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Agar Sinetron Indonesia Lebih Menarik

91712-0_663_382
Anak Jajanan/ viva.co.id

 

Kalian tentu sudah berulang kali mendengar tentang buruknya kualitas sinetron Indonesia.

Selama ini saya terus bertanya-tanya, kenapa stasiun TV masih mempertahankan tayangan yang jelas-jelas mendapatkan kritik dari banyak pihak.

Oke, jawabannya adalah karena rating.

Tetapi kenapa kualitas sinetron Indonesia terus buruk padahal beberapa tahun belakangan ini ada banyak film-film bagus yang beredar di bioskop?

Negeri ini juga tak kekurangan pengarang-pengarang handal yang jago menciptakan cerita-cerita yang bagus, lihat betapa banyaknya novel-novel bagus yang beredar di pasaran.

Sampai akhirnya beberapa saat lalu saya mendapati sebuah “pencerahan” tentang sinetron dari hasil mendengarkan Podcast Awal Minggu-nya Adriano Qalbi.

 

Apa itu podcast? Baca di sini: Mari Mendengarkan Podcast

 

Di situ Adri mengundang Bene Dion, seorang stand up comedian yang lumayan terkenal. Tak banyak yang tahu kalau dia juga adalah seorang penulis skenario film. Bahkan, Bene tak bisa dianggap penulis sembarangan. Pria asal Aceh itu adalah penulis skenario film terlaris Indonesia sampai dengan saat ini yakni Warkop DKI Reborn.

Selama kurang lebih satu jam berbincang di PAM, Bene banyak menceritakan pengalaman-pengalaman menariknya sebagai seorang penulis skenario. Dari situlah terkuak fakta-fakta menarik yang membuat saya bisa mengerti kenapa sinetron Indonesia kurang menarik dan cenderung monoton.

 

Tak Ada Alur Cerita yang Jelas

Normalnya, jika seseorang ingin membuat cerita, biasanya ia sudah tahu, siapa saja karakter-karakternya, apa yang menjadi masalah utama, dan bagaimana endingnya. Semua itu nyatanya tak dilakukan oleh para produser sinetron. Bahkan, menurut Bene, sebuah skenario sinetron bisa digarap oleh beberapa orang yang berbeda secara dadakan sehingga kadang ceritanya bisa melompat tak terkendali.

 

Tayang Setiap Hari

Saat saya masih SD dulu kayaknya tidak ada sinetron yang tayang setiap hari. Paling sering sebuah sinetron tayang hari Senin sampai Jumat. Itupun durasinya paling lama hanya satu jam.

Sekarang ini semua sinetron tayang setiap hari. Saya cukup kaget ketika beberapa hari yang lalu menonton sebuah sinetron yang ternyata menayangkan 2 episode sekaligus per hari. Saya tak bisa membayangkan bagaimana proses shooting sinetron tersebut. Apakah para pemain dan kru sinetron tersebut harus menginap di lokasi shooting?

Belum lagi kalau ada efek visualnya. Bagaimana cara tim editor menyelesaikan tugasnya?

Wajar jika hasilnya tak maksimal. Mereka ini seperti kerja rodi, tak pernah libur. Bahkan jam kerja mereka lebih panjang dari seorang buruh pabrik.

Jadi jangan heran jika melihat ada sebuah adegan pacaran di sinetron yang pemerannya terlihat males dan ogah-ogahan. Bukan karena akting mereka yang jelek, mereka sebenarnya lelah. Sorot mata kelelahan sangat gampang untuk dilihat dan tak mungkin bisa ditutupi.

 

Episode yang Terlalu Banyak

Bayangkan jika novel Harry Potter dibuat menjadi serial TV dengan 1000 episode. Kira-kira masihkah ceritanya menarik?

Ada 2 kemungkinan yang terjadi, pertama J.K. Rowling memaksakan diri menulis cerita sendirian secepat dan sesering mungkin. Atau kemungkinan kedua, Rowling meminta bantuan kepada beberapa penulis untuk menyelesaikan tulisannya.

Dua-duanya kemungkinan akan menghasilkan tulisan yang buruk. Saking banyaknya episode, penulisnya lama-lama akan kebingungan dan ceritanya akan semakin nyeleneh. Bisa jadi di episode ke 666 akan ada judul, “Harry Potter and The Swapped Son/Daughter”.

 

Mungkin saya terlalu jauh berkhayal, tetapi intinya adalah, semakin banyak episode sebuah sinetron, semakin rendah pula kualitasnya, dan semakin tidak meninggalkan kesan apapun bagi para penontonnya.

