Cara Menonton Pertandingan Liga 1 Indonesia (Update 2018)

Baca sampai selesai untuk mengetahui cara-cara menonton Liga 1 Indonesia 2018

Cara nonton Liga 1 Indonesia 2018

twitter @Liga1Match
Liga1 Indonesia kembali!

Sempat beberapa kali tertunda, kompetisi sepak bola tertinggi di tanah air akhirnya kembali digelar.

Gojek Liga 1 musim ini tentu saja menjanjikan persaingan yang lebih seru berkat kembalinya tiga klub klasik penuh prestasi, Persebaya Surabaya, PSMS Medan, dan PSIS Semarang.

Selain tiga klub tersebut, menarik juga untuk menyaksikan tim-tim lain seperti Persija Jakarta yang on fire di ajang pra-musim. Persib Bandung dan Sriwijaya FC yang mencoba kembali ke jajaran papan atas Liga dengan mendatangkan juru taktik anyar penuh pengalaman. Bali United, Borneo FC, Madura United, klub-klub baru yang ambisius. Bhayangkara FC yang berupaya mempertahankan gelar juara musim lalu, serta klub-klub lainnya.

Sementara PSSI sibuk memastikan kelancaran kompetisi, klub-klub berlomba-lomba memperkuat skuad, kita semua disibukkan dengan…yak, tentu saja, satu hal yang sangat penting bagi para suporter layar kaca,

Mencari cara untuk menonton siaran Gojek Liga 1.

Untuk itu pertama-tama kita harus mengetahui tentang siapa pemegang hak siar Gojek Liga 1 musim 2018 ini.

Orange TV dan TV One masih bertahan meski nama terakhir tak lagi menjadi pemegang hak siar utama.

Emtek Group-lah yang, bisa dibilang, merupakan pemegang hak siar utama Liga 1 musim ini. Melalui stasiun TV Indosiar dan O Channel serta situs Vidio.com mereka akan menayangkan sebagian besar pertandingan Gojek Liga 1 2018.

Setelah kita mengetahui para pemegang hak siar Liga 1 2018, tentu menjadi lebih mudah untuk mencari tahu cara menonton siaran liga 1 Indonesia musim ini.

Berikut ini saya merangkum cara-caranya, sesuai dengan media/ alat yang kalian gunakan.

Cara 1 : TV dan Antena

Cara termudah dan termurah untuk menonton Liga 1 ini harusnya menjadi semakin mudah musim ini. Indosiar jelas memiliki jangkauan yang lebih luas dibanding dengan TV One musim lalu.

Jadi, siapkan antena dan TV anda kemudian cari channel Indosiar. Mudah, simpel, dan minim biaya.

Cara 2 : Parabola

Channel Indosiar bisa disaksikan melalui TV yang tersambung dengan parabola dalam kondisi normal. Tetapi tidak saat jam tayang Gojek Liga 1.
Kenapa bisa begitu? Kenapa menonton liga 1 di parabola diacak?

Jawabannya adalah karena Indosiar memang tidak memegang hak siar untuk menyiarkan Liga 1 melalui parabola.

Hak siar tersebut dimiliki oleh Orange TV melalui channel festival.
Kita harus membeli parabola atau minimal receiver Orange TV untuk menyaksikan pertandingan-pertandingan Liga 1. Kita harus mengganti receiver parabola lama dengan receiver Orange TV.

Ada 2 jenis receiver Orange TV yakni KU Band seharga Rp 310.000 dan C-Band seharga Rp 409.000.

Jangan lupa juga untuk membeli paket channel-minimal paket familly-seharga Rp 119.000 per bulan.

Atau jika ingin menyaksikan pertandingan-pertandingan olahraga lain termasuk liga Inggris, Liga Spanyol, Liga Prancis, dan Liga Champions, belilah paket Sporty + seharga Rp 168.000 per bulan.

