Review 13 Reasons Why Part 2: Novel, Karakter, dan Soundtrack

Sejujurnya saya tak pernah menyangka kalau tulisan tentang serial 13 Reasons Why lalu akan mendatangkan begitu banyak pengunjung ke blog ini.

Baca : 13 Reasons Why, Mengungkap Misteri di Balik Kematian Seorang Gadis SMA

Saat ini, sebulan setelah tulisan itu terbit, lebih dari 50% total pengunjung harian blog ini adalah pengunjung artikel tersebut.

Karena itulah saya merasa perlu untuk membuat tulisan kedua yang berisi hal-hal yang tak sempat saya jelaskan di tulisan terdahulu.

 

Peringatan!

Tulisan ini mungkin mengandung spoiler. Jika anda belum menonton serial 13 Reasons Why Season 1 dan tak ingin mendapat bocoran cerita, sebaiknya stop di sini, jangan diteruskan.

 

Novel 13 Reasons Why

Sebenarnya cerita 13 Reasons Why tidak benar-benar baru. Serial ini diangkat dari Novel berjudul sama karya Jay Asher yang terbit tahun 2007.

novel 13 reasons why pdf
ew.com

Review selengkapnya novel 13 Reasons by Jay Asher bisa dibaca di sini.

Sayangnya, saat ini novel terjemahannya sangat sulit ditemukan di pasaran. Bahkan di toko-toko online sekalipun.

Beruntung versi aslinya (dalam Bahasa Inggris) masih mudah ditemukan. Bahkan ebook-nya masih bisa dibeli di google play books.

13 Reasons Why di Playbooks ( Rp 99. 449)

Jika anda enggan membeli di Play Books, anda juga bisa mendownload ebooknya dalam format pdf di sini.

 

Karakter dan Pemeran

Serial 13 Reasons Why memiliki cukup banyak karakter. Setiap pemeran menjalankan karakter mereka masing-masing dengan baik sehingga mampu menguras emosi para penontonnya.

 

Hannah Baker (Pemeran: Katherine Langford)

mv5bytuxodkzytytntmxos00ywi2lwe4otctodk1ytm1ytzjymq3xkeyxkfqcgdeqxvynjm0njkwnti-_v1_ux214_cr00214317_al_

Hannah adalah gadis yang lugu dan sensitif. Sifat sensitif inilah yang membuatnya selalu berpikiran negatif terhadap orang-orang di sekitarnya. Beberapa orang yang ia sebut dalam kasetnya memang melakukan kejahatan yang mengerikan.

Namun, andai saja ia punya sedikit saja pikiran positif, ia akan menyadari bahwa masih ada beberapa orang yang peduli dan sayang kepadanya dan tak akan berpikir untuk mengakhiri hidupnya.

Hannah, menurut saya adalah korban sekaligus pelaku . Korban bullying dan pelaku teror terhadap teman-teman sekolahnya sendiri.

 

Clay Jensen (pemeran : Dylan Minette)

mv5bmjmznjg4oti2nf5bml5banbnxkftztgwodazndmwote-_v1_uy317_cr00214317_al_

Clay adalah tipikal anak baik-baik namun juga bukan ‘anak cupu’. Meski selalu terlihat canggung dalam berkomunikasi, Clay adalah sosok yang disukai oleh teman-temannya. Sifatnya yang  jujur dan setia kawan membuat Clay tak punya banyak musuh.

Sialnya ia juga sering ragu-ragu dalam bertindak. Saat Hannah memintanya untuk menjauhinya, Clay tak tahu harus berbuat apa.

Keragu-raguannya itu harus dibayar mahal karena pada akhirnya Clay harus rela kehilangan gadis yang dicintainya itu untuk selamanya.

 

 

Tony Padilla (Christian Navarro)

Sama seperti Clay, Tony adalah karakter yang cukup saya sukai. Tony adalah sosok yang cukup misterius, terutama di episode-episode awal. Saking misterusnya, saya bahkan sempat menduga kalau Tony ini punya niat jahat.

