Go-Jek Traveloka Liga 1, Kompetisi Baru Rasa Lama

siaran liga 1
Logo Go-Jek Traveloka Liga 1/ jawapos.com

Sabtu kemarin kompetisi resmi antarklub terbaik di Indonesia akhirnya resmi bergulir. Go-Jek Traveloka Liga 1 (saya harap kalian sudah tahu alasan di balik penamaan kompetisi ini) secara resmi dibuka pada sabtu sore, pada laga antara Persib Bandung melawan Arema FC.

Mengusung tagline “Liga Baru, Semangat Baru”, nyatanya tak banyak perubahan yang saya rasakan selama tiga hari berturut-turut menyaksikan pertandingan-pertandingan liga 1. Yang paling saya sesalkan tentunya adalah kualitas siaran tv-nya yang masih sangat…sangat buruk.

 

TvOne yang tidak berbeda

Awalnya saya sangat optimis dengan keberhasilan tvOne mendapatkan hak siar Liga 1. Saya punya alasan kuat untuk berpikir begitu.

TvOne, seperti kita sama-sama tahu, berada satu grup dengan antv, stasiun tv yang bertahun-tahun lalu rutin menyiarkan liga Indonesia dengan kualitas yang lumayan bagus. Wajar jika saya, dan kebanyakan penonton sepakbola Indonesia berharap bahwa siaran Liga 1 kali ini paling tidak akan bisa sebaik saat dipegang antv dulu.

Sayangnya hal itu tak terjadi. TvOne tak terlihat melakukan sesuatu yang berbeda dengan SCTV, Indosiar, maupun RCTI sebelumnya.

Angle pengambilan gambar  yang  terlalu dekat serta video replay yang tak begitu membantu adalah masalah-masalah lama yang, sayangnya, masih saja terulang.

Hal ini tentu saja sangat mengganggu.

Di laga antara Persib melawan Arema misalnya. Pada pertengahan babak pertama Christian Gonzales sempat mencetak gol untuk Arema. Wasit menganulir gol tersebut karena menganggap Gonzales berada dalam posisi offside. Keputusan yang cukup kontroversial.

Dalam kondisi seperti ini video replay menjadi satu-satunya harapan untuk melihat apakah keputusan wasit sudah benar.

Sayangnya tayangan replay yang ditampilkan pada laga kemarin sama sekali tidak membantu. Posisi kamera yang miring dan penggunaan gerakan lambat yang tidak tepat membuat tayangan replay seperti tak ada gunanya.

Di liga-liga eropa, kejadian itu mungkin akan di-replay berulang-ulang dari berbagai sudut. Meski akan menimbulkan adu argumen antara kedua kubu suporter, setidaknya mereka bisa melihat dengan jelas  apa yang sebenarnya terjadi.

Jangan lupa juga FIFA berencana menerapkan penggunaan video replay untuk membantu wasit. Bahkan, badan sepakbola dunia tersebut sudah menerapkannya di beberapa pertandingan persahabatan.

Bayangkan jika hal itu diterapkan di Indonesia dengan kualitas video replay yang masih buruk. Wasit mungkin bukannya terbantu tetapi malah bingung melihat video replay yang tidak jelas.

 

Sisi Positif, Performa Wasit membaik

Satu hal yang patut diapreasi adalah performa wasit Liga 1 yang cukup baik, setidaknya di tiga laga yang sudah saya tonton.

Hal-hal yang saya keluhkan di postingan terdahulu seperti kesalahan dalam menentukan posisi offside dan ketidakkonsistenan dalam pemberian hukuman kartu sudah jarang terjadi.

Dampaknya, wasit Liga 1 kini terasa lebih disegani oleh para pemain dan penonton. Ada kepercayaan yang timbul bahwa sang wasit akan selalu berusaha keras untuk memimpin pertandingan dengan adil.

Semoga performa bagus ini bisa bertahan hingga akhir musim.

 

Kembalinya Bung Towel

Setelah bertahun-tahun tak terlihat batang hidungnya, akhirnya sang komentator legendaris, Tommy Welly alias Bung Towel kembali ke dunia per-komentator-an sepakbola Indonesia.

