Setelah Nonton “The Imitation Game”

imigame

Kemarin saya bilang saya akan menulis tentang serial Sherlock yang disiarkan oleh BBC. Sepertinya rencana itu akan saya tunda dulu karena di postingan ini saya akan mereview sebuah film produksi tahun 2014, The Imitation Game.

Buat yang belum  tahu, film ini meceritakan tentang kehidupan ilmuwan Inggris, Alan Turing. Beliau adalah penemu mesin yang menjadi cikal bakal komputer. Di film ini Alan Turing diperankan oleh Benedict Cumberbatch yang tidak lain tidak bukan adalah pemeran Sherlock Holmes dalam serial Sherlock.

Jujur, sebelum menonton film ini, saya tidak tahu dan tidak peduli tentang sosok penemu komputer ini. Film ini nangkring cukup lama di hardisk karena entah kenapa saya selalu mengurungkan niat untuk menontonnya.

 

IMDb memberi rating film ini 8.1, dan saya setuju.

 

Film ini berlatar perang dunia 2, tahun 1942. Saat itu Jerman yang dipimpin Hitler sedang berada di atas angin. Hampir seluruh negara Eropa dikuasai oleh nazi. Inggris adalah satu dari sedikit negara yang belum mereka kuasai.

Namun, posisi Inggris sendiri sangat sulit. Mereka mengalami kekurangan makanan sehingga harus meminta pasokan makanan dari Amerika. Celakanya, pasukan Jerman seringkali menyerang kapal-kapal yang membawa makanan ke Inggris. Hal ini membuat Inggris mengerahkan pasukannya dan membuat perang yang tak berkesudahan.

Militer Inggris yang terkenal dengan sejarah hebatnya di masa lalu tak mau menyerah begitu saja meski mereka mengalami kesulitan karena seringkali dikejutkan oleh serangan-serangan tak terduga pasukan Jerman. Penyebabnya adalah pesan komando serangan pasukan Jerman disampaikan melalui kode yang sangat sulit dipecahkan yang dikenal dengan Enigma.

Satu-satunya cara memecahkan sandi tsb adalah dengan memeriksa semua kemungkinan yang ada satu per satu. Masalahnya, setiap satu kali pesan memiliki triliunan kemungkinan yang jika diperiksa satu per satu akan memakan waktu bertahun-tahun sementara setiap hari pesan-pesan baru terus dikirimkan.

Untuk alasan itulah militer Inggris membentuk tim khusus yang bertugas untuk memecahkan kode-kode tersebut. Tim tersebut berisi orang-orang cerdas. Salah satu anggotanya adalah Alan Turing.

Pada kenyataannya, mereka tetap menggunakan cara manual untuk mengecek kode itu satu per satu. Alan Turing adalah satu-satunya anggota tim yang bersikeras menciptakan sebuah mesin pemecah kode yang akan memecahkan sandi-sandi itu dalam waktu sekejap.

Masalahnya, kepribadian Turing yang tertutup dan penyendiri membuatnya tidak disukai para anggota tim lain. Apalagi ia lalu malah ditunjuk sebagai pemimpin tim oleh Winston Churchill, perdana menteri Inggris saat itu. Begitu menjadi ketua, ia lalu memecat dua orang anggotanya dan mengadakan seleksi untuk mencari anggota tim baru.

Dari seleksi itulah didapatkan anggota tim baru, seorang wanita bernama Joan Clark.

Keberadaan Joan sedikit mengubah Turing. Joan berhasil membuat Turing mau bekerjasama dengan para anggota tim lain. Namun, itu tak membuat semuanya menjadi lebih baik. Mesin karya Turing tak kunjung membuahkan hasil, sementara korban serangan Jerman terus berjatuhan. Militer Inggris mengancam akan menghentikan proyek Turing jika dalam 6 bulan ia gagal.

Tanpa diduga, Turing mendapatkan solusi untuk menyelesaikan masalah mesinnya saat ia bertemu seorang gadis di bar  yang sering berkirim pesan dengan seorang pria Jerman. Mesin itu akhirnya berhasil memecahkan sandi enigma.

Pemecahan kode-kode itu sangat berarti banyak bagi Inggris. Berkat penemuan itu, diperkirakan  perang berlangsung 2 tahun lebih cepat dan 14 juta orang selamat.

Ending film berjalan antiklimaks dimana Turing yang ternyata adalah seorang homoseksual, dinyatakan bersalah oleh pengadilan. (saat itu homoseksual merupakan pelanggaran hukum di Inggris). Meski tidak ditahan namun ia harus menerima hukuman kebiri yang membuat kesehatannya terganggu.

Setelah saya googling saya lebih terkejut lagi karena ternyata setahun setelah menjalani hukumannya, Turing memutuskan untuk bunuh diri. Tragisnya, ia mati bukan sebagai pahlawan melainkan narapidana. Hingga lebih dari 50 tahun statusnya tidak berubah sampai pada 2013, Ratu Elizabeth II akhirnya memberikan pengampunan kepada Alan Turing karena jasa-jasanya.

 

Penemuan Alan Turing bukan hanya berjasa menyelamatkan nyawa banyak orang , melainkan juga mengawali penemuan benda yang sangat berpengaruh sampai sekarang, komputer. Turing membuat orang-orang percaya bahwa sebuah mesin yang bisa “berpikir” adalah sesuatu yang tidak mustahil seperti yang dipercayai kebanyakan orang saat itu.

Sungguh disayangkan bahwa jasa-jasanya itu terlupakan selama lebih dari 50 tahun hanya karna ia adalah seorang homoseksual.

Sekarang saya baru sadar kenapa beberapa negara di dunia sudah tidak menganggap homoseksualitas sebagai sebuah pelanggaran. Dalam kasus Turing, itu sangat tidak adil karena selain berjasa bagi dunia ia bahkan tak pernah mengganggu siapapun.

Sebagai orang Indonesia, saya memang selalu merasa risi tiap kali mendengar kata homoseksual. Namun, kini saya sadar mereka hanya manusia biasa, sama seperti kita yang layak dihormati.

Film ini mengingatkan saya akan sebuah kutipan ucapan dari Presiden Indonesia ke 4, Gusdur yang kurang lebih berbunyi,

“Tak penting siapapun dirimu jika kamu bisa melakukan yang baik untuk semua orang”

 

 

 

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!