Selengkapnya silahkan kunjungi orangetv.co.id

Jika kalian masih ngotot menggunakan parabola biasa, ada sebuah cara, cara ilegal namun lumrah digunakan, yakni dengan kode bisskey.

Kode bisskey bisa dengan mudah kita dapatkan di media social. Ada banyak akun-akun yang dengan sukarela memposting kode-kode tersebut setiap kali ada jadwal pertandingan.

Silakan follow akun @BisskeyID di twitter atau Facebook Fans Page BisskeyID.

Cara memasukkan kodenya pun cukup mudah. Pindahkan channel tv ke channel yang diacak, biasanya ditandai dengan layar yang gelap tanpa suara. Lalu tekan tombol INFO pada remote control receiver parabola, kemudian tekan lagi tombol 1, 2, 3, dan 4 satu per satu.

Layar akan menampilkan sebuah form kosong. Masukkan 16 digit kode bisskey yang anda dapat dari salah satu akun tadi, jika sudah selesai tekan OK atau tombol lain sesuai petunjuk di layar TV.

Kalau tidak ada kesalahan, siaran yang diacak akan terbuka.

Cara 3: Streaming

Ini adalah cara yang cukup mudah dan praktis terutama jika anda adalah seorang anak kos yang tidak memiliki TV di kamar anda.

Streaming pertandingan Liga 1 bisa dilakukan dengan berbagai cara tetapi yang paling mudah adalah dengan menggunakan aplikasi vidio.com


atau mengunjungi situsnya di www.vidio.com

Keuntungan streaming adalah kita bisa menyaksikan beberapa pertandingan yang tak disiarkan di TV.

Tetapi jangan lupa, siapkan jaringan internet yang stabil, minimal H+ atau akan lebih baik dengan jaringan wifi.

Jika menggunakan paket data seluler, siapkan kuota minimal 500 mb jika menggunakan smartphone, atau 1 gb jika melalui PC/ laptop.

Itulah tadi beberapa cara yang saya tahu untuk bisa menonton siaran pertandingan Liga 1. Saya sendiri menyarankan untuk menyaksikan pertandingan-pertandingan Gojek Liga 1 via streaming vidio.com karena lebih praktis dan bisa menonton nyaris semus pertandingan.

Selain itu saat ini hampir semua orang memiliki smarphone dan harga paket internet tak lagi semahal dulu.

Sekian, terima kasih, dan jika ada pertanyaan silakan tinggalkan di kolom komentar.

Baca juga

7 Penyebab Tayangan Sepakbola Indonesia Buruk

Fakta Tentang Siaran Liga Indonesia

Fakta Tentang Siaran Liga Indonesia

siaran sepakbola Indonesia

Bagi kalian yang sudah lama mengikuti blog ini tentu paham bahwa saya seringkali beropini tentang buruknya siaran sepakbola Indonesia.

Setidaknya ada 3 tulisan di blog ini yang membahas mengenai topik tersebut,

3 Hal yang Membuat Saya Kurang Nyaman Menonton Siaran Sepakbola Indonesia

Go-Jek Traveloka Liga 1, Kompetisi Baru Rasa Lama

7 Penyebab Tayangan Sepakbola Indonesia Buruk

 

Ketiga tulisan di atas merupakan pendapat saya pribadi yang tak disangka, juga diamini oleh cukup banyak warganet.

Meski demikian perlu diingat bahwa biar bagaimanapun tulisan-tulisan tadi tak bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi karena hanya berdasarkan asumsi-asumsi saya saja.

Karena itu di artikel ini saya akan menuliskan fakta-fakta tentang siaran sepakbola Indonesia, khususnya Liga 1 yang sejak awal telah mendapatkan banyak sekali kritik. Fakta-fakta ini saya kutip dari pernyataan Bung Hanif Thamrin, Direktur Media dan Hubungan Internasional PSSI di akun twitternya.