Masih dengan gaya sok tahu-nya yang khas, Bung Towel menjadi tandem yang serasi bagi presenter Rendra Sudjono.

Saya pun cukup terhibur dengan kehadiran keduanya.

Menurut saya dua orang tersebut adalah komentator yang pembawaannya paling mendekati dengan komentator-komentator liga-liga eropa. Selalu fokus kepada pertandingan, tak banyak mengeluarkan jargon-jargon dan istilah-istilah tidak penting, dan tetap terlihat antusias dalam memimpin jalannya pertandingan.

 

….

 

Itulah tadi beberapa keluhan-keluhan saya (lagi) tentang siaran sepakbola Indonesia.

Saya menulis artikel ini bukan karena tidak menghargai usaha keras PSSI dalam menyelenggarakan kompetisi.

Tujuan saya menulis ini tidak lain karena saya punya harapan besar terhadap persepakbolaan Indonesia.

Saya juga sangat yakin suatu saat Indonesia akan memiliki kompetisi yang bagus dan juga tim nasional yang kuat asalkan semua pihak yang terlibat terus berusaha untuk memperbaiki diri.

Saya pun sebenarnya tak sendirian. Banyak pecinta sepakbola Indonesia yang punya pemikiran sama. Beberapa hari terakhir, blog ini banyak dikunjungi oleh orang-orang yang  juga mengeluhkan kualitas siaran liga Indonesia.

Postingan saya  yang berisi keluhan-keluhan-keluhan terhadap siaran sepakbola Indonesia ini menjadi artikel yang paling banyak mendapat kunjungan dari mesin pencarian dalam sebulan terakhir.

 

siaranliga1
Istilah pencarian menuju blog ini dalam sebulan terakhir

 

Terlepas dari banyak kekurangan yang menyertainya, saya tak akan pernah bosan untuk menonton Liga Indonesia.

Bagi saya Liga 1 adalah liga paling ketat di dunia. Buktinya, tim-tim besar masih sering kalah saat bertandang ke markas tim-tim kecil.

 

Premier League is so overrated.

 

Lainnya:

3 Hal yang Membuat Saya Kurang Nyaman Menonton Siaran Sepakbola Indonesia

7 Alasan Kenapa Tayangan Sepakbola Indonesia Buruk

Fakta Tentang Siaran Liga Indonesia

 

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

11 replies to Go-Jek Traveloka Liga 1, Kompetisi Baru Rasa Lama

  1. Pingback:

  2. Lho sekarang sponsornya bukan rokok lagi? Berarti udah ganti nama juga ya menjadi liga 1. Saya kok rasanya ketinggalan berita sepak bola dalam negeri. Meskipun memang gak terlalu berminat sih ha ha ha…….

  3. Iya sih, tapi lama-lama dia kebanyakan jargon dan penonton malah lebih fokus ke jargonnya daripada pertandingannya

  4. Waw, sekaliber TVone pun belum bisa memenuhi ekspektasi dalam mengambil angle gambar siaran bola. Mas Firman, Anda benar2 pemerhati detil, saya salut. Setiap ulasan Anda tentang bola, saya melihat Anda tampak begitu pro dlm melakukannya.

    • Thanks Mas, tapi sebenarnya tulisan ini nggak bagus-bagus amat, apalagi dibilang pro, jauh mas.

  5. Pingback:

  6. Pingback:

  7. Mas, cara membuat blog jadi rapi gini, bagaimana yah? Salam takzim.

    • Halo aksaraisme! Salam kenal!

      Sebenarnya di wordpress cukup mudah mengatur blog menjadi terlihat rapi.

      Saya selalu memilih tema yang simple (blog ini menggunakan tema pensscracth 2)

      Lalu saya juga berusaha untuk tidak terlalu banyak menggunakan tag dan kategori.

      Saya juga membatasi jumlah menu dan halaman ( hanya 4).

      Terakhir, saya hanya memasang widget-widget yang menurut saya penting.

      Saya sebenarnya tak terlalu paham ‘rapi’ seperti apa tepatnya yang anda maksud, tetapi semoga jawaban ini membantu.

      Terima kasih sudah mampir!

  8. Pingback:

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!