Sambil Menyelam Minum Air ala Facebook

bn-ra485_1201fa_j_20161201023330
gambar: wsj.net

Tahun ini Facebook akan genap berumur 13 tahun. Sebuah pencapaian yang luar biasa mengingat situs jejaring sosial yang didirikan oleh Mark Zuckerberg tersebut beberapa kali diramal akan ditinggalkan oleh para penggunanya.

Sekitar dua sampai tiga tahun lalu banyak orang mengklaim bahwa Facebook sudah tak menarik lagi. Alasannya beragam, dari mulai para alay yang merajalela hingga munculnya jejaring-jejaring sosial baru yang lebih menarik semisal Path, Instagram, ataupun Snapchat.

Tetapi nyatanya hingga kini Facebook masih menjadi jejaring sosial paling digemari di dunia. Menurut situs statista.com, per Januari 2015 pengguna Facebook di seluruh dunia jumlahnya mencapai 1,59 triliun. Angka itu bahkan melebihi jumlah penduduk Tiongkok, negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia!

Facebook memang terus melakukan perubahan-perubahan demi mempertahankan para penggunanya. Fitur-fitur baru mereka tambahkan seperti Facebook Live, penambahan stiker, serta tombol like yang kini lebih bervariasi.
Fitur-fitur tersebut membuat Facebook terlihat lebih modern dan mampu bersaing dengan Instagram maupun Snapchat.

Tetapi ada satu hal yang selama ini menjadi kekurangan utama Facebook. Ada terlalu banyak berita-berita hoax yang menyebar melalui situs ini. Anda tentu setuju bahwa dibanding situs-situs lain, Facebook adalah “raja-nya” berita hoax.

Pada awalnya memang postingan-postingan hoax yang ada di Facebook sangatlah sepele. Tiga atau empat tahun yang lalu paling-paling kita hanya menemukan hoax “dosis ringan” berupa foto-foto ajaib yang mengajak para pengguna Facebook untuk menyukai foto tersebut dan berkomentar “Amin”.

Tetapi lama kelamaan situasi menjadi semakin parah karena kemudian muncul berita-berita hoax yang merugikan pihak-pihak tertentu. Misalnya, mulai banyak tokoh-tokoh terkenal yang diberitakan meninggal.

Puncaknya saat berita-berita bohong bertema politik mulai menyebar. Entah siapa yang memulainya, berita-berita tersebut semakin menjadi-jadi dan efeknya sampai ke seluruh dunia.

Di Inggris Raya, beragam berita hoax di Facebook mampu mempengaruhi hasil polling yang membuat negara tersebut memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit).
Di Amerika Serikat, keberadaan berita hoax turut berperan dalam kemenangan mengejutkan Donald Trump pada Pemilihan Presiden 2016 lalu.

Sedangkan di negara kita, bahkan sejak Pilpres 2014 sudah banyak berita hoax yang menyudutkan calon-calon presiden tertentu. Yang terbaru, menjelang Pilkada 2017 banyak ditemukan berita-berita aneh yang tak jelas asalnya.

Pemerintah bahkan sampai harus turun tangan memblokir beberapa situs tak bertanggung jawab yang tautannya menyebar di Facebook agar situasi tak semakin parah.

Lalu bagaimana cara Facebook mengatasi hal ini?

Tak disangka mereka melakukan langkah yang amat cerdas dalam menanggulangi penyebaran berita hoax.

Mulai pertengahan tahun lalu hingga awal tahun ini Facebook melakukan beberapa perubahan yang bukan hanya membatasi penyebaran berita hoax, tetapi juga memberikan tambahan keuntungan bagi mereka.

Dikutip dari situs wallaroomedia.com , pada Juni 2016, Facebook menambahkan algoritma yang membuat postingan dari teman dan keluarga pengguna akan lebih sering muncul di beranda.

Kemudian pada November 2016 perubahan kembali dilakukan dengan memblokir berita-berita hoax menggunakan layanan iklan. Facebook tidak akan menampilkan iklan yang isinya berupa berita hoax.

Terakhir, Januari 2017 lalu Facebook membuat perubahan lagi yang membuat postingan-postingan berupa video akan lebih diprioritaskan untuk muncul di beranda.

Jika melihat perubahan-perubahan yang dilakukan Facebook tadi , maka postingan-postingan yang akan sering kita lihat di beranda Facebook adalah video-video yang diupload oleh orang-orang terdekat kita. Kalaupun tak ada teman atau keluarga kita yang memposting video, foto-foto dan status-status merekalah yang akan ditampilkan terlebih dahulu.

Dari sini terlihat penyebaran hoax akan berkurang drastis karena selama ini berita-berita hoax yang menyebar di Facebook biasanya berupa link-link menuju situs web lain. Kalaupun berupa status, sangat jarang yang datang dari postingan teman. Kebanyakan adalah hasil share dari akun-akun fanspage provokator.

Lantas bagaimana dengan situs-situs berita resmi maupun akun-akun fanspage yang tak ada kaitannya dengan berita hoax?

Sayangnya mereka mendapatkan perlakuan yang sama dari Facebook. Postingan-postingan akun-akun tersebut akan tenggelam oleh postingan-postingan pribadi.

Satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan agar lebih sering muncul di beranda para konsumen mereka adalah dengan memasang iklan. Facebook memastikan bahwa iklan-iklan yang mereka tawarkan sangat efektif. Pemasang iklan bahkan mendapatkan angka yang jelas mengenai berapa banyak pemirsa yang akan melihat iklan-iklan tersebut.
Jadi jangan heran kalau kita saat ini lebih sering menemukan iklan saat berselancar di Facebook.

Perang melawan berita-berita hoax memang akan terus berlangsung. Dalam hal ini, apa yang dilakukan oleh Facebook patut diapresiasi. Mark Zuckerberg dkk memainkan strategi yang sangat cantik, mengurangi penyebaran hoax sekaligus menambah pemasukan dari iklan.

Tetapi tentu saja semua kembali kepada kita sebagai pengguna Facebook. Berita hoax masih akan selalu ada karena banyak orang meraup untung dari keberadaanya.
Sangat penting bagi kita untuk tetap bersikap cerdas dalam menanggapi sebuah berita. Verifikasi atau pengecekan harus tetap dilakukan setiap kali menemukan berita-berita yang meragukan.

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

18 replies to Sambil Menyelam Minum Air ala Facebook

  1. Klo aku msh aktif di fb sampai skrg sjak mhsiswa dulu. Entahlah, yg psti aku lbih familiar ktimbang tweeter, instagram dll.

    Terkait hoax itu emang bnar, tp ya dmnapun hoax ada, kmbli ke kita lg cerdas atau tdk dlm mresponsnya.

    • Setuju mas. Apalagi sekarang banyak fitur2 baru yang membantu seperti unfollow dsb.
      Saya juga lumayan aktif di FB karena ikut banyak grup. Dibanding grup whatsapp masih mendingan grup FB sih.

      • Klo gitu, add aku dong ya, akunku dengan nama tenar yang sama, wkwk…

  2. Terima kasih atas tulisannya. Saya sangat mengagumi cara Facebook untuk beradapatsi dengan masalah dan menangkap peluang bisnis, sehingga dapat kita saksikan sekarang, dari semua sosial media yang ada, Facebook masih bisa dibilang lebih unggul dari yang lain. Bahkan katanya, Facebook sudah berhasil memebli Instagram ? (Saya lupa sumber beritanya). Strategi bisnis begini benar-benar mantap untuk dipelajari, dan diambil contoh untuk usaha dan bisnis kita sendiri.

    Salam.

    • Iya, meski FB dianggap sudah “kuno” oleh sebagian orang, tapi perkembangannya malah paling pesat dibanding sosmed lain.

      Betul, Instagram udah dibeli Facebook, sama halnya dengan WhatsApp.

  3. Wah para blogger mengalami kesulitan juga ya? Kalo algoritmanya kayak gitu, mau gak mau blogger harus mengandalkan seo..

    • Iya, kalau cuma mengandalkan Fanspage kayaknya sulit. Tapi sebenarnya kalau mau sedikit ngeluarin duit buat iklan, trafik bisa cepet meledak, soalnya dibanding medsos lain, promosi di FB jauh lebih efektif.
      Sekali pasang iklan biaya paling murahnya 13000. Itu cuma buat sehari tapi bisa menjangkau sampai 3000 orang, dan kita bisa bebas milih siapa aja yg bisa melihat iklan tsb. Ada pilihan rentang umur dan lokasi pengguna yang ditargetkan.

      • Hmm, buat mendokrak pembaca ya? harus dipikirkan lebih lanjut. Siapin modal dulu, kwkwkw

  4. Saya jarang buka fb. Cuma buat main di forum2 doang. Jadi nggak berasa kena efek berita hoax. Ternyata facebook sarangnya hoax ya. Tapi untung sudah banyak dilakukan perbaikan.

    • Iya mas, sama, saya juga lebih sering berdiskusi di grup. Soalnya belum ada forum yang lebih rame dari FB. (Ada kaskus sih, tapi ribet kalau mau posting foto)

  5. Betul. Tapi sekarang udah jauh berkurang kok berita hoax-nya. Tapi makin banyak iklannya hahaha

    Lha kenapa mbak postingan yang ke-share di FB hrs dihapus? Bukannya malah bisa nambah pengunjung?

    • Ahiya benar kak Firman, iklannya jadi banyaak sekali .-.
      Iya saya hapus karena nggak kepingin kerabat-kerabat di facebook baca tulisan saya kak hahaha

  6. Iya aplikasinya berat banget mbak, malahan harus instal aplikasi lain kalau mau kirim pesan privat. Tapi kalau mau mempromoskan sesuatu, FB masih bisa diandalkan sebenarnya.

  7. Nah itu yang jadi masalah sejak dulu. Tapi sekarang udah berkurang kok. Cuma jadi banyak iklan aja.

  8. Wah sayang, padahal kalau mau promosi blog/ jualan di FB sekarang gampang banget lho.

  9. Iya, memang sebuah siasat yang cerdas mbak.
    Sorry baru baca, kemarin komentar ini kedetek spam.

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!