Review Black Mirror: Seburuk Itukah Masa Depan Manusia?

mv5bmtk5ntk1mzg3ml5bml5banbnxkftztcwndaynzy3oa-_v1-_cr25310101343_sy1000_cr007521000_al_
foto: IMDb

 

Harus diakui perkembangan teknologi sangat merubah kehidupan kita dalam beberapa tahun terakhir. Teknologi memudahkan manusia dalam banyak hal seperti berbelanja, berkomunikasi, sampai memesan tiket transportasi.

Tetapi di samping itu banyak juga dampak negatif dari semakin majunya teknologi. Salah satu yang paling kentara adalah saat ini orang-orang lebih sering bercakap-cakap lewat smartphone daripada bertatap muka langsung. Di setiap kerumunan orang entah itu di dalam kereta, di halte bis, dan tempat-tempat umum lainnya lazim kita temui orang-orang lebih sibuk menatap layar gadget mereka tanpa acuh dengan kondisi sekitar.

Sekarang juga sudah sulit menemukan anak-anak kecil yang bermain permainan tradisonal di depan halaman rumah atau di lapangan. Mereka lebih suka menghabiskan waktu bermain game di warnet, menyewa konsol Play Station atau mengutak-atik gadget.

Lantas bagaimana jadinya kalau di masa depan teknologi sudah sangat jauh berkembang? Akankah kehidupan kita juga akan berubah lebih ekstrem lagi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat ditemukan jawabannya dalam serial TV Black Mirror.

Serial TV yang awalnya diproduksi di Britania Raya (mulai season 3 diambil alih oleh Netflix)  tersebut benar-benar menggambarkan bagaimana kecanggihan teknologi akan mengubah seluruh cara hidup manusia.

Kemarin malam saya baru selesai menonton episode pertama season ketiga Black Mirror. Episode ini membahas tentang kehidupan manusia di masa depan dimana saat itu status sosial setiap orang dapat diukur dengan angka.

Kalian tentu familiar dengan sistem rating di Play Store bukan?

Nah, konsepnya persis seperti itu. Setiap kali berinteraksi dengan orang lain kita bisa memberikan rating pada orang tersebut, dan sebaliknya.

Kalau orang itu bersikap baik kepada kita, kita bisa memberinya empat atau lima bintang melalui gadget kita. Jika kita tidak suka orang itu, kita bisa berikan satu atau dua bintang.

Seperti halnya konsep rating di aplikasi, semua rating yang kita dapat akan dihitung rata-ratanya yang hasilnya adalah overall rating kita.

Overall rating setiap orang bisa dilihat dengan mata telanjang karena di dalam mata setiap orang telah dipasangi teknologi untuk melihatnya .

 

lacie-happy-to-see-her-latest-post-was-well-received-netflix
javierlopezmenacho.com

 

black-mirror
oxgadgets.com

Jadilah setiap bertemu seseorang, orang asing sekalipun kita langsung tahu gambaran orang tersebut melalui overall ratingnya. Semakin tinggi overal rating seseorang, semakin baik dan terhormatlah orang itu sebaliknya semakin rendah overall ratingnya semakin mencurigakanlah orang tersebut.

Pada awalnya memang sistem ini tampaknya membuat kehidupan menjadi lebih baik. Semua orang berlomba-lomba bersikap baik dan ramah kepada orang lain agar mendapatkan overall rating yang lebih tinggi.

Namun lama kelamaan orang-orang menjadi terobsesi dengan rating mereka. Segala macam hal mereka lakukan demi mendapatkan lima bintang dari setiap orang yang mereka temui.

Konsep rating ini ternyata juga mempunyai aturan mainnya tersendiri. Misalnya, rating dari orang yang overall ratingnya lebih tinggi akan lebih bernilai daripada rating dari orang-orang yang overal ratingnya rendah.

Orang-orang yang memiliki overal rating tinggi juga mendapat banyak keistimewaan seperti boleh menerobos antrian, mendapatkan diskon tinggi saat belanja, dll.

Bahkan beberapa tempat termasuk rumah sakit tidak mau menerima orang yang memiliki rating di bawah batas minimum yang mereka terapkan.

Aturan itu tentu saja menciptakan kasta tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat. Orang-orang dengan overall ratting 4 misalnya mungkin masih mau bergaul dengan overall rating 3, namun tidak dengan yang di bawahnya. Sementara satu-satunya cara agar orang dengan rating 2 ke bawah untuk meningkatkan ratingnya adalah dengan mendapatkan rating dari orang-orang di atasnya.

