Prediksi Juara Premier League 2017/2018

prediksi juara epl liga inggris premier league
gambar : independent.co.uk

Kompetisi sepak bola terpopuler di dunia, English Premier League (EPL) telah kembali. Laga antara Arsenal vs Leicester City dini hari tadi menjadi pembuka musim 2017/2018 yang menjanjikan persaingan ketat dan kejutan-kejutan baru. Berikut ini adalah prediksi juara premier league versi FIRMANSTEA.COM

Continue reading Prediksi Juara Premier League 2017/2018

Hari yang Menyedihkan Bagi Sepakbola

1754978-37097735-640-360
Claudio Ranieri

Sabtu 7 Mei 2016.

Leicester City mengadakan perayaan besar-besaran di markas mereka, King Power Stadium.

Ada alasan kuat mengapa mereka mengadakan perayaan semeriah itu. Jamie Vardy dkk baru saja merebut  Premier League pertama mereka sepanjang sejarah.

Claudio Ranieri, sang manajer, pria yang paling berjasa atas prestasi mengagumkan The Foxes (julukan Leicester City) memilih merayakannya dengan cara yang tidak biasa.

Sang Italiano mengundang rekan senegaranya , penyanyi seriosa Andrea Bocelli untuk menghibur seisi stadion dengan lagu-lagu seriosa yang khidmat.

Ranieri mungkin sadar, itu adalah momen spesial dalam hidupnya dan untuk merayakannya harus dengan cara yang spesial pula.

Sesaat sebelum Bocelli memperdengarkan nyanyiannya, Ranieri mengambil alih microphone untuk menyampaikan pidato singkat,

“I want to say to you (the fans), we are champions because you pushed too much behind us. Thank you so much, thank you, I love you!”

Sorakan para fans bergemuruh usai Ranieri selesai menyampaikan sambutannya. Pria tua itu sedikit tersenyum lalu segera menyerahkan microphone kepada sang maestro, Andrea Bocelli.

Bocelli kemudian mulai beryanyi, membawakan Nessun Dorma, lagu yang begitu khusyuk dan menyayat hati.

Sorakan penonton masih saja terdengar sampai-sampai Ranieri harus mengangkat tangannya, meminta mereka untuk hening sejenak menikmati lantunan indah Bocelli.

Tak berapa lama suasana pun benar-benar hening dan saya, yang menyaksikan momen tersebut melalui layar kaca bersama jutaan orang lainnya di seluruh dunia merasakan sensasi haru dan merinding. Senang rasanya menjadi saksi dari sebuah keajaiban yang mungkin tak bakal terulang lagi.

Itu adalah salah satu momen terbaik selama saya mengenal sepakbola.

Kesuksesan Leicester City dan Ranieri begitu memukau dan mendapat apriesiasi dari banyak pihak. Federasi sepakbola dunia FIFA bahkan menganugerahkan gelar Best Coach of The Year 2016 kepada  Ranieri Januari lalu.

Tak ada yang memprotes keputusan FIFA. Semua orang setuju kalau Ranieri memang layak mendapatkan penghargaan tersebut.

Tetapi tak ada yang menyangka sebulan kemudian situasi berubah 180 derajat. Leicester belum meraih satu kemenanganpun di tahun 2017. Mereka bahkan juga belum mencetak gol di liga sejak pergantian tahun. Hal itu membuat The Foxes terperosok ke posisi 17, hanya terpaut satu poin dari zona degradasi.

Di tengah situasi sulit itu, Leicester masih harus bermain di 2 kompetisi lainnya, Piala FA dan Liga Champions.

Di piala FA , Jamie Vardy dkk  akhirnya disingkirkan oleh tim kasta ketiga Liga Inggris , Millwall.

Sementara di ajang Liga Champions, Jamie Vardy dkk menyerah 1-2 pada laga leg pertama babak 16 Besar di kandang Sevilla.

Hasil-hasil itu membuat kemarin pihak manajemen Leicester City mengambil keputusan untuk mengakhiri tugas Ranieri sebagai manajer.

Keputusan yang, meminjam kata-kata legenda hidup asal Prancis Thiery Henry,  “mengagetkan” namun juga “tidak mengejutkan”.

