‘Saya’ / ‘Aku’ / ‘Gue’, Sebuah Dilema

saya, aku, atau gue
giphy.com

 

Dulu, saat awal-awal ngeblog, saya pernah mengalami dilema yang sangat pelik. Saya selalu ragu memilih kata ganti pertama yang akan saya gunakan dalam postingan-postingan saya.

Ini terlihat seperti masalah sepele, namun benar-benar menghambat produktifitas saya dalam menulis.

Saya bimbang memilih di antara “Saya”, “Aku”, atau “Gue”. Ketiganya punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

 

Jika menggunakan kata ganti “Saya”, postingan saya akan terlihat sopan namun terlalu kaku. Hubungan saya dengan pembaca juga rasanya menjadi jauh.

“Gue” , sementara itu terasa lebih santai dan akrab. Tetapi ada kesan bahwa penulis “sok akrab” dan kurang sopan. 

Sedangkan “Aku” bisa membuat penulis terlihat akrab sekaligus tetap sopan. Namun “aku” terasa egois dan tak peduli dengan pembacanya. “Aku” lebih pantas digunakan untuk menulis buku harian yang sifatnya rahasia dan sangat pribadi.

 

Sebenarnya ada solusi mudah untuk memecahkan masalah di atas, tak usah gunakan kata ganti pertama. Ini sangat mungkin diterapkan. Postingan sebelum ini sama sekali tak memiliki kata ganti orang pertama.

Tetapi saya sadar jika saya menerapkannya pada semua postingan, blog ini akan kehilangan subjektivitasnya. Padahal itu adalah salah satu kenikmatan membaca blog.

 

Lalu, kenapa saya akhirnya memilih menggunakan kata ganti “saya”?

 

Alasan yang pertama adalah karena terinspirasi dari penulis-penulis lain.

Seperti yang sudah pernah saya bahas, beberapa bulan terakhir saya lebih suka membaca artikel-artikel berbentuk Feature & Opini.

Artikel opini adalah tulisan yang sangat subjektif, sama dengan artikel-artikel yang ada di kebanyakan blog. (Meski ada juga blog yang isinya semua 100% fakta, misal: blog tutorial)

Kebanyakan artikel opini yang saya baca, menggunakan kata ganti “Saya”. Meski demikian artikel-artikel tersebut ternyata tetap berhasil membuat saya merasa dekat dengan penulis. Dari situ saya sadar bahwa sangat mungkin menggunakan kata ganti “saya” tanpa terlihat kaku. Perkara ini lebih bergantung kepada bagaimana penulis merangkai kata-katanya.

 

Alasan lainnya adalah di kehidupan sehari-hari saya memang lebih sering menggunakan kata “saya” sebagai kata ganti.

“Aku” sama sekali tidak saya gunakan dalam bahasa sehari-hari dan mungkin tak akan pernah saya gunakan kecuali suatu saat saya menjadi aktor dan harus akting menjadi remaja labil yang sedang jatuh cinta.

Sementara “gue” hanya saya gunakan jika ada orang yang mengajak saya berbincang menggunakan kata ganti tersebut.

 

Alasan yang terakhir adalah karena di dunia nyata saya memang orangnya termasuk kaku. Saya ingin jika suatu saat bertemu dengan orang yang hanya mengenal saya lewat tulisan-tulisan saya, ia tak akan terlalu kaget.

Tak mungkin kan tulisan saya bergaya “gue elo” – “gue-elo” padahal di kehidupan nyata saya orangnya biasa aja, kalau nggak pakai “saya-kamu/anda/situ” ya “aku-kowe/sampean”.

Lain halnya jika saya membuat tulisan fiksi. Saya bisa bebas menggunakan kata ganti apa saja karena tulisan itu tak mewakili saya pribadi.

 

Beberapa waktu lalu saya memutuskan untuk merazia postingan-postingan non-fiksi yang menggunakan kata ganti “Gue” dan “Aku” di blog ini. Sebagian saya privat, namun sebagian kecil yang saya anggap bagus tidak saya apa-apakan.

