Hari yang Menyedihkan Bagi Sepakbola

1754978-37097735-640-360
Claudio Ranieri

Sabtu 7 Mei 2016.

Leicester City mengadakan perayaan besar-besaran di markas mereka, King Power Stadium.

Ada alasan kuat mengapa mereka mengadakan perayaan semeriah itu. Jamie Vardy dkk baru saja merebut  Premier League pertama mereka sepanjang sejarah.

Claudio Ranieri, sang manajer, pria yang paling berjasa atas prestasi mengagumkan The Foxes (julukan Leicester City) memilih merayakannya dengan cara yang tidak biasa.

Sang Italiano mengundang rekan senegaranya , penyanyi seriosa Andrea Bocelli untuk menghibur seisi stadion dengan lagu-lagu seriosa yang khidmat.

Ranieri mungkin sadar, itu adalah momen spesial dalam hidupnya dan untuk merayakannya harus dengan cara yang spesial pula.

Sesaat sebelum Bocelli memperdengarkan nyanyiannya, Ranieri mengambil alih microphone untuk menyampaikan pidato singkat,

“I want to say to you (the fans), we are champions because you pushed too much behind us. Thank you so much, thank you, I love you!”

Sorakan para fans bergemuruh usai Ranieri selesai menyampaikan sambutannya. Pria tua itu sedikit tersenyum lalu segera menyerahkan microphone kepada sang maestro, Andrea Bocelli.

Bocelli kemudian mulai beryanyi, membawakan Nessun Dorma, lagu yang begitu khusyuk dan menyayat hati.

Sorakan penonton masih saja terdengar sampai-sampai Ranieri harus mengangkat tangannya, meminta mereka untuk hening sejenak menikmati lantunan indah Bocelli.

Tak berapa lama suasana pun benar-benar hening dan saya, yang menyaksikan momen tersebut melalui layar kaca bersama jutaan orang lainnya di seluruh dunia merasakan sensasi haru dan merinding. Senang rasanya menjadi saksi dari sebuah keajaiban yang mungkin tak bakal terulang lagi.

Itu adalah salah satu momen terbaik selama saya mengenal sepakbola.

Kesuksesan Leicester City dan Ranieri begitu memukau dan mendapat apriesiasi dari banyak pihak. Federasi sepakbola dunia FIFA bahkan menganugerahkan gelar Best Coach of The Year 2016 kepada  Ranieri Januari lalu.

Tak ada yang memprotes keputusan FIFA. Semua orang setuju kalau Ranieri memang layak mendapatkan penghargaan tersebut.

Tetapi tak ada yang menyangka sebulan kemudian situasi berubah 180 derajat. Leicester belum meraih satu kemenanganpun di tahun 2017. Mereka bahkan juga belum mencetak gol di liga sejak pergantian tahun. Hal itu membuat The Foxes terperosok ke posisi 17, hanya terpaut satu poin dari zona degradasi.

Di tengah situasi sulit itu, Leicester masih harus bermain di 2 kompetisi lainnya, Piala FA dan Liga Champions.

Di piala FA , Jamie Vardy dkk  akhirnya disingkirkan oleh tim kasta ketiga Liga Inggris , Millwall.

Sementara di ajang Liga Champions, Jamie Vardy dkk menyerah 1-2 pada laga leg pertama babak 16 Besar di kandang Sevilla.

Hasil-hasil itu membuat kemarin pihak manajemen Leicester City mengambil keputusan untuk mengakhiri tugas Ranieri sebagai manajer.

Keputusan yang, meminjam kata-kata legenda hidup asal Prancis Thiery Henry,  “mengagetkan” namun juga “tidak mengejutkan”.

Mengagetkan karena biar bagaimanapun Ranieri adalah orang yang paling berjasa mengangkat klub sekecil Leicester ke pentas eropa bahkan dunia.

Di sisi lain,menurut Henry, hal itu sebenarnya tak mengejutkan mengingat di era sepakbola modern saat ini sebuah klub bisa dengan mudah memecat manajernya. Statistik bahkan menunjukkan rata-rata seorang manajer di Liga Inggris hanya bertahan selama 8 bulan saja.

Tak hanya Henry, reaksi atas pemecatan Ranieri juga datang dari sesama manajer klub premier league lain.

Antonio Conte, manajer Chelsea mengaku sedih dengan kabar itu. Mantan pelatih Juventus itu juga mengatakan jika dirinya siap jika harus mengalami kejadian serupa.

Sementara manajer Liverpool, Jurgen Klopp tak begitu terkejut. Pria Jerman itu menyebut pemecatan Ranieri adalah keputusan aneh, sama anehnya dengan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat dan fenomena Brexit (keputusan Britania raya keluar dari Uni Eropa).

c5churswmaauzwh
from twitter @squawka

Komentar paling menyentuh datang dari pelatih Manchester United, Jose Mourinho.

