#ReviewFilm : Flipped (2010)

You  never forget your first love.

 

Sebuah kalimat yang menjadi tema utama dalam Flipped. Tema yang terdengar mainstream memang. Tak terhitung jumlah film yang mengangkat tema serupa. Bahkan FTV di Indonesia pun sering menggunakan plot ini.

Awalnya saya juga agak malas menonton film yang diproduksi tahun 2010 ini, namun setelah selesai menontonnya, saya harus mengakui ini adalah salah satu film paling menyenangkan yang pernah saya tonton.

Flipped yang jika diartikan dalam Bahasa Indonesia berarti “terbalik” menceritakan tentang hubungan antara Bryce Loski dan Juli Baker. Keduanya pertama kali bertemu saat mereka kelas 2 SD. Saat itu, keluarga Bryce yang baru saja pindah ke rumah baru disambut oleh seorang gadis kecil yang tak lain adalah Juli, tetangga baru mereka. Sejak saat itu Juli seperti terobsesi dengan Bryce. Ia mengikuti kemanapun Bryce pergi sampai-sampai di sekolah, Bryce diejek oleh teman-temannya karena memiliki teman wanita.

Sikap Juli yang begitu mengganggunya itupun membuat Bryce mencari cara untuk membuat gadis itu menjauh. Saat kelas 6 SD ia memacari seorang gadis cantik di sekolahnya. Trik itu berhasil namun tak bertahan lama karena seminggu kemudian mereka putus dan Juli kembali mendekatinya.

Meskipun bertetangga, keluarga Bryce dan Juli tak begitu akrab. Ayah Bryce selalu berkomentar negatif kepada keluarga Juli. Ia menganggap mereka aneh hanya karena Ayah Juli suka melukis dan kedua anak laki-laki Baker adalah seorang musisi.

Bryce sendiri makin lama makin sebal dengan kelakuan Juli. Gadis itu gemar memanjat pohon dan sering mengajaknya untuk ikut memanjat. Bryce tak pernah mau. Saat pohon itu akan ditebang , Juli tak mau turun dan meminta dukungannya, namun Bryce tak menghiraukannya walapun dalam hatinya merasa iba.

Yang unik dari film ini adalah gaya penceritaannya yang mempunyai dua sudut pandang. Dengan gaya monolog, Bryce dan Juli menceritakan sebuah kejadian dari sudut pandang mereka masing-masing. Misalnya saat pohon itu akan ditebang, Juli mengungkapkan kesedihannya karena saat ia berada di puncak pohon, ia dapat melihat pemandangan secara keseluruhan yang mengingatkannya akan perkataan ayahnya tentang melihat sesuatu secara menyeluruh.

“A painting is more than the sum of it’s parts. A cow by itself is just A cow. A meadow by itself is just grass, flowers. And the sun picking through the trees, is just a beam of light. But you put them all together and it can be magic.”

Richard Baker-Flipped

 

Mengamati kejadian dari sudut pandang Juli membuat kita berempati padanya. Pelan-pelan saya dibuat terkesima oleh karakternya. Apalagi saat ia mulai menceritakan tentang keluarganya. Ayahnya yang seorang seniman selalu berusaha membuat semua anggota keluarganya bahagia. Ibunya yang sangat menyayangi Juli. Pamannya yang menderita keterbelakangan mental. Semua diceritakan dengan baik sehingga saya tahu betapa bahagianya keluarga ini meski mereka miskin dan bahkan rumah yang mereka tinggali adalah rumah sewaan.

Juli adalah tipikal gadis keras kepala yang memiliki keinginan kuat. Ia adalah gadis yang selalu berpikir positif dan tak pernah memendam kesedihan maupun kemarahan lama-lama.  Misalnya saat ia tahu kalau Bryce selalu membuang telur-telur ayam yang diberikannya karena melihat halaman tempat memelihara ayam-ayamnya tidak terawat dengan baik. Juli  marah namun ia tak larut dalam kemarahannya, ia lalu bekerja keras untuk membuat halaman rumahnya lebih bersih dan rapi meskipun pemiliknya tak pernah mempedulikan rumah itu. Kegigihannya membuat kakek Bryce menyukainya.

Bryce sebenarnya tidak pernah bermaksud menyakiti Juli , hanya saja ia sedikit penakut sehingga ia tak pernah berani mengungkapkan apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan pada Juli. Lagipula, seperti kebanyakan anak laki-laki lain, ia tak mau kelihatan lemah dan takut oleh teman-temannya. Ia tidak mau dijadikan bahan ejekan lagi kalau bersikap baik pada Juli. Kakeknya menyadari ini dan memberikannya nasihat.

“You know, Bryce… once’s character is set at an early age. I’d hate to see you swim out so far you can’t swim back. It’s about honesty, son. Sometimes a little discomfort in the beginning… can save a whole lot of pain down the road.”

“Some of us get dipped in flat, some in satin, some in gloss; but every once in a while, you find someone who’s iridescent, and once you do, nothing will ever compare.”

Chet Duncan-Flipped

 

Lama-kelamaan Bryce mulai menyadari kalau ia jatuh cinta pada Juli. Sementara sebaliknya, Juli yang sejak kecil menyukai Bryce merasa bahwa Bryce tak pernah menyukainya. Ia tak lagi terobsesi pada Bryce.

Ending film ini tentunya sudah bisa ditebak. Cerita berakhir bahagia dan menyenangkan semua pihak. Sekali lagi harus saya katakan, meski cerita film ini sangat sederhana, namun sama sekali tidak  membosankan. Sejak menit pertama, sampai menit terakhir, film ini menyajikan sesuatu yang akan membuat kita tersenyum karena banyak mengingatkan akan momen-momen masa kecil yang kita semua pernah mengalaminya.

Gaya cerita dari dua sudut pandang tokoh utama juga membuat film ini ringan. Pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam benak kita akan terjawab oleh sudut pandang  dari tokoh lain .Ini membuat film ini begitu menyenangkan dan cocok ditonton saat sedang sedih, bingung, atau galau.

Saya mengibaratkan menonton film ini seperti pergi ke tempat yang setiap hari kita kunjungi dengan menaiki mobil pribadi. Namun kali ini, kita tak pergi dengan mobil tetapi kereta. Kita menempuh jalur yang berbeda, melihat pemandangan-pemandangan lain dan bertemu orang-orang baru. Sesampainya di tujuan, kita sadar bahwa perjalanan tadi sangat menyenangkan dan ingin mengulanginya di lain waktu.

 

My rating: 8/10

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!