Kegagalan di SEA Games dan Masa Depan Timnas U-23

timnas u 23
gambar : twitter @pssi_fai

Timnas Indonesia kembali gagal meraih gelar di pentas internasional.

Kali ini giliran tim u 23 yang harus puas membawa pulang medali perunggu dari ajang SEA Games 2017.

Meski sebenarnya tim ini tampil cukup baik namun kegagalan tetaplah kegagalan.

Continue reading Kegagalan di SEA Games dan Masa Depan Timnas U-23

Luis Milla Out ?

luis milla mengecewakan

“Melawan Malaysia kami akan melakukan permainan terbaik, karena kami sudah berlatih keras. Saya yakin dengan kemampuan semua pemain.”

Begitulah kata-kata yang terlontar dari mulut Luis Milla, pelatih timnas u 23 Indonesia sebelum laga pertama babak kualifikasi Piala Asia u 23 melawan Malaysia di National Stadium Bangkok sore tadi.

Sembilan puluh menit lebih saya dan seluruh pendukung timnas menanti janji pelatih asal Spanyol itu, tetapi permainan terbaik timnas tak pernah muncul.

Sebaliknya, anak-anak asuhan Milla malah menyuguhkan 30 menit pertama terburuk sepanjang saya menonton timnas. Continue reading Luis Milla Out ?

Momen-Momen tak Terlupakan Timnas di AFF Suzuki Cup 2016

077811400_1481991269-_20161217vyt_abduh_01
Abduh Lestaluhu/ Bola.com

Lupakan kegagalan timnas menciptakan keajaiban di final leg kedua AFF Suzuki Cup kemarin. Sesungguhnya timnas telah menghibur kita semua sepanjang turnamen.

Kisah mereka kali ini memang sangat menarik dan  penuh dengan drama.

Berikut adalah momen-momen tak terlupakan timnas sepanjang pagelaran AFF Suzuki Cup 2016, versi saya tentunya.

 

  • Selebrasi Manequin Challenge

Di partai pembuka melawan Thailand timnas mampu bangkit meski tertinggal 2-0 di babak pertama. Boaz Solossa mencetak gol pertama timnas lalu beberapa menit kemudian Lerby Eliandri mencetak gol penyeimbang melalui sundulannya. Uniknya, para pemain timnas merayakan gol tersebut dengan berpose mematung bersama-sama atau yang populer dengan sebutan Manequin Challenge.

 

  • Gol Lilipaly ke Gawang Singapura

Melawan Singapura yang merupakan partai penentuan kelolosan ke semifinal, Indonesia kesulitan mencetak gol di babak pertama. Bahkan mereka kebobolan lewat tendangan akrobatik Chairul Amri.

Namun di babak kedua timnas bangkit dan mampu membalikkan kedudukan menjadi 2-1. Gol kemenangan yang dicetak Stefano Lilipaly mungkin tak akan pernah bisa saya lupakan. Gol di menit-menit terakhir itulah yang meloloskan timnas ke semifinal.

 

  • Gol “Ajaib” Lilipaly di Hanoi

Menghadapi tuan rumah Vietnam, timnas tertekan sepanjang pertandingan. Namun secara mengejutkan mereka berhasil mencuri gol lebih dulu. Proses gol ini  sangat unik. Boaz Solossa yang menyisir sisi kiri pertahanan tuan rumah melepaskan umpan lambung yang sebenarnya pelan dan tidak akurat. Tetapi bola tersebut justru salah diantisipasi oleh salah seorang bek Vietnam sehingga membuat Lilipaly dengan mudah memasukkan bola.

 

  • Penalti Manahati

Masih di Hanoi, para suporter timnas sempat dibuat geregetan karena meski sempat unggul 1-0 dan unggul jumlah pemain timnas malah kebobolan 2 gol di menit-menit akhir. Di babak tambahan waktu akhirnya Indonesia mampu memastikan keunggulan lewat eksekusi penalti Manahati Lestusen ke gawang Vietnam yang dijaga oleh penjaga gawang “jadi-jadian”(bek Vietnam).

