Leicester City yang Sulit Dimengerti

c66dfinxeaawn9j
Leicester City/ twitter: @br_uk

Beberapa hari yang lalu saya sempat menulis tentang betapa tidak sopannya Leicester City yang  memecat Claudio Ranieri hanya beberapa bulan setelah pria Italia itu mempersembahkan gelar Premier League pertama mereka sepanjang sejarah.

Kini, berselang kurang lebih sebulan setelah momen itu, harus diakui bahwa pergantian manajer yang mereka lakukan berbuah positif.

Sejak saat itu Leicester City telah menjalani 3 laga yang semuanya berhasil mereka menangkan. Dua kemenangan dengan skor identik 3-1 mereka peroleh di liga saat menghadapi Liverpool dan Hull City.

Sementara satu kemenangan lain. Kemenangan yang sangat sangat penting dan bersejarah, baru saja mereka raih beberapa saat sebelum saya menulis postingan ini. Jamie Vardy dkk baru saja menaklukkan klub Spanyol, Sevilla 2-0 untuk merebut satu tiket perempat final Liga Champions! Wow!

Musim ini saya sangat jarang menonton pertandingan Leicester City. Terlebih di ajang Liga Champions dimana ada banyak sekali pertandingan yang jauh lebih menarik.

Pagi ini pun saya “tak sengaja” menyaksikan pertandingan mereka melawan Sevilla.

Awalnya saya memilih menonton partai Juventus vs Porto yang digelar di jam yang sama. Namun karena Juve menyelesaikan babak pertama dengan keunggulan agregat 3-0, di babak kedua saya putuskan untuk menonton laga Leicester vs Sevilla.

Saat saya mulai menonton, Leicester sudah unggul 1-0. Skor tersebut sudah cukup untuk membuat mereka lolos ke perempatfinal.

Pada akhirnya Leicester mampu menambah 1 gol lagi di babak kedua dan Sevilla yang terus mengurung mereka sepanjang babak kedua, entah bagaimana gagal mengkonversi satupun dari sekian banyak peluang yang mereka ciptakan.

Leicester City melenggang mulus ke perempat final dengan keunggulan agregat 3-2.

Satu hal yang saya lihat dari permainan Vardy dkk tadi adalah penampilan mereka nyaris tak jauh berbeda dengan musim lalu, saat menjuarai Premier League. Kendati lebih banyak tertekan sepanjang babak kedua, mereka bertahan dengan sangat baik dan selalu mampu mengancam melalui serangan balik cepat.

Kekuatan fisik dan determinasi yang selalu membuat repot tim-tim besar juga kembali mereka perlihatkan.

Penampilan ciamik Leicester City pagi ini membuat saya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi selama beberapa bulan terakhir?

Tim yang mengalahkan Sevilla, peringkat 3 liga Spanyol tadi pagi adalah tim yang sama dengan tim yang sempat gagal meraih satupun kemenangan dan mencetak satupun gol sepanjang Januari- Februari.

Sepeninggal Ranieri, mereka nyatanya tak memperkerjakan manajer baru. Asisten Ranieri, Craig Shakespeare ditunjuk sebagai manajer sementara sampai akhir musim.

Shakespeare pun sama sekali tak mengubah strategi dan formasi yang biasa diterapkan oleh Ranieri. Formasi 4-4-2 yang menjadi andalan sejak musim lalu masih ia terapkan.

Shakespeare juga tak pernah mengganti susunan pemain yang ia tampilkan selama 3 pertandingan. Ia memasang susunan pemain yang persis sama dengan susunan pemain yang menjuarai Premier League musim lalu.

Striker asal Jepang, Shinji Okazaki yang musim ini sering dicadangkan oleh Ranieri kembali menjadi pilihan utama, sementara posisi N’golo Kante yang hijrah ke Chelsea ditempati oleh Wilfried Ndidi. Selain dua perubahan itu, tak ada perubahan lain. Shakespeare sepertinya hanya meng-copy paste strategi musim lalu dan tak disangka, ia sukses melakukannya.

Tak pelak kenyataan itu membuat kecurigaan bahwa pemecatan Ranieri adalah akibat dari “penghianatan” para pemainnya sendiri semakin menguat. Meski beberapa pemain telah membantah , tetapi kenyataanya di lapangan mereka seperti mengatakan hal yang sebaliknya.

 

Namun saya mencoba berpikir positif. Leicester City memang sudah sejak 4 musim lalu seperti akrab dengan kejadian-kejadian aneh yang oleh sebagian orang disebut sebagai “keajaiban”.

Musim 2014/2015 mereka menjuarai Championship untuk promosi ke Premier League.

Semusim berselang, mereka nyaris terlempar kembali ke Championship sebelum rentetan kemenangan di akhir musim menyelamatkan mereka.

Musim lalu, seperti kita semua tahu, mereka menjuarai Premier League.

Sedangkan musim ini, di saat banyak orang menyebut stok keberuntungan Leicester City sudah habis, nyatanya mereka perlahan-lahan menjauh dari zona degradasi dan mampu menembus 8 besar Liga Champions.

Lalu apakah mereka akan melaju lebih jauh di Liga Champions?

dan

Apakah mereka akan selamat dari degradasi?

 

Apakah akan ada kejutan lainnya?

Saya tak berani lagi memprediksi.

 

Terlalu banyak hal yang sulit saya mengerti mengenai klub bernama Leicester City.

 

 

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

10 replies to Leicester City yang Sulit Dimengerti

  1. Saya juga takjub dengan hasil akhir pertandingan L vs S. Nggak bisa bayangin jika kelak Leicester juara Liga Champions.

    • Kalau ngeliat calon2 lawannya di QF sih berat semua kayaknya.Tapi tim ini kalau lagi “sehat” bisa jadi ancaman buat tim manapun.

  2. Tahun ini mereka akan menjuarai Champions League, tahun depan mereka akan menjuarai Championship. #justjokes

    • Hahaha

      Joke yg bisa jadi kenyataan mas, soalnya mereka juga belum aman2 banget dr zona degradasi.

  3. Saya masih berharap leicester bisa menembus semi finalah paling tidak. Itupun sudah termasuk keajaiban menurut saya. Tapi dulu tim macam porto pun bisa juara. Mengapa leicester tidak?

    • Iya mas, Porto 2004 & Chelsea 2012 adalah tim2 yg awalnya tidak diprediksi akan melaju jauh tp malah bisa juara.

      Menurut saya tergantung bagaimana nanti hasil undian.

      Kalau mereka nggak ketemu Barca, Bayern, atau Real Madrid di QF, kayaknya peluangnya cukup terbuka.

  4. Konsistensi bung kuncinya… apalagi di EPL….. 40 poin udah cukup buat aman di EPL… kelebihannya anggap saja bonus hehe

    • Betul mas, apalagi 3 kemenangan yg mereka raih semuanya terjadi di kandang, jd masih butuh pembuktian, terutama saat main di kandang lawan.

  5. Trnyata ap yg kita kadang anggap “remeh” bisa meleset.

    Ada indikasi “pengkhiatan”? Klo benar, mustahil tnpa sbab.

    Well, urusan ngulas bola, Firman jagonya.

    • Iya mas, entah kenapa para pemain Leicester keliatan main lebih semangat setelah Ranieri dipecat.

      Haha nggak juga mas, mungkin karena nggak banyak bloger yang nulis banyak tentang sepakbola.

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!