Cermin-Cermin: Kertas

Di bawah ini ada beberapa cerita mini (cermin) buatan saya. Saat ini saya masih kesulitan membuat cerita yang lebih panjang sehingga saya putuskan untuk membuat cerita-cerita mini yang mengandung kata kunci tertentu. Kata kunci yang saya gunakan kali ini adalah “Kertas”.

paper-315772_1280
source: pixabay.com

 

1.

Brian memegangi kertas itu dengan gugup. Tubuhnya entah kenapa tak bisa berhenti gemetaran. “Semuanya akan baik-baik saja”, batinnya menyemangati diri sendiri.

Tetapi tampaknya itu tak berhasil, keringat dingin kini malah membasahi seluruh tubuhnya.

“Saudara Brian Raharja, silakan memasuki ruangan wawancara.”

Brian terhenyak mendengar namanya dipanggil, ia segera bangkit berdiri, tetapi tubuhnya melemas. Hal terakhir yang dia ingat adalah pandangannya mulai kabur kemudian semuanya menjadi gelap.

 

2.

Salah satu kegiatan favorit Rendra adalah mengunjungi toko buku. Meski sebenarnya dia hanya membeli buku sekali saja setiap bulannya , ia selalu rutin ke toko buku itu dua kali seminggu. Entah kenapa, berada di tengah lembaran-lembaran kertas membuat ia merasa nyaman.

Karena seringnya mengunjungi toko buku tua itu, ia jadi hafal dengan situasi di sana. Pada hari Senin, biasanya toko itu sangat sepi. Selain dirinya, hanya ada dua pengujung lain, seorang  wanita berusia 40an yang mengenakan baju merah terang bersama dengan putri kecilnya. Mereka selalu terlihat sedang asyik membaca sebuah majalah.

Sementara di hari Jumat, pengunjung sedikit lebih ramai. Rendra tak sempat memperhatikan para pengunjung satu per satu, tetapi setahunya, dua orang yang ia lihat di hari Senin juga ada di hari Jumat.

Tetapi Senin itu ia hanya menjumpai seorang gadis muda yang tak pernah dilihatnya. Gadis berambut panjang itu mungkin baru berumur sekitar duapuluhan. Ia tampak sedang sibuk memilah-milah majalah.

Sambil melihat-lihat buku-buku biografi, Rendra bertanya-tanya kenapa hari ini si wanita berbaju merah tidak datang.

Ia terkejut saat tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.

“Maaf mas, boleh minta tolong nggak?”, pinta si gadis yang ternyata sudah berdiri di sampingnya.

“Tentu, kenapa tidak?”, Rendra girang karena ia tak pernah berbincang dengan gadis secantik itu sebelumnya.

“Bisa minta tolong bantu cariin majalah Bunga, saya cari-cari dari tadi nggak ketemu”.

“Loh, majalah Bunga kan sudah tidak terbit sejak tujuh tahun yang lalu. Tentu saja sudah nggak ada di sini.”, Rendra heran, kenapa gadis itu menanyakan sebuah majalah kuno.

“Wah begitu ya, padahal saya pengen banget baca majalah itu. Dulu waktu masih kecil Almarhumah Ibu sering mengajak saya ke sini, kami biasanya membaca majalah Bunga.”, gadis itu tampak tak bisa menyembunyikan kesedihannya.

“Saya ikut sedih mendengarnya “, sahut Rendra bersimpati. Dari dekat, gadis itu tampak tak asing baginya.

“Terimakasih mas.”, gadis itu tersenyum manis meski setetes air mata membasahi pipinya.

“Maafkan  saya karena menanyakan ini, tapi apakah ibumu dulu suka memakai baju berwarna merah terang?”

Gadis itu terkejut, “Bagaimana mas bisa tahu?”

Saat itulah Rendra menyadari siapa sebenarnya gadis itu. Ia merasakan hawa dingin mulai merasuki tubuhnya.

 

3.

Pada suatu sore yang mendung aku sedang membereskan barang-barang lama di rumah.

Aku menemukan tumpukan kertas berdebu yang sudah menguning.
Kubuka lembar demi lembar tumpukan itu dan merasakan sensasi yang cukup menyenangkan. Sudah sejak tiga puluh tahun yang lalu kertas sudah tak lagi digunakan. Sekarang semuanya serba elektronik.