 

  • Sundulan Hansamu Yama Bobol Gawang Kawin

Lagi-lagi timnas mampu menang meski tertinggal lebih dulu. Kali ini korbannya adalah juara bertahan Thailand. Setelah satu jam lebih tanpa perlawanan, Rizky Pora mencetak gol penyama lewat tembakan jarak jauh. Lima menit kemudian Hansamu melepaskan sundulan mematikan hasil umpan Pora yang membuat kiper Thailand, Kawin Thamsatchanan melongo.

 

  • Penyelamatan Gemilang Kurnia Meiga

Laga leg kedua final di Bangkok memasuki menit-menit akhir. Indonesia sudah tertinggal 0-2 dari Thailand saat sebuah serangan balik cepat tuan rumah berujung dengan pelanggaran Meiga di kotak terlarang. Teerasil Dangda berpeluang menyempurnakan kemenangan timnya lewat titik putih. Tetapi Meiga secara gemilang menggagalkan tembakan sang kapten Thailand dengan menggunakan kakinya. Sayangnya penyelamatan itu tak mampu membuat timnas juara.

 

  • Aksi “Greget” Abduh Lestaluhu

Memasuki menit-menit akhir timnas yang membutuhkan gol terus menggempur pertahanan Thailand. Di detik-detik terakhir timnas mendapatkan lemparan ke dalam yang cukup dekat dengan kotak penalti lawan. Abduh Lestaluhu yang akan melakukan lemparan  dibuat kesal karena para pemain cadangan Thailand menahan bola untuk mengulur waktu.

Saat bola itu akhirnya diberikan, Abduh nekat menendang bola tersebut keras-keras ke arah bangku cadangan Thailand. Sontak situasi menjadi memanas dan iapun mendapatkan kartu merah dari wasit. Saat keluar dari lapangan Abduh tertangkap kamera mengacungkan kedua jari tengahnya.

Aksinya itu banyak dipuji para pendukung timnas. Banyak yang mendukung tindakannya dan memuji keberaniannya meski perbuatannya tetap tidak bisa dibenarkan.

 

Saya  merangkum ketujuh momen tersebut dalam video berikut ini:

 

 

Keajaiban itu (Masih) Enggan Singgah ke Indonesia

cz4o2m5wiaaog7l
foto : twitter @panditfootball

Alkisah di sebuah kawasan di sebelah tenggara Asia, tempat dimana negara-negara berkembang berada, sedang  diadakan turnamen sepakbola.

Turnamen itu sebenarnya tidak penting-penting amat namun sangat prestisius bagi sebelas negara yang ada di kawasan ini.

Satu di antara kesebelas negara tersebut adalah sebuah negara yang paling luas dan paling penduduknya . Negara itu juga adalah negara dengan fanatisme  sepakbola yang sangat tinggi.

Sayangnya beberapa waktu lalu tim nasional sepakbola negara itu mendapatkan sanksi larangan bertanding di ajang internasional dari FIFA. Selama setahun terakhir, tim yang berjersey merah-merah dengan sedikit corak hijau itu seolah tertidur.

Barulah bulan September lalu  tim tersebut kembali tampil  setelah FIFA mencabut sanksinya.

Negara itu harus bergerak cepat untuk membangun kembali timnas sepakbolanya. Dalam jarak hanya beberapa bulan, mereka akan mengikuti sebuah ajang sepakbola terpenting di kawasan mereka, turnamen yang belum pernah mereka menangkan.

Meski terbata-bata , tim tersebut akhirnya siap mengikuti turnamen internasional pertamanya setelah lepas dari sanksi FIFA.  Tetapi karena persiapan yang seadanya tim tersebut sama sekali tidak terlihat menakutkan. Mereka barangkali cuma dipandang sebelah mata oleh tiga tim kuat lain yang menjadi lawan mereka di babak grup.

