7 Penyebab Tayangan Sepakbola Indonesia Buruk

siaran sepakbola Indonesia

Kenapa tayangan sepakbola Indonesia jelek?”

“Kapan liga indonesia gunakan kamera replay super lambat?”

“kenapa tv bola indonesia tidak jernih?”

 

Kalimat-kalimat di atas adalah sebagian kecil dari istilah-istilah pencarian yang mengarah menuju blog saya dalam sebulan terakhir.

Banyak orang menuliskannya dalam kolom pencarian google dan akhirnya menemukan tulisan saya yang ini dan atau yang ini.

Kedua tulisan itu memang berisi keluhan-keluhan saya tentang buruknya kualitas tayangan sepakbola Indonesia. Namun dua-duanya tak menjawab apa sebenarnya penyebab siaran sepakbola Indonesia begitu buruk.

Karena itu saya mencoba mencari-cari dan membandingkan perbedaan-perbedaan Indonesia dengan negara-negara lain yang siaran sepakbolanya bagus.

Hasilnya saya menemukan 7 alasan kenapa siaran sepakbola Indonesia masih saja buruk.

 

Alasan 1 : Pemegang Hak Siar

Di liga-liga eropa hak siar tak cuma dimiliki oleh satu atau dua stasiun televisi saja. Bahkan hak siar Liga Primer Inggris dimiliki oleh belasan stasiun TV yang tersebar di seluruh dunia. Stasiun-stasiun TV tersebut tak segan untuk mengeluarkan dana besar guna mendapatkan tayangan sepakbola yang bagus.

Tidak adil memang membandingkan sepakbola Indonesia dengan Inggris yang jauh lebih maju dan mendunia. Namun, mungkin PSSI bisa mempertimbangkan untuk memberikan hak siar ke beberapa stasiun TV.

Selain dana dari hak siar yang terkumpul akan bertambah, bisa jadi tayangannya akan membaik karena ada kerjasama antar stasiun TV.

 

Alasan 2 : Stasiun TV

Di negara-negara lain, biasanya ada saluran TV khusus yang isinya hanya olahraga. Stasiun-stasiun TV inilah yang biasanya memegang hak siar pertandingan sepakbola.

Karena terbiasa menyiarkan pertandingan olahraga, tentu para kru dan kameramen stasiun TV tersebut telah punya segudang pengalaman.

Mereka sudah pasti tahu momen-momen mana yang penting dan harus ditayangkan dalam sebuah pertandingan sepakbola dan momen-momen mana yang kurang  penting yang bisa ditayangkan asal tak mengganggu penayangan momen-momen penting.

Melihat pemegang hak siar yang terus menerus berganti tiap tahunnya serta tidak adanya stasiun TV khusus olahraga di Indonesia, wajar jika tayangan sepakbola kita tak sebagus di negara-negara lain. Barangkali para kru TV itu belum punya pengalaman  dan keahlian untuk menyiarkan sebuah pertandingan sepakbola dengan baik.

 

Alasan 3 : Stadion

Di Liga-Liga eropa semua tim peserta rata-rata mempunyai stadion yang memadai. Biasanya ada bagian khusus di stadion yang diperuntukkan bagi para jurnalis.

Kameramen TV biasanya juga disediakan tempat khusus di sudut-sudut strategis yang memastikan bahwa tak akan ada momen-momen penting pertandingan yang lolos dari tangkapan kamera.

Sedangkan di Indonesia tak semua stadion seperti itu. Itulah kenapa di stadion-stadion tertentu kadang-kadang angle-nya terlalu rendah sehingga gambar menjadi tidak terlalu jelas.

Secara pribadi, saya berpendapat kalau angle kamera di stadion Pakansari adalah yang terbaik di Indonesia saat ini.

 

Alasan 4 : Arsenal  Luas Wilayah Indonesia

Indonesia memang bukan negara terluas di dunia. Tetapi dibanding negara-negara seperti Amerika Serikat, China, atau Rusia,  secara transportasi , Indonesia adalah yang paling rumit. Ini karena wilayah Indonesia terbagi ke dalam ribuan pulau.

Apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara eropa yang untuk berpergian ke negara lain saja bisa dilakukan dengan kereta atau mobil.

Bayangkan berapa ongkos yang harus dikeluarkan pihak stasiun TV yang berbasis di Jakarta untuk meyiarkan sebuah pertandingan di Samarinda, Makassar, atau bahkan Jayapura.

“Daripada digunakan untuk menambah jumlah kamera di stadion, lebih baik uangnya digunakan untuk ongkos.”, begitu mungkin yang dipikirkan oleh pihak stasiun TV.

 

Alasan 5 : Gratis

Ini mungkin adalah faktor terbesar penyebab kenapa siaran Liga Indonesia cukup buruk. Pihak stasiun TV tentu pusing karena selain harus membayar dana hak siar ke PSSI, mereka juga harus menyiapkan peralatan dan akomodasi untuk menyiarkan pertandingan-pertandingan Liga Indonesia.