Berikut ini adalah dua di antaranya:

 

Invisible or Time Traveller? (gue)

Bukan Nama yang Buruk (aku)

 

Sebagai penutup, perlu saya tegaskan kalau ini adalah pendapat saya tentang tulisan saya sendiri. Tentu saja saya tak punya pikiran yang sama saat membaca tulisan-tulisan blog lain.

Lagipula seorang bloger harusnya lebih sibuk meningkatkan kualitas tulisannya daripada memusingkan pemilihan kata ganti orang pertama.

Kecuali kalau bloger tersebut adalah pemilik FIRMANSTEA BLOG.

 

 

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

35 replies to ‘Saya’ / ‘Aku’ / ‘Gue’, Sebuah Dilema

      • Stephen Colbert, from the late night show

        • Sampai harus googling cuma buat ngertiin komentar ini.

          Tadi cuma asal nyomot gambar di giphy sih, tanpa tahu itu gambar siapa, hahaha

  1. Mbak pernah gitu juga toh? Kirain saya doang.

    Saya sekarang entah kenapa agak canggung jika menggunakan “aku” apalagi “gue”, kayak bukan saya jadinya. 😀

  2. Tadinya saat menulis curhat/kenangan saya lebih banyak menggunakan “aku” karena rasanya lebih dekat dengan pembaca. Tapi terinspirasi salah satu tulisan bloger lain, akhirnya saya mengubah “aku” menjadi “saya”. Tapi sampai sekarang saya belum begitu nyaman, karena saya juga merasakan terlalu kaku. Sehingga meskipun lebih bnyak kata”saya” yang saya gunakan. Pada konteks kalimat tertentu saya tetap menggunakan “aku”

    • Tapi itu juga bisa menimbulkan masalah Bu. Kalau ada 2 kata ganti dalam satu artikel, kesannya “saya” dan “aku” adalah dua orang yang berbeda.

  3. Tergantung kepribadian yang sedang aktif yang mana hahaha.. saya kalau normal, aku dan gue kalau pas kumat wkwkwkwk..

    • Hahaha, saya juga sempat gitu dulu mas. Saya punya tiga alter ego yang masing-masing menggunakan tiga kata ganti pertama yang berbeda.

      • Wkwkwkwk.. I feel you Mas Bro. Pernah juga ngalamin gini..

  4. Saya lebih milih kata saya karena lebih halus dan sopan nurut saya. Tapi kadang-kadang juga menggunakan aku sebagai variasi. Klo gue nggak pernah sama sekali.

    Menurut saya yg pling menentukan itu gaya bahasa yg kita gunakan untuk menulis. Klo bahasa formal dan ingin terlihat pro lebih baik menggunakan saya.

    • Betul juga mas. Saya baru sadar kalau Prie GS selalu menggunakan aku tapi tak pernah terasa egois dan kekanak-kanakan.

      Pada akhirnya memang semua tergantung ke cara penyampaian penulis.

  5. Saya awalnya memang posting tuliasan pakai ‘aku’. Tapi makin ke sini, saya baca tulisan temen yang lain yang pakai ‘saya’, ternyata lebih enak dibaca. Akhirnya saya sampai sekarang pakai kata ganti orang pertama ‘saya’. Dan ternyata memang terasa lebih enak dibaca (menurut saya) kalau pakai ‘saya’.

    • Iya mbak, tulisan yang menggunakan ‘saya’ memang terkesan jadi sopan dan rapi sehingga lebih enak dibaca.

  6. Bahasa itu memang masalah rasa (sense). Kadang agak rumit juga sih. Apalagi bahasa tulisan. Tapi apapun itu, sepanjang dikemas secara apik, sah sah saja, itu menurut rasa saya.

    Terkait 3 kata ganti itu, hanya “saya” dan “aku” yg prnah sya pkai dlm postingan. Kalau boleh dikasih tingkatan, memang kata “saya” pas diurutkan di nomer 1, tapi kata “aku”, pasnya dipkai pada curhatan atau fiksi, seperti yang Anda juga tulis di atas. Tapi sekali lagi, tergantung pndai2nya penulis aja, kata “aku” bisa terasa kurang sopan kalau penuturnya tidak piawai menggunakannya dlm tulisan.