Tim tersebut memang penuh dengan keterbatasan, dari mulai pilihan pemain yang hanya 2 pemain per klub, hingga cederanya salah satu pemain terbaik mereka  membuat kekuatan mereka semakin tidak diperhitungkan.

Para suporter pun tak terlalu berharap banyak, bagi mereka melihat tim nasional mereka bertanding setelah sekian lama saja sudah merupakan hadiah yang luar biasa.

Benar saja, di pertandingan pembuka, tim tersebut diluluhlantahkan oleh tim juara bertahan dengan skor 2-4.

Beberapa minggu kemudian turnamen itu memasuki babak final. Tak disangka, 2 tim yang bertanding di partai puncak adalah dua tim yang sama yang bermain di pertandingan pembuka.

Tim berjersey merah yang sama sekali tak diunggulkan itu ternyata mampu sampai di partai puncak, menantang kembali sang juara bertahan. Bahkan, tim yang compang-camping itu mampu merusak kesempurnaan sang juara bertahan dengan mengalahkan mereka 2-1 di laga pertama final.

Mereka cuma butuh hasil imbang saja di laga kedua untuk menjuarai turnamen tersebut untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.

Namun sang juara bertahan masih terlalu kuat buat mereka. Di pertandingan kedua final mereka dihajar dua gol tanpa balas dan akhirnya gagal merebut gelar juara.

 

Saya sengaja tak menggunakan kata “Indonesia” pada paragraf-paragraf di atas. Saya ingin memberikan gambaran prestasi Indonesia  di Piala AFF  2016 dari sudut pandang  lain.

Saya melihat di media sosial banyak orang meratapi kegagalan timnas menjuarai Piala AFF tahun ini. Beberapa di antara mereka menyalahkan para pemain, dan bahkan ada yang secara terang-terangan mencela.

Memang harus diakui, bahwa menerima kegagalan yang sudah terjadi berulang-ulang tidaklah mudah. Diego Simeone,  Pelatih Atletico Madrid  yang “hanya” dua kali  gagal menjuarai Liga Champions  saja  sangat-sangat kecewa, apalagi timnas Indonesia yang sudah lima kali gagal di final.

Tetapi sekali lagi , kita harus melihat kegagalan kali ini dari sudut pandang lain. Banyak hal yang patut disyukuri dan dibanggakan dari perjalanan timnas.

Mereka mampu  lolos dari grup neraka dengan kemenangan dramatis 2-1 atas Singapura di pertandingan terakhir grup. Saya tak pernah melihat timnas menang sedramatis itu sebelumnya.

Di dua laga semifinal  melawan Vietnam, jantung kita dibuat berdebar-debar tak karuan. Lagi-lagi secara dramatis  mereka berhasil menyingkirkan Vietnam dengan agregat 4-3.

Saat laga pertama final melawan Thailand, kita kembali disuguhi sebuah comeback yang luar biasa. Nyaris tak berkutik selama satu jam pertama pertandingan, secara ajaib Rizky Pora dan Hansamu Yama mencetak masing-masing sebiji gol dalam tempo lima menit  yang menyadarkan Thailand bahwa masih ada tim Asia Tenggara yang mampu mengalahkan mereka.

Sisa-sisa perjuangan para pemain timnas masih ada di laga kedua final. Kurnia Meiga melakukan penyelamatan spektakuler atas penalti Teerasil Dangda, meski itu tak cukup untuk menghentikan sang Kapten Thailand mengangkat Piala AFF di depan para pendukungnya.

Saya rasa semua pemain yang tergabung dalam skuad timnas di Piala AFF 2016 harus mendapatkan pujian yang pantas mereka dapatkan.