Patut diingat bahwa stasiun TV juga adalah sebuah perusahaan yang butuh keuntungan untuk membiayai operasional dan membayar karyawan-karyawannya. Dan di Indonesia  saat ini, satu-satunya cara untuk bisa mendapat keuntungan adalah dengan memasang iklan sebanyak-banyaknya.

Jadi tidak heran kalau kita sering menemui iklan gunung meletus di lapangan sebelum kick off pertandingan, atau iklan yang berukuran besar di bagian ujung layar, atau bahkan kadang-kadang iklan yang memenuhi sebagian besar layar, mengecilkan tayangan pertandingan menjadi setengah ukuran TV.

 

Alasan 6 : Rating

Ini erat kaitannya dengan alasan no. 5. Karena gratis maka TV hanya mendapat pemasukan dari iklan. Karena pemasukan dari iklan, maka rating harus tinggi. Karena rating harus tinggi, maka tim yang disiarkan pun harus punya basis suporter besar.

Alhasil tayangan sepakbola di Indonesia hanya peduli kepada jumlah suporter klub daripada prestasi klub tersebut.

Contohnya musim lalu, Persipura yang menjuarai kompetisi malah jarang ditayangkan. Sementara Persib yang berada di papan tengah dan bahkan Persija yang berada di papan bawah terus menerus disiarkan pertandingannya.

 

Alasan 7 : Kita

Tanpa disadari kita jugalah penyebab siaran sepakbola Indonesia di TV buruk. Kita yang terus menerus mengeluh tanpa memberi solusi (termasuk saya). Kita yang mengeluhkan siaran buruk yang gratis tapi enggan jika diharuskan membayar (termasuk saya).

Kita yang hanya tinggal duduk manis menonton di rumah tanpa harus mengeluarkan biaya sepeserpun namun masih sempat-sempatnya memaki-maki pihak stasiun TV.

 

Itulah tadi hasil “riset” kecil-kecilan saya.

 

Kalian setuju?

Ada yang perlu ditambahkan?

Atau ada yang perlu dihilangkan?

 

Silakan tulis di komentar!

 

 

Sebelumnya tentang siaran sepakbola.:

3 Hal yang Membuat Saya Kurang Nyaman Menonton Siaran Sepakbola Indonesia

Go-Jek Traveloka Liga 1, Kompetisi Baru Rasa Lama

Fakta Tentang Siaran Liga Indonesia

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

22 Replies to “7 Penyebab Tayangan Sepakbola Indonesia Buruk”

  1. Pingback:

  2. Pingback:

  3. Untuk jersey klub – klub Indonesia menurut saya “agak kurang enak dipandang” karena banyaknya sponsor yang dipampang. Memang, hal itu demi menambah pemasukan klub dan tidak semua klub melakukannya
    Saya juga mengapresiasi supplier jersey lokal yang mulai berkembang.

    • Iya, cukup aneh, padahal kalau dipikir-pikir klub-klub eropa sponsornya banyak juga, tapi nggak semuanya ditempel di jersey.

      Setuju, apparel lokal sekarang memang bagus-bagus.
      Bahkan saya kemarin liat desain jersey klub-klub di Liga 2 banyak yang keren.

  4. Alasannya apa lagi ya? Mungkin memang di kitanya yg gak mau maju kali. Bagaimana pun juga untuk mendapatkan siaran yg bagus semua harus bekerja sama. Padahal orang indonesia itu sulit dalam bekerja sama wkwkw…… Ini sih opini pribadi ya, amatiran loh ya…..

    • Iya mas harus kerjasama mungkin. Kebanyakan orang Indonesia bisanya ngeluh doang, nggak mau usaha, ya kayak saya ini, hahaha

      • Lha beneran. Klo nggak rapat nggak bakalan selesai suatu permasalahan di indonesia itu. Soalnya kesadaran dirinya rendah sekali. Klo nggak banyak yg protes dan mengkritik ya dibiarkam saja.

  5. Waktu bhayangkara Cup kemaren hak siarnya dipegang NET. gambarnya bagus… sisi tampilan juga keren banget, benar-benar terkonsep. Sialnya kalo yang urusan hak siar LIGA selalu jatuh ke stasiun TV yang sering memroduksi acara bikin bego (sinetron). Gue rasa ini bukan lagi soal kualitas, tapi soal uang… TV-TV bikin Bego itu berani bayar lebih ke PSSI biar dapat hak siar ekslusif. PSSI ketuanya aja yang baru, orang dalamnya ya itu-itu aja,… mata duitan semua.

    Ini aja sampe sekarang belum pernah satu pertandingan liga satupun karena di langganan tv kabel siarannya selalu ilang pas pertandingan, jalan satu-satunya ya streaming.

    • Nah iya pas disiarin NET itu udah bagus.

      Katanya sih duit hak siar bakalan dibagiin rata ke klub-klub, tapi tadi habis baca berita ternyata yang tahun kemarin aja belum dilunasin sama PSSI.

      Saya pakai parabola juga siarannya diacak, tapi masih bisa dibuka pakai Bisskey.

      TV kabel mungkin ada triknya juga kali mas.