 

……

 

Menurut saya jika 3 hal di atas bisa diubah, sinetron Indonesia akan jauh lebih menarik. Sinetron tak perlu “mendidik” seperti yang disarankan banyak orang itu. Tak perlu juga menghadirkan cerita yang penuh kejutan seperti Westworld.

Bahkan sinetron-sinetron absurd macam Tuyul dan Mbak Yul, Jin dan Jun, dan Jinny Oh Jinny pun dulu sangat menarik sekali dan  sampai saat ini saya kadang masih suka nontonin di Youtube.

Saya tak bisa membayangkan 5 atau 10 tahun lagi akan ada orang yang pengen nonton lagi  sinetron Anak Jajanan .

 

 

 

 

Review: Manchester by the Sea, Hacksaw Ridge, Moonlight

Saya bukanlah penggemar fanatik film. Tetapi dalam beberapa bulan terakhir saya cukup sering mengikuti perkembangan dunia film. Saya banyak mengikuti akun-akun film di twitter dan instagram sehingga apapun yang sedang ramai di dunia perfilman dapat langsung saya ketahui.

Termasuk dengan kehebohan pagelaran Academy Awards 2017 beberapa hari yang lalu. Ajang bergengsi dunia perfilman yang memperebutkan Piala Oscar tersebut menarik perhatian saya karena di antara daftar pemenangnya ada 3 film yang sudah saya tonton yakni, Zootopia, La La Land, dan Arrival.

 

Baca: Review: La La Land & Arrival

 

Akan tetapi ada jauh lebih banyak film-film yang belum saya tonton, bahkan ada beberapa judul film yang sama sekali asing bagi saya.

Karena penasaran akhirnya saya mencari-cari informasi tentang film-film tersebut dan akhirnya…

menemukan link downloadnya. (thanks to torrent)

Di bawah ini saya mereview 3 film pemenang oscar 2017, Manchester by the Sea, Hacksaw Ridge, dan Moonlight.

 

Manchester by the Sea

mv5bmtyxmjk0ndg4ml5bml5banbnxkftztgwodcynja5ote-_v1_sy1000_cr006741000_al_
Manchester by the Sea

Sekedar info, Manchester yang menjadi latar film ini bukanlah sebuah kota di Inggris, melainkan sebuah wilayah di timur laut Amerika Serikat.

Film ini berkisah tentang seorang pria bernama Lee Chandler (Cassey Affleck) yang terpaksa harus kembali ke Manchester, kampung halamannya untuk merawat keponakan laki-lakinya yang baru saja ditinggal mati ayahnya.

Masalahnya, tak mudah bagi Lee untuk kembali ke Manchester. Kota itu menyimpan banyak kenangan buruk baginya.

Tiga puluh menit pertama film ini sedikit membosankan. Ada banyak dialog-dialog canggung dan kaku yang melibatkan Lee dan orang-orang yang ditemuinya. Ketiadaan musik pengiring semakin menambah sepi suasana.

Memasuki pertengahan film, saat Lee bertemu dengan Patrick sepupunya, cerita menjadi jauh lebih menarik. Meski perbincangan keduanya juga tak kalah canggung, tingkah laku Patrick, remaja 16 tahun yang sedang menikmati masa mudanya sangat menarik untuk diikuti.

Bagian terbaik film ini adalah potongan-potongan flashback kehidupan Lee Chandler di masa lalu bersama mantan istri dan kedua anaknya. Kita diajak untuk melihat sosok Lee yang dulu, sosok seorang pria yang sangat ekspresif dan ceria sebelum kehidupannya berakhir tragis dan menyedihkan.

Pada akhirnya saya bisa mengerti kenapa Lee menjadi sosok yang begitu kaku dan dingin. Pria ini punya alasan kuat untuk bersedih sepanjang sisa hidupnya.

Berkat aktingnya di film ini, Cassey Affleck mendapatkan Oscar untuk kategori Best Performance by an Actor in a Leading Role (Pemeran Laki-Laki Terbaik).

Penghargaan yang sangat layak karena aktingnya di film ini mampu membuat para penonton benar-benar merasakan kesedihan yang dialami Lee Chandler. Hebatnya, Affleck menunjukkannya bukan dengan akting atau kata-kata dramatis, tetapi cukup melalui  sikap kaku dan dingin serta sorot matanya yang memancarkan kesedihan.

Manchester by the Sea juga meraih satu oscar lain di kategori best original screenplay (naskah asli terbaik).

 

Hacksaw Ridge

mv5bmjq1njm3mtuxnv5bml5banbnxkftztgwmdc5mty5ote-_v1_sy1000_cr006471000_al_
Hacksaw Ridge

Hacksaw Ridge adalah film yang diadaptasi dari kisah nyata seorang petugas medis tentara Amerika Serikat bernama Desmond Doss pada masa perang dunia kedua.

