13 Reasons Why, Mengungkap Misteri di Balik Kematian Seorang Gadis SMA

mv5bytfmnzrlnwytmmfmni00ztfilwjhodgtogm5odq5ntgxzwuwl2ltywdlxkeyxkfqcgdeqxvymtexndq2mti-_v1_sy1000_cr006741000_al_
13 Reasons Why/IMDb

Seorang gadis SMA ditemukan sudah tak bernyawa di kamar mandi rumahnya. Kedua pergelangan nadinya robek, gadis itu bunuh diri.

Tak ada yang tahu pasti penyebab gadis itu nekat menghabisi nyawanya sendiri. Tak juga polisi, guru-guru, maupun kedua orangtuanya.

Akan tetapi gadis itu meninggalkan 13 buah rekaman suara yang tersimpan dalam 7 buah kaset pita. Kaset rekaman yang berisi alasan kenapa ia bunuh diri itu hanya diberikan kepada orang-orang yang bertanggung jawab akan kematiannya.

Itulah inti dari 13 reasons Why.  sebuah serial web produksi Netflix yang dirilis awal April lalu.

Serial ini cukup banyak menarik perhatian pengguna media sosial dan mendapatkan rating 9.0 di situs IMDb!

Saya sendiri pertama kali mengetahui serial ini dari sebuah  podcast yang saya dengarkan.

Tak butuh lama  untuk menyelesaikan seluruh episode 13 Reasons Why. Mungkin cuma sekitar 5 hari saja karena saya melahap dua sampai tiga episode berdurasi sejam setiap harinya.

Sinopsis

Sekilas, sekolah itu tampak seperti SMA-SMA lainnya. Kalau ada satu hal yang cukup unik dari sekolah itu adalah murid-muridnya yang sangat beragam.

Ada yang berkulit putih, ada yang berkulit hitam, ada yang berwajah latin, ada yang berwajah asia, ada yang normal, ada yang gay, ada yang lesbian, ada yang tattoan tapi nggak pakai narkoba,dll.

Selebihnya, itu adalah SMA biasa, tempat dimana semua orang ingin eksis dan populer.

Ada anak-anak yang menjadi populer karena  tergabung dalam tim basket sekolah.  Ada yang karena aktif dalam organisasi sekolah. Namun ada juga anak-anak yang hanya fokus belajar dan tak begitu populer di sekolah. Biasanya, anak-anak seperti ini jumlahnya sangat sedikit.

Clay Jensen, bisa dibilang adalah salah satu dari anak tersebut. Dia tak terlalu populer di sekolah meskipun sebenarnya dia tergolong pintar dan punya wajah yang lumayan ganteng, kombinasi antara Herjunot Ali dan Ander Herrera.

mv5bmtk2nte4ndi0m15bml5banbnxkftztgwnjazntqwmji-_v1_sx1500_cr001500999_al_
Clay Jensen dan Hannah Baker di 13 Reason Why/ IMDb

Clay adalah salah satu orang yang paling terpukul atas kematian Hannah Baker, si cewek yang nekat bunuh diri itu. Clay memendam rasa yang tak sempat ia ungkapkan kepada gadis itu.

Clay juga adalah salah satu orang yang mendapatkan kaset-kaset rekaman suara Hannah, yang artinya, ia juga punya andil atas kematiannya!

Clay pun berusaha menguak misteri yang menyelimuti kematian Hannah. Sambil mendengarkan kaset rekaman tersebut, ia menelusuri tempat-tempat dimana Hannah mengalami berbagai peristiwa tak mengenakkan.

Satu per satu misteri pun terkuak. Tiap rekaman berisi satu nama beserta perbuatan-perbuatan buruk yang telah mereka lakukan kepada Hannah.

Review

Dari segi cerita, 13 reasons why menurut saya sangat menarik. Ide cerita yang sudah menarik itu dieksekusi ke dalam 13 episode yang selalu berhasil menciptakan ketegangan yang intens.

Hal ini membuat saya selalu merasa “lelah batin” setiap kali menyelesaikan sebuah episodenya.

Katherine Langford yang memerankan Hannah mampu membuat saya bergidik setiap kali mendengar suaranya yang khas. Sosoknya yang cantik dan bermata sayu pun semakin membuat saya terus berempati kepada Hannah.

Pemeran Clay Jensen, Dylan Minette pun berhasil membuat saya merasakan betapa frustrasinya seorang cowok yang kehilangan gadis yang dicintainya dan terlebih dirinya merupakan salah satu penyebab gadis itu bunuh diri.