Bagi kalian yang belum tahu, Bung Hanif adalah wajah baru di PSSI. Meski demikian, beliau cukup kenyang pengalaman karena pernah berkerja sebagai International Content Producer untuk klub kaya raya Inggris, Manchester City.

Selengkapnya tentang sosok Bung Hanif Thamrin bisa kalian baca di Review Buku Pemburu di Manchester Biru.

 

….

Pertanyaan yang cukup sering diajukan oleh orang-orang adalah, Kenapa Liga 1 tidak disiarkan oleh NETtv, padahal stasiun TV tersebut telah terbukti bisa menghasilkan kualitas tayangan yang bagus, seperti di video berikut,

Berikut jawaban Bung Hanif,

Ternyata memang pihak NETtv sendiri yang menolak tawaran untuk menyiarkan Liga 1 musim ini. Hal ini sangat masuk akal mengingat NETtv sudah memiliki tayangan-tayangan unggulan mereka sendiri di jam-jam pertandingan Liga 1.

Apalagi dengan kondisi jadwal Liga 1 yang hampir tiap hari selalu ada pertandingan, mereka tentu enggan berjudi mengorbankan tayangan yang sudah terbukti diminati penonton dengan siaran liga Indonesia yang, meski berpotensi menarik banyak penonton, namun juga punya potensi mandeg di tengah jalan. (Ingat QNB League)

Bung Hanif juga menjelaskan kenapa banyak stasiun TV maupun sponsor enggan berinvestasi di Liga Indonesia musim ini.

Jadi sudah jelas kan kenapa akhirnya kompetisi Liga 1 musim ini disiarkan oleh tvOne.

Satu hal lain yang membuat banyak pencinta sepak bola Indonesia kesal adalah buruknya kualitas siaran tvOne. Dari mulai angle kamera yang tidak pas, tayangan replay yang tidak jelas, hingga jangkauan siarannya yang tidak masuk ke daerah-daerah pelosok serta pengguna parabola yang tidak bisa menyaksikan siaran karena diacak.

Menanggapi hal tersebut, bung Hanif meminta para suporter untuk bersabar sembari mengingatkan bahwa tak seperti Liga Inggris, tayangan Liga Indonesia masih gratis untuk ditonton.

Terakhir, Bung Hanif juga memberikan pesan kepada para suporter untuk turut serta dalam memajukan perkembangan sepakbola Indonesia.

….

 

Mungkin kalian masih belum puas dengan jawaban tadi, sayapun sama, tetapi setidaknya sekarang kita tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Seperti yang sudah pernah saya bilang sebelumnya , tidak mudah bagi stasiun TV manapun untuk menyiarkan Liga Indonesia, kompetisi yang melibatkan klub-klub dari wilayah yang sangat luas dan banyak dipisahkan oleh perairan. Dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk bisa melakukannya. Pihak stasiun TV tentunya harus berpikir ekstra keras untuk menarik perhatian sponsor guna menutupi biaya tersebut.

Satu hal yang harus kita ingat adalah sepak bola Indonesia baru dimulai lagi dari awal pasca terlepas dari sanksi FIFA, termasuk kompetisi Liga Indonesia.

Oleh sebab itu sebaiknya memang kita jangan dulu berharap terlalu banyak. Biarkanlah saja PSSI dan pihak-pihak yang berhubungan dengan sepak bola Indonesia melakukan pekerjaan mereka. Dengan begitu mungkin, dua atau tiga tahun lagi sepak bola Indonesia akan berkembang pesat dan menjadi jauh lebih baik.

Baca juga: Beberapa Cara Menonton Pertandingan Liga 1 Indonesia

7 Penyebab Tayangan Sepakbola Indonesia Buruk

siaran sepakbola Indonesia

Kenapa tayangan sepakbola Indonesia jelek?”

“Kapan liga indonesia gunakan kamera replay super lambat?”

“kenapa tv bola indonesia tidak jernih?”