Desmond Doss (Andrew Garfield) adalah seorang penganut kristen yang taat. Sejak kecil ia diajari untuk tidak membunuh karena itu merupakan dosa yang sangat besar.

Situasi menjadi rumit karena saat dewasa ia bergabung dengan pasukan tentara Amerika yang akan berperang melawan Jepang. Desmond, yang masih memegang teguh keyakinannya menolak untuk mengangkat senjata. Ia berniat mejadi seorang petugas medis tentara yang menyelamatkan nyawa manusia, bukan menghilangkannya.

Tentu saja niatnya itu mendapat banyak tantangan. Bagaimana mungkin seseorang terjun ke medan perang tanpa kemampuan menggunakan senjata?

Menurut saya film ini adalah paket lengkap. Film ini menyajikan humor dan drama dalam takaran yang seimbang.

Ada satu adegan lucu yang sulit saya lupakan yakni saat adegan baris-baris pelatihan di kamp tentara dimana sang sersan menanyai prajuritnya satu per satu. Entah kenapa adegan itu mengingatkan saya pada adegan di film Warkop DKI saat Dono, Kasino, Indro mengikuti pelatihan satpam. 😀

Tetapi yang paling epic adalah adegan peperangan di sepertiga terakhir film. Medan perang yang terjal digambarkan dengan baik dan nyata. Pemandangan mayat yang berserakan dan orang-orang yang kehilangan anggota tubuh benar-benar mengerikan dan membuat sebaiknya film ini jangan ditonton sambil makan.

Prajurit-prajurit Jepang yang tak kenal takut, cerdik, dan kejam juga digambarkan melalui adegan-adegan pembunuhan yang brutal.

Tak lupa, perjuangan Desmond, sang paramedis di medan perang tanpa bermodal senjata pun diperlihatkan dengan sangat bagus. Bagaimana ia harus menghindari peluru-peluru dan rudal untuk mengobati rekan-rekannya. Juga bagaimana ia tetap bersikeras untuk mencari dan mengobati rekan-rekannya yang masih terluka meski tentara Amerika telah diperintahkan untuk mundur membuat saya terkagum-kagum terhadap keberanian pria ini.

Pada akhirnya, Hacksaw Ridge berhasil memberikan pesan bahwa peperangan adalah sesuatu yang sangat mengerikan dan sebisa mungkin harus dihindari.

Film ini meraih dua oscar untuk kategori Best Achievement in Film Editing dan Best Sound Mixing .

 

Moonlight

mv5bnzqxntiyodaxmv5bml5banbnxkftztgwnzqymda3ote-_v1_sy1000_cr006741000_al_
Moonlight

Ini adalah film yang paling membuat saya penasaran karena film ini berhasil mengalahkan La la Land di ajang Academy Awards 2017 untuk kategory Best Motion Picture atau film terbaik .

Moonlight bercerita tentang kehidupan seorang laki-laki Amerika berkulit hitam bernama Chiron sejak ia kecil, remaja, sampai dewasa.

Kehidupan Chiron kecil sangat menyedihkan karena ia dibully oleh anak-anak sebayanya. Ayah Chiron juga tak jelas keberadaannya sementara Ibunya adalah seorang pecandu narkoba. Untungnya ia bertemu dengan Juan (Mahersala Ali) dan Teresa (Janelle Monae) yang amat menyayanginya.

Masa remaja Chiron tak jauh beda dengan masa kecilnya, malah bisa dibilang lebih buruk. Tak ada lagi Juan, ibunya semakin kecanduan,  dan ia masih dibully di sekolah.

Bahkan yang paling menyakitkan, ia dikhianati oleh satu-satunya orang yang ia percayai.

Setelah dewasa, kehidupan Chiron lebih mendingan, tetapi tetap saja ia tak mendapatkan kebahagiaannya sampai akhir cerita.

 

Satu hal yang saya tangkap dari Moonlight adalah film ini sangat gelap. Selain karena ceritanya yang sedih, film ini juga membahas realita yang mungkin bagi sebagian besar orang sangat tabu mengenai kehidupan kaum kulit hitam yang keras, gay dan homoseksual, serta bisnis narkotika.

Mungkin karena itu juga, saya tak bisa menangkap pesan yang disampaikan film ini. Masalah-masalah tersebut memang jarang dan bahkan sama sekali tak terjadi di negara-negara asia, termasuk Indonesia.

