Kembalinya Timnas Indonesia

Setelah sekian lama absen dari dunia sepakbola internasional, malam tadi akhirnya timnas Indonesia kembali bermain. Stadion Manahan Solo menjadi saksi sejarah penampilan pertama laskar garuda sejak dicabutnya sanksi FIFA. Malaysia, negeri tetangga yang juga “rival abadi” timnas menjadi lawan pertama.

Meski hanya bertajuk laga persahabatan, atmosfer pertandingan terasa sangat luar biasa. Puluhan ribu penonton memadati stadion kebanggan warga Solo. Tak cuma itu, sepanjang pertandingan, kelompok suporter Solo yang dikenal sebagai Pasoepati tak henti-hentinya menyanyikan lagu-lagu penyemangat dan meneriakkan yel-yel . Mereka juga menampilkan koreografi-koreografi unik yang sedap dipandang. Dari mulai bendera Indonesia hingga bendera Palestina mereka berhasil membuat kagum para penonton di stadion maupun penonton layar kaca termasuk saya. Bahkan komentator tv Malaysia yang saya tonton lewat live streaming turut memuji aksi para suporter tuan rumah.

crrxvqmuiaaivw

Pemandangan tadi  terasa luar biasa terlebih jika dibandingkan dengan  dua jam sebelumnya saat saya mengintip pertandingan yang levelnya lebih tinggi, babak akhir kualifikasi Piala Dunia 2018 antara Thailand melawan Jepang. Atmosfer pertandingan terasa sangat-sangat dingin. Meski stadion terisi penuh, para penonton nampak tak mau repot-repot menyanyi ataupun meneriakan chant. Pertandingan yang berlangsung  semakin membuat bosan saya yang menyaksikannya lewat live streaming.

Di Solo, atmosfer pertandingan sudah terasa panas sejak lagu kebangsaan kedua negara dikumandangkan. Saat Negaraku, lagu kebangsaan Malaysia diputar, suasana stadion menjadi gaduh penuh dengan siulan-siulan. Tak lama kemudian Indonesia Raya diputar , kegaduhan langsung lenyap berganti dengan nyanyian serentak dari seisi stadion yang terdengar bagaikan kelompok paduan suara dengan anggota terbanyak di dunia. Kamera menyorot para pemain timnas satu per satu. Sebelas pemain terpilih ini tampak sangat khidmat menyanyikan bait demi bait lagu gubahan W.R Supratman. Pandangan saya tertuju pada Irfan Bachdim, pemain berdarah Belanda yang sudah lama tak terdengar kabarnya. Ia nampak sangat bersemangat, matanya terlihat memancarkan tekad yang begitu kuat. Sebelum pertandingan dimulai , kamera menyorot duet Striker Indonesia Irfan dan kapten Boaz Solossa yang sedang memanjatkan doa seakan-akan mereka akan menjalani perang untuk mempertahankan harga diri bangsa.

67720160907021628148

Semenjak kickoff dilakukan, pasukan Indonesia nampak tak sabar untuk segera membobol gawang Harimau Malaysia. Pressing ketat mereka peragakan. Mereka memaksa para pemain Malaysia membuat kesalahan. Bola-bola panjang terus dialirkan ke lini pertahanan pasukan negeri jiran. Strategi itu langsung menemui hasil di menit ke 6 saat Boaz Solossa yang mendapatkan umpan lambung berhasil menguasai bola yang gagal diantisipasi oleh bek-bek tim tamu. Setelah sedikit mengontrol bola , striker Persipura itu melepaskan tendangan keras yang tak mampu dihadang Khairul Fahmi. Teriakan suporter semakin bergemuruh selagi para pemain merayakan gol. Saya sendiri cukup kaget karena tak menyangka gol pertama akan hadir secepat itu.

Gol tersebut tampaknya memacu para pemain untuk terus menekan Malaysia. Lima menit kemudian gol kembali tercipta, kali ini Irfan Bachdim pencetaknya. Pemain yang bermain di Liga jepang itu berhasil memanfaatkan kesalahan lini belakang tim tamu.

57cede42969db_ori

Seakan belum puas, Boaz mencetak gol keduanya di menit 21 memanfaatkan bola liar. Pertahanan Malaysia benar-benar ceroboh dengan membiarkan dua striker Indonesia mendapatkan bola tanpa pengawalan di area yang sangat dekat dengan gawang.

