Keajaiban itu (Masih) Enggan Singgah ke Indonesia

cz4o2m5wiaaog7l
foto : twitter @panditfootball

Alkisah di sebuah kawasan di sebelah tenggara Asia, tempat dimana negara-negara berkembang berada, sedang  diadakan turnamen sepakbola.

Turnamen itu sebenarnya tidak penting-penting amat namun sangat prestisius bagi sebelas negara yang ada di kawasan ini.

Satu di antara kesebelas negara tersebut adalah sebuah negara yang paling luas dan paling penduduknya . Negara itu juga adalah negara dengan fanatisme  sepakbola yang sangat tinggi.

Sayangnya beberapa waktu lalu tim nasional sepakbola negara itu mendapatkan sanksi larangan bertanding di ajang internasional dari FIFA. Selama setahun terakhir, tim yang berjersey merah-merah dengan sedikit corak hijau itu seolah tertidur.

Barulah bulan September lalu  tim tersebut kembali tampil  setelah FIFA mencabut sanksinya.

Negara itu harus bergerak cepat untuk membangun kembali timnas sepakbolanya. Dalam jarak hanya beberapa bulan, mereka akan mengikuti sebuah ajang sepakbola terpenting di kawasan mereka, turnamen yang belum pernah mereka menangkan.

Meski terbata-bata , tim tersebut akhirnya siap mengikuti turnamen internasional pertamanya setelah lepas dari sanksi FIFA.  Tetapi karena persiapan yang seadanya tim tersebut sama sekali tidak terlihat menakutkan. Mereka barangkali cuma dipandang sebelah mata oleh tiga tim kuat lain yang menjadi lawan mereka di babak grup.

Tim tersebut memang penuh dengan keterbatasan, dari mulai pilihan pemain yang hanya 2 pemain per klub, hingga cederanya salah satu pemain terbaik mereka  membuat kekuatan mereka semakin tidak diperhitungkan.

Para suporter pun tak terlalu berharap banyak, bagi mereka melihat tim nasional mereka bertanding setelah sekian lama saja sudah merupakan hadiah yang luar biasa.

Benar saja, di pertandingan pembuka, tim tersebut diluluhlantahkan oleh tim juara bertahan dengan skor 2-4.

Beberapa minggu kemudian turnamen itu memasuki babak final. Tak disangka, 2 tim yang bertanding di partai puncak adalah dua tim yang sama yang bermain di pertandingan pembuka.

Tim berjersey merah yang sama sekali tak diunggulkan itu ternyata mampu sampai di partai puncak, menantang kembali sang juara bertahan. Bahkan, tim yang compang-camping itu mampu merusak kesempurnaan sang juara bertahan dengan mengalahkan mereka 2-1 di laga pertama final.

Mereka cuma butuh hasil imbang saja di laga kedua untuk menjuarai turnamen tersebut untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.

Namun sang juara bertahan masih terlalu kuat buat mereka. Di pertandingan kedua final mereka dihajar dua gol tanpa balas dan akhirnya gagal merebut gelar juara.

 

Saya sengaja tak menggunakan kata “Indonesia” pada paragraf-paragraf di atas. Saya ingin memberikan gambaran prestasi Indonesia  di Piala AFF  2016 dari sudut pandang  lain.

Saya melihat di media sosial banyak orang meratapi kegagalan timnas menjuarai Piala AFF tahun ini. Beberapa di antara mereka menyalahkan para pemain, dan bahkan ada yang secara terang-terangan mencela.

Memang harus diakui, bahwa menerima kegagalan yang sudah terjadi berulang-ulang tidaklah mudah. Diego Simeone,  Pelatih Atletico Madrid  yang “hanya” dua kali  gagal menjuarai Liga Champions  saja  sangat-sangat kecewa, apalagi timnas Indonesia yang sudah lima kali gagal di final.

Tetapi sekali lagi , kita harus melihat kegagalan kali ini dari sudut pandang lain. Banyak hal yang patut disyukuri dan dibanggakan dari perjalanan timnas.

Mereka mampu  lolos dari grup neraka dengan kemenangan dramatis 2-1 atas Singapura di pertandingan terakhir grup. Saya tak pernah melihat timnas menang sedramatis itu sebelumnya.

Di dua laga semifinal  melawan Vietnam, jantung kita dibuat berdebar-debar tak karuan. Lagi-lagi secara dramatis  mereka berhasil menyingkirkan Vietnam dengan agregat 4-3.

Saat laga pertama final melawan Thailand, kita kembali disuguhi sebuah comeback yang luar biasa. Nyaris tak berkutik selama satu jam pertama pertandingan, secara ajaib Rizky Pora dan Hansamu Yama mencetak masing-masing sebiji gol dalam tempo lima menit  yang menyadarkan Thailand bahwa masih ada tim Asia Tenggara yang mampu mengalahkan mereka.

Sisa-sisa perjuangan para pemain timnas masih ada di laga kedua final. Kurnia Meiga melakukan penyelamatan spektakuler atas penalti Teerasil Dangda, meski itu tak cukup untuk menghentikan sang Kapten Thailand mengangkat Piala AFF di depan para pendukungnya.

