Review: Manchester by the Sea, Hacksaw Ridge, Moonlight

Saya bukanlah penggemar fanatik film. Tetapi dalam beberapa bulan terakhir saya cukup sering mengikuti perkembangan dunia film. Saya banyak mengikuti akun-akun film di twitter dan instagram sehingga apapun yang sedang ramai di dunia perfilman dapat langsung saya ketahui.

Termasuk dengan kehebohan pagelaran Academy Awards 2017 beberapa hari yang lalu. Ajang bergengsi dunia perfilman yang memperebutkan Piala Oscar tersebut menarik perhatian saya karena di antara daftar pemenangnya ada 3 film yang sudah saya tonton yakni, Zootopia, La La Land, dan Arrival.

 

Baca: Review: La La Land & Arrival

 

Akan tetapi ada jauh lebih banyak film-film yang belum saya tonton, bahkan ada beberapa judul film yang sama sekali asing bagi saya.

Karena penasaran akhirnya saya mencari-cari informasi tentang film-film tersebut dan akhirnya…

menemukan link downloadnya. (thanks to torrent)

Di bawah ini saya mereview 3 film pemenang oscar 2017, Manchester by the Sea, Hacksaw Ridge, dan Moonlight.

 

Manchester by the Sea

mv5bmtyxmjk0ndg4ml5bml5banbnxkftztgwodcynja5ote-_v1_sy1000_cr006741000_al_
Manchester by the Sea

Sekedar info, Manchester yang menjadi latar film ini bukanlah sebuah kota di Inggris, melainkan sebuah wilayah di timur laut Amerika Serikat.

Film ini berkisah tentang seorang pria bernama Lee Chandler (Cassey Affleck) yang terpaksa harus kembali ke Manchester, kampung halamannya untuk merawat keponakan laki-lakinya yang baru saja ditinggal mati ayahnya.

Masalahnya, tak mudah bagi Lee untuk kembali ke Manchester. Kota itu menyimpan banyak kenangan buruk baginya.

Tiga puluh menit pertama film ini sedikit membosankan. Ada banyak dialog-dialog canggung dan kaku yang melibatkan Lee dan orang-orang yang ditemuinya. Ketiadaan musik pengiring semakin menambah sepi suasana.

Memasuki pertengahan film, saat Lee bertemu dengan Patrick sepupunya, cerita menjadi jauh lebih menarik. Meski perbincangan keduanya juga tak kalah canggung, tingkah laku Patrick, remaja 16 tahun yang sedang menikmati masa mudanya sangat menarik untuk diikuti.

Bagian terbaik film ini adalah potongan-potongan flashback kehidupan Lee Chandler di masa lalu bersama mantan istri dan kedua anaknya. Kita diajak untuk melihat sosok Lee yang dulu, sosok seorang pria yang sangat ekspresif dan ceria sebelum kehidupannya berakhir tragis dan menyedihkan.

Pada akhirnya saya bisa mengerti kenapa Lee menjadi sosok yang begitu kaku dan dingin. Pria ini punya alasan kuat untuk bersedih sepanjang sisa hidupnya.

Berkat aktingnya di film ini, Cassey Affleck mendapatkan Oscar untuk kategori Best Performance by an Actor in a Leading Role (Pemeran Laki-Laki Terbaik).

Penghargaan yang sangat layak karena aktingnya di film ini mampu membuat para penonton benar-benar merasakan kesedihan yang dialami Lee Chandler. Hebatnya, Affleck menunjukkannya bukan dengan akting atau kata-kata dramatis, tetapi cukup melalui  sikap kaku dan dingin serta sorot matanya yang memancarkan kesedihan.

Manchester by the Sea juga meraih satu oscar lain di kategori best original screenplay (naskah asli terbaik).

 

Hacksaw Ridge

mv5bmjq1njm3mtuxnv5bml5banbnxkftztgwmdc5mty5ote-_v1_sy1000_cr006471000_al_
Hacksaw Ridge

Hacksaw Ridge adalah film yang diadaptasi dari kisah nyata seorang petugas medis tentara Amerika Serikat bernama Desmond Doss pada masa perang dunia kedua.