Kalau dipikir-pikir kondisi itu sebenarnya tak jauh beda dengan sekarang bukan? Kebanyakan orang dengan status sosial yang lebih tinggi enggan berhubungan dengan mereka yang status sosialnya lebih rendah.

 

Di episode ini diceritakan kisah seorang gadis yang tadinya bersikap ramah pada setiap orang tak peduli  berapapun ratingnya. Karena itulah ia punya rating yang cukup tinggi, 4.2. Tetapi semuanya berubah saat ia berencana membeli sebuah rumah yang sangat diimpikiannya. Rumah impiannya tersebut sangat mahal dan ia tak punya cukup uang untuk membelinya. Satu-satunya caranya mendapatkan rumah tersebut adalah meningkatkan ratingnya menjadi 4.5 agar ia mendapatkan diskon 20%.

Obsesi meningkatkan rating itulah yang membuatnya menjadi pribadi yang munafik. Ia tak segan segan menjilat orang-orang yang ratingnya lebih tinggi. Ia berusaha menyenangkan para pemilik rating tinggi dan kehilangan jati dirinya sendiri.

Ada satu adegan yang paling saya ingat yakni saat gadis itu marah-marah karena penerbangannya dibatalkan. Ulahnya itu mengakibatkan ratingnya diturunkan menjadi 3 oleh polisi.

Untungnya ia mendapat tumpangan dari seorang nenek-nenek yang overall ratingnya…..1.

Nenek itu bertanya mengapa ia terlihat begitu kecewa. Sang gadis menceritakan tentang ratingnya yang dipotong karena marah-marah kepada petugas bandara.

Si nenek bertanya lagi, “Apa yang kau rasakan saat marah tadi?”

Gadis itu tampak bingung menjawab pertanyaan itu. Sudah terlalu lama ia berpura-pura baik  kepada semua orang. Ia melupakan emosinya, obsesi terhadap rating telah membuatnya kehilangan sisi kemanusiaannya.

Tentu saja cerita gadis itu tak berakhir bahagia, lebih baik kalian tonton sendiri agar lebih puas.

 

Saya yakin serial ini tak akan mengecewakan siapapun yang menontonnya. Ide cerita yang brilian dan dieksekusi dengan bagus membuat siapapun akan terkagum-kagum saat menonton Black Mirror. Penampilan para aktornya pun sangat brilian dan efek komputer yang digunakan juga sangat pas, tidak lebih maupun kurang.

Black Mirror saat ini total sudah memiliki 12 episode yang terdiri dari 3 episode di season 1, 3 episode di episode 2, dan 6 episode di season 3. Setiap episode-nya berdurasi rata-rata  50 sampai 60 menit.

Sejauh ini saya telah menonton tujuh episode Black Mirror dan  setiap selesai menonton , pikiran saya selalu dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan,

 

“Apakah benar ini gambaran masa depan kehidupan manusia? Seburuk itukah?”

 

“Mungkin saja, bukankah limabelas tahun yang lalu kau tak pernah menyangka kalau sekarang ini hal yang pertama kali kau lakukan saat bangun dan tidur adalah mengecek gadget?”,

sahut sebuah suara dari bagian pikiran saya yang lain.

 

 

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

8 replies to Review Black Mirror: Seburuk Itukah Masa Depan Manusia?

    • hahaha mudah-mudahan kejadiannya masih lama, 100 tahun lagi pas kita udah ngga ada.

  1. Bagus nih kayaknya filmnya. Download dimana mas filmnya? Jadi penasaran saya.

    • Coba di nontonseri.com mas, saya streaming di situ sih, tapi kayaknya bisa didownload juga.

  2. Aku juga tertarik deh pingni download… kalo mau streaming, setengahh mati hikkkss

    • Saya juga terpaksa streaming karena hardisk udah penuh hehe.

  3. wah ini salah satu series terkeren yang pernah ane tonton gan
    dari episode pertama udah bikin melongo, dan puncaknya episode white bear, bener bener dibikin “wow…wtf!!???” gak kebayangan deh kalau ane yang digituin, ngeri bener hehe

    episode lain yang ane suka (dan bikin nyesek pake banget) itu shut up and dance, walaupun ane tau itu kelakuan buruk, tapi endingnya bikin nyesek, ane kasihan banget sama karakter kenny
    oh iya, gara gara episode ini juga bikin ane plaster webcam laptop haha

    pokoknya ane rekomended banget deh series satu ini, 9/10!
    ahh jadi gak sabar season 4nya oktober nanti hehe

    • Sebenarnya saya belum menonton seluruh episode-nya tapi emang dr yg sudah saya tonton reaksi saya hampir mirip dg anda, hehehe

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!