Sebelum AFF Cup siapa yang menyangka pemain seperti Rizky Pora mampu mengacak-acak pertahanan tim-tim kuat asia tenggara?  Adakah yang menyangka timnas mampu mengalahkan tiga tim tersukses ASEAN, Singapura, Vietnam, dan Thailand? Siapa orang gila  yang berani bilang kalau tim ini mampu menceploskan dua gol tiap pertandingan kecuali di partai terakhir?

Bagi saya perjuangan timnas sudah sangat maksimal. Tim ini jauh melewati ekspektasi. Tim ini memang tak selalu bermain gemilang tetapi tim ini selalu berusaha memberikan yang terbaik di setiap pertandingan. Tim ini adalah timnas paling menghibur yang pernah saya tonton .

Semangat, kegigihan, dan tekad yang luar biasa dari Boaz Solossa dkk adalah hal yang tak pernah saya jumpai sebelumnya.

 

Sedikit banyak kekecewaan kita mungkin  juga dipengaruhi dengan apa yang terjadi di dunia sepakbola sepanjang 2016.

Tahun ini adalah salah satu periode paling mengejutkan dalam sejarah sepakbola. Tim-tim yang awalnya tak terlalu diunggulkan mampu menjadi juara kompetisi-kompetisi besar.

Kisah Leicester City asuhan Claudio Ranieri yang mampu mengangkangi tim-tim besar nan kaya semacam Man. United, Man. City, Chelsea dan Arsenal dan merebut gelar juara Liga Premier Inggris adalah sebuah keajaiban.

Situasi serupa juga terjadi di ajang euro 2016. Ajang paling bergengsi antar negara-negara eropa tersebut menghasilkan juara baru, timnas Portugal. Sebuah kejutan besar terlebih karena perjalanan Cristiano Ronaldo dkk sejak awal tertatih-tatih dan beberapa kali nyaris tersingkir.

Kejadian-kejadian di atas adalah bukti bahwa masih ada keajaiban di sepakbola.

Kita orang Indonesia yang terkenal sangat mempercayai peristiwa-peristiwa ajaib itu pun mengait-ngaitkan kisah-kisah ajaib Leicester dan Portugal dengan timnas.

Kita mulai percaya bahwa tahun 2016 adalah saat bagi timnas mereka untuk meraih gelar juara. Apalagi timnas Indonesia memiliki banyak kesamaan dengan timnas Portugal. Dari mulai warna jersey merah, formasi 4-4-2, hingga kedua kapten kesebelasan yang sama-sama bernomor punggung 7.

Tetapi sekarang kita semua sudah tahu bahwa pada akhirnya timnas gagal menjadi juara. Mereka tak mampu menutup kisah luar biasa sepanjang turnamen dengan akhir yang bahagia. Kejutan demi kejutan yang mereka ciptakan dari awal turnamen harus terhenti di saat-saat terakhir.

Keajaiban yang terjadi di Leicester dan Paris tak terjadi di Bangkok.

Keajaiban itu (masih) enggan singgah ke Indonesia.

Barangkali ia masih belum yakin apakah kedatangannya akan membawa kebaikan bagi bangsa ini.

Mungkin kegagalan ini adalah caranya untuk mengingatkan kita bahwa masih banyak PR yang harus kita kerjakan.

Sekarang saatnya untuk kembali menengok ke kondisi persepakbolaan dalam negeri. Menata kembali hal-hal yang selama ini terbengkalai. Bekerja keras untuk kembali mencoba berprestasi di ajang selanjutnya.

Karena seperti yang  Bung Karno pernah bilang,

“Tuhan tidak merubah nasib suatu bangsa sebelum bangsa itu merubah nasibnya sendiri”

“Barangsiapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam.”

Terimakasih Indonesia, Terimakasih timnas!

Timnas Indonesia 2016: Drama Seri yang Penuh Kejutan

cxolgp2uaaaty6y
timnas Indonesia berfoto sebelum bertanding/ affsuzukicup.com

 

Marah, takut, senang, sedih.