Mou meminta Ranieri untuk tidak bersedih dan menyebut kalau apa yang telah diraih oleh Ranieri akan selamanya diingat dan tak akan pernah bisa dihapus oleh siapapun.

 

Bagi saya pemecatan Ranieri adalah momen yang menyedihkan bagi dunia sepakbola.

Pemecatan Ranieri seolah menegaskan kalau sepakbola sekarang ini hanyalah soal bisnis dan uang semata.

Pemilik Leicester tentu tak mau ambil pusing. Barangkali saat ini ia hanya memikirkan berapa banyak pendapatan dari hak siar Premier League yang hilang jika klubnya itu terdegradasi.

Itulah kenyataannya. Claudio Ranieri yang musim lalu dengan gagah berani membawa pasukan Leicester mengangkangi tim-tim kaya bertabur bintang itu pun pada akhirnya harus kalah oleh urusan bisnis dan uang.

Bagaimanapun juga, Ranieri sudah dipecat dan yang bisa saya lakukan kini hanyalah menunggu, menunggu kehancuran Leicester City.

Dengan segala hal yang sudah mereka lakukan terhadap Ranieri, saya sangat berharap semoga Leicester City terdegradasi musim ini.

Mereka pantas menerimanya!

c5cjcipwcae5eb2
kata-kata Perpisahan Ranieri/ twitter: @PADugout

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

15 replies to Hari yang Menyedihkan Bagi Sepakbola

  1. Mempertahankan itu susah…. tapi setidaknya leicester sudah pernah meraih trofi…. musim ini g konsisten sih…

  2. Padahal apa apa manajer nya main… jangankan ranieri…. the special one atau pep sekalipun kalau timnya amburadul.. akan langsung dipecat… ancelotti juga…. tuh conte sedang bulan madu…. ntar bisa aja bernasib sama

    • Betul.
      Kalau tim gede sih wajar ekspektasinya gede. Tapi ini Leicester. Sebelum ada Ranieri mereka betah berkutat di zona degradasi dan bahkan lebih sering main di kasta kedua.
      Setidaknya hargai jasa-jasa Ranieri dengan mempertahankannya sampai musim selesai. Itu akan jauh lebih sopan dan menunjukkan respek.

  3. Tim cupu mecat orang yang udah memberikan gelar tidak cupu. Setidaknya contoh arsenal, meskipun mereka selamanya menjadi tim cupu, mereka masih tetap nggak memecat arsene wenger.

  4. Leicester itu belum siap jadi klub besar… menang atau kalah itu hal biasa dalam sepakbola..

    Seharusnya mereka mengambil contoh klub2 besar seperti dengan sejarah yang kuat seperti MU, Milan, Barca, dll.. mereka tidak mudah memecat pelatih meskipun klub tengah dilanda krisis.. karena mereka tau apa itu sepakbola dan tau bagaimana menghargai jasa seseorang..

    • Betul mas, mereka harus belajar bagaimana menghargai sejarah dan memberikan respek. Banyak klub yang begitu dihormati meski saat ini prestasinya sedang turun. Itu tak lain karena sejarah mereka, sejarah yang dibuat oleh orang2 kayak Ranieri ini.

  5. hahaha bang Hartlen kebanyakan nonton galeri sepakbola Indonesia. 😀

  6. Hahaha udah terkabul mas, tadi malem udah kesalip, sekarang peringkat ketiga dari bawah.

  7. Mohon maaf, menurut saya, yang bikin dunia persepakbolaan seheboh saat ini agaknya gak lepas dari pusaran bisnis dan pialanya yang fantastis.

    Coba kalau hadiahnya kecil, mungkin fakta bisa berbeda.

    • Memang benar mas, saya pun mengenal sepakbola eropa berkat bisnis & promosi yang mereka lakukan.
      Tetapi yang saya sesalkan adl bisnis tsb kini mulai membuat sepakbola kehilangan jati dirinya. Padahal kan sebenarnya yang mau dijual itu sepakbolanya.
      Banyak orang menyukai sepakbola karena sejarah & kenangan manis mendukung sebuah tim dlm suka dan duka bukan hanya karena timnya selalu menang.

        • Kalau di Liga Inggris sepertinya akan ada terus mas, soalnya sebagian besar pemilik klub adl investor asing. Saya lebih kagum dengan apa yg terjadi di Liga Jerman. Meski belum sepopuler Inggris, mereka berhasil menjalankan bisnis dengan tetap mempertahankan tradisi lama.

  8. Pingback:

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!