Berkat perannya sebagai Juan di film ini, Mahersala Ali menjadi aktor muslim pertama yang meraih oscar. Pria 43 tahun itu memenangi kategori best actor in supporting role (pemeran pembantu pria terbaik).

Penampilan Ali memang menyenangkan di film ini meski ia hanya tampil di sepertiga awal film.

Satu lagi oscar untuk Moonlight berasal dari kategori best adapted screenplay (skenario adaptasi terbaik).

 

Kesimpulan

Tiga film yang saya review di atas memberikan kesan yang berbeda-beda. Manchester by the Sea mengangkat tema keluarga sedangkan Hacksaw Ridge memberikan pesan bagus tentang perdamaian.

Sementara Moonlight, meskipun kontroversial, mampu memberikan sudut pandang lain tentang kenyataan diskriminasi dan penderitaan yang dialami kaum kulit hitam dan gay.

Jika harus memilih manakah yang terbaik di antara ketiganya, saya akan memilih Hacksaw Ridge.

 

Penilaian saya:

Manchester by The Sea :     8

Hacksaw Ridge:       8.5

Moonlight:     7.5

 

gambar: IMDb

 

 

 

 

Review Westworld: Serial yang Penuh Kejutan

160819-westworld-s1-blast-07-1280

 

Pernahkah kalian kesulitan menulis tentang suatu hal?  Jika pernah mengalaminya, ada dua kemungkinan kenapa  topik itu sulit untuk ditulis.

Pertama, topik itu begitu membosankan sehingga kalian tidak tahu bagaimana harus menulisnya. Kedua, topik itu sangat menarik, banyak hal bagus yang bisa ditulis tentangnya, tetapi saking banyaknya, kalian malah bingung harus memulai dari mana.

Tulisan ini merupakan contoh kasus yang kedua.

Westworld adalah serial TV yang nyaris sempurna, banyak hal yang bisa diceritakan dari serial ini dan saya kesulitan untuk menuangkannya dalam sebuah postingan.

westworld

 

Inti cerita Westworld adalah kisah tentang sebuah taman bermain buatan yang sangat mirip dengan dunia nyata. Semuanya buatan namun sangat mirip aslinya, dari mulai rumah-rumah, pegunungan, hutan-hutan, hewan-hewan liar sampai robot manusia penghuni taman tersebut yang dikenal dengan sebutan host.

Lalu apa tujuan taman tersebut dibuat?

Jawabannya adalah sebagai tempat berlibur bagi para konglomerat. Layaknya sebuah game, taman tersebut adalah tempat hiburan bagi para pengunjungnya yang dikenal dengan sebutan guest.

Sebuah game tentunya memiliki tema dan cerita tertentu, begitu juga dengan Westworld. Tema yang bisa dinikmati oleh pengunjung di Westworld adalah  tema kehidupan dunia barat masa lalu dimana para guest akan bermain sebagai seorang koboi.

Keberadaan Westworld tentu saja menjadi daya tarik banyak orang untuk menghabiskan waktunya di sana. Bayangkan saja, para guest bebas melakukan apa saja selama berada di taman tersebut. Mereka bisa membunuh para host koboi sesuka hati tanpa takut terluka sedikitpun , mereka juga bebas meniduri para host perempuan yang kecantikannya tak kalah dengan perempuan asli.

episode-08-1280

Di Westworld, setiap guest bebas memilih peran mereka, mau jadi penjahat atau jadi pahlawan.

Semuanya berjalan dengan normal pada awalnya. Para guest menikmati waktu mereka di Westworld. Sementara para host, menjalani aktivitas rutin mereka (loop) sesuai dengan skenario yang dibuat.

Masalah mulai muncul saat para host mulai berperilaku aneh dan menyimpang. Hal ini membuat orang-orang di balik layar Westworld kerepotan. Mereka mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan para host.

Bernard Lowe (Jeffrey Wright) dan Theresa Cullen (Sidse Babett Knudsen ) adalah dua orang yang paling dibuat pusing dengan kondisi itu. Mereka berdua adalah orang yang paling bertanggung jawab menjaga agar situasi di dalam Westworld tetap normal dan memastikan para host tetap berperilaku sesuai naskah.

Sementara Robert Ford (Anthony Hopkins), sang pencipta semua host yang ada di Westworld tampaknya tak mau bekerja sama dengan Bernard dan Theresa. Sebagai pencipta, Ford merasa memiliki kewenangan untuk mengatur semua yang terjadi di Westworld, termasuk mengubah jalan cerita dan karakter para host.

Di sisi lain ada seorang guest tua misterius berjuluk Man in Black yang terus menjelajahi Westworld selama tiga puluh tahun terakhir. Pria itu sedang mencari sesuatu yang selama ini menjadi rahasia Westworld.