 

Ada berbagai macam  jenis perasaan yang dimiliki oleh  manusia. Itulah yang membedakannya dengan makhluk lain.

Tak banyak momen dimana saya bisa merasakan nyaris semua perasaan tersebut secara bersamaan. Tetapi jika harus menyebutkan, saya akan bilang kalau menonton aksi timnas Indonesia di Piala AFF 2016 adalah salah satu momen itu.

Menyaksikan Boaz Solossa dkk bertanding rasanya seperti sedang menonton sebuah film thriller yang akhir ceritanya sulit ditebak dan penuh misteri.

Dan sembari  menebak-nebak akan berakhir seperti apakah ceritanya, kejutan-kejutan baru terus bermunculan hingga saya tak bisa berpaling barang sedetik pun.

…….

…….

Sabtu sore kemarin di stadion Pakansari Kabupaten Bogor timnas menjalani laga leg pertama semifinal AFF Suzuki Cup 2016 melawan Vietnam.

Stadion berkapasitas tiga puluh ribu penonton tersebut sebenarnya kurang memadai mengingat antusiasme para fans yang begitu luar biasa. Tiket yang dijual sejak beberapa hari sebelumnya dengan cepat ludes dan  meski penjualan tiket dilakukan secara online, para pembeli harus antri untuk bisa mengakses situs penjual. Kabarnya antrian tersebut ada yang sampai urutan ke sekian ribu.

Selanjutnya,setelah berhasil membeli tiket, para pembeli harus menukarkan bukti pembayaran dengan tiket asli di stadion Gelora Bung Karno yang berlokasi di Jakarta sehari sebelum pertandingan.

Sebuah proses yang bukan hanya melelahkan tetapi juga menguras waktu.

Maka akhirnya tiga puluh ribu orang yang mendapatkan kursi di stadion Pakansari sabtu lalu benar-benar merupakan tiga puluh ribu pejuang yang  berniat mendukung timnas dengan sepenuh hati.

Tak heran  atmosfer pertandingan pun terasa luar biasa.

Sepanjang pertandingan mereka tak henti-hentinya bernyanyi, bersorak, meneriakkan yel-yel dan yang terpenting …..meneror mental tim tamu.

Para pemain timnas  seakan mengerti perjuangan para suporter. Sepanjang pertandingan 90 menit mereka tampil tanpa lelah, terus berlari mengejar bola dan meladeni permainan keras yang diperagakan tim tamu. Hasilnya, Vietnam yang di 3 pertandingan sebelumnya selalu meraih kemenangan menyerah dengan skor 1-2.

Meski skor tersebut bukanlah keunggulan yang sepenuhnya aman karena laga kedua akan digelar di markas lawan, tak ada yang kecewa dengan pertunjukan malam itu. Tiga puluh ribu pasang mata di stadion dan jutaan lainnya yang meyaksikan lewat layar kaca larut dalam kegembiraan, tak terkecuali  Presiden Jokowi yang tak mampu menyembunyikan ekspresi tegangnya selama pertandingan.

 

cyykpjluoaargip
Stefano Lilypaly merayakan gol kedua timnas yang dicetak Boaz Solossa/ PSSI

 

cywm9niuaaamf-c
Presiden Jokowi memberi selamat kepada kapten tim Boaz Solossa seusai pertandingan/ twitter: @jokowi

 

Apa yang diperlihatkan timnas di ajang AFF kali ini memang patut dipuji. Mereka berhasil menciptakan kejutan. Sebelum turnamen dimulai tak ada seorangpun yang memprediksi kalau mereka bisa melaju sejauh ini. Alasannya, tim ini bukanlah tim terbaik yang dimiliki Indonesia. Pembatasan kuota 2 pemain tiap klub menurut pelatih Riedl mengurangi kekuatan timnas 20 sampai 30 persen. Ditambah lagi salah satu pemain terpenting dalam skuad, Irfan Bachdim harus absen karena mengalami cedera beberapa hari sebelum turnamen dimulai.