Desmond Doss (Andrew Garfield) adalah seorang penganut kristen yang taat. Sejak kecil ia diajari untuk tidak membunuh karena itu merupakan dosa yang sangat besar.

Situasi menjadi rumit karena saat dewasa ia bergabung dengan pasukan tentara Amerika yang akan berperang melawan Jepang. Desmond, yang masih memegang teguh keyakinannya menolak untuk mengangkat senjata. Ia berniat mejadi seorang petugas medis tentara yang menyelamatkan nyawa manusia, bukan menghilangkannya.

Tentu saja niatnya itu mendapat banyak tantangan. Bagaimana mungkin seseorang terjun ke medan perang tanpa kemampuan menggunakan senjata?

Menurut saya film ini adalah paket lengkap. Film ini menyajikan humor dan drama dalam takaran yang seimbang.

Ada satu adegan lucu yang sulit saya lupakan yakni saat adegan baris-baris pelatihan di kamp tentara dimana sang sersan menanyai prajuritnya satu per satu. Entah kenapa adegan itu mengingatkan saya pada adegan di film Warkop DKI saat Dono, Kasino, Indro mengikuti pelatihan satpam. 😀

Tetapi yang paling epic adalah adegan peperangan di sepertiga terakhir film. Medan perang yang terjal digambarkan dengan baik dan nyata. Pemandangan mayat yang berserakan dan orang-orang yang kehilangan anggota tubuh benar-benar mengerikan dan membuat sebaiknya film ini jangan ditonton sambil makan.

Prajurit-prajurit Jepang yang tak kenal takut, cerdik, dan kejam juga digambarkan melalui adegan-adegan pembunuhan yang brutal.

Tak lupa, perjuangan Desmond, sang paramedis di medan perang tanpa bermodal senjata pun diperlihatkan dengan sangat bagus. Bagaimana ia harus menghindari peluru-peluru dan rudal untuk mengobati rekan-rekannya. Juga bagaimana ia tetap bersikeras untuk mencari dan mengobati rekan-rekannya yang masih terluka meski tentara Amerika telah diperintahkan untuk mundur membuat saya terkagum-kagum terhadap keberanian pria ini.

Pada akhirnya, Hacksaw Ridge berhasil memberikan pesan bahwa peperangan adalah sesuatu yang sangat mengerikan dan sebisa mungkin harus dihindari.

Film ini meraih dua oscar untuk kategori Best Achievement in Film Editing dan Best Sound Mixing .

 

Moonlight

mv5bnzqxntiyodaxmv5bml5banbnxkftztgwnzqymda3ote-_v1_sy1000_cr006741000_al_
Moonlight

Ini adalah film yang paling membuat saya penasaran karena film ini berhasil mengalahkan La la Land di ajang Academy Awards 2017 untuk kategory Best Motion Picture atau film terbaik .

Moonlight bercerita tentang kehidupan seorang laki-laki Amerika berkulit hitam bernama Chiron sejak ia kecil, remaja, sampai dewasa.

Kehidupan Chiron kecil sangat menyedihkan karena ia dibully oleh anak-anak sebayanya. Ayah Chiron juga tak jelas keberadaannya sementara Ibunya adalah seorang pecandu narkoba. Untungnya ia bertemu dengan Juan (Mahersala Ali) dan Teresa (Janelle Monae) yang amat menyayanginya.

Masa remaja Chiron tak jauh beda dengan masa kecilnya, malah bisa dibilang lebih buruk. Tak ada lagi Juan, ibunya semakin kecanduan,  dan ia masih dibully di sekolah.

Bahkan yang paling menyakitkan, ia dikhianati oleh satu-satunya orang yang ia percayai.

Setelah dewasa, kehidupan Chiron lebih mendingan, tetapi tetap saja ia tak mendapatkan kebahagiaannya sampai akhir cerita.