 

Kalimat-kalimat di atas adalah sebagian kecil dari istilah-istilah pencarian yang mengarah menuju blog saya dalam sebulan terakhir.

Banyak orang menuliskannya dalam kolom pencarian google dan akhirnya menemukan tulisan saya yang ini dan atau yang ini.

Kedua tulisan itu memang berisi keluhan-keluhan saya tentang buruknya kualitas tayangan sepakbola Indonesia. Namun dua-duanya tak menjawab apa sebenarnya penyebab siaran sepakbola Indonesia begitu buruk.

Karena itu saya mencoba mencari-cari dan membandingkan perbedaan-perbedaan Indonesia dengan negara-negara lain yang siaran sepakbolanya bagus.

Hasilnya saya menemukan 7 alasan kenapa siaran sepakbola Indonesia masih saja buruk.

 

Alasan 1 : Pemegang Hak Siar

Di liga-liga eropa hak siar tak cuma dimiliki oleh satu atau dua stasiun televisi saja. Bahkan hak siar Liga Primer Inggris dimiliki oleh belasan stasiun TV yang tersebar di seluruh dunia. Stasiun-stasiun TV tersebut tak segan untuk mengeluarkan dana besar guna mendapatkan tayangan sepakbola yang bagus.

Tidak adil memang membandingkan sepakbola Indonesia dengan Inggris yang jauh lebih maju dan mendunia. Namun, mungkin PSSI bisa mempertimbangkan untuk memberikan hak siar ke beberapa stasiun TV.

Selain dana dari hak siar yang terkumpul akan bertambah, bisa jadi tayangannya akan membaik karena ada kerjasama antar stasiun TV.

 

Alasan 2 : Stasiun TV

Di negara-negara lain, biasanya ada saluran TV khusus yang isinya hanya olahraga. Stasiun-stasiun TV inilah yang biasanya memegang hak siar pertandingan sepakbola.

Karena terbiasa menyiarkan pertandingan olahraga, tentu para kru dan kameramen stasiun TV tersebut telah punya segudang pengalaman.

Mereka sudah pasti tahu momen-momen mana yang penting dan harus ditayangkan dalam sebuah pertandingan sepakbola dan momen-momen mana yang kurang  penting yang bisa ditayangkan asal tak mengganggu penayangan momen-momen penting.

Melihat pemegang hak siar yang terus menerus berganti tiap tahunnya serta tidak adanya stasiun TV khusus olahraga di Indonesia, wajar jika tayangan sepakbola kita tak sebagus di negara-negara lain. Barangkali para kru TV itu belum punya pengalaman  dan keahlian untuk menyiarkan sebuah pertandingan sepakbola dengan baik.

 

Alasan 3 : Stadion

Di Liga-Liga eropa semua tim peserta rata-rata mempunyai stadion yang memadai. Biasanya ada bagian khusus di stadion yang diperuntukkan bagi para jurnalis.

Kameramen TV biasanya juga disediakan tempat khusus di sudut-sudut strategis yang memastikan bahwa tak akan ada momen-momen penting pertandingan yang lolos dari tangkapan kamera.

Sedangkan di Indonesia tak semua stadion seperti itu. Itulah kenapa di stadion-stadion tertentu kadang-kadang angle-nya terlalu rendah sehingga gambar menjadi tidak terlalu jelas.

Secara pribadi, saya berpendapat kalau angle kamera di stadion Pakansari adalah yang terbaik di Indonesia saat ini.

 

Alasan 4 : Arsenal  Luas Wilayah Indonesia

Indonesia memang bukan negara terluas di dunia. Tetapi dibanding negara-negara seperti Amerika Serikat, China, atau Rusia,  secara transportasi , Indonesia adalah yang paling rumit. Ini karena wilayah Indonesia terbagi ke dalam ribuan pulau.

Apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara eropa yang untuk berpergian ke negara lain saja bisa dilakukan dengan kereta atau mobil.