Kehidupan para host juga diceritakan melalui sosok Dolores (Evan Rachel Wood), seorang host cantik yang skenarionya di Westworld membuat kehidupannya selalu berakhir dengan buruk dan Maeve (Thandie Newton), seorang pelacur yang juga mengelola sebuah rumah prostitusi.

Keduanya sama-sama berperilaku aneh dan menularkan perilaku tersebut pada host-host lainnya.

Masalah-masalah itulah yang menjadi inti cerita serial Westworld selama 10 episode dengan durasi kurang lebih 50 menit.

Serial ini, seperti yang sudah saya kemukakan sebelumnya, mempunyai banyak hal yang bisa diceritakan. Setiap episodenya selalu menyajikan kejutan-kejutan sekaligus pertanyaan-pertanyaan yang selalu membuat penasaran menantikan apa yang terjadi di episode-episode selanjutnya.

Dari segi pembuatan, serial yang diproduksi oleh HBO ini benar-benar digarap dengan serius karena menghabiskan dana yang kabarnya melebihi dana pembuatan film-film box office Hollywood.

Terbukti dengan tampilan setiap adegan dalam film ini yang lekat dengan kesan megah, terutama saat adegan-adegan yang mengambil latar di dalam “dapur” Westworld, tempat dimana para host dibuat.

161212-westworld-news

Keindahan-keindahan itu masih ditambah dengan alunan-alunan musik indah yang mengiringi setiap adegan. Sebagian besar musik-musik tersebut adalah hasil aransemen ulang  dari lagu-lagu band-band rock klasik yang sudah melegenda sehingga sembari menonton Westworld para penonton akan  sedikit diajak bernostalgia lewat alunan musik latar.

Penampilan para aktornya pun menurut saya sangat memuaskan. Anthony Hopkins yang berperan sebagai Robert Ford mampu memerankan sosok pria yang cerdas, berkuasa, sekaligus misterius dengan sangat baik. Evan Rachel Wood yang mendapatkan peran sebagai Dolores, host cantik yang selalu bernasib malang , menjalankan tugasnya dengan baik. Ia mampu memainkan ekspresinya dengan baik terutama saat harus beradegan menjadi seorang robot.

westworld-official-trailer-evan-rachel-wood-hbo

Demikian pula dengan aktor-aktor lain, mereka semua berhasil membuat saya larut ke dunia Westworld.

 

Satu hal yang membuat keseruan menonton Westworld semakin bertambah adalah banyaknya diskusi-diskusi sengit antar para penontonnya. Di setiap forum online yang saya temui, banyak sekali teori-teori dan asumsi-asumsi tentang apa yang sebenarnya terjadi di Westworld .

Setiap kali selesai menonton sebuah episode Westworld saya biasanya langsung mengunjungi situs-situs forum online seperti Reddit, Kaskus, maupu Facebook group untuk mencari penjelasan-penjelasan tentang hal-hal yang tidak saya mengerti di episode tersebut dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di episode selanjutnya.

Tak cukup dengan mencari jawaban di forum-forum diskusi, saya bahkan juga rajin mendengarkan podcast-podcast yang mengulas episode-episode Westworld.  

Saya rasa saya tak pernah se-niat itu dalam mengikuti sebuah serial TV maupun Film.

Ketika Westworld menyelesaikan episode terakhirnya pertengahan Desember yang lalu, saya merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup saya. Apalagi musim kedua Westworld baru akan tayang pada 2018 mendatang.

Untungnya sampai sekarang grup facebook yang berisi para Fans Westworld masih ramai, bahkan setiap hari masih ada orang yang posting, entah itu fakta-fakta menarik seputar Westworld atau sekedar meme-meme lucu yang berhubungan dengan serial tersebut.

Saya rasa seribu kata yang saya tulis di postingan ini pun masih kurang cukup untuk mengekspresikan betapa kagumnya saya akan serial Westworld.

Tak apalah, saya sudah cukup puas karena akhirnya bisa menyelesaikan tulisan ini.

Westworld adalah tontonan yang sangat saya rekomendasikan. Saya yakin serial ini akan menghibur dan mengejutkan siapapun yang menontonnya.

Jika anda suka tontonan bertema fiksi-ilmiah yang penuh dengan twist, anda pasti akan menyukai Westworld.

Trailler:

 

Catatan:

  • Serial ini cukup banyak menampilkan adegan-adegan telanjang para host baik laki-laki maupun perempuan namun tak sampai membuat pikiran kita “ngeres” karena mereka berakting sebagai robot.

 

Gambar: HBO