Satu hal yang paling saya suka dari serial ini adalah editing-nya yang  sangat bagus.

Serial ini seringkali menampilkan gambar dari sebuah kejadian di masa lalu, lalu tiba-tiba beralih ke masa kini. Kadang juga keduanya digabung sehingga menambah kesan dramatis.

Selain itu, saya juga suka lagu-lagu soundtrack serial ini. Lagu-lagu bagus yang selalu diputar di akhir episode ini seolah-olah menjadi penawar kesedihan dan depresi tiap kali selesai menonton sebuah episode.

Kesimpulan

Meski serial ini sangat bagus dan menarik, sebaiknya jangan ditonton saat kondisi hati sedang tak enak.

Pada episode-episode awal mungkin serial ini cukup nyaman untuk ditonton. Tetapi makin lama anda akan tertular rasa depresi dan kesedihan yang diceritakan di serial ini. Terutama di tiga episode akhir yang menurut saya cukup mengerikan.

Serial ini bisa saja memicu penonton yang pikirannya tak jernih untuk meniru apa yang dilakukan Hannah Baker, membalas dendam dengan cara bunuh diri.

Akan tetapi saya juga mendapat beberapa pelajaran yang bisa didapat dari 13 reasons why ,

  • Jika pernah kepikiran untuk bunuh diri, ingatlah orangtua, bayangkan perasaan mereka. Serial ini menggambarkan kepedihan orangtua yang anaknya bunuh diri.
  • Perhatikan orang-orang terdekat. Jika mereka terlihat sedang punya masalah, tawarkan bantuan. Jangan diam saja, jika tak mau menyesal kemudian.
  • Kalau pernah menyakiti perasaan orang lain segera minta maaf, siapa tahu dia merupakan tipe orang yang tidak mudah melupakan sesuatu.
  • Selalu berpikir positif. Setiap masalah pasti ada solusinya dan jangan pernah merasa seorang diri. Meski sedikit, percayalah selalu ada orang yang peduli kepada kita.

Silahkan tonton serial ini, tetapi jangan lupa siapkan hati dan pikiran sebelum menontonnya.

 

Baca juga: Review 13 Reasons Why Part 2: Novel, Karakter, dan Soundtrack

Review Black Mirror: Seburuk Itukah Masa Depan Manusia?

mv5bmtk5ntk1mzg3ml5bml5banbnxkftztcwndaynzy3oa-_v1-_cr25310101343_sy1000_cr007521000_al_
foto: IMDb

 

Harus diakui perkembangan teknologi sangat merubah kehidupan kita dalam beberapa tahun terakhir. Teknologi memudahkan manusia dalam banyak hal seperti berbelanja, berkomunikasi, sampai memesan tiket transportasi.

Tetapi di samping itu banyak juga dampak negatif dari semakin majunya teknologi. Salah satu yang paling kentara adalah saat ini orang-orang lebih sering bercakap-cakap lewat smartphone daripada bertatap muka langsung. Di setiap kerumunan orang entah itu di dalam kereta, di halte bis, dan tempat-tempat umum lainnya lazim kita temui orang-orang lebih sibuk menatap layar gadget mereka tanpa acuh dengan kondisi sekitar.

Sekarang juga sudah sulit menemukan anak-anak kecil yang bermain permainan tradisonal di depan halaman rumah atau di lapangan. Mereka lebih suka menghabiskan waktu bermain game di warnet, menyewa konsol Play Station atau mengutak-atik gadget.

Lantas bagaimana jadinya kalau di masa depan teknologi sudah sangat jauh berkembang? Akankah kehidupan kita juga akan berubah lebih ekstrem lagi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat ditemukan jawabannya dalam serial TV Black Mirror.

Serial TV yang awalnya diproduksi di Britania Raya (mulai season 3 diambil alih oleh Netflix)  tersebut benar-benar menggambarkan bagaimana kecanggihan teknologi akan mengubah seluruh cara hidup manusia.

Kemarin malam saya baru selesai menonton episode pertama season ketiga Black Mirror. Episode ini membahas tentang kehidupan manusia di masa depan dimana saat itu status sosial setiap orang dapat diukur dengan angka.

Kalian tentu familiar dengan sistem rating di Play Store bukan?

Nah, konsepnya persis seperti itu. Setiap kali berinteraksi dengan orang lain kita bisa memberikan rating pada orang tersebut, dan sebaliknya.

Kalau orang itu bersikap baik kepada kita, kita bisa memberinya empat atau lima bintang melalui gadget kita. Jika kita tidak suka orang itu, kita bisa berikan satu atau dua bintang.

