3 Hal yang Membuat Saya Kurang Nyaman Menonton Siaran Sepakbola Indonesia

1476617646_1470814799_spor-ekrani
source: here

Sepakbola Indonesia sedang bangkit, saya meyakini itu. Selepas sanksi FIFA, PSSI sudah mulai berbenah. Dimulai dengan penerapan beberapa aturan baru yang cukup revolusioner sampai dengan perubahan brand Liga Super, Divisi Utama, dan Liga Nusantara menjadi Liga 1, Liga 2, dan Liga 3.

Semua itu memang belum menyelesaikan semua masalah sepakbola negeri ini yang sudah sangat ruwet. Tetapi setidaknya langkah awal PSSI sudah cukup tepat terutama mengingat di era modern saat ini, sepakbola bukan hanya soal 11 lawan 11 berduel selama 90 menit saja, tetapi juga tentang hiburan dan bisnis.

Jika berbicara tentang industri sepakbola, tentunya kita harus melihat kepada sistem yang diterapkan di liga-liga eropa, terutama Inggris yang sangat sukses menjadikan Premier League sebagai komoditas yang bernilai tinggi.

Keberhasilan Premier League tak lepas dari gencarnya pemasaran yang mereka lakukan. Hal itulah yang membuat fans klub-klub Inggris jumlahnya terus meningkat. Bahkan fans mereka di Asia jumlahnya jauh lebih banyak daripada fans asli mereka sendiri di Inggris.

Saya tentu tak punya ekspektasi kompetisi Liga Indonesia akan menjadi se-glamor Premier League. Tetapi setidaknya saya berharap orang-orang Indonesia sendiri suatu saat akan senang dan bangga menonton kompetisi dalam negeri. Karena selama ini Liga Indonesia lebih identik dengan hal-hal negatif seperti kerusuhan, dualisme kepengurusan, dll

Untuk itu hal pertama yang harus dibenahi menurut saya adalah siaran sepakbola, karena kualitas sebuah siaran sepakbola sangat berperan besar dalam meningkatkan minat para penonton.

Sayangnya saat ini kualitas tayangan Liga Indonesia bisa dibilang masih cukup buruk . Ada beberapa hal yang membuat para penonton merasa kurang nyaman dan cukup tertanggu.

1.Wasit

Profesi wasit sepakbola adalah salah satu profesi yang paling melelahkan secara fisik dan mental. Seorang wasit dituntut untuk selalu mengikuti pergerakan bola selama 90 menit pertandingan. Tak cuma itu, wasit harus senantiasa mengamati setiap kejadian yang ada di lapangan dan mengambil keputusan dengan cepat. Belum lagi ia juga harus menghadapi tekanan para pemain dan wasit sepanjang pertandingan.

Untuk melakukan semua itu wasit hanya dibantu oleh dua orang asistennya yang sebenarnya juga punya tugas lain yang tak kalah pentingnya, menentukan posisi offside.

Karena itulah saya masih bisa memaklumi jika wasit melakukan satu atau dua kesalahan dalam sebuah pertandingan, wajar karena wasit juga adalah manusia.

Tetapi di Indonesia, wasit sering melakukan kesalahan yang  sepele berulangkali. Hal inilah yang sering membuat saya geram.

Berikut adalah kesalahan-kesalahan yang sangat sering dilakukan oleh wasit-wasit Indonesia:

-Salah menentukan posisi offside. Seringnya asisten wasit kurang cermat dalam memperhatikan pergerakan pemain sehingga pemain yang sebenarnya onside dianggap offside.

-Tidak konsisten dalam memberikan kartu kuning.

-Tambahan waktu yang tidak sesuai.

2. Angle kamera & replay

Entah kenapa sebagian besar stasiun TV yang menayangkan Liga Indonesia memilih untuk mengambil gambar dengan sangat dekat. Hal ini membuat posisi setiap pemain menjadi kurang jelas.

Kebiasan buruk stasiun TV Indonesia lainnya adalah menayangkan replay tanpa memperhatikan situasi pertandingan. Akibatnya banyak momen penting luput dari pengamatan penonton karena operator siaran lebih memilih menampilkan kejadian-kejadian yang tak begitu penting.

