Review: Hidden Figures

Hidden Figures
Hidden Figures

 

Perjalanan saya “memburu” film-film peraih nominasi Academy Awards 2017  masih belum berakhir. Kali ini pilihan saya jatuh kepada Hidden Figures.

Hidden Figures adalah film yang diangkat dari kisah nyata yang terjadi di tahun 60-an. Saat itu Uni Soviet dan Amerika Serikat sedang bersaing ketat dalam hal ekspedisi antariksa.

Keberhasilan Soviet melucurkan satelit buatan yang diikuti dengan keberhasilan Yuri Gagarin menjadi orang pertama yang menjelajah ruang angkasa membuat Badan Antariksa Amerika (NASA) berada dalam tekanan.

Film ini memperlihatkan upaya keras Amerika untuk bisa menandingi dan bahkan melampaui pencapaian yang dicapai oleh Soviet.

Kita tahu pada akhirnya NASA berhasil mengungguli Soviet dengan keberhasilan mereka mengirim manusia ke bulan. Akan tetapi perjalanan tersebut tidak mudah dan melibatkan banyak orang.

Termasuk tiga wanita cerdas dan pemberani yang jasa-jasanya tertutupi selama puluhan tahun yang menjadi karakter utama di film Hidden Figures ini.

Sinopsis

Katherine Goble ( diperankan oleh Taraji. P Hanson), Dorothy Vaughan (Octavia Spencer), dan Mary Jackson (Jannele Monae) adalah tiga wanita cerdas yang bekerja sebagai Matematikawan untuk NASA.

Di antara ketiganya, Katherine adalah yang paling menonjol. Sejak kecil kemampuannya dalam  matematika sudah terlihat. Katherine kecil mampu memecahkan soal-soal yang tak bisa diselesaikan oleh anak-anak yang lebih tua darinya.

Sayangnya, saat itu rasisme masih menjadi hal yang wajar di Amerika. Alhasil, ketiga wanita  yang berasal dari kaum kulit hitam tersebut pun tak mendapat perlakuan yang selayaknya di NASA, tempat mereka bekerja.

Para pekerja berkulit hitam tak pernah dipercaya untuk mengisi posisi-posisi penting. Mereka hanya dipekerjakan untuk menghitung dan dianggap sebagai  mesin kalkulator.

Dengan keberanian, kerja keras dan kecerdasan mereka, akhirnya Katherine, Dorothy, dan Mary mampu membuktikan bahwa mereka mampu memberikan kontribusi besar bagi NASA dan layak mendapat perlakuan yang setara dengan pekerja-pekerja lain.

 

Review

Tak seperti La La Land, Arrival, atau Moonlight yang ramai dibahas di media-media sosial, Hidden Figures relatif tak terlalu populer.

Padahal film ini menurut saya sangat brilian. Ceritanya bagus, akting para aktor dan aktrisnya meyakinkan , dan banyak pesan moral yang disampaikan.

Perjuangan ketiga karakter utama di film ini sangat menarik untuk diikuti. Bagaimana mereka menghadapi perlakuan rasis dalam nyaris segala hal membuat saya sangat berempati.

Bayangkan, untuk urusan toilet saja terdapat pengkotak-kotakan. Ada toilet khusus untuk orang berkulit putih dan untuk orang non kulit putih.

Belum lagi dalam bidang pendidikan. Orang-orang kulit hitam selalu mendapatkan perlakuan berbeda. Ada sekolah-sekolah maupun perpustakaan-perpustakaan yang tidak mengijinkan mereka untuk masuk karena hanya dikhususkan untuk orang-orang berkulit putih.

Meski ada banyak momen-momen yang menggambarkan diskriminasi terhadap kaum kulit hitam di film ini,  kita juga tak bisa menyalahkan kaum kulit putih 100%.

Mereka seperti tak menyadari adanya diskriminasi terhadap kaum non-kulit putih dan menganggap aturan-aturan tadi adalah hal yang wajar.

Upaya Katherine, Dorothy, dan Mary dalam menyadarkan mereka inilah yang membuat ada banyak adegan-adegan yang membuat saya merinding di film ini.

Salah satunya adalah adegan saat Mary mengajukan tuntutan di pengadilan agar ia bisa berkuliah di sekolah khusus kulit putih.

I plan on being an engineer at NASA, but I can’t do that without taking them classes at that all-white high school, and I can’t change the color of my skin. So I have no choice, but to be the first, which I can’t do without you, sir. Your honor, out of all the cases you gon hear today, which one is gon matter hundred years from now? Which one is gon make you the first?

Mary Jackson, Hidden Figures

Mary mengatakan kalimat-kalimat tersebut dengan sangat lantang dan membuat sang hakim tak bisa berbuat apapun selain mengabulkan tuntutannya.

Janele Monae yang berperan sebagai Mary jelas adalah karakter favorit saya di film ini, meski sebenarnya pemeran Dorothy dan Katherine juga tak kalah memikat.

Selain itu ada dua pemeran pembantu yang cukup menarik perhatian saya.

Yang pertama adalah Mahersala Alli, peraih pemeran pembantu terbaik Oscar 2017. Meski Ali mendapatkan Oscar berkat perannya di film Moonlight, perannya sebagai Kolonel Jim Johnson (Kekasih Katherine) cukup bagus .