Kertas-kertas ini sangat kotor, aku berpikir lebih baik jika dibuang saja. Tetapi kemudian aku menemukan selembar kertas bergambar yang tak asing. Gambar itu adalah potret fotoku saat berusia 20-an. Di belakangku berdiri kedua orangtuaku, menatap ke arah kamera sambil tersenyum tipis.

Sekejap mataku terasa panas, napasku sedikit tertahan. Aku berusaha keras untuk menahannya tetapi setetes air mata hangat jatuh dan membasahi pipi.
Aku berhasil menahan diri untuk tidak meneteskan lebih banyak air mata. Aku tersenyum sambil berharap bisa kembali ke masa di saat foto itu diambil.

Sayangnya hal itu tidak mungkin karena meski perkembangan teknologi berjalan amat cepat selama 30 tahun belakangan, mesin waktu tak kunjung ditemukan.

 

 

Terima kasih telah membaca kumpulan cerita mini saya. Cerita ini merupakan fiksi belaka, kesamaan nama tokoh dan cerita hanyalah kebetulan semata. 🙂

 

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

25 replies to Cermin-Cermin: Kertas

  1. Eh pernah ikutan Monday Flash Fiction, Mas?

    • Apa itu mas? Saya malah baru dengar. Saya tahunya #nulismini di twitter.

  2. Saya baru tahu klo ada cerita yg disebut cermin. Kayak flash fiction gitu ya? Saya nggak bisa klo harus buat cerita singkat. Sukanya buat cerpen atau cerbung saja.

    • Iya kayaknya sama mas. Ini lagi belajar buat cerita yang pendek-pendek dulu mas, ntar pengen bikin cerpen juga. 😀

  3. Selain Cerpen, Cerbung, ternyata ada juga Cermin, hehe …. ini penemuan baru atau gimana ya? Pakai kata kunci lagi. Tiga Cermin Anda di atas itu seru juga kayaknya, tapi saya belum dapet temanya, apakah yang no. 1 tentang gugup (yang kemudian pingsan), no. 2 tentang kepedulian (empati), dan no. 3 tentang nostalgia (impian mesin pencipta waktu)?

    karena mini kali ya, jadi saya kayak belum puas aja bacanya, hehe …. tapi bagaimanapun Cermin Anda, menurut saya menggugah saya.

    Mantap mas, terus berkarya. Saat inipun saya lagi belajar nyusun cerpen/cerbung. Semoga sayapun bisa menghasilkan karya di masa depan, entah kapan.

    Trims buat inspirasinya mas.

    • Terima kasih udah baca mas Des14. Saya memang tidak menentukan tema cerita-cerita di atas. Saya hanya mencoba mengembangkan cerita dari sebuah kata kunci. Buat praktik menulis sebelum menulis cerita yang lebih panjang aja mas hehe

  4. Menarik sekali mas,, cerita mininya. Terus terang saya baru tahu juga ada cermin.Dari tiga itu aku paling tertarik yang kedua..karena ada mistisnya he.he..he Btw, makasih sdh follow blog ku ya mas. Sukses selalu ya

    • Salam kenal mas, terima kasih juga sudah baca dan komentar. :))

        • O iya maaf Ibu, saya tadi nggak liat fotonya. 🙂

    • Terima kasih Mb. Audhina, salam kenal ! :))

      • sama-sama, bang firman, salam kenal juga. hehe

  5. Wah keren mas, saya bisa sekalian belajar menjadi penulis yang pro.

    • Ahahaha, saya bukan penulis pro mas. Orang-orang yang suka komentar di blog saya jauh lebih hebat, coba aja kunjungi blog mereka.

      Terima kasih sudah membaca mas Gusna, salam kenal.

  6. mas ajari saya cara buat cerita fiksi dong.

    kasih tips tips yg baik gitu..

    biar saya bisa belajar

    • Saya juga masih belajar mas, ini aja postingan fiksi pertama saya.
      Tetapi di postingan terbaru saya ada tips menulis dr seorang penulis hebat.Silakan dibaca, siapa tahu bermanfaat, hehehe

  7. Pingback:

  8. Pingback:

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!