Tetapi akhirnya timnas berhasil lolos ke babak semifinal meski hanya berbekal empat poin hasil dari kemenangan atas Singapura dan imbang melawan Filipina.

Perbedaan besar yang terlihat jelas dari penampilan timnas saat ini adalah mental bertanding. Tim ini selalu memberikan semua yang mereka miliki di setiap penampilan. Tim ini tak peduli siapapun lawan. Mereka cuma tahu kalau tujuan utama bermain sepakbola adalah mencetak gol sebanyak-banyaknya dan hanya ada satu cara untuk mencapainya, serang…serang…serang!

Statistik cukup menggambarkan hal-hal yang saya sebutkan tadi. Dari 4 pertandingan, timnas total telah mencetak 8 gol dan kebobolan dengan jumlah yang sama. Mereka mencetak masing-masing 2 gol ke gawang lawan-lawan yang mereka temui. Padahal di kawasan  Asia Tenggara, empat tim yang sudah dihadapi timnas bukanlah tim sembarangan.

Kegemilangan timnas kali ini seolah mengingatkan kita dengan timnas 2010 meski ada perbedaan besar antara 2 tim tersebut.

Timnas di piala AFF 2010 bermain lebih tenang dan hati-hati  ibarat anak baik-baik yang takut membuat kesalahan. Sedangkan timnas kali  ini lebih seperti anak nakal yang banyak tingkah.

Kita tahu bahwa perjalanan timnas 2010 berakhir antiklimaks. Tim yang nyaris tanpa cela itu malah “berulah” di saat-saat terakhir. Alhasil tim yang sempurna itu cuma menjadi pecundang pada akhirnya.

 

……

Sabtu malam kemarin timnas membuka skor lewat sudulan Hansamu Yama, pemain yang sempat dibenci sesaat sebelum turnamen karena ia adalah orang yang bertanggung jawab atas cederanya Irfan Bachdim. Dalam rentang waktu satu bulan ia berubah dari seorang penjahat menjadi pahlawan.

Kisah terus berlanjut. Menjelang akhir pertandingan Vietnam nyaris mencetak gol penyama. Tetapi secara ajaib Kurnia Meiga membuat penyelamatan gemilang yang memastikan kemenangan timnas.

Saat wasit menutup pertandingan Meiga tertangkap menunjukkan gesture yang seperti membungkam para pengkritiknya. Ya, Ia adalah salah satu pemain yang banyak dikritik akibat 8 gol yang sudah bersarang ke gawang timnas. Ia dianggap tak pantas berdiri di bawah mistar gawang , menanggung harapan lebih dari 200 juta rakyat Indonesia.

Kalau ini adalah sebuah drama seri, episode kemarin malam layak diberi judul  From Zero to Hero dengan  Hansamu dan Meiga sebagai protagonisnya.

Mereka menyusul karakter-karakter heroik lainnya seperti Rizky Pora, Boaz Solossa, Andik Vermansah, dan Stefano Lilipaly yang sudah lebih dulu menjadi bintang di episode-episode sebelumnya.

Episode berikutnya sudah menanti di Hanoi Rabu nanti. Apakah kisah timnas akan berakhir di Hanoi, atau masih menyisakan 2 episode laga final,kita tak pernah tahu. Sebuah drama cuma punya dua pilihan ending, tragis atau manis.

Satu hal yang pasti, sepakbola selalu menciptakan keajaiban-keajaiban dan cerita-cerita menarik, tak hanya di dalam lapangan tetapi juga di luar lapangan.

Dan jangan dilupakan, sepakbola adalah alat pemersatu bangsa yang sangat ampuh.

Suasana “nonton bareng” di sebuah ATM. Orang-orang berteduh sambil menonton pertandingan lewat smartphone.