Saya rasa semua pemain yang tergabung dalam skuad timnas di Piala AFF 2016 harus mendapatkan pujian yang pantas mereka dapatkan.

Sebelum AFF Cup siapa yang menyangka pemain seperti Rizky Pora mampu mengacak-acak pertahanan tim-tim kuat asia tenggara?  Adakah yang menyangka timnas mampu mengalahkan tiga tim tersukses ASEAN, Singapura, Vietnam, dan Thailand? Siapa orang gila  yang berani bilang kalau tim ini mampu menceploskan dua gol tiap pertandingan kecuali di partai terakhir?

Bagi saya perjuangan timnas sudah sangat maksimal. Tim ini jauh melewati ekspektasi. Tim ini memang tak selalu bermain gemilang tetapi tim ini selalu berusaha memberikan yang terbaik di setiap pertandingan. Tim ini adalah timnas paling menghibur yang pernah saya tonton .

Semangat, kegigihan, dan tekad yang luar biasa dari Boaz Solossa dkk adalah hal yang tak pernah saya jumpai sebelumnya.

 

Sedikit banyak kekecewaan kita mungkin  juga dipengaruhi dengan apa yang terjadi di dunia sepakbola sepanjang 2016.

Tahun ini adalah salah satu periode paling mengejutkan dalam sejarah sepakbola. Tim-tim yang awalnya tak terlalu diunggulkan mampu menjadi juara kompetisi-kompetisi besar.

Kisah Leicester City asuhan Claudio Ranieri yang mampu mengangkangi tim-tim besar nan kaya semacam Man. United, Man. City, Chelsea dan Arsenal dan merebut gelar juara Liga Premier Inggris adalah sebuah keajaiban.

Situasi serupa juga terjadi di ajang euro 2016. Ajang paling bergengsi antar negara-negara eropa tersebut menghasilkan juara baru, timnas Portugal. Sebuah kejutan besar terlebih karena perjalanan Cristiano Ronaldo dkk sejak awal tertatih-tatih dan beberapa kali nyaris tersingkir.

Kejadian-kejadian di atas adalah bukti bahwa masih ada keajaiban di sepakbola.

Kita orang Indonesia yang terkenal sangat mempercayai peristiwa-peristiwa ajaib itu pun mengait-ngaitkan kisah-kisah ajaib Leicester dan Portugal dengan timnas.

Kita mulai percaya bahwa tahun 2016 adalah saat bagi timnas mereka untuk meraih gelar juara. Apalagi timnas Indonesia memiliki banyak kesamaan dengan timnas Portugal. Dari mulai warna jersey merah, formasi 4-4-2, hingga kedua kapten kesebelasan yang sama-sama bernomor punggung 7.

Tetapi sekarang kita semua sudah tahu bahwa pada akhirnya timnas gagal menjadi juara. Mereka tak mampu menutup kisah luar biasa sepanjang turnamen dengan akhir yang bahagia. Kejutan demi kejutan yang mereka ciptakan dari awal turnamen harus terhenti di saat-saat terakhir.

Keajaiban yang terjadi di Leicester dan Paris tak terjadi di Bangkok.

Keajaiban itu (masih) enggan singgah ke Indonesia.

Barangkali ia masih belum yakin apakah kedatangannya akan membawa kebaikan bagi bangsa ini.

Mungkin kegagalan ini adalah caranya untuk mengingatkan kita bahwa masih banyak PR yang harus kita kerjakan.

Sekarang saatnya untuk kembali menengok ke kondisi persepakbolaan dalam negeri. Menata kembali hal-hal yang selama ini terbengkalai. Bekerja keras untuk kembali mencoba berprestasi di ajang selanjutnya.

Karena seperti yang  Bung Karno pernah bilang,

“Tuhan tidak merubah nasib suatu bangsa sebelum bangsa itu merubah nasibnya sendiri”

“Barangsiapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam.”

Terimakasih Indonesia, Terimakasih timnas!

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

5 replies to Keajaiban itu (Masih) Enggan Singgah ke Indonesia

  1. Gol saat babak kedua yang terlalu cepat memang agak membuat shock. 😀

    Dan, huuft, permainan Thailand semalam sangat habis-habisan untuk mempertahankan gelar.

    Btw, kutipan Bung Karno yang pertama, itu sih Q.S Ar-Rad:11 ya.

    • Iya memang keliatan Thailand menunjukkan kelas mereka yg sesungguhnya.

      Kutipan itu ternyata diambil dr Al Quran toh, saya dapat dari hasil googling jd mungkin ada kesalahan.

  2. Maaf mas tapi sebagai orang awam saya memang nggak tahu menahu perkembangan sepak bola indonesia. Masuk final 5 kali dan belum juara? Itu pasti ada kesalahan elementer yg belum ditemukan.

    • iya memang pengueus sepakbola negeri kita nggak pernah belajar dari kegagalan. Bukannya menyelesaikan masalah malah menambah masalah. Jadi wajar kalau prestasi kita begini-begini aja, malah cenderung menurun.

  3. Pingback:

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!