  6. Nurut saya yg outsider urusan bola, sebaiknya masukan Anda ini bisa diteruskan ke PSSI, dmcam surat terbuka gitu, mungkin gak ya? Hee..

    • Waduh, kayaknya nggak perlu mas.

      Tulisan ini bukan ditujukan ke mereka tapi ke saya sendiri dan orang-orang yang sering mengeluh tentang siaran sepakbola Indonesia yang kebetulan sering nyasar ke blog ini. 😀

  7. memang sih….
    tapi kita sebagai rakyat indonesia harus bangga dengan apa yang kita miliki sob….
    dan kita tidak boleh saling menjatuhkan…
    mungkin Pendapat kita berbeda, tapi memang tidak salah banyak yang bilang kalo setiap orang memiliki pendapat yang berbeda-beda :-)…..
    Jangan lupa Di kunjungi Blog saya…

  8. Hahaha jauh banget emang mas. Mungkin satu-satunya hal yang bisa kita banggakan cuma suporter yang hampir selalu ramai tiap kali ada pertandingan.

  9. Net. lah yang paling bagus
    kameranya sudah ada stabilizer
    grafis dan gambarnya paling bagus
    nggak kaya Tvone

    • Saya juga sebenarnya lebih suka NET yang nyiarin. Tapi sepertinya susah karena PSSI mematok tarif hak siar yang sangat tinggi. Sementara NET nggak punya audiens sebanyak tv-tv lain.

      • kalo saya pikir ketidak-deal-an Net dengan PSSI perihal liga 1 ini bukan masalah harga sih, lebih ke masalah jadwal karet yang mungkin kurang ramah bagi NET TV sendiri. Kalo masnya ngikutin liga 1 musim ini, kita bisa lihat hampir tiap hari pasti selalu ada pertandingan kan, yang kagak ada mungkin cuma selasa malam karena ada Indonesia Lawyer’s Club.
        Kalo ane lihat dari fenomena pertandingan yang hampir tiap hari ada di TV sepertinya dari pihak PSSI mendahulukan stasiun TV yang cenderung jadwalnya lebih luang biar bisa jadi ajang pamer bahwa ‘nih liga indonesia tahun 2017 jadi liga indonesia dengan jumlah siaran terbanyak’ toh kalo di NET TV kalo malem ada ini talk show yang udah paten banget sedangkan di sore ada The Comment kalo gak salah, dan acara itu sepertinya sudah nyaman di jam tayang segitu

        • Iya juga sih, Liga 1 emang hampir tiap hari tayang, bahkan kalau ada Liga 2 bisa makin padat. Sementara stasiun-stasiun TV mustahil mengorbankan acara-acara andalan mereka demi tayangan sepakbola yang belum tentu menghasilkan keuntungan yang sepadan.

          Tapi sebenarnya ada satu stasiun yang menurut saya paling cocok menyiarkan tayangan Liga Indonesia, TVRI.
          Saya rasa mereka nggak punya acara paten, jaringan mereka juga lebih luas dari tv-tv lain.
          Perkara kru penyiaran, saya cukup yakin ada banyak orang Indonesia yang punya kemampuan di bidang itu. Lulusan sekolah broadcasting tersebar di mana-mana, tinggal menunggu direkrut aja.

  10. Analisa yang menarik. Saya lebih setuju kalau PT Liga bikin tim penyiaran sendiri. Setahu saya di Liga-Liga eropa sistemnya seperti itu.

    Saya juga malu melihat siaran sepakbola kita yang sangat buruk, apalagi musim ini kompetisi kita mendapat sorotan berlebih dengan kedatangan sederet mantan pemain top.

    Ya mau gimana lagi mas, sangat disayangkan PSSI tak berani berinvestasi besar, pengennya untung besar dengan modal dikit.

    Terima kasih mas sudah berkunjung dan berbagi opini. 😀

  11. setahu saya memang yang memproduksi siaran memang dari PT Liga Indonesia Baru (PSSI) sendiri, hal ini sempat muncul ketika ada problem siaran saat Persija vs PS TNI kalau tidak salah ketika ada satu mobil pemancar satelit yang kena timpuk suporter kemudian TVOne memberikan klarifikasi bahwasanya mereka hanya menjadi partner untuk menyiarkan sementara produksi langsung dari PSSI.
    Jadi ya memang yang berhak disalahkan ketika siaran liga indonesia gitu2 mulu memang untuk saat ini PSSI, mungkin mereka belum memiliki planning panjang ke situ, orang jersey timnas yang kontraknya udah habis dari jaman kapan aja belum dipikirin gantinya apalagi siaran liga

    • Jadi emang PSSI-nya yang nggak beres ya. Susah sih emang masalah sepakbola kita udah kadung banyak. Tapi menurut saya harusnya PSSI jangan keras kepala, ngerjain semuanya sendiri padahal sebenarnya nggak mampu. Termasuk perkara siaran ini, sebenarnya kan mereka bisa merekrut para kru-kru TV yang dulu terbukti bisa menghasilkan siaran yang bagus.

  12. Pingback:

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!