Bayangkan berapa ongkos yang harus dikeluarkan pihak stasiun TV yang berbasis di Jakarta untuk meyiarkan sebuah pertandingan di Samarinda, Makassar, atau bahkan Jayapura.

“Daripada digunakan untuk menambah jumlah kamera di stadion, lebih baik uangnya digunakan untuk ongkos.”, begitu mungkin yang dipikirkan oleh pihak stasiun TV.

 

Alasan 5 : Gratis

Ini mungkin adalah faktor terbesar penyebab kenapa siaran Liga Indonesia cukup buruk. Pihak stasiun TV tentu pusing karena selain harus membayar dana hak siar ke PSSI, mereka juga harus menyiapkan peralatan dan akomodasi untuk menyiarkan pertandingan-pertandingan Liga Indonesia.

Patut diingat bahwa stasiun TV juga adalah sebuah perusahaan yang butuh keuntungan untuk membiayai operasional dan membayar karyawan-karyawannya. Dan di Indonesia  saat ini, satu-satunya cara untuk bisa mendapat keuntungan adalah dengan memasang iklan sebanyak-banyaknya.

Jadi tidak heran kalau kita sering menemui iklan gunung meletus di lapangan sebelum kick off pertandingan, atau iklan yang berukuran besar di bagian ujung layar, atau bahkan kadang-kadang iklan yang memenuhi sebagian besar layar, mengecilkan tayangan pertandingan menjadi setengah ukuran TV.

 

Alasan 6 : Rating

Ini erat kaitannya dengan alasan no. 5. Karena gratis maka TV hanya mendapat pemasukan dari iklan. Karena pemasukan dari iklan, maka rating harus tinggi. Karena rating harus tinggi, maka tim yang disiarkan pun harus punya basis suporter besar.

Alhasil tayangan sepakbola di Indonesia hanya peduli kepada jumlah suporter klub daripada prestasi klub tersebut.

Contohnya musim lalu, Persipura yang menjuarai kompetisi malah jarang ditayangkan. Sementara Persib yang berada di papan tengah dan bahkan Persija yang berada di papan bawah terus menerus disiarkan pertandingannya.

 

Alasan 7 : Kita

Tanpa disadari kita jugalah penyebab siaran sepakbola Indonesia di TV buruk. Kita yang terus menerus mengeluh tanpa memberi solusi (termasuk saya). Kita yang mengeluhkan siaran buruk yang gratis tapi enggan jika diharuskan membayar (termasuk saya).

Kita yang hanya tinggal duduk manis menonton di rumah tanpa harus mengeluarkan biaya sepeserpun namun masih sempat-sempatnya memaki-maki pihak stasiun TV.

 

Itulah tadi hasil “riset” kecil-kecilan saya.

 

Kalian setuju?

Ada yang perlu ditambahkan?

Atau ada yang perlu dihilangkan?

 

Silakan tulis di komentar!

 

 

Sebelumnya tentang siaran sepakbola.:

3 Hal yang Membuat Saya Kurang Nyaman Menonton Siaran Sepakbola Indonesia

Go-Jek Traveloka Liga 1, Kompetisi Baru Rasa Lama

Fakta Tentang Siaran Liga Indonesia

Go-Jek Traveloka Liga 1, Kompetisi Baru Rasa Lama

siaran liga 1
Logo Go-Jek Traveloka Liga 1/ jawapos.com

Sabtu kemarin kompetisi resmi antarklub terbaik di Indonesia akhirnya resmi bergulir. Go-Jek Traveloka Liga 1 (saya harap kalian sudah tahu alasan di balik penamaan kompetisi ini) secara resmi dibuka pada sabtu sore, pada laga antara Persib Bandung melawan Arema FC.

Mengusung tagline “Liga Baru, Semangat Baru”, nyatanya tak banyak perubahan yang saya rasakan selama tiga hari berturut-turut menyaksikan pertandingan-pertandingan liga 1. Yang paling saya sesalkan tentunya adalah kualitas siaran tv-nya yang masih sangat…sangat buruk.

