Spotify : Mahal atau Mahal Banget?

Kemarin saat saya berniat memperbarui aplikasi Spotify saya di Play Store, saya cukup terhibur melihat review para netizen tentang aplikasi ini.

Iseng-iseng saya capture layar smartphone saya lalu saya upload di twitter. Foto tersebut saya tag ke akun @BestOfNetizen , sebuah akun yang memposting kelakuan lucu para netizen, entah itu komentar, postingan, atau apapun di internet yang mungkin jika perbuatan itu dilakukan di dunia nyata, sama sekali tidak lucu dan tak layak.

Foto saya tersebut mendapat banyak respon, cukup banyak yang me-retweet, like, ataupun mengutipnya. Mungkin itu adalah momen  paling ramai akun twitter saya sejak saya mulai menggunakannya tahun 2011.

spotify

Apa itu Spotify?

Saya yakin banyak pengguna internet yang sudah akrab dengan aplikasi ini. Spotify adalah layanan streaming lagu yang berisi jutaan lagu, lokal maupun mancanegara. Lagu yang dimiliki Spotify sangat lengkap buktinya sejauh ini saya selalu menemukan setiap judul lagu yang saya cari. Keunggulan lainnya, spotify mempunyai banyak sekali playlist. Kita dapat memilih playlist apa yang akan kita putar berdasarkan genre musik, artis, era (70s, 80s, 90s, 2000-an, dsb), mood, dan bahkan aktivitas kita. Ada juga playlist berisi lagu terpopuler dalam sepekan dan lagu-lagu yang baru dirilis.

Pada dasarnya, kita bisa menikmati layanan spotify cuma dengan modal gadget, aplikasi, dan koneksi internet. Tetapi kita akan mendengarkan iklan setiap beberapa lagu yang kita putar. Untuk bisa mendengarkan Spotify secara bebas tanpa iklan, kita diwajibkan berlangganan layanan premium dengan tarif 49.900/Bulan. Dengan menjadi pengguna premium, kita juga bisa mengunduh lagu untuk dimainkan tanpa koneksi internet.

Mahal?

Mahal tidaknya suatu barang/ jasa bukan sesuatu yang bisa diukur karena amat bergantung dengan kondisi ekonomi si pemakai.

Jika kita simak kembali komentar di Play Sore tadi, “Orang miskin dilarang download aplikasi ini.” Tetapi siapa sebenarnya orang miskin yang dimaksud oleh si komentator?

Daripada menyebut komentator saya akan menyebutnya Bung Kusnasi. (Merujuk pada komentator sepakbola yang biasanya dipanggil Bung)

Jika orang miskin yang dimaksud Bung Kusnasi adalah orang yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya (kasarnya: orang yang mau makan aja susah) , dia benar. Buat apa orang ini membeli hp android dan mengisinya dengan kuota internet untuk mendownload aplikasi pemutar musik. Orang ini lebih baik mencari cara untuk menghentikan musik yang berbunyi di perutnya. Jadi sudah jelas orang ini bukan yang dimaksud oleh Bung Kusnasi.

Jika yang dimaksud Bung Kusnasi adalah orang yang mampu membeli hp android plus kuota internet yang akan habis jika digunakan untuk streaming youtube selama satu jam, pernyataannya juga tepat. Kenapa harus mendengarkan musik melalui streaming jika bisa mendapatkan lagu dari kiriman teman, atau isi lagu sepuasnya di konter terdekat seharga 5000? Tetapi rasanya Bung Kusnasi juga tak peduli dengan orang-orang ini.

Maka satu-satunya kelompok orang yang mungkin menjadi sasaran komentar Bung Kusnasi adalah para pemilik gadget canggih dengan kuota melimpah.

 

Tetapi jika mereka memiliki itu semua, bukankah mereka tak bisa dianggap sebagai orang miskin?

Salah satu kebiasaan buruk yang dimiliki oleh sebagian besar pengguna internet di Indonesia adalah mereka menganggap kuota internet adalah semacam tiket bebas masuk ke semua tempat di dunia maya.  Padahal kalau dicermati, kuota internet lebih seperti bensin, selama kendaraan (gadget) kita masih memiliki bensin (kuota) kita memang bisa pergi kemanapun yang kita mau. Tetapi apakah kita bisa menonton film, menyaksikan pertandingan olahraga, atau menyaksikan konser secara gratis? kadang bisa, kadang tidak. Tidak semuanya gratis atau semuanya berbayar.

Dunia maya semakin hari semakin menyerupai dunia nyata. Kita bisa melakukan apapun di dunia maya, kecuali makan. Tetapi bahkan makanan pun bisa diorder secara online. Sayangnya nampaknya tidak semua orang menyadari hal ini. Banyak orang yang punya perangai berbeda di dunia nyata dan maya. Orang tak segan-segan memaki-maki dengan kata-kata kasar di media sosial. Orang tak risi berpidato kepada teman Facebook atau follower twitternya tentang kejelekan-kejelekan calon kepala daerah yang tidak ia dukung.

Termasuk dalam hal layanan berlangganan atau pembelian barang (konten digital) yang di dunia nyata sudah biasa, ternyata hal ini tidak banyak dipahami oleh banyak orang.

Saya setuju jika biaya berlangganan Spotify premium sangat mahal untuk ukuran kantong kita. Tetapi bukan berarti kita tak bisa menikmatinya. Versi gratis aplikasi ini cukup memuaskan. Masih banyak lagu  dan playlist-playlist menarik yang bisa dimainkan. Saat ini saya berlangganan premium selama 3 bulan dengan tarif 5000 berkat promo resmi dari Spotify beberapa waktu yang lalu. Belakangan ini saya baru tahu kalau di situs-situs jual beli ada banyak orang yang menawarkan jasa berlangganan premium dengan tarif yang jauh lebih murah. Saya menemukan ada yang cuma 25.000/ bulan dan bahkan ada yang menjual akun seumur hidup (kalau yang ini jelas ilegal tapi layak dicoba hehe) seharga berkisar antara 20.000 sampai 30.000 rupiah.

Kesimpulannya Spotify memang mahal tetapi harga tersebut pantas dan siapapun yang memiliki smartphone dan koneksi internet boleh men-download-nya. 😀

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

2 replies to Spotify : Mahal atau Mahal Banget?

  1. Pingback:

  2. Pingback:

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!