Yang kedua adalah Jim Parsons yang berperan sebagai Paul Stafford, rekan sekerja Katherine. Sebagai seseorang yang nge-fans sama aktingnya sebagai Sheldon Cooper di serial The Big Bang Theory, saya sangat antusias dengan kehadirannya.

Jim mampu membawakan karakter yang benar-benar berbeda di film ini dengan baik. Tak seperti Sheldon Cooper yang cerewet, jenius, dan menyebalkan, Stafford adalah pribadi yang serius dan tak banyak bicara meski sama menyebalkannya.

 

Kesimpulan

Film ini setidaknya memberikan dua pesan penting

  •  Setiap orang harus mendapat perlakuan sama, tak peduli apapun warna kulit, atau suku asal mereka. Slogan “FIGHT AGAINST RACISM” yang sering diperlihatkan di pertandingan-pertandingan sepakbola internasional benar-benar harus dilakukan.
  • Matematika adalah ilmu yang sangat penting. Bahkan meski kita tak pernah tahu penerapannya di dalam kehidupan sehari-hari. Setelah menonton film ini kita akan sadar betapa pentingnya sebuah perhitungan dan bahkan di luar sana ada orang-orang yang mempercayakan hidup dan matinya kepada perhitungan-perhitungan matematis.

 

Hidden Figures sangat cocok ditonton oleh kita orang Indonesia yang hidup di negara yang memiliki banyak sekali perbedaan.

Film ini akan memberikan sudut pandang baru dan bisa jadi akan menyadarkan kita bahwa mungkin, entah sadar atau tidak, kita pernah bersikap tidak adil kepada orang-orang lain di sekitar kita.

9/10

 

Baca juga review film-film pemenang/peraih nominasi oscar lainnya:

La La Land & Arrival

Manchester by the Sea, Hacksaw Ridge, Moonlight

 

gambar: IMDb

 

 

 

 

 

 

 

 

 

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

21 replies to Review: Hidden Figures

  1. menarik banget…aku juga lagi cari kesempatan untuk bisa menyaksikan film ini…

  2. Benar film ini cocok ditonton orang Indonesia, Tapi sayangnya saya tidak hobi nonton Flim he..he…he…tapi setelah membaca review ini, jadi pengin nonnton, ada di Youtube kan mas?
    Btw, masalah rasisme, mungkin sekarang sudah tidak ada ya? atau sdh sangat berkurang?

    • Di youtube tidak ada bu. Tapi kalau nyari di google pasti ketemu situs2 yang menyediakan filmnya.

      Kayaknya rasisme masih belum sepenuhnya hilang. Susah sih, soalnya biasanya orang2 yg rasis nggak merasa klo dirinya rasis.

  3. Iya emang Moonlight ceritanya terlalu ribet dan tidak terlalu cocok untuk ditonton orang2 timur sih,hahaha

    Tenang, yang ini beda mas. Dijamin nggak akan kecewa, hehehe

    Dari semua film yg pernah saya review, menurut saya ini yang terbaik.

  4. Kalau di indonesia juga dulu rasis, terutama tahun 98 terhadap etnis China. Semoga saja ya, Indonesia bisa lebih toleran terhadap perbedaan mengingat keberagamannya sangat besar.

    • Iya mas, dulu emang parah banget. Kalau sekarang sepertinya sudah jauh lebih baik. Cuma sebagian kecil saja yang belum sadar.

  5. Sama-sama mb Aziza.

    Jadi jurnalis sibuk banget ya, sampai-sampai mau nonton film aja harus nunggu liburan dulu, hehehe

    • Ahahaha sibuk nggak sibuk kak, maklum namanya mahasiswa belum bisa membagi waktu dengan baik ._.

  6. Saya belum nonton film ini. Dari review Anda sepertinya cukup menarik. Apalagi film2 yg sarat dg nilai2 moral dan kehidupan, saya suka.

    Diskriminasi atas nama ras memang hrus ditolak, krn itu merusak tatanan hidup sosial dan HAM.

    • Sangat setuju. Satu hal yang membuat film ini istimewa adl penyelesaian konfliknya yg tidak menggunakan kekerasan atau paksaan sama sekali. Semuanya dilakukan dengan diplomasi dan cara-cara cerdas.

  7. Wah panjang lebar ulasannya…Keren bro

  8. Saya baru nonton beberapa hari kemarin.
    Yup, memang bagus meskipun awalnya underestimate.
    Ternyata film yang cukup cerdas dan banyak pesan moral nya.
    Kalau dari sisi cerita cukup simple menurut saya dan gampang di cerna.

    thanks reviewnya mas bro 🙂

    • Iya mas sama2.

      film ini memang seharusnya mendapatkan lebih banyak apresiasi.

      Saya juga agak terkejut pas tahu klo rating film ini di IMDb cm 7.9.

      • Mungkin juga perlu nonton “Bridge Of Spies” mas… 🙂 Lumayan keren lah…

        • Barusan cek di IMDb, bagus juga kayaknya.
          Saya suka sekali film-film bergenre sejarah kayak gini.

          Makasih mas atas rekomendasinya.

  9. Keren.. Emang rasisme adalah hal yang harus dihilangkan, nantinya berujung pada diskriminasi. Btw mas, download filnya dari mana ya? jadi pengen nonton

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!