Namun setelah Tony menceritakan semuanya kepada Clay, saya benar-benar mengagumi sosoknya. Tony adalah karakter yang paling terlihat dewasa di serial ini. Dia mampu menanggung tanggung jawab yang amat berat, menjalankan pesan terakhir Hannah tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk guru-guru, polisi, dan kedua orangtua Hannah)

 

Jessica Davies (pemeran : Alisha Boe)

Salah satu karakter yang tidak saya sukai. Jessica adalah tipe orang yang mudah melupakan teman. Bersama Alex, ia awalnya adalah sahabat dekat Hannah.

Jessica menjauhi Hannah untuk alasan yang tidak jelas dan tak pernah benar-benar memulihkan hubungannya dengan Hannah meski gadis itu terus berusaha.

Di akhir season kondisinya cukup memprihatinkan. Selain dihantui oleh perasaan bersalah kepada Hannah, Jessica juga baru menyadari kalau dirinya diperkosa dan yang paling menyakitkan, ia dihianati oleh kekasihnya sendiri!

 

Justin Foley (pemeran : Brandon Flynn)

mv5bmje2mdg2njgyov5bml5banbnxkftztgwnjy1otgwmdi-_v1_uy317_cr910214317_al_

Orang pertama yang disebut dalam kaset Hannah. Justin disebut dua kali di kaset itu. Pertama karena dia mengambil foto syur Hannah saat mereka kencan dan membiarkan foto itu tersebar. Kedua karena ia membiarkan Jessica, pacarnya diperkosa oleh temannya sendiri.

Sebenarnya masalah yang dihadapi Justin tak kalah hebatnya dengan Hannah. Ibu kandungnya berhubungan dengan seorang pria bajingan yang membencinya.

Bahkan di akhir season Justin diusir dari rumahnya dan harus hidup di jalanan. Ia juga tak punya siapa-siapa lagi. Ia membenci sahabat terbaiknya dan dibenci oleh kekasihnya.

 

Bryce Walker ( pemeran : Justin Prentice)

mv5bnjmzmdczmzk4of5bml5banbnxkftztgwnzk1odu4nte-_v1_uy317_cr210214317_al_

Awalnya Bryce hanya digambarkan sebagai anak yang kaya dan populer di sekolah yang tak punya sopan santun.

Tetapi memasuki episode-episode terakhir kebenaran mulai terkuak. Bryce bisa dibilang adalah tokoh paling antagonis di serial ini. Ia dua kali disebutkan dalam kaset Hannah. Dua-duanya karena kasus perkosaan.

Ya, Bryce-lah yang memperkosa Jessica dan juga Hannah!

 

 

Alex Standall ( Miles Heizer)

mv5bntc0mdkwodg1mf5bml5banbnxkftztgwnty1nza2mte-_v1_uy317_cr1300214317_al_

Karakter yang nasibnya paling malang menurut saya. Alex sebenarnya adalah anak yang baik. Kesalahannya hanyalah membuat daftar konyol yang memicu terjadinya pertengkaran antara Hannah dan Jessica.

Di akhir cerita Alex diceritakan kritis akibat mencoba bunuh diri dengan menembakkan peluru ke kepalanya sendiri.

Namun, ada dugaan lain yang menyatakan bahwa Alex sebenarnya tidak bunuh diri, tetapi ditembak oleh Tyler!

 

Zach Dempsey ( pemeran : Ross Butler)

Lagi-lagi ini merupakan karakter yang terlalu baik untuk dijadikan penyebab seseorang bunuh diri. Hannah mengatakan di dalam kasetnya bahwa kesalahan Zach adalah…mencuri surat-surat yang dikirimkan untuknya.