3. Komentator

Saya tak terlalu mempermasalahkan kegemaran komentator-komentator Indonesia yang suka berteriak-teriak berlebihan saat memandu jalannya pertandingan. Sayangnya kehebohan itu tak selalu disertai dengan pengetahuan sepakbola yang bagus.

Bagaimana mungkin seorang komentator bola tidak tahu menahu tentang aturan-aturan terbaru FIFA.

Seorang komentator bola harusnya adalah orang yang paling memahami peraturan-peraturan tersebut.

Sudah ngomongnya teriak-teriak, yang diomongin salah pula.

….

Terlepas dari tiga hal yang saya tulis di atas, siaran sepakbola Indonesia sebenarnya sudah cukup berkembang selama beberapa tahun terakhir.

Tetapi akan jauh lebih baik lagi kalauPSSI dan pihak stasiun TV pemegang hak siar liga Indonesia memperbaiki kekurangan-kekurangan di atas. Karena sejujurnya semua hal yang saya tulis di atas relatif mudah untuk diperbaiki. Saya sangat yakin banyak orang yang berkarir di stasiun TV yang suka menonton siaran sepakbola liga-liga eropa. Tinggal dibutuhkan kesadaran dan niat untuk meningkatkan kualitas siaran sepakbola dalam negeri.

Harapan saya di masa depan tak ada lagi ocehan-ocehan yang berbunyi, “Males ah nontonin Liga Indonesia, mainnya gitu-gitu mulu, komentatornya norak lagi.”

Baca juga:

Go-Jek Traveloka Liga 1, Kompetisi Baru Rasa Lama

7 Alasan Kenapa Tayangan Sepakbola Indonesia Buruk

Fakta Tentang Siaran Liga Indonesia

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

15 replies to 3 Hal yang Membuat Saya Kurang Nyaman Menonton Siaran Sepakbola Indonesia

  1. Saya bahkan gak suka liga indonesia gan, gak punya klub jagoan. Dulu, saya suka persija tapi sekarang ngga. Saya coba seneng persib, karna saya orang jabar. Tapi, gak bisa juga.

    • Ahaha emang susah sih ngedukung klub Indonesia. Mereka belum bisa ngasih pelayanan yang maksimal buat para fans. Saya suka PSIS Semarang tapi malah lebih paham klub-klub eropa karena lebih gampang akses informasinya.

  2. Jujur saja, saya bukan peminat sepak bola, bahkan nonton kalau pas ada liga2 penting aja. Tapi jujur, pengetahuan sepak bola saya masih sangat buruk.

    Terkait 3 hal yg Anda ulas di atas, saya baru tahu kalau poin no. 2 itu (angel camera & replay) begitu di Indonesia, benar2 luput dari pengamatan saya saat nonton pertandingan spak bola di tv.

    Begitu juga ttg fakta komentator. Kalau dalam pandangan saya mereka udah pro banget, tapi setelah baca blog Anda ini, agaknya saya perlu lebih kritis lagi.

    Dan saya pikir Anda adalah benar2 bola mania, ya kan? Mungkin jadi komentatorpun bisa kali ya, hehe….

    Tks udah berbagi pengalaman, mas Firman.

    • Hahaha iya memang kebetulan saya suka sekali nonton siaran bola liga-liga eropa, jadi pas nontonin sepakbola lokal kerasa banget perbedaannya.

  3. Nomor 3 paling parah mas.. komentar2 nya terlalu lebay dan sering ga masuk diakal.. hhhahaha

    • Iya, saya heran kenapa hampir semua komentator bola di Indonesia modelnya begitu. Kalau di luar, komentator nggak terlalu banyak ngomong tapi omongannya ada isinya, nggak cuma sekedar teriak-teriak gak jelas.

  4. Salam kenal juga mas, meski kita berbeda pulau saya seneng bisa ketemu dengan orang yang punya minat sama.

    Blog saya ini juga isinya sesuka-sesuka saya aja, hahaha

  5. Aq nonton pas afc ato kompetisi regional sj

  6. PR besar bagi dunia persepak bola Indonesia adalah adanya Mavia yang selalu menjadi penumpang gelap dan menghilangkan semangat spirit fair play bagi pemain.
    karena Sepak Bola Organisasi Independen Non Pemerintah jadi jangan banyak berharap deh sama Pemerintah, jadi Swasta yang Hebat kalau perlu .

  7. Pingback:

  8. Pingback:

  9. Pingback:

  10. Pingback:

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!