Teh Manis Anget

image

“Minumnya apa mas?”, tanya si pemilik warung, seorang Ibu berusia 60 tahunan.

“Teh manis anget, bu! “, jawabku tanpa ragu.

Waktu itu aku sedang duduk di sebuah warung bakso