 

Tyler Down ( pemeran : Devin Druid)

Dianggap sebagai anak culun yang suka menguntit teman-temannya kemanapun untuk difoto. Termasuk salah seorang yang ada dalam kaset karena mengambil foto syur Hannah dan Courtney dan menyebarkannya.

Kalau mau jujur, Tyler sebenarnya juga mengalami bully-an yang cukup parah.

Meskipun demikian dia tak pernah berniat untuk bunuh diri (atau belum). Di akhir cerita ia terlihat menyimpan berbagai macam senjata api di kamarnya yang menimbulkan kecurigaan kalau dialah pembunuh Alex.

Apalagi ada adegan dimana ia mencopot foto Alex dari koleksi foto-foto temannya yang ia pajang!

 

Marcus Cole ( Pemeran : Steven Silver)

Sang ketua OSIS. Marcus awalnya terlihat seperti pria baik-baik. Namun ternyata dia adalah laki-laki yang kurang ajar. Marcus bahkan  sempat berniat melecehkan Hannah saat kencan pertama mereka.

 

Courtney Crimson ( pemeran : Michele Selene Ang)

mv5bm2qyzgeymdmtnjaxos00odk0ltk2mzctndblmzhjmguwmtcxxkeyxkfqcgdeqxvynjgxmtixnzi-_v1_ux214_cr00214317_al_

Karakter paling menyebalkan. Courtney melakukan apa saja agar identitasnya sebagai lesbian tak terungkap. Courtney bahkan rela menjauhi Hannah dan membuat teman-temannya membenci gadis itu.

 

Sheri Holland ( pemeran: Ajiona Alexus)

Gadis yang manis dan baik. Kesalahan Sheri adalah tak segera melapor kepada polisi saat mobil yang dikendarainya bersama Hannah merusak papan peringatan lalu lintas. Ia tak menghiraukan kata-kata Hannah sampai akhirnya terjadi kecelakaan maut akibat rusaknya papan tersebut.

Meski demikian Sheri berusaha menebus kesalahan-kesalahannya dengan merawat keluarga korban dan mengakui kesalahannya kepada polisi di akhir cerita.

 

Ryan Shaver ( pemeran : Tommy Dorfman)

Seorang gay yang tergabung dalam kelompok puisi bersama Hannah. Ryan juga mengelola majalah sekolah dan dengan sengaja memajang puisi galau Hannah di majalah itu.

Hannah menyalahkan Ryan atas perbuatannya itu meskipun sebenarnya Ryan tak mencantumkan namanya sebagai penulis puisi tersebut.

 

Kevin Porter- Guru BK (pemeran : Derek Luke)

Guru BK yang tak pernah benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik. Ia mungkin bukanlah karakter jahat, namun jelas ia bukanlah guru yang baik.

Sebelum bunuh diri Hannah sempat bertemu dengannya untuk melaporkan kejadian-kejadian buruk yang dialaminya. Sang Guru sama sekali tak membantu dan seperti mempersilakan Hannah untuk mengakhiri hidupnya.

 

Musik / Soundtrack

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, salah satu kesenangan saat menonton 13 Reasons Why adalah soundtracknya yang sangat nyaman didengarkan.

Video di bawah ini berisi lagu-lagu terbaik dari serial ini termasuk lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Selena Gomez,  sang produser.

 

….

 

Terlepas dari segala kontroversinya, 13 Reasons Why mungkin adalah salah satu serial terbaik yang pernah saya tonton. Serial ini digarap dengan begitu baik dan nyaris sempurna.

Kabar baiknya, Netfix telah mengkonfirmasi bahwa season kedua 13 Reasons Why akan segera diproduksi !

Kemungkinan,  season kedua akan berfokus kepada karakter Jessica Davis.

 

 

 

 

 

Review Westworld: Serial yang Penuh Kejutan

160819-westworld-s1-blast-07-1280

 

Pernahkah kalian kesulitan menulis tentang suatu hal?  Jika pernah mengalaminya, ada dua kemungkinan kenapa  topik itu sulit untuk ditulis.