 

TvOne yang tidak berbeda

Awalnya saya sangat optimis dengan keberhasilan tvOne mendapatkan hak siar Liga 1. Saya punya alasan kuat untuk berpikir begitu.

TvOne, seperti kita sama-sama tahu, berada satu grup dengan antv, stasiun tv yang bertahun-tahun lalu rutin menyiarkan liga Indonesia dengan kualitas yang lumayan bagus. Wajar jika saya, dan kebanyakan penonton sepakbola Indonesia berharap bahwa siaran Liga 1 kali ini paling tidak akan bisa sebaik saat dipegang antv dulu.

Sayangnya hal itu tak terjadi. TvOne tak terlihat melakukan sesuatu yang berbeda dengan SCTV, Indosiar, maupun RCTI sebelumnya.

Angle pengambilan gambar  yang  terlalu dekat serta video replay yang tak begitu membantu adalah masalah-masalah lama yang, sayangnya, masih saja terulang.

Hal ini tentu saja sangat mengganggu.

Di laga antara Persib melawan Arema misalnya. Pada pertengahan babak pertama Christian Gonzales sempat mencetak gol untuk Arema. Wasit menganulir gol tersebut karena menganggap Gonzales berada dalam posisi offside. Keputusan yang cukup kontroversial.

Dalam kondisi seperti ini video replay menjadi satu-satunya harapan untuk melihat apakah keputusan wasit sudah benar.

Sayangnya tayangan replay yang ditampilkan pada laga kemarin sama sekali tidak membantu. Posisi kamera yang miring dan penggunaan gerakan lambat yang tidak tepat membuat tayangan replay seperti tak ada gunanya.

Di liga-liga eropa, kejadian itu mungkin akan di-replay berulang-ulang dari berbagai sudut. Meski akan menimbulkan adu argumen antara kedua kubu suporter, setidaknya mereka bisa melihat dengan jelas  apa yang sebenarnya terjadi.

Jangan lupa juga FIFA berencana menerapkan penggunaan video replay untuk membantu wasit. Bahkan, badan sepakbola dunia tersebut sudah menerapkannya di beberapa pertandingan persahabatan.

Bayangkan jika hal itu diterapkan di Indonesia dengan kualitas video replay yang masih buruk. Wasit mungkin bukannya terbantu tetapi malah bingung melihat video replay yang tidak jelas.

 

Sisi Positif, Performa Wasit membaik

Satu hal yang patut diapreasi adalah performa wasit Liga 1 yang cukup baik, setidaknya di tiga laga yang sudah saya tonton.

Hal-hal yang saya keluhkan di postingan terdahulu seperti kesalahan dalam menentukan posisi offside dan ketidakkonsistenan dalam pemberian hukuman kartu sudah jarang terjadi.

Dampaknya, wasit Liga 1 kini terasa lebih disegani oleh para pemain dan penonton. Ada kepercayaan yang timbul bahwa sang wasit akan selalu berusaha keras untuk memimpin pertandingan dengan adil.

Semoga performa bagus ini bisa bertahan hingga akhir musim.

 

Kembalinya Bung Towel

Setelah bertahun-tahun tak terlihat batang hidungnya, akhirnya sang komentator legendaris, Tommy Welly alias Bung Towel kembali ke dunia per-komentator-an sepakbola Indonesia.

Masih dengan gaya sok tahu-nya yang khas, Bung Towel menjadi tandem yang serasi bagi presenter Rendra Sudjono.

Saya pun cukup terhibur dengan kehadiran keduanya.

Menurut saya dua orang tersebut adalah komentator yang pembawaannya paling mendekati dengan komentator-komentator liga-liga eropa. Selalu fokus kepada pertandingan, tak banyak mengeluarkan jargon-jargon dan istilah-istilah tidak penting, dan tetap terlihat antusias dalam memimpin jalannya pertandingan.

