Koin Penyok Joe Hart

joe-hart-2_2716657k

Menjelang deadline bursa transfer di Liga-liga eropa, ada satu kepindahan pemain yang mengagetkan banyak orang. Joe Hart yang berstatus kiper utama timnas Inggris pindah ke klub yang musim lalu berada di papan tengah Serie A , Torino.

Kepindahan Hart dari Manchester City memang sudah diprediksi sebelumnya. Pep Guardiola belum pernah sekalipun memasangnya di pertandingan liga musim ini. Satu-satunya pertandingan dimana ia bermain adalah leg kedua play off UCL melawan Steaua Bucharest yang disebut-sebut sebagai laga perpisahannya. Puncaknya adalah kedatangan Claudio Bravo dari Barcelona yang membuat posisinya semakin sulit.

Namun tetap saja semua orang bertanya-tanya kenapa ia memilih Torino. Padahal santer terdengar bahwa klub-klub Liga Primer dari mulai Liverpool, Everton, hingga Sunderland siap menampungnya.

Jika melihat perjalanan karir Joe Hart, sebenarnya tidak mengejutkan jika ia memilih bergabung ke Torino. Perjalanan karirnya menjadi kiper utama City tidak ia jalani dengan mudah . Joe Hart datang dari Shrewsbury Town ke Manchester City di tahun 2006. Itu artinya, ia datang sebelum the Citizen menjelma menjadi klub kaya raya seperti sekarang. Namun saat City mulai bangkit seiring dengan kedatangan taipan Emirat Arab, Hart malah harus rela dipinjamkan ke klub-klub lain.  Ia kalah bersaing dengan kiper yang saat itu lebih ternama, Shay Given.

Di musim 2009/2010, Hart mendarat di Birmingham City yang baru promosi ke Liga Primer musim itu. Di klub inilah ia membuktikan kualitasnya. Ia berperan penting membawa Birmingham finish di posisi ke 9 klasemen akhir dimana klub ini sempat mencatatkan rekor tak terkalahkan 12 pertandingan beruntun. Catatan yang sangat impresif untuk sebuah klub yang baru saja promosi.

Di musim berikutnya, Manchester City menariknya ke tim utama dan Hart tampil mempesona dengan mencatatkan 18 clean sheet sekaligus menyabet golden glove. Ia juga berhasil mempersembahkan gelar Piala FA dan membawa City ke posisi ketiga Liga Primer. Ia terus menjadi pilihan utama City meski kursi manajerial berpindah dari Roberto Mancini ke Manuel Pellegrini dan memenangi liga Primer sebanyak dua kali. Wajar jika dari sekian banyak pemain-pemain bintang yang pernah menghiasi skuat mahal City, Joe Hart dianggap sebagai legenda sejati Manchester City.

Kepindahan Hart ke Torino mengingatkan saya tentang sebuah cerita lama. Cerita tentang seorang miskin yang menemukan sebuah koin penyok di jalan. Koin penyok itu sepertinya tak berharga tapi lalu ada seorang kolektor yang membelinya seharga 30 dollar. Uang itu kemudian ia belikan kayu untuk membuatkan istrinya sebuah rak. Saat ia memanggul kayu, seorang pemilik bengkel tertarik untuk membelinya. Ia akhirnya bersedia menukarkan kayu tersebut dengan sebuah lemari dan gerobak untuk membawanya. Di perjalanan ia bertemu dengan wanita kaya yang tertarik dengan lemarinya. Singkat cerita wanita itu membelinya seharga 250 dollar. Si orang miskin sangat gembira memiliki uang sebanyak itu, ia bergegas pulang . Sayangnya beberapa saat  sebelum ia sampai rumah sekawanan perampok mengambil semua uangnya. Sampai di rumah, istrinya bertanya, “Sayang, kenapa kau baru pulang?” Ia menjawab, “Maafkan aku sayang, aku dirampok di tengah jalan.” “Astaga, kau baik-baik saja? Apa yang mereka ambil?”. Ia tersenyum, “Hanya sebuah koin penyok.”

 

Seperti orang miskin tadi, Joe Hart mungkin sadar kalau ia memang ditakdirkan mempunyai kehidupan yang naik turun bak roller coaster. Segala yang pernah ia raih, trofi piala FA ataupun liga Premier tak lebih hanyalah sebuah koin penyok seperti dalam kisah tadi. Ia memulai dari bawah, Shrewsbury Town, Birmingham City, dan Manchester City versi medioker.

Banyak orang menyayangkan sikap City dan mempertanyakan keputusan Hart. Tetapi sekali lagi, Hart adalah pemain yang terbiasa berjuang di klub kecil. Kepindahannya ke Torino mungkin membuatnya terlihat mengalami penurunan karir tetapi siapa yang tau apa yang bisa dilakukannya untuk Torino nanti? Bahkan Hart berpotensi mengulangi kegemilangannya seperti saat membela Birmingham City.

Torino adalah tempat yang paling tepat untuknya saat ini. Ia hampir dipastikan akan bermain setiap minggunya. Ia juga berada jauh dari sorotan media-media Inggris yang seringkali kejam. Hart berada di tempat yang tepat untuk mengembangkan kemampuannya.

Mari berandai-andai Hart tampil cemerlang bersama Torino. Bukan tidak mungkin City akan membutuhkannya kembali suatu saat nanti. Atau akan lebih menarik jika nantinya ia kembali ke Inggris sebagai rival City. Saya tidak sabar menanti terjadinya skenario-skenario di atas.

 

 

 

 

 

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!