Mengagetkan karena biar bagaimanapun Ranieri adalah orang yang paling berjasa mengangkat klub sekecil Leicester ke pentas eropa bahkan dunia.

Di sisi lain,menurut Henry, hal itu sebenarnya tak mengejutkan mengingat di era sepakbola modern saat ini sebuah klub bisa dengan mudah memecat manajernya. Statistik bahkan menunjukkan rata-rata seorang manajer di Liga Inggris hanya bertahan selama 8 bulan saja.

Tak hanya Henry, reaksi atas pemecatan Ranieri juga datang dari sesama manajer klub premier league lain.

Antonio Conte, manajer Chelsea mengaku sedih dengan kabar itu. Mantan pelatih Juventus itu juga mengatakan jika dirinya siap jika harus mengalami kejadian serupa.

Sementara manajer Liverpool, Jurgen Klopp tak begitu terkejut. Pria Jerman itu menyebut pemecatan Ranieri adalah keputusan aneh, sama anehnya dengan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat dan fenomena Brexit (keputusan Britania raya keluar dari Uni Eropa).

c5churswmaauzwh
from twitter @squawka

Komentar paling menyentuh datang dari pelatih Manchester United, Jose Mourinho.

Mou meminta Ranieri untuk tidak bersedih dan menyebut kalau apa yang telah diraih oleh Ranieri akan selamanya diingat dan tak akan pernah bisa dihapus oleh siapapun.

 

Bagi saya pemecatan Ranieri adalah momen yang menyedihkan bagi dunia sepakbola.

Pemecatan Ranieri seolah menegaskan kalau sepakbola sekarang ini hanyalah soal bisnis dan uang semata.

Pemilik Leicester tentu tak mau ambil pusing. Barangkali saat ini ia hanya memikirkan berapa banyak pendapatan dari hak siar Premier League yang hilang jika klubnya itu terdegradasi.

Itulah kenyataannya. Claudio Ranieri yang musim lalu dengan gagah berani membawa pasukan Leicester mengangkangi tim-tim kaya bertabur bintang itu pun pada akhirnya harus kalah oleh urusan bisnis dan uang.

Bagaimanapun juga, Ranieri sudah dipecat dan yang bisa saya lakukan kini hanyalah menunggu, menunggu kehancuran Leicester City.

Dengan segala hal yang sudah mereka lakukan terhadap Ranieri, saya sangat berharap semoga Leicester City terdegradasi musim ini.

Mereka pantas menerimanya!

c5cjcipwcae5eb2
kata-kata Perpisahan Ranieri/ twitter: @PADugout

Fino Alla Fine, Forza Conte!

Liga Primer Inggris adalah salah satu kompetisi sepakbola paling populer di dunia. Banyaknya jumlah uang yang berputar di liga ini membuat setiap klub mampu membangun skuad yang kompetitif sehingga setiap musimnya selalu terjadi persaingan yang ketat dan menghibur.

Musim ini seolah ingin menambah tingkat persaingan, beberapa pelatih top datang mengadu nasib.

Pep Guardiola, sosok yang telah menaklukkan sepakbola Spanyol, Jerman, Eropa, bahkan dunia ditunjuk untuk menangani tim kaya raya Manchester City.

Sementara itu Antonio Conte datang dari Italia bermodalkan tiga gelar scudetto (juara Liga Italia) dan prestasi  mengembalikan timnas Italia  ke jajaran elit eropa.

Kedatangan keduanya melengkapi beberapa nama-nama beken yang sudah lebih dulu mencicipi kerasnya Premier League seperti Jurgen Klopp (Liverpool), Jose Mourinho (Man. United), dan juga Claudio Ranieri (Leicester City).

Belum lagi keberadaan pelatih-pelatih berbakat lainnya  yang tak bisa diremehkan seperti Mauricio Pochettino (Tottenham Hotspur) dan Ronald Koeman (Everton).

Maka saat pagelaran Premier League dibuka Agustus lalu, saya sangat excited, penasaran tim manakah yang memenangkan persaingan menuju gelar juara Liga Premier.

Saat itu saya memprediksi bahwa posisi empat besar akan ditempati oleh secara berurutan Manchester City, Manchester United, Liverpool, dan Chelsea.