    Nah, untuk kata “gue”, seingat saya, saya belum pernah memakainya dalam postingan, soalnya gue kan cocok buat Anda-anda yang dari Jakarta, hee…

    • Betul mas, semuanya emang kembali ke penulisnya masing-masing.

      Sejauh saya blogwalking ‘Gue’ sebenarnya sering juga dipakai oleh penulis luar Jakarta juga mas.
      Bahkan dulu saya juga pernah pakai. Contoh yang di atas itu salah satu tulisan saya yang paling memalukan sih, hehehe

      • Tulisan di atas bgus kok mas, Anda terlalu brlebihan mnilai tulisan sendiri

        • Bukan yang ini mas, yang pakai ‘gue’, hahaha

  7. Sepertinya ini solusi yang bagus.

  8. Iya, betul mbak. Menulis itu harusnya ngalir aja, nggak perlu ribet. Tetapi entah kenapa dulu saya selalu memusingkan itu tiap kali mau nulis. Mungkin karena saya kebanyakan mikir aja, hahaha

  9. Nggak masalah sih sebenarnya. Lagipula nggak ada aturan kalau menulis di blog itu harus sopan. Yang penting nggak menyinggung siapa-siapa aja.

  10. Yoi,.. setuju, yang terpenting sesuaikan dengan iramanya gan. Tapi yang paling fleksibel mah kata “saya”. Kata “saya”, itu sopan dan pas untuk menjaga kedekatan dengan para pembaca. Tidak terlalu jauh dan tidak sok akrab..

    • Sependapat gan, makanya saya sekarang mau konsisten pakai ‘saya’ aja, kecuali kalau nulis fiksi.

  11. Sempat kepikiran pakai itu, tapi kemudian sadar kalau “ane-ente” lebih cocok kalau buat nulis di kaskus atau nggak pas lagi jual beli barang. 😀

  12. Saya di awal-awal sering menggunakan kata “gue” dan dulu kayaknya keren aja gitu. Walaupun jadi aneh karena saya dari daerah dan emang gak pakai kata “gue” hahah. Makin lama saya juga kebingungan dengan itu karena umum makin nambah, segmen tulisan juga udah beda dari yang dulu mahasiswa kemudian jadi seorang pekerja.

    Tapi semua tergantung segmen tulisannya sih, ada yang tulisannya komedi dan terkesan meledak-ledak dalam komedinya ada bagusnya memakai kata “gue” kalo “saya” malah kurang. 😀

    • Iya juga sih. Raditya Dika aja udah tua masih pakai “gue”.

      Tapi kalau dia pakai “saya” kemungkinan besar bukunya nggak akan se-laku ini.

  13. Dulu sempat bingung juga milih kata ganti orang pertama.
    Tapi saat ini sih make kata “aku”
    Meski terkesan egois tapi di Sumatera Utara kata ini umum digunain dan blog saya emang lebih sering gunain kata-kata daerah.

    Tapi setuju sih, kata “saya” lebih sopan dan lebih fleksibel.

    • Hahaha, iya sih, kalau orang SumUt pake “saya” malah jadinya aneh ya. Kecuali kalau memang lagi nulis/ bicara yang formal.

      Makasih udah berkunjung mas.

  14. Dllema seperti itu pernah banget bang. Aku – Saya, pernah ane pake. “gue”, ini ane rasa bukan ane banget hehehe. Sekarang, ane pilih kata “ane” untuk kata ganti orang pertama di tulisan-tulisan ane.Hehehe.

    • Hehehehe saya nggak nyangka ternyata banyak juga bloger yang mengalami ini. Bener banget mas, yang terpenting adalah memilih kata ganti yang sesuai dengan kepribadian.
      Kalau menurut saya pribadi orang yang pakai “ane” itu biasanya tulisannya kocak dan berbakat dalam jual-beli barang. (bercanda ,:D)

      • ah, masa iya sih, bang? itu “ane” versi kaskus mungkin. wahehehe

        • Ahahaha iya soalnya saya jarang nemuin orang yang ‘ane-anean’ selain di kaskus.

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!