 

….

 

Itulah tadi beberapa keluhan-keluhan saya (lagi) tentang siaran sepakbola Indonesia.

Saya menulis artikel ini bukan karena tidak menghargai usaha keras PSSI dalam menyelenggarakan kompetisi.

Tujuan saya menulis ini tidak lain karena saya punya harapan besar terhadap persepakbolaan Indonesia.

Saya juga sangat yakin suatu saat Indonesia akan memiliki kompetisi yang bagus dan juga tim nasional yang kuat asalkan semua pihak yang terlibat terus berusaha untuk memperbaiki diri.

Saya pun sebenarnya tak sendirian. Banyak pecinta sepakbola Indonesia yang punya pemikiran sama. Beberapa hari terakhir, blog ini banyak dikunjungi oleh orang-orang yang  juga mengeluhkan kualitas siaran liga Indonesia.

Postingan saya  yang berisi keluhan-keluhan-keluhan terhadap siaran sepakbola Indonesia ini menjadi artikel yang paling banyak mendapat kunjungan dari mesin pencarian dalam sebulan terakhir.

 

siaranliga1
Istilah pencarian menuju blog ini dalam sebulan terakhir

 

Terlepas dari banyak kekurangan yang menyertainya, saya tak akan pernah bosan untuk menonton Liga Indonesia.

Bagi saya Liga 1 adalah liga paling ketat di dunia. Buktinya, tim-tim besar masih sering kalah saat bertandang ke markas tim-tim kecil.

 

Premier League is so overrated.

 

Lainnya:

3 Hal yang Membuat Saya Kurang Nyaman Menonton Siaran Sepakbola Indonesia

7 Alasan Kenapa Tayangan Sepakbola Indonesia Buruk

Fakta Tentang Siaran Liga Indonesia

 

3 Hal yang Membuat Saya Kurang Nyaman Menonton Siaran Sepakbola Indonesia

1476617646_1470814799_spor-ekrani
source: here

Sepakbola Indonesia sedang bangkit, saya meyakini itu. Selepas sanksi FIFA, PSSI sudah mulai berbenah. Dimulai dengan penerapan beberapa aturan baru yang cukup revolusioner sampai dengan perubahan brand Liga Super, Divisi Utama, dan Liga Nusantara menjadi Liga 1, Liga 2, dan Liga 3.

Semua itu memang belum menyelesaikan semua masalah sepakbola negeri ini yang sudah sangat ruwet. Tetapi setidaknya langkah awal PSSI sudah cukup tepat terutama mengingat di era modern saat ini, sepakbola bukan hanya soal 11 lawan 11 berduel selama 90 menit saja, tetapi juga tentang hiburan dan bisnis.

Jika berbicara tentang industri sepakbola, tentunya kita harus melihat kepada sistem yang diterapkan di liga-liga eropa, terutama Inggris yang sangat sukses menjadikan Premier League sebagai komoditas yang bernilai tinggi.

Keberhasilan Premier League tak lepas dari gencarnya pemasaran yang mereka lakukan. Hal itulah yang membuat fans klub-klub Inggris jumlahnya terus meningkat. Bahkan fans mereka di Asia jumlahnya jauh lebih banyak daripada fans asli mereka sendiri di Inggris.

Saya tentu tak punya ekspektasi kompetisi Liga Indonesia akan menjadi se-glamor Premier League. Tetapi setidaknya saya berharap orang-orang Indonesia sendiri suatu saat akan senang dan bangga menonton kompetisi dalam negeri. Karena selama ini Liga Indonesia lebih identik dengan hal-hal negatif seperti kerusuhan, dualisme kepengurusan, dll

Untuk itu hal pertama yang harus dibenahi menurut saya adalah siaran sepakbola, karena kualitas sebuah siaran sepakbola sangat berperan besar dalam meningkatkan minat para penonton.