Alasannya, Pep Guardiola dan Jose Mourinho adalah dua pelatih terbaik di dunia saat ini dan dengan dukungan dana melimpah dari manajemen dua klub asal Manchester, akan sulit bagi tim-tim lain untuk mengimbangi kekuatan mereka.

Di pekan-pekan awal prediksi saya tampaknya akan benar-benar terwujud. Duo Manchester bersaing ketat di papan atas klasemen. Saat kedua tim bertemu di Old Trafford di pekan keempat yang dimenangi oleh City, saya bahkan yakin kalau Manchester City asuhan Pep akan dengan mudah merebut gelar juara Premier League musim ini.

Di saat yang sama Liverpool sedang tampil bagus meski sempat kalah dari tim promosi Burnley. Sementara Chelsea asuhan Conte tampil tak meyakinkan dan bahkan banyak pihak meyakini kalau mantan manajer Juventus itu akan menjadi manajer pertama yang dipecat musim ini.

 

klasemenpl6
pekan keenam premier league, City masih mencatatkan rekor sempurna/premierleague.com

 

Tetapi memasuki pertengahan musim prediksi saya hancur tak bersisa.

Chelsea memimpin klasemen dengan keunggulan 6 poin dari pesaing terdekatnya, Liverpool diikuti oleh Arsenal dan Spurs. Duo Manchester bahkan berada di luar big four.

 

klasemenpl19
London, London, London lebih dari Manchester…boom!

Apa yang membuat Chelsea bisa tampil hebat musim ini?

Skuad The Blues (Julukan Chelsea) musim ini sebenarnya nyaris tidak berbeda dengan skuad mereka musim lalu yang terpuruk di paruh musim.

Pada bursa transfer Agustus lalu mereka  cuma mendatangkan tiga pemain baru.

Pertama, Marcos Alonso yang didatangkan dari Fiorentina. Pemain ini punya reputasi buruk di Premier League dimana ia pernah dibuang oleh klub papan bawah Sunderland.

Lalu David Luiz . Dulu ia memang merupakan salah satu pemain penting saat Chelsea menjuarai Liga Champions tahun 2012. Tetapi sejak pemain berambut kribo itu pindah ke Paris Saint Germain, permainannya terus memburuk. Salah satu bukti yang memperkuat anggapan itu adalah kekalahan Brazil 1-7 atas Jerman di semifinal Piala Dunia 2014 dimana Luiz yang mengawal pertahanan Brazil saat itu tak berdaya menahan kedigdayaan Thomas Mueller dan kawan-kawan.

Nama terakhir adalah Michi Batshuayi, striker muda potensial yang didatangkan dari Marseille ini mungkin adalah satu-satunya pembelian Chelsea musim ini yang dianggap bagus oleh banyak orang.

 

Efek Conte

Di pekan ketujuh Chelsea  dipermalukan oleh Arsenal 0-3. Sebelumnya mereka juga menyerah 1-2 dari Liverpool dan dua pekan sebelumnya mereka ditahan imbang tim papan bawah Swansea 2-2.

Tiga hasil buruk beruntun tersebut membuat posisi Conte sebagai manajer dipertanyakan.

Banyak orang menertawakan Chelsea dan Conte saat itu. Conte yang datang dari Italia dianggap tidak siap dengan ketatnya persaingan di Inggris.

Saya ingat selepas kekalahan dari Arsenal, Conte memberikan pernyataan bahwa timnya hanyalah tim yang bagus di atas kertas, ia berjanji timnya akan terus berusaha keras berlatih untuk meraih kemenangan di laga-laga selanjutnya.

Sejak saat itu The Blues tak pernah lagi merasakan kekalahan. Mereka menyapu bersih semua pertandingan yang mereka jalani.

Conte mengubah formasi timnya secara frontal. Legenda Juventus tersebut juga berani menempatkan pemain-pemainnya di posisi tak lazim.

Ia menyulap Cesar Azpilicueta yang biasa berposisi sebagai fulback menjadi seorang center back. Victor Moses yang merupakan seorang gelandang ia jadikan wingback, sebuah peran penting dalam formasi 3-4-3 miliknya.

Mental tangguh yang ditanamkan Conte

Meski saya bukan seorang fans Chelsea saya nyaris tak pernah melewatkan satupun pertandingan Chelsea musim ini. Begitupun dengan konferensi pers pasca pertandingan.