Pertama, topik itu begitu membosankan sehingga kalian tidak tahu bagaimana harus menulisnya. Kedua, topik itu sangat menarik, banyak hal bagus yang bisa ditulis tentangnya, tetapi saking banyaknya, kalian malah bingung harus memulai dari mana.

Tulisan ini merupakan contoh kasus yang kedua.

Westworld adalah serial TV yang nyaris sempurna, banyak hal yang bisa diceritakan dari serial ini dan saya kesulitan untuk menuangkannya dalam sebuah postingan.

westworld

 

Inti cerita Westworld adalah kisah tentang sebuah taman bermain buatan yang sangat mirip dengan dunia nyata. Semuanya buatan namun sangat mirip aslinya, dari mulai rumah-rumah, pegunungan, hutan-hutan, hewan-hewan liar sampai robot manusia penghuni taman tersebut yang dikenal dengan sebutan host.

Lalu apa tujuan taman tersebut dibuat?

Jawabannya adalah sebagai tempat berlibur bagi para konglomerat. Layaknya sebuah game, taman tersebut adalah tempat hiburan bagi para pengunjungnya yang dikenal dengan sebutan guest.

Sebuah game tentunya memiliki tema dan cerita tertentu, begitu juga dengan Westworld. Tema yang bisa dinikmati oleh pengunjung di Westworld adalah  tema kehidupan dunia barat masa lalu dimana para guest akan bermain sebagai seorang koboi.

Keberadaan Westworld tentu saja menjadi daya tarik banyak orang untuk menghabiskan waktunya di sana. Bayangkan saja, para guest bebas melakukan apa saja selama berada di taman tersebut. Mereka bisa membunuh para host koboi sesuka hati tanpa takut terluka sedikitpun , mereka juga bebas meniduri para host perempuan yang kecantikannya tak kalah dengan perempuan asli.

episode-08-1280

Di Westworld, setiap guest bebas memilih peran mereka, mau jadi penjahat atau jadi pahlawan.

Semuanya berjalan dengan normal pada awalnya. Para guest menikmati waktu mereka di Westworld. Sementara para host, menjalani aktivitas rutin mereka (loop) sesuai dengan skenario yang dibuat.

Masalah mulai muncul saat para host mulai berperilaku aneh dan menyimpang. Hal ini membuat orang-orang di balik layar Westworld kerepotan. Mereka mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan para host.

Bernard Lowe (Jeffrey Wright) dan Theresa Cullen (Sidse Babett Knudsen ) adalah dua orang yang paling dibuat pusing dengan kondisi itu. Mereka berdua adalah orang yang paling bertanggung jawab menjaga agar situasi di dalam Westworld tetap normal dan memastikan para host tetap berperilaku sesuai naskah.

Sementara Robert Ford (Anthony Hopkins), sang pencipta semua host yang ada di Westworld tampaknya tak mau bekerja sama dengan Bernard dan Theresa. Sebagai pencipta, Ford merasa memiliki kewenangan untuk mengatur semua yang terjadi di Westworld, termasuk mengubah jalan cerita dan karakter para host.

Di sisi lain ada seorang guest tua misterius berjuluk Man in Black yang terus menjelajahi Westworld selama tiga puluh tahun terakhir. Pria itu sedang mencari sesuatu yang selama ini menjadi rahasia Westworld.

Kehidupan para host juga diceritakan melalui sosok Dolores (Evan Rachel Wood), seorang host cantik yang skenarionya di Westworld membuat kehidupannya selalu berakhir dengan buruk dan Maeve (Thandie Newton), seorang pelacur yang juga mengelola sebuah rumah prostitusi.

Keduanya sama-sama berperilaku aneh dan menularkan perilaku tersebut pada host-host lainnya.

Masalah-masalah itulah yang menjadi inti cerita serial Westworld selama 10 episode dengan durasi kurang lebih 50 menit.