 

Satu hal yang saya tangkap dari Moonlight adalah film ini sangat gelap. Selain karena ceritanya yang sedih, film ini juga membahas realita yang mungkin bagi sebagian besar orang sangat tabu mengenai kehidupan kaum kulit hitam yang keras, gay dan homoseksual, serta bisnis narkotika.

Mungkin karena itu juga, saya tak bisa menangkap pesan yang disampaikan film ini. Masalah-masalah tersebut memang jarang dan bahkan sama sekali tak terjadi di negara-negara asia, termasuk Indonesia.

Berkat perannya sebagai Juan di film ini, Mahersala Ali menjadi aktor muslim pertama yang meraih oscar. Pria 43 tahun itu memenangi kategori best actor in supporting role (pemeran pembantu pria terbaik).

Penampilan Ali memang menyenangkan di film ini meski ia hanya tampil di sepertiga awal film.

Satu lagi oscar untuk Moonlight berasal dari kategori best adapted screenplay (skenario adaptasi terbaik).

 

Kesimpulan

Tiga film yang saya review di atas memberikan kesan yang berbeda-beda. Manchester by the Sea mengangkat tema keluarga sedangkan Hacksaw Ridge memberikan pesan bagus tentang perdamaian.

Sementara Moonlight, meskipun kontroversial, mampu memberikan sudut pandang lain tentang kenyataan diskriminasi dan penderitaan yang dialami kaum kulit hitam dan gay.

Jika harus memilih manakah yang terbaik di antara ketiganya, saya akan memilih Hacksaw Ridge.

 

Penilaian saya:

Manchester by The Sea :     8

Hacksaw Ridge:       8.5

Moonlight:     7.5

 

gambar: IMDb

 

 

 

 

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

10 replies to Review: Manchester by the Sea, Hacksaw Ridge, Moonlight

  1. Walau pesannya gak dapat dg mudah dicerna, tapi Moonlight meraih the best motion picture dlm ajang oscar itu, meski sempat slh baca oleh pmbaca nominator.

    Aneh ya, walau nilainya anda kasih rendah, film Moonlight bisa menang dari La la land. Btw, apa hubungan judulnya (Cahaya Bulan) dengan kisahnya yg penuh penderitaan dan diskriminasi itu ya?

    • Moonlight bagus, cuma nggak sesuai selera saya aja mas, makanya penilaian saya nggak setinggi film lain.

      Dikasih judul moonlight mungkin karena si pemeran utamanya kalau lagi sedih suka ke pantai malam2 ngeliatin bulan.

  2. Yg moonlight kayaknya ngeri gan. Klo melihat perjalanan hidup orang yg menderita cukup lama karena keadaan yg memaksa kadang-kadang membuat sedih. Tapi juga membuat hidup lebih besyukur. Saya baca sedikt ulasan diatas aja udah campur aduk perasaan dan fix gak berani nonton filmnya 🙂

    • Iya emang filmnya gelap banget sih nggak ada humornya sama sekali, bahkan Hacksaw Ridge yang film perang pun masih ada lucu-lucunya.

  3. Yang La La Land kayaknya udah ada yang upload kualitas bagus mas, cuman nggak tahu itu versi blueray apa bukan.

    Kalau 3 film di atas sih udah blueray semua.

  4. tiga2nya belum ada yang kutonton, Firman XD tadinya penasaran sama Moonlight & Manchester By The Sea. tapi setelah membaca review ini, keknya bakal kuskip deh XD btw, La La Land menjadi film terbaik versi Oscar selama beberapa menit XD XD

    • Haha iya kasian La La Land nggak jadi film terbaik.

      Manchester by The Sea bagus kok mb, layak ditonton.

      Kalau moonlight memang kurang cocok ditonton orang2 timur karena ngga2 akan relate.

  5. sama2 Firman, soale gak bisa ngasih komen di situs itu, makanya jadi komen disini 🙂

  6. Pingback:

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!