Tiga gol dalam tempo 21 menit pertama benar-benar di luar ekspektasi para penonton. Saya hampir tak percaya, timnas Malaysia yang merupakan runner up Piala AFF edisi terakhir bermain seburuk itu.

Malaysia tampak tersentak setelah gol ketiga. Perlahan mereka mampu keluar dari tekanan   dan mencoba mencuri gol. Namun hingga pertandingan berakhir kedudukan tetap sama, Indonesia 3-0 Malaysia. Sebuah cara yang sempurna untuk kembali ke dunia sepakbola internasional.

Meski menang telak,  timnas tidak bisa dibilang bermain luar biasa. Statistik memunjukkan mereka bahkan kalah dari segi  jumlah tembakan dan penguasaan bola. Namun tetap saja kemenangan ini patut diapreasi apalagi ini merupakan penampilan perdana timnas setelah sekian lama. Saya sendiri tertarik dengan pilihan formasi yang diterapkan Alfred Riedl. Ia menggunakan formasi 4-4-2 dengan menempatkan Irfan Bachdim dan Boaz Solossa sebagai duet striker. Keputusan tepat, selain karena semua gol tercipta dari kedua pemain tersebut, duet striker bertipe pelari yang gemar bermain melebar memang sangat cocok mengingat tim ini tak memiliki penyerang murni seperti Bambang Pamungkas ataupun Cristian Gonzales. Kondisi ini hampir mirip dengan timnas Portugal yang menjadi juara di euro 2016 lalu yang mengandalkan duet Nani dan Cristiano Ronaldo. Riedl juga membuat keputusan tepat di sektor belakang. Duet center bek Fachrudin dan Rudolof Yanto Basna tampil cukup bagus. Penjaga gawang Andritany juga tampil prima. Kekurangan timnas mungkin adalah lini tengah mereka kurang hidup. Evan Dimas sebenarnya tampil bagus namun sisanya bermain di bawah standar. Kekurangan ini terlihat jelas saat timnas kesulitan membangun  serangan dari lini tengah. Sebagian besar serangan hanya mengandalkan sisi sayap maupun umpan-umpan langsung ke kedua striker. Jika Riedl berhasil memaksimalkan kinerja lini tengah, saya rasa timnas bisa menjadi lawan yang tangguh bagi setiap tim di piala AFF nanti.

Beberapa pemain menampilkan performa luar biasa. Yang paling kelihatan tentunya adalah Irfan Bachdim. Meski sudah lama tak membela timnas dan jarang tampil untuk klubnya, kemampuan Irfan tampaknya cukup berkembang. Pergerakannya selalu merepotkan lini belakang tim Malaysia. Boaz Solossa seperti biasa tampil bagus dan sekali lagi membuktikan kapasitasnya sebagai striker tajam berteknik tinggi, pemain terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Andik Vermansyah juga menunjukkan perkembangan yang bagus. Kapten klub Selangor FA tsb menjadi pemain yang sering dilanggar. Evan Dimas bermain tenang dan menunjukkan kelasnya tersendiri. Gerakan-gerakan dan caranya mengumpan menunjukkan tingginya level permainannya. Kehadiran Fachrudin di lini belakang juga membuat lini belakang tim ini cukup kokoh. Tangguh di udara dan positioning yang bagus, itulah gambaran penampilan Fachrudin tadi malam. Terakhir, pemain yang juga mencuri perhatian adalah penjaga gawang Andritany. Meski tak terlalu mendapatkan ancaman yang berarti, tetapi ia selalu menempatkan diri dengan bagus. Ia juga tenang saat menguasai bola, kemampuan yang wajib dimiliki oleh kiper modern dan jarang dimiliki kiper-kiper Indonesia.

Perjalanan timnas masih jauh, lawan lawan yang lebih berat sudah menanti di depan. Kemenangan atas Malaysia tadi malam masih menyisakan banyak catatan-catatan yang harus diperbaiki. Namun kemenangan atas Malaysia adalah momentum yang tepat untuk bangkit. Sebuah awal yang baik untuk kembali menunjukkan kekuatan sepakbola Indonesia.

 

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

One reply to Kembalinya Timnas Indonesia

  1. Pingback:

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!