Ada beberapa hal yang selalu saya perhatikan saat Conte memberikan pernyataannya. Setiap kali berbicara di konferensi pers ia selalu mengatakan bahwa timnya harus bekerja dan latihan lebih keras lagi.

Sejujurnya konferensi pers Antonio Conte sangatlah membosankan. Ia bukanlah sosok yang gemar memberikan pernyataan kontroversial. Ia bahkan nyaris mengucapkan kata-kata yang sama persis setiap pekannya.

Saya sampai hafal kata-kata yang sering diucapkannya ,

 

“I’m pleased with our performance today…”

“We win today but we must work hard in the training session for the next match…”

 

Jawaban-jawaban membosankan yang ia berikan saat konferensi pers sangat berkebalikan dengan aksi-aksinya di tepi lapangan saat pertandingan. Nyaris sepanjang sembilan puluh menit ia akan berteriak memberikan instruksi kepada para pemainnya.

Saya bahkan curiga kalau setiap umpan yang dilakukan pemain Chelsea adalah hasil instruksi dari Conte. Dari tepi lapangan, ia selalu menunjuk-nunjuk ke mana arah bola harus diumpankan. Saat pemain belakang lawan menguasai bola Conte akan berteriak “Go..go..go” yang merupakan istruksi kepada salah seorang dari tiga pemain terdepan Chelsea untuk berlari  memberikan tekanan kepada pemain yang sedang memegang bola.

Kalau salah seorang pemain Chelsea menyia-nyiakan peluang di depan gawang, Conte akan terlihat marah-marah. Sebaliknya jika mereka mencetak gol, ia akan jadi orang yang paling heboh merayakan gol tersebut. Tak jarang ia memeluk para penonton yang duduk di barisan depan.

Sikap galaknya terbukti ampuh. Para pemain Chelsea tak pernah kehilangan konsentrasi. Jika tim-tim lain banyak melakukan blunder di menit-menit akhir, Gary Cahill dkk tak pernah mengalaminya. Mereka sadar betul bahwa akan ada sosok yang akan terus-terusan meneriaki mereka jika mereka melakukan kesalahan sekecil apapun.

 

Malam tadi Chelsea memenangi laga ke 13 mereka secara beruntun setelah menaklukkan Stoke City 4-2.

Conte lagi-lagi mengingatkan anak asuhnya untuk tetap fokus di setiap pertandingan. Ia juga menyebut kalau timnya harus terus bekerja keras untuk mempertahankan performa mereka.

Nyaris tak ada yang berubah dari ucapan-ucapan pria Italia itu semenjak kekalahan atas Arsenal. Ia sadar betul selepas meraih 13 kemenangan beruntun klub-klub lain akan berupaya sangat keras untuk mengalahkan mereka. Bukan hanya untuk mendapatkan tiga poin, tetapi juga untuk merusak rekor impresif mereka.

Conte selalu menekankan pentingnya bekerja keras di setiap pertandingan. Kebanyakan orang akan melihatnya sebagai seorang juru taktik ulung. Tetapi bagi saya, kemampuan terbesar Conte adalah caranya menularkan semangat juangnya kepada para pemain.

Itulah yang sebenarnya membuat Chelsea tampil beda musim ini.

Pada awalnya mungkin pola 3-4-3 Conte seperti ramuan ajaib yang menyulap Gary Cahill dkk menjadi tangguh dan sulit ditembus. Tetapi seiring berjalannya waktu, kerja keras, passion, dan kepercayaan diri yang ditanamkan Conte-lah yang terus menjaga ketangguhan pasukan The Blues.

 

Masih ada 19 laga di paruh kedua musim. Keunggulan enam poin mereka bisa saja sirna jika terpeleset di dua pertandingan.

Tak ada yang tahu seperti apa Premier League akan berakhir bulan Mei nanti.

Tetapi satu hal yang saya tahu.

Conte akan selalu memastikan para pemainnya memberikan segala kemampuan, hati, dan jiwanya di setiap pertandingan.

Itulah yang membuat sisa pertandingan yang dijalani Chelsea akan sangat menarik dan tentu saja saya tak mau melewatkannya satupun.

 

Berjuanglah sampai akhir, Conte!

 

Fino all fine, Forza Conte!

2128