Review Buku: Hector and The Search for Happiness

88503_f
source: here

Kejarlah kebahagiaan sampai ke negeri China.

Barangkali itu adalah pesan yang ingin disampaikan penulis buku Hector and The Search for Happiness.

Buku ini merupakan buku best seller karya penulis berkebangsaan  Prancis, Francois Lelord yang sampai saat ini kabarnya sudah terjual lebih dari dua juta kopi.

Sinopsis

Hector adalah seorang pria yang memiliki hidup yang nyaris sempurna. Ia sangat sukses dan begitu dihormati sebagai psikolog . Ia juga memiliki kekasih cantik nan cerdas dalam diri Clara.

Tetapi suatu ketika Hector merasa hidupnya hampa. Penyebabnya, ia sering menerima pasien-pasien yang mengeluhkan kehidupan mereka yang tidak bahagia meski bergelimang harta dan ketenaran.

Hal itu membuat Hector penasaran akan makna kebahagiaan yang sebenarnya.

Hector memutuskan untuk berpetualang ke negeri-negeri asing untuk menemukan arti kebahagiaan sejati. Perjalanannya itu membawanya ke belahan dunia lain, tempat-tempat dimana ia menemukan kehidupan yang jauh berbeda dengan kehidupannya sekarang.

Hector mengunjungi Tiongkok dan bertemu dengan sahabatnya, seorang biksu, serta seorang gadis cantik yang mengajarkannya banyak hal. Ia juga mengunjungi Afrika guna mengunjungi sahabat lainnya yang menemukan kebahagiaan di tempat paling miskin dan paling berbahaya di dunia itu.

Terakhir, Hector mengunjungi  keluarga mantan kekasihnya di Amerika. Ia belajar tentang arti kebahagiaan dari keluarga kecil mereka.

Sembari melakukan perjalanan, Hector mencatat pelajaran-pelajaran yang ia dapatkan, di antaranya,

“Membuat perbandingan bisa merusak kebahagiaan.”

“Kebahagiaan pada dasarnya tergantung pada cara kita memandang sesuatu, seperti konsep gelas setengah penuh atau setengah kosong.”

“Kebahagiaan adalah peduli terhadap kebahagiaan orang-orang yang kita cintai.”

 

Review

Meski berlabel bestseller dan disebut-sebut sebagai buku yang inspiratif oleh banyak orang, saya tidak terlalu menikmati buku ini. Entah kenapa saya tidak bisa nyambung dengan karakter Hector. Mungkin karena di kehidupan saya orang seperti Hector susah dibayangkan keberadaannya. Mungkin juga karena kisah dalam buku ini terlalu klise. Tak banyak hal-hal baru yang saya dapatkan dari buku ini.

Lagipula saya tinggal di negara dimana orang sudah merasa bahagia jika punya penghasilan cukup serta pasangan hidup.

Tak seperti di negeri Hector, ukuran kebahagiaan di sini sangat sederhana sampai-sampai kalimat “Bahagia itu sederhana” sering saya jumpai dimana-mana.

Mungkin buku ini akan jauh lebih mengena jika dibaca oleh orang-orang yang terbiasa hidup mapan.

Tetapi terlepas dari itu semua, saya harus mengakui bahwa  Hector and The Search for Happiness adalah buku yang nyaman dibaca. Bahasanya cukup sederhana dan mudah diikuti. Saya cukup betah membaca buku setebal sekitar 270 halaman ini.

Namun sekali lagi, untuk ukuran buku best seller, buku ini cukup mengecewakan. Terlebih ada yang membandingkan buku ini dengan karya brilian Paulo Coelho, The Alchemist.

Bagi saya itu seperti membandingkan tahu bulat dengan tahu bakso, “isi”-nya  jauh berbeda.

 

Judul          :     Hector and The Search for Happiness

Halaman  :     272

Penerbit   :     Noura Books, Oktober 2015

Ebook        :     Play Store

 

Catatan:

Buku ini telah diadaptasi ke layar lebar pada tahun 2014. Baru-baru ini saya menonton filmnya dan pendapat saya tak jauh berbeda dengan bukunya, sangat biasa.

Jika tertarik, saya sarankan kalian menonton filmnya terlebih dulu sebelum membaca bukunya. Dengan cara itu mungkin kalian lebih bisa mengapresiasi bukunya.

 

 

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

6 replies to Review Buku: Hector and The Search for Happiness

  1. Kirain tuntutlah ilmu sampai ke negeri China, seperti kata sebuah hadist, hehehe…

    Mas Firman suka baca buku secara rutin ya, mas? Saya jarang, mungkin karena saya kerja di daerah terpencil kali ya, dimana koleksi buku disini masih minim dan bahkan buku2 lawas. Paling saya coba2 cari e-book aja. Tapi itu pun sangat jarang, ditambah lagi jaringan di tempat saya kadang “menyebalkan”, mau unduh sstu lelet banget.

    • Ngga rutin juga sebenarnya sih mas. Saya suka liat-liat buku di Play Store. Kalau ada yang menarik dan harganya nggak terlalu mahal biasanya saya beli hehe
      Saya juga udah lama ngga baca buku fisik, mungkin semenjak punya smartphone.
      Sekarang baca ebook sudah jauh lebih nyaman dibanding dulu, pakai aplikasi Play Book paling enak.

  2. Wah ini termasuk buku zonk ya mas? Memang sih kadang2 buku best seller nggak sebagus yg kita bayangkan. Saya sendiri kadang-kadang kurang suka dengan isi buku best seller. Mungkin karena selera kita berbeda dengan selera mayoritas orang.

    • Iya betul mas, sebenarnya bukan karena buku ini buruk, cuma karena perbedaan selera aja.

  3. kebetulan penasaran sama buku ini cuma masih mikir-mikir…hm, kalau memang cari jawaban soal kebahagiaan kenapa beda-beda tiap negara yang rekomen buku geography of bliss http://fiberti.com/the-geography-of-bliss/ (maaf kasi link hapus saja kalau krg berkenan).btw thanks reviewnya…

  4. Pingback:

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!