Serial ini, seperti yang sudah saya kemukakan sebelumnya, mempunyai banyak hal yang bisa diceritakan. Setiap episodenya selalu menyajikan kejutan-kejutan sekaligus pertanyaan-pertanyaan yang selalu membuat penasaran menantikan apa yang terjadi di episode-episode selanjutnya.

Dari segi pembuatan, serial yang diproduksi oleh HBO ini benar-benar digarap dengan serius karena menghabiskan dana yang kabarnya melebihi dana pembuatan film-film box office Hollywood.

Terbukti dengan tampilan setiap adegan dalam film ini yang lekat dengan kesan megah, terutama saat adegan-adegan yang mengambil latar di dalam “dapur” Westworld, tempat dimana para host dibuat.

161212-westworld-news

Keindahan-keindahan itu masih ditambah dengan alunan-alunan musik indah yang mengiringi setiap adegan. Sebagian besar musik-musik tersebut adalah hasil aransemen ulang  dari lagu-lagu band-band rock klasik yang sudah melegenda sehingga sembari menonton Westworld para penonton akan  sedikit diajak bernostalgia lewat alunan musik latar.

Penampilan para aktornya pun menurut saya sangat memuaskan. Anthony Hopkins yang berperan sebagai Robert Ford mampu memerankan sosok pria yang cerdas, berkuasa, sekaligus misterius dengan sangat baik. Evan Rachel Wood yang mendapatkan peran sebagai Dolores, host cantik yang selalu bernasib malang , menjalankan tugasnya dengan baik. Ia mampu memainkan ekspresinya dengan baik terutama saat harus beradegan menjadi seorang robot.

westworld-official-trailer-evan-rachel-wood-hbo

Demikian pula dengan aktor-aktor lain, mereka semua berhasil membuat saya larut ke dunia Westworld.

 

Satu hal yang membuat keseruan menonton Westworld semakin bertambah adalah banyaknya diskusi-diskusi sengit antar para penontonnya. Di setiap forum online yang saya temui, banyak sekali teori-teori dan asumsi-asumsi tentang apa yang sebenarnya terjadi di Westworld .

Setiap kali selesai menonton sebuah episode Westworld saya biasanya langsung mengunjungi situs-situs forum online seperti Reddit, Kaskus, maupu Facebook group untuk mencari penjelasan-penjelasan tentang hal-hal yang tidak saya mengerti di episode tersebut dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di episode selanjutnya.

Tak cukup dengan mencari jawaban di forum-forum diskusi, saya bahkan juga rajin mendengarkan podcast-podcast yang mengulas episode-episode Westworld.  

Saya rasa saya tak pernah se-niat itu dalam mengikuti sebuah serial TV maupun Film.

Ketika Westworld menyelesaikan episode terakhirnya pertengahan Desember yang lalu, saya merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup saya. Apalagi musim kedua Westworld baru akan tayang pada 2018 mendatang.

Untungnya sampai sekarang grup facebook yang berisi para Fans Westworld masih ramai, bahkan setiap hari masih ada orang yang posting, entah itu fakta-fakta menarik seputar Westworld atau sekedar meme-meme lucu yang berhubungan dengan serial tersebut.

Saya rasa seribu kata yang saya tulis di postingan ini pun masih kurang cukup untuk mengekspresikan betapa kagumnya saya akan serial Westworld.

Tak apalah, saya sudah cukup puas karena akhirnya bisa menyelesaikan tulisan ini.

Westworld adalah tontonan yang sangat saya rekomendasikan. Saya yakin serial ini akan menghibur dan mengejutkan siapapun yang menontonnya.

Jika anda suka tontonan bertema fiksi-ilmiah yang penuh dengan twist, anda pasti akan menyukai Westworld.

Trailler:

 

Catatan:

  • Serial ini cukup banyak menampilkan adegan-adegan telanjang para host baik laki-laki maupun perempuan namun tak sampai membuat pikiran kita “ngeres” karena mereka berakting sebagai robot.