Seperti halnya konsep rating di aplikasi, semua rating yang kita dapat akan dihitung rata-ratanya yang hasilnya adalah overall rating kita.

Overall rating setiap orang bisa dilihat dengan mata telanjang karena di dalam mata setiap orang telah dipasangi teknologi untuk melihatnya .

 

lacie-happy-to-see-her-latest-post-was-well-received-netflix
javierlopezmenacho.com

 

black-mirror
oxgadgets.com

Jadilah setiap bertemu seseorang, orang asing sekalipun kita langsung tahu gambaran orang tersebut melalui overall ratingnya. Semakin tinggi overal rating seseorang, semakin baik dan terhormatlah orang itu sebaliknya semakin rendah overall ratingnya semakin mencurigakanlah orang tersebut.

Pada awalnya memang sistem ini tampaknya membuat kehidupan menjadi lebih baik. Semua orang berlomba-lomba bersikap baik dan ramah kepada orang lain agar mendapatkan overall rating yang lebih tinggi.

Namun lama kelamaan orang-orang menjadi terobsesi dengan rating mereka. Segala macam hal mereka lakukan demi mendapatkan lima bintang dari setiap orang yang mereka temui.

Konsep rating ini ternyata juga mempunyai aturan mainnya tersendiri. Misalnya, rating dari orang yang overall ratingnya lebih tinggi akan lebih bernilai daripada rating dari orang-orang yang overal ratingnya rendah.

Orang-orang yang memiliki overal rating tinggi juga mendapat banyak keistimewaan seperti boleh menerobos antrian, mendapatkan diskon tinggi saat belanja, dll.

Bahkan beberapa tempat termasuk rumah sakit tidak mau menerima orang yang memiliki rating di bawah batas minimum yang mereka terapkan.

Aturan itu tentu saja menciptakan kasta tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat. Orang-orang dengan overall ratting 4 misalnya mungkin masih mau bergaul dengan overall rating 3, namun tidak dengan yang di bawahnya. Sementara satu-satunya cara agar orang dengan rating 2 ke bawah untuk meningkatkan ratingnya adalah dengan mendapatkan rating dari orang-orang di atasnya.

Kalau dipikir-pikir kondisi itu sebenarnya tak jauh beda dengan sekarang bukan? Kebanyakan orang dengan status sosial yang lebih tinggi enggan berhubungan dengan mereka yang status sosialnya lebih rendah.

 

Di episode ini diceritakan kisah seorang gadis yang tadinya bersikap ramah pada setiap orang tak peduli  berapapun ratingnya. Karena itulah ia punya rating yang cukup tinggi, 4.2. Tetapi semuanya berubah saat ia berencana membeli sebuah rumah yang sangat diimpikiannya. Rumah impiannya tersebut sangat mahal dan ia tak punya cukup uang untuk membelinya. Satu-satunya caranya mendapatkan rumah tersebut adalah meningkatkan ratingnya menjadi 4.5 agar ia mendapatkan diskon 20%.

Obsesi meningkatkan rating itulah yang membuatnya menjadi pribadi yang munafik. Ia tak segan segan menjilat orang-orang yang ratingnya lebih tinggi. Ia berusaha menyenangkan para pemilik rating tinggi dan kehilangan jati dirinya sendiri.

Ada satu adegan yang paling saya ingat yakni saat gadis itu marah-marah karena penerbangannya dibatalkan. Ulahnya itu mengakibatkan ratingnya diturunkan menjadi 3 oleh polisi.

Untungnya ia mendapat tumpangan dari seorang nenek-nenek yang overall ratingnya…..1.

Nenek itu bertanya mengapa ia terlihat begitu kecewa. Sang gadis menceritakan tentang ratingnya yang dipotong karena marah-marah kepada petugas bandara.

Si nenek bertanya lagi, “Apa yang kau rasakan saat marah tadi?”

Gadis itu tampak bingung menjawab pertanyaan itu. Sudah terlalu lama ia berpura-pura baik  kepada semua orang. Ia melupakan emosinya, obsesi terhadap rating telah membuatnya kehilangan sisi kemanusiaannya.

Tentu saja cerita gadis itu tak berakhir bahagia, lebih baik kalian tonton sendiri agar lebih puas.

 

Saya yakin serial ini tak akan mengecewakan siapapun yang menontonnya. Ide cerita yang brilian dan dieksekusi dengan bagus membuat siapapun akan terkagum-kagum saat menonton Black Mirror. Penampilan para aktornya pun sangat brilian dan efek komputer yang digunakan juga sangat pas, tidak lebih maupun kurang.

