Review Buku: Sepakbola, The Indonesian Way of Life

review-ulasan-sepakbola-the-indonesian-way-of-life

Perbincangan soal sepakbola selalu menarik bagi saya. Ini karena sepakbola bisa dikaitkan dengan apa saja. Dari mulai kebudayaan, ekonomi, hingga sosial-politik. Sepakbola tak bisa dianggap sebagai permainan biasa.

Bill Shankly, mantan manajer Liverpool FC yang legendaris itu bahkan pernah berkata,

Some people think football is a matter of life and death. I assure you, it’s much more serious than that.

Tak terhitung banyaknya suporter bola yang mengamini kata-kata Shankly, termasuk di antaranya mungkin adalah Antony Sutton, sang penulis buku Sepakbola, The Indonesian Way of Life

Antony Sutton datang ke Indonesia di tahun 2002. Seperti kebanyakan orang eropa, ia sangat asing dengan negeri yang berada di timur jauh ini.

Akan tetapi siapa sangka ia menemukan sesuatu yang ia sukai di sini. Sesuatu yang mengingatkannya kepada masa kecilnya di London dulu. Sepakbola.

Menurutnya sepakbola Indonesia masih suci, tak seperti di negara asalnya, Inggris, yang sudah berubah menjadi lahan bisnis.

Sutton pun kemudian rutin menonton langsung pertandingan-pertandingan sepakbola di stadion-stadion di seluruh Indonesia tak peduli tim mana pun yang bertanding.

Pengalamannya itu membuatnya mengerti betul kondisi persepakbolaan Indonesia selama 10-15 terakhir.

Semuanya ia tuliskan di dalam blog miliknya, Jakarta Casual yang sampai sekarang masih aktif.

Sebagian catatan-catatannya tersebut kemudian juga dibukukan menjadi buku yang sedang saya review ini. Tentunya dengan bantuan dari Andi Bachtiar Jusuf, sutradara kondang yang menjadi penerjemah buku ini.

Review

Saya sangat menikmati isi buku ini, terutama bab-bab awal yang menceritakan tentang timnas Indonesia dan juga PSSI.

Bagian favorit saya adalah kisah tentang seorang suporter yang nekat masuk ke lapangan dan menendang bola ke arah penjaga gawang timnas Oman di ajang kualifikasi piala Asia.

Saya hampir-hampir melupakan peristiwa itu meski saya menontonnya TV. Buku ini menceritakan kembali kejadian itu dengan konyol hingga membuat saya tak bisa menahan senyum saat membacanya.

Sutton juga tak lupa membahas kejadian-kejadian aneh lain yang pernah terjadi di sepakbola Indonesia. Konflik PSSI, keberadaan dua kompetisi (ISL dan LPI), campur tangan pihak keamanan (polisi) dalam sebuah pertandingan, sampai kerusuhan suporter.

Menariknya, Sutton seringkali membandingkan kondisi sepakbola Indonesia dengan negaranya, Inggris. Tentu bukan dengan sepakbola Inggris yang sekarang, tetapi pada era 70-an.

Misalnya saat membahas mengenai aksi rusuh yang dilakukan Bonek ( pendukung Persebaya) saat mendukung timnya di laga tandang. Sutton membandingkan kelakuan mereka dengan kelakuan para suporter Manchester United saat tim yang kini diasuh Jose Mourinho tersebut terdegradasi di tahun 70-an.

Kejujuran dan sudut pandang Anthony Sutton dalam melihat kondisi sepakbola Indonesia inilah yang, menurut saya, menjadi kelebihan buku ini.

Namun bukan berarti buku ini tak memiliki kekurangan.

Ada beberapa bagian yang mengganggu saya. Seperti misalnya di bab 6 yang berjudul “Persibo dan Rasa Malu Bangsa”. Bab ini membahas tentang prestasi buruk klub-klub Indonesia di kompetisi Asia, baik itu Liga Champions maupun Piala AFC.

Di situ disebutkan bahwa prestasi terbaik klub-klub  Indonesia di Piala AFC adalah menembus 8 besar ( Arema & Semen Padang). Padahal di tahun 2014 Persipura mampu mencapai semifinal.

Bab yang membahas mengenai Bonek juga menurut saya terlalu berbelit-belit. Saya tidak tahu kenapa buku ini harus lebih dulu repot-repot menjelaskan tentang pertempuran 10 November di Surabaya. Mungkin maksudnya adalah untuk memberikan informasi kepada pembaca non-Indonesia tentang sejarah kota Surabaya.

Tetapi tetap saja bagi saya membaca halaman-halaman awal bab ini seperti membaca kembali buku pelajaran sejarah SMP.

Satu lagi yang membuat saya kecewa adalah buku ini tak banyak membahas mengenai klub-klub kecil. Praktis hanya beberapa klub yakni Persib, Persija, Persebaya, dan Arema yang mendapatkan porsi cerita yang cukup.

Barangkali Sutton kesulitan untuk memilih klub lain yang menarik untuk dibahas di antara sekian banyak klub Indonesia. Atau mungkin ia menyimpannya untuk buku keduanya. Saya kurang tahu.

 

Kesimpulan

Sepakbola, The Indonesia Way of Life adalah buku yang sangat langka. Saat ini belum banyak buku-buku yang membahas mengenai sepakbola Indonesia. Fakta bahwa buku ini ditulis oleh seorang warganegara asing semakin menambah keunikan buku ini.

Meski tidak sempurna, saya rasa buku ini wajib dimiliki oleh pecinta sepakbola di Indonesia.

Dan ya, setelah membaca buku ini saya menjadi bermimpi untuk berkeliling ke stadion-stadion di seluruh Indonesia. Berbaur dengan para suporter dari berbagai suku dan daerah. Suatu saat nanti.

 

Terima kasih Antony Sutton!

 

 

 

Judul               :   SEPAKBOLA The Indonesian Way of Life

Penulis           :   Antony Sutton

Penerjemah   :   Andibachtiar Yusuf

Penerbit         :   Kawos Publishing , 2017

Order              :   Pilih Buku

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

7 replies to Review Buku: Sepakbola, The Indonesian Way of Life

  1. Wah sepertinya menarik bukunya. Apalagi pengetahuan saya tentang sepak bola indonesia nol besar ha ha ha….. Saya masukkan list bukunya. Nanti kalau punya uang lebih bakal beli buku ini 😀

    • Iya mas. Buku ini akan memberikan gambaran tentang betapa bobroknya PSSI dan sepakbola Indonesia.
      Kalau mau beli di pilihbuku itu aja mas, soalnya nggak dijual di toko-toko buku.

  2. Sepertinya menarik bukunya. Apalagi pengetahuuuan tentang sepak bola indonesia masih nol besar. Saya masukkan dalam list beli deh, ntar kalau punya uang lebih bakal beli buku ini 😀

  3. Wow, sya salut trnyta ada juga org asing yg pham ttg persepakbolaan di tanah air smpai membukukannya, trlpas dari sgla kekurangan2 yg Anda mksudkan di atas

  4. Wlau sya awam ttg spk bola, cuma sy myakini bhwa persepakbolaan suatu bngsa itu mncerminkan karakter suatu bngsa

    • Iya mas, sepakbola bisa menjadi alat untuk menunjukkan karakter kita kepada dunia.

  5. Pingback:

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!