 

Gambar: HBO

Review Black Mirror: Seburuk Itukah Masa Depan Manusia?

mv5bmtk5ntk1mzg3ml5bml5banbnxkftztcwndaynzy3oa-_v1-_cr25310101343_sy1000_cr007521000_al_
foto: IMDb

 

Harus diakui perkembangan teknologi sangat merubah kehidupan kita dalam beberapa tahun terakhir. Teknologi memudahkan manusia dalam banyak hal seperti berbelanja, berkomunikasi, sampai memesan tiket transportasi.

Tetapi di samping itu banyak juga dampak negatif dari semakin majunya teknologi. Salah satu yang paling kentara adalah saat ini orang-orang lebih sering bercakap-cakap lewat smartphone daripada bertatap muka langsung. Di setiap kerumunan orang entah itu di dalam kereta, di halte bis, dan tempat-tempat umum lainnya lazim kita temui orang-orang lebih sibuk menatap layar gadget mereka tanpa acuh dengan kondisi sekitar.

Sekarang juga sudah sulit menemukan anak-anak kecil yang bermain permainan tradisonal di depan halaman rumah atau di lapangan. Mereka lebih suka menghabiskan waktu bermain game di warnet, menyewa konsol Play Station atau mengutak-atik gadget.

Lantas bagaimana jadinya kalau di masa depan teknologi sudah sangat jauh berkembang? Akankah kehidupan kita juga akan berubah lebih ekstrem lagi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat ditemukan jawabannya dalam serial TV Black Mirror.

Serial TV yang awalnya diproduksi di Britania Raya (mulai season 3 diambil alih oleh Netflix)  tersebut benar-benar menggambarkan bagaimana kecanggihan teknologi akan mengubah seluruh cara hidup manusia.

Kemarin malam saya baru selesai menonton episode pertama season ketiga Black Mirror. Episode ini membahas tentang kehidupan manusia di masa depan dimana saat itu status sosial setiap orang dapat diukur dengan angka.

Kalian tentu familiar dengan sistem rating di Play Store bukan?

Nah, konsepnya persis seperti itu. Setiap kali berinteraksi dengan orang lain kita bisa memberikan rating pada orang tersebut, dan sebaliknya.

Kalau orang itu bersikap baik kepada kita, kita bisa memberinya empat atau lima bintang melalui gadget kita. Jika kita tidak suka orang itu, kita bisa berikan satu atau dua bintang.

Seperti halnya konsep rating di aplikasi, semua rating yang kita dapat akan dihitung rata-ratanya yang hasilnya adalah overall rating kita.

Overall rating setiap orang bisa dilihat dengan mata telanjang karena di dalam mata setiap orang telah dipasangi teknologi untuk melihatnya .

 

lacie-happy-to-see-her-latest-post-was-well-received-netflix
javierlopezmenacho.com

 

black-mirror
oxgadgets.com

Jadilah setiap bertemu seseorang, orang asing sekalipun kita langsung tahu gambaran orang tersebut melalui overall ratingnya. Semakin tinggi overal rating seseorang, semakin baik dan terhormatlah orang itu sebaliknya semakin rendah overall ratingnya semakin mencurigakanlah orang tersebut.

Pada awalnya memang sistem ini tampaknya membuat kehidupan menjadi lebih baik. Semua orang berlomba-lomba bersikap baik dan ramah kepada orang lain agar mendapatkan overall rating yang lebih tinggi.

Namun lama kelamaan orang-orang menjadi terobsesi dengan rating mereka. Segala macam hal mereka lakukan demi mendapatkan lima bintang dari setiap orang yang mereka temui.

Konsep rating ini ternyata juga mempunyai aturan mainnya tersendiri. Misalnya, rating dari orang yang overall ratingnya lebih tinggi akan lebih bernilai daripada rating dari orang-orang yang overal ratingnya rendah.