Sayangnya saat ini kualitas tayangan Liga Indonesia bisa dibilang masih cukup buruk . Ada beberapa hal yang membuat para penonton merasa kurang nyaman dan cukup tertanggu.

1.Wasit

Profesi wasit sepakbola adalah salah satu profesi yang paling melelahkan secara fisik dan mental. Seorang wasit dituntut untuk selalu mengikuti pergerakan bola selama 90 menit pertandingan. Tak cuma itu, wasit harus senantiasa mengamati setiap kejadian yang ada di lapangan dan mengambil keputusan dengan cepat. Belum lagi ia juga harus menghadapi tekanan para pemain dan wasit sepanjang pertandingan.

Untuk melakukan semua itu wasit hanya dibantu oleh dua orang asistennya yang sebenarnya juga punya tugas lain yang tak kalah pentingnya, menentukan posisi offside.

Karena itulah saya masih bisa memaklumi jika wasit melakukan satu atau dua kesalahan dalam sebuah pertandingan, wajar karena wasit juga adalah manusia.

Tetapi di Indonesia, wasit sering melakukan kesalahan yang  sepele berulangkali. Hal inilah yang sering membuat saya geram.

Berikut adalah kesalahan-kesalahan yang sangat sering dilakukan oleh wasit-wasit Indonesia:

-Salah menentukan posisi offside. Seringnya asisten wasit kurang cermat dalam memperhatikan pergerakan pemain sehingga pemain yang sebenarnya onside dianggap offside.

-Tidak konsisten dalam memberikan kartu kuning.

-Tambahan waktu yang tidak sesuai.

2. Angle kamera & replay

Entah kenapa sebagian besar stasiun TV yang menayangkan Liga Indonesia memilih untuk mengambil gambar dengan sangat dekat. Hal ini membuat posisi setiap pemain menjadi kurang jelas.

Kebiasan buruk stasiun TV Indonesia lainnya adalah menayangkan replay tanpa memperhatikan situasi pertandingan. Akibatnya banyak momen penting luput dari pengamatan penonton karena operator siaran lebih memilih menampilkan kejadian-kejadian yang tak begitu penting.

3. Komentator

Saya tak terlalu mempermasalahkan kegemaran komentator-komentator Indonesia yang suka berteriak-teriak berlebihan saat memandu jalannya pertandingan. Sayangnya kehebohan itu tak selalu disertai dengan pengetahuan sepakbola yang bagus.

Bagaimana mungkin seorang komentator bola tidak tahu menahu tentang aturan-aturan terbaru FIFA.

Seorang komentator bola harusnya adalah orang yang paling memahami peraturan-peraturan tersebut.

Sudah ngomongnya teriak-teriak, yang diomongin salah pula.

….

Terlepas dari tiga hal yang saya tulis di atas, siaran sepakbola Indonesia sebenarnya sudah cukup berkembang selama beberapa tahun terakhir.

Tetapi akan jauh lebih baik lagi kalauPSSI dan pihak stasiun TV pemegang hak siar liga Indonesia memperbaiki kekurangan-kekurangan di atas. Karena sejujurnya semua hal yang saya tulis di atas relatif mudah untuk diperbaiki. Saya sangat yakin banyak orang yang berkarir di stasiun TV yang suka menonton siaran sepakbola liga-liga eropa. Tinggal dibutuhkan kesadaran dan niat untuk meningkatkan kualitas siaran sepakbola dalam negeri.

Harapan saya di masa depan tak ada lagi ocehan-ocehan yang berbunyi, “Males ah nontonin Liga Indonesia, mainnya gitu-gitu mulu, komentatornya norak lagi.”

Baca juga:

Go-Jek Traveloka Liga 1, Kompetisi Baru Rasa Lama

7 Alasan Kenapa Tayangan Sepakbola Indonesia Buruk

Fakta Tentang Siaran Liga Indonesia