Black Mirror saat ini total sudah memiliki 12 episode yang terdiri dari 3 episode di season 1, 3 episode di episode 2, dan 6 episode di season 3. Setiap episode-nya berdurasi rata-rata  50 sampai 60 menit.

Sejauh ini saya telah menonton tujuh episode Black Mirror dan  setiap selesai menonton , pikiran saya selalu dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan,

 

“Apakah benar ini gambaran masa depan kehidupan manusia? Seburuk itukah?”

 

“Mungkin saja, bukankah limabelas tahun yang lalu kau tak pernah menyangka kalau sekarang ini hal yang pertama kali kau lakukan saat bangun dan tidur adalah mengecek gadget?”,

sahut sebuah suara dari bagian pikiran saya yang lain.

 

 

Review The Flash Season 3 Episode 1

Salah satu serial yang ditunggu banyak orang ini akhirnya kembali hadir. Memasuki season ke 3 kisah Barry Allen, sang manusia tercepat menjadi semakin rumit. Di akhir season 2  Barry memutuskan untuk berlari ke masa lalu dan mencegah musuh utamanya , Reverse Flash membunuh ibunya. Penonton dibuat bertanya-tanya perubahan apa yang terjadi di kehidupan Barry.

Episode pertama season 3 menjawab pertanyaan itu.

mv5bmty3ntgwnta4nf5bml5banbnxkftztgwmdq0mduxmdi-_v1_

Menyambung dari ending season 2, setelah menyelamatkan Ibunya, Barry kembali ke masa depan dan membawa reverse flash bersamanya. Pada awalnya semuanya tampak berjalan normal. Barry punya keluarga yang bahagia dengan kedua orangtuanya masih sehat walafiat, ia bekerja di kepolisian, dan bahkan meski awalnya tak  saling mengenal, Iris menerima ajakan kencannya.

Kemampuannya  juga tidak hilang. Ia masih merupakan manusia tercepat di dunia, hanya saja Central City kini punya pahlawan baru yang tak lain adalah adik tirinya di kehidupan yang lalu , Wally West yang dijuluki Kid Flash.

Tetapi lama-kelamaan masalah mulai bermunculan. Setiap kali Barry mengingat sesuatu dari kehidupan lamanya, ingatan itu akan hilang. Reverse Flash memperingatkan Barry soal ini, bencana yang terjadi apabila timeline tidak dikembalikan seperti semula, semua ingatan dan orang-orang dari masa lalunya akan lenyap dan mereka akan terjebak di timeline ini.

Barry awalnya tak terlalu mempedulikan perkataan musuhnya itu. Ia berusaha keras untuk mengumpulkan kembali teman-teman lamanya untuk membantu Kid Flash mengalahkan penjahat yang menyebut dirinya The Rival. Iapun berhasil mempertemukan Cisco yang ternyata adalah seorang konglomerat dan Caitlin yang menjadi seorang dokter.

Meski akhirnya berhasil mengalahkan Rival, Barry merasa sangat bersalah karena akibat pertarungan itu Wally terluka parah dan nyaris tewas. Ia juga hampir kehilangan kemampuannya karena ingatannya tentang The Flash berangsur-angsur menghilang.

Ia sadar bahwa Reverse Flash benar, dengan berat hati akhirnya Barry memutuskan untuk mengembalikan timeline yang telah diubahnya dengan cara membiarkan Reverse Flash untuk… membunuh ibunya kembali.

Namun tampaknya segalanya tak berjalan sesuai rencana. Barry kembali ke kehidupan lamanya, bertemu Wally yang masih sehat dan Joe, ayah angkatnya. Namun ia menyadari ada satu keganjilan. Ada yang salah dengan timeline ini.

Ending episode ini benar- benar membuat para penontonnya penasaran.

Seperti biasanya, episode pembuka The Flash di tiap season selalu menarik untuk disaksikan termasuk yang satu ini. Episode ini  terasa sedikit melegakan karena terkesan lebih cerah dan ceria dibandingkan dengan episode-episode akhir season 2 yang penuh nuansa muram dan sedih. Ada lebih banyak adegan-adegan dan percakapan lucu.

Akan tetapi tak ada jaminan kalau episode berikutnya akan menjadi lebih menyenangkan mengingat ending episode ini sepertinya mengarah ke sebuah tragedi.

Sesuatu yang mengejutkan sedang menanti The Flash.