Lagi, Juventus

Untuk ketujuh kalinya dalam sembilan kesempatan Juventus gagal memenangkan laga final Liga Champions.

Kekalahan 1-4 dari Real Madrid tadi malam membuat Juve harus kembali menunggu untuk memenangkan trofi yang terakhir mereka rebut di tahun 1996.

Tahun ini sebenarnya adalah tahun yang pas untuk memuaskan dahaga gelar Juve di eropa. Mereka tampil bagus sejak fase grup dan tak terkalahkan menuju partai final dengan hanya kebobolan 3 gol.

Merekapun memulai pertandingan final dengan baik. Gonzalo Higuain dan Miralem Pjanic nyaris membobol gawang Madrid di awal pertandingan sebelum sebuah serangan balik cepat berakhir dengan gol untuk Madrid yang dicetak Cristiano Ronaldo.

Sebuah skenario yang tak diharapkan Juventus karena biasanya mereka mencetak gol terlebih lebih dahulu sebelum mati-matian mempertahankan keunggulan.

Tapi kemudian Mario Mandzukic mencetak gol yang membuat kedudukan menjadi imbang 1-1.

Gol  spektakuler tersebut membuat para fans Juve percaya bahwa timnya akan mampu membalikkan keadaan.

Setelah itu pertandingan semakin menarik, kedua tim saling serang dan saat babak pertama berakhir, semua orang puas. Setelah beberapa tahun terakhir laga final Liga Champions cenderung membosankan, kali ini berbeda. Kedua tim benar-benar menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Lalu babak kedua dimulai dan situasi berubah total.

Real Madrid mutlak menguasai jalannya pertandingan. Juve, tim yang disebut-sebut memiliki pertahanan terbaik sedunia itu mampu mereka bobol tiga kali.

Gol kedua yang dicetak Casemiro mungkin bukan karena kesalahan bek. Tetapi jelas dua gol terakhir Madrid adalah sesuatu yang memalukan bagi pertahanan Juventus.

Sebagai satu dari antara fans Juventus tentu saya kecewa. Bukan hanya karena lagi-lagi harus kalah di final, tetapi juga karena di babak kedua Leonardo Bonucci dkk nyaris tak memberikan perlawanan.

Selain itu yang membuat banyak orang sedih adalah kegagalan seorang Gianluigi Buffon untuk meraih satu-satunya gelar juara yang belum ia miliki. Buffon yang merupakan salah satu kiper terbaik di dunia tiga kali menembus final Liga Champions bersama Juventus. Sayangnya ketiganya harus berakhir dengan kekalahan.

Buffon yang sudah tak muda lagi tak lama lagi mungkin akan mengakhiri kariernya. Andai malam tadi ia mampu mengangkat trofi Liga Champions, karir gemilangnya tentu akan berakhir sempurna.

Tetapi sayangnya hidup tak selalu sempurna.

dbbu1ubxoaasao2

Kesedihan dan kekecewaan Buffon berkebalikan dengan kegembiraan di kubu Real Madrid.

Madrid meraih trofi Liga Champions ke 12 mereka, semakin menjauhkan diri dari kejaran pesaing terdekat, AC Milan (7 trofi).

Madrid juga tercatat sebagai tim pertama yang mampu memenangkan Liga Champions secara beruntun.

Sebuah rekor yang luar biasa dan akan sulit disamai tim-tim lain.

Pada akhirnya harus diakui bahwa Real Madrid tampil impresif dan sangat layak untuk menjuarai Liga Champions musim ini.

 

Selamat, Real Madrid !

 

 

 

 

gambar : twitter @ChampionsLeague

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.