Orang-orang yang memiliki overal rating tinggi juga mendapat banyak keistimewaan seperti boleh menerobos antrian, mendapatkan diskon tinggi saat belanja, dll.

Bahkan beberapa tempat termasuk rumah sakit tidak mau menerima orang yang memiliki rating di bawah batas minimum yang mereka terapkan.

Aturan itu tentu saja menciptakan kasta tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat. Orang-orang dengan overall ratting 4 misalnya mungkin masih mau bergaul dengan overall rating 3, namun tidak dengan yang di bawahnya. Sementara satu-satunya cara agar orang dengan rating 2 ke bawah untuk meningkatkan ratingnya adalah dengan mendapatkan rating dari orang-orang di atasnya.

Kalau dipikir-pikir kondisi itu sebenarnya tak jauh beda dengan sekarang bukan? Kebanyakan orang dengan status sosial yang lebih tinggi enggan berhubungan dengan mereka yang status sosialnya lebih rendah.

 

Di episode ini diceritakan kisah seorang gadis yang tadinya bersikap ramah pada setiap orang tak peduli  berapapun ratingnya. Karena itulah ia punya rating yang cukup tinggi, 4.2. Tetapi semuanya berubah saat ia berencana membeli sebuah rumah yang sangat diimpikiannya. Rumah impiannya tersebut sangat mahal dan ia tak punya cukup uang untuk membelinya. Satu-satunya caranya mendapatkan rumah tersebut adalah meningkatkan ratingnya menjadi 4.5 agar ia mendapatkan diskon 20%.

Obsesi meningkatkan rating itulah yang membuatnya menjadi pribadi yang munafik. Ia tak segan segan menjilat orang-orang yang ratingnya lebih tinggi. Ia berusaha menyenangkan para pemilik rating tinggi dan kehilangan jati dirinya sendiri.

Ada satu adegan yang paling saya ingat yakni saat gadis itu marah-marah karena penerbangannya dibatalkan. Ulahnya itu mengakibatkan ratingnya diturunkan menjadi 3 oleh polisi.

Untungnya ia mendapat tumpangan dari seorang nenek-nenek yang overall ratingnya…..1.

Nenek itu bertanya mengapa ia terlihat begitu kecewa. Sang gadis menceritakan tentang ratingnya yang dipotong karena marah-marah kepada petugas bandara.

Si nenek bertanya lagi, “Apa yang kau rasakan saat marah tadi?”

Gadis itu tampak bingung menjawab pertanyaan itu. Sudah terlalu lama ia berpura-pura baik  kepada semua orang. Ia melupakan emosinya, obsesi terhadap rating telah membuatnya kehilangan sisi kemanusiaannya.

Tentu saja cerita gadis itu tak berakhir bahagia, lebih baik kalian tonton sendiri agar lebih puas.

 

Saya yakin serial ini tak akan mengecewakan siapapun yang menontonnya. Ide cerita yang brilian dan dieksekusi dengan bagus membuat siapapun akan terkagum-kagum saat menonton Black Mirror. Penampilan para aktornya pun sangat brilian dan efek komputer yang digunakan juga sangat pas, tidak lebih maupun kurang.

Black Mirror saat ini total sudah memiliki 12 episode yang terdiri dari 3 episode di season 1, 3 episode di episode 2, dan 6 episode di season 3. Setiap episode-nya berdurasi rata-rata  50 sampai 60 menit.

Sejauh ini saya telah menonton tujuh episode Black Mirror dan  setiap selesai menonton , pikiran saya selalu dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan,

 

“Apakah benar ini gambaran masa depan kehidupan manusia? Seburuk itukah?”

 

“Mungkin saja, bukankah limabelas tahun yang lalu kau tak pernah menyangka kalau sekarang ini hal yang pertama kali kau lakukan saat bangun dan tidur adalah mengecek gadget?”,

sahut sebuah suara dari bagian pikiran saya yang lain.