Mengapa Sepakbola?

Pada masa kini, sepakbola adalah salah satu hal yang cukup penting dalam hidupku. Meski sudah lama sekali aku tidak memainkannya, aku semakin jatuh cinta dengan permainan ini. Aku hampir mengenal setiap hal yang berhubungan dengan sepakbola. Padahal kalau dipikir-pikir, sepakbola yang kukenal adalah sesuatu yang berasal dari dunia maya seperti internet, televisi, atau bahkan game. Bukan sebuah keanehan karena aku yakin ada jutaan orang yang kondisinya serupa denganku.

Pada kenyataannya, pengetahuan akan sepakbola tidak kalah menariknya dengan permainan sepakbola itu sendiri. Menurutku kepuasan menyaksikan sebuah gol indah bisa dibandingkan dengan nikmatnya membaca sebuah artikel sepakbola yang brilian. Bagiku keduanya sama, sama-sama butuh skill tinggi untuk melakukannya.

Sebuah pertandingan sepakbola berlangsung selama 90 menit. Kita tidak pernah tahu, selama 90 menit itu apa yang akan kita dapatkan. Untuk durasi yang kurang lebih sama , kita bisa menonton sebuah film yang bagus yang bisa saja membuat kesan dan mood bagus selama berhari-hari. Tetapi, dalam sepakbola, kita tak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Kadang, selama 90 menit itu kita hanya akan mendapatkan dua tim yang tidak berniat untuk bermain sepakbola. Dan aku merasa, akhir-akhir ini aku sering mengalami hal ini.

Tetapi semembosankanpun sebuah pertandingan, selalu ada hal-hal menarik setelahnya. Entah itu sebuah tulisan yang berisi makian, meme, atau status –status menarik di media sosial. Selalu ada hal yang menyenangkan dari setiap pertandingan sepakbola. Itulah alasan kenapa sepakbola adalah pelarian yang tepat untuk masalah-masalah hidup. Aku adalah salah seorang yang cukup beruntung untuk meyakini hal ini dimana beberapa orang lebih percaya kepada alkohol dan obat-obatan.

Semua itu dimulai di 2002. Usiaku saat itu masih 8 tahun. Aku adalah seorang anak yang gemar membaca bahkan sejak umur 4 tahun. Sayangnya waktu itu tidak banyak yang bisa kubaca. Satu-satunya buku yang kubaca adalah Alkitab yang saking seringnya kubaca, aku hampir bisa menjelaskan semua hal dari penciptaan dunia sampai kiamat.

Untungnya, meski tidak setiap hari, sesekali ayahku membeli koran. Saat itu, aku berkomitmen bahwa tidak ada satupun tulisan di koran tersebut yang tidak kubaca. Namun, aku selalu memulai membaca dari halaman kedua dari belakang, halaman olahraga.

Tentu banyak orang akan mengingat tahun 2002 sebagai tahun sepakbola paling menyenangkan. Piala Dunia diselenggarakan untuk pertama kalinya di asia. Sebagai konsekuensi dari hal tersebut, para penggila sepakbola di Indonesia sangat gembira karena akhirnya mereka dapat melihat aksi para pemain terbaik dunia tanpa harus begadang karena perbedaan waktu dengan Korea Selatan dan Jepang, tuan rumah Piala Dunia 2002 hanya satu jam. Kalau tidak salah saat itu setiap harinya ada 2 pertandingan yang dimainkan pukul 15.00 dan 19.00 WIB. Akupun menonton hampir semua pertandingan .

Dari sekian banyak tim, saat itu aku jatuh hati dengan timnas Jerman. Hanya butuh satu pertandingan untuk meyakinkanku, Jerman 8-0 Arab Saudi. Aku begitu takjub saat itu. Miroslav Klose yang  mencetak hattrick di pertandingan itu menjadi pemain favoritku. Pertandingan itu begitu membekas di benakku sampai-sampai aku selalu yakin kalau Jerman adalah tim terbaik di dunia yang akan selalu membantai lawan-lawannya. Aku juga yakin kalau Klose akan selalu mencetak hattrick setiap kali ia bermain. Lucunya, aku juga yakin kalau Arab Saudi adalah tim terburuk di dunia yang akan selalu dibantai lawan-lawannya. Beberapa waktu kemudian aku baru sadar kalau ada tim yang jauh lebih buruk, itu adalah hari dimana aku membaca berita, Arab Saudi 5-0 Indonesia.

Keesokan harinya kecintaanku terhadap Jerman semakin bertambah saat ayah membeli surat kabar dimana di halaman pertamanya terpampang sebuah foto berukuran besar yang menampilkan aksi diving header (menyundul bola sambil menjatuhkan diri) Miroslav Klose yang membobol gawang Arab Saudi.

Beberapa hari kemudian, foto itu sudah tertempel di diding kamarku.

Selanjutnya, aku menjadi semakin menyukai sepakbola. Di sekolah aku bermain bola plastik. Saat itu aku kelas 2 SD dan aku adalah anak pintar yang penakut. Saat pertama kali main bola, aku dijadikan kiper. Kita semua tahu bahwa posisi kiper adalah posisi untuk seorang anak yang masih dalam masa percobaan. Awalnya aku menolak tapi setelah melihat calon timku sangat mendominasi dan kipernya hampir tidak pernah menyentuh bola , aku menyetujuinya.

Entah ini hanya perasaanku saja, tapi tim lawan menjadi lebih sering menyerang tim kami saat aku masuk. Gawang kami dibombardir akan tetapi aku tetap tidak pernah menyentuh bola. Setiap serangan musuh selalu diblok oleh temanku yang berbadan besar,libero sejati. Ia adalah pusat permainan kami. Segera setelah merebut bola ia menggiring bola dengan cepat. Tidak ada yang cukup berani menghentikannya. Alasannya sangat masuk akal. Kalau ada yang berani menghadangnya dia akan menendang bola itu keras-keras dan semua anak tahu tahu kalau terkena bola plastik yang melaju sedemikian kencang apalagi di wajah rasanya sakitnya akan seperti ditampar, perih dan menyakitkan. Dan seberapapun sakitnya itu, kau tidak boleh menangis meski sebenarnya ada alasan kuat untuk itu. Sekali menangis, kau akan dianggap cengeng dan mungkin kau  akan dijauhi.

Tetapi tentu saja selalu ada anak berbadan besar lainnya yang berani menghadang pergerakan sang libero. Saat itu terjadi, semua anak akan menjadi lebih berani. Benturan menjadi tak terhindarkan dan seringkali menjadi akhir sebuah pertandingan akibat pecahnya bola.

Setelah “lulus” masa training, aku lebih banyak bermain sebagai wing back. Seorang pemain yang bermain di sisi lapangan dan bertugas mengirmkan umpan-umpan akurat ke striker. Kira-kira begitulah definisi posisi yang aku mainkan. Di posisi ini aku senang karena aku bisa membantu teman-temanku mencetak gol. Tidak terhitung banyaknya assist yang telah aku buat. Rasa-rasanya jumlah asisstku selama 5 tahun main bola di SD masih lebih banyak dari Mesut Oezil.

Sekolah dasar adalah terakhir kali aku merasakan kegembiraan bermain bola. Sejak saat itu aku mulai jarang bermain bola dan bahkan tidak sama sekali.

Di SMK aku lebih sering menghabiskan waktuku untuk membaca tabloid sepakbola. Kabar gembiranya adalah , perpustakaan sekolahku berlangganan tabloid bola yang terbit dua kali seminggu. Maka hampir tiap hari aku ke perpustakaan. Bahkan bisa beberapa kali dalam satu hari. Saat jam istirahat, jam kosong dan sepulang sekolah. Seringkali aku ke sana sendirian hingga teman-temanku mengira aku menjadi pandai karena ini. Padahal kepandaianku berasal dari kebiasaanku di masa kecil hehe

Tapi kalau dipikir-pikir, ada korelasi antara pengetahuan bola dan kepandaian akademis. Sebagai contoh, seorang fanatik bola terbiasa mencerna berbagai macam statistik . Dalam memahami klasemen sebuah liga sepakbola dibutuhkan kemampuan matematis yang lumayan. Apalagi untuk menghitung peluang juara suatu tim, kita harus menghitung jumlah poin yang dikumpulkan, selisih gol, sisa pertandingan yang dimainkan dan head to head. Aku sendiri cukup yakin kemampuan luar biasaku di bidang matematika kumiliki karena aku sering sekali mencermati klasemen dan peluang-peluang tim.

Sementara, aku juga sering menemui para penggemar bola yang mahir berbahasa Inggris . Ini sangat masuk akal mengingat istilah-istilah di sepakbola kebanyakan menggunakan bahasa Inggris dan apalagi para penggemar bola sering menonton liga-liga eropa yang semuanya menggunakan english commentary.

Penggemar sepakbola juga tak mungkin buruk dalam pengetahuan geografi. Aku sendiri mengenal negara-negara dan kota-kota di dunia melalui klub sepakbolanya. Bahkan dalam berbagai kasus, para fanatik bola ini bahkan mengetahui sejarah suatu negara gara-gara sepakbola. Banyak dari pendukung FC Barcelona hafal tentang sejarah permusuhan antara Catalan dengan kerajaan Spanyol. Bahkan akhir-akhir ini banyak orang Indonesia ribut-ribut tentang rencana keluarnya Britania Raya dari Uni Eropa. Orang menjadi tertarik karena keputusan itu menyangkut dengan Liga Premier Inggris, salah satu liga terpopuler di dunia.

Dari era surat kabar, tabloid, sampai era internet seperti sekarang sepakbola tidak pernah menjadi kuno dan bahkan makin lama makin menarik. Ini karena sepakbola memiliki dunianya sendiri. Sepakbola memiliki dewa, pemerintahan, organisasi serta rakyat-nya sendiri. Bagiku dunia ini adalah dunia yang amat menyenangkan. Dunia dimana orang bisa menjadi pintar ataupun gila. Dunia yang aku rasa tak akan pernah kutinggalkan.

Aku suka semua hal tentang sepakbola, gol-golnya, kontoversi-kontroversinya, reaksi-reaksi para fans. Semuanya.

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

One reply to Mengapa Sepakbola?

  1. Pingback:

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!