“Fitsa Hats” adalah Bukti Betapa Kita Menyepelekan Kegiatan Membaca

hrt4xwzuev
gambar: twitter

Kalian tahu apa itu Fitsa Hats?

Well, mungkin saja kata-kata itu sangat asing dan tak memiliki makna, tetapi tidak belakangan ini.

Kepopuleran Fitsa Hats bermula dari beredarnya dokumen keterangan seorang saksi dalam kasus sidang dugaan penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kemarin lusa. Dalam dokumen yang berisi data diri saksi Novel Chaidir Hasan Bamukmin atau lebih dikenal dengan Habib Novel itu diketahui dirinya pernah bekerja di restoran Pizza Hut. Tetapi anehnya nama restoran Pizza yang tertulis di situ adalah “Fitsa Hats”.

Sontak istilah “Fitsa Hats” pun menjadi viral dan  melahirkan banyak meme-meme lucu.

 

 

source: twitter

 

Tak bisa dipungkiri tertulisnya “Fitsa Hats” di dokumen sebuah persidangan memang sangatlah lucu karena mematuhi rumus komedi yakni tragedi + timing.

Siapa yang menyangka dalam sebuah dokumen resmi terdapat  plesetan dari sebuah brand restoran terkenal?

Lain hal jika istilah “Fitsa Hats” muncul pada sebuah sketsa komedi. Orang-orang akan menganggap itu lelucon garing . Tetapi frasa ini tertulis di dalam dokumen dari sebuah persidangan yang paling disoroti saat ini. Sidang yang nyaris selalu dipenuhi tensi tinggi.

Kemunculan lelucon “Fitsa Hats” ibarat hujan deras di bulan Agustus.

 

Belakangan Habib Novel mengakui kalau ia tidak membaca dengan teliti dokumen tersebut sebelum menandatanginya.

Jawaban tersebut membuat saya sedih karena seolah mempertegas masalah besar yang dimiliki bangsa ini.

 

Minat baca masyarakat Indonesia yang memprihatinkan.

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel yang menyebut bahwa minat baca masyarakat Indonesia adalah salah satu yang terendah di dunia.Bahkan minat baca kita masih kalah dibanding negara-negara di Asia Tenggara seperti Singapura dan Malaysia.

Kondisi ini semakin memprihatinkan di era sosial media sekarang ini. Salah satu bahaya terbesarnya adalah maraknya berita-berita hoax yang beredar. Banyak orang malas membaca dan mencari tahu keaslian berita yang mereka temukan di Facebook atau Twitter. Parahnya lagi, mereka dengan senang hati menyebarkan informasi yang belum tentu benar tersebut.

Yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar, begitu kata Zen RS , seorang jurnalis dan penulis senior.

Harus diakui kata-kata tersebut sangat tepat menggambarkan kondisi saat ini.

Banyak orang membaca judul berita, melewati isinya dan langsung menuju kolom komentar. Padahal terkadang judul tak benar-benar menggambarkan isi dari berita tersebut.

Hal yang nyaris serupa juga bisa ditemui di Play Store. Kalian pasti sering menemui ulasan-ulasan aplikasi seperti “Kasih tiga bintang dulu, kalau bagus entar saya tambahin”.

Bagaimana bisa seseorang memberikan penilaian jika belum pernah merasakan pengalaman mengunakan aplikasi tersebut?

 

Kembali ke “Fitsa Hats”, saya rasa ada hal yang bisa kita pelajari dari viral-nya istilah itu. Bahwa sesuatu yang berkaitan dengan hukum bukanlah hal yang bisa disepelekan.

Tanpa sadar sebenarnya saya dan kita semua banyak menemui pernyataan-pernyataan hukum. Terms of Condition WordPress, Facebook, Twitter, Google .

Apakah kalian membacanya sebelum membuat akun?

Jujur, saya tak pernah membacanya.

Berarti kita juga pernah melakukan kesalahan yang sama seperti yang Habib Novel lakukan.

Contoh lainnya saya pernah menginstal sebuah aplikasi di laptop. Karena buru-buru saya tak sempat membaca detail instalasi. Hasilnya, saya menginstal banyak aplikasi tidak jelas dan harus repot-repot meng-uninstalnya satu per satu.

Hal-hal tersebut bisa saya hindari kalau saja saya meluangkan sedikit waktu untuk membaca.

Habib Novel dan saya beruntung tak mengalami kerugian yang berarti karena malas membaca. Tetapi jika ini menjadi kebiasaan bukan tidak mungkin kemalasan itu menimbulkan kerugian yang lebih besar.

Jangan sampai ada lagi “Fitsa Hats”- “Fitsa Hats” lainnya.

Mari lebih rajin membaca.

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

13 replies to “Fitsa Hats” adalah Bukti Betapa Kita Menyepelekan Kegiatan Membaca

    • Haha tak ada yang abadi di internet bro.

  1. Saya sih suka baca. Cuma kadang2 terkendala dana buat beli buku he he he….. Mahal buku yg bagus.

    • Iya sama mas haha, untungnya sekarang banyak artikel-artikel blog yang bagus.

  2. Hahaha emang lucu sekali mbak, awalnya juga saya nggak percaya. Tapi sisi positifnya adalah setelah ini orang-orang pasti bakalan lebih teliti lagi.

  3. Setuju dengan isi kalimat kurang baca tapi komennya banyak. Rasa-rasanya memang sedang ngetrend sekarang ini. Hihihi. Maka dari itu saya memilih menjadi silent reader saja.

    Salam kenal yah kak.
    Ijin jalan-jalan di blognya.

    Salam.

    Didi.

    • Salam kenal, terima kasih sudah berkenan mampir. 🙂

  4. Ayo membaca! Yang udah sering bca, baca terus!

    Setuju bnget mas. Membaca itu pnting banget biar sllu update dan terhindar dari kesalahan yg sbnarnya tidak perlu

  5. Nahh, itulah mengapa kegiatan membaca dirasa cukup penting, apalagi bagi kita seorang blogger yang sering mencari info, membacanya, menulis ulang di blog, dan membacanya lagi hasil tulisan ulang kita,

    • Tepat sekali, sebagai bloger kita memang harus bertanggung jawab terhadap kualitas tulisan yang kita post.

      Terima kasih sudah berkunjung, salam kenal mas!

  6. Betul sekali, membaca merupakan hal yang berat untuk dilakukan dibanding menonton televisisi dan bermedsos untuk anak-anak jaman sekarang bahkan termasuk para orang tua.

    • Iya, terlalu banyak godaan & gangguan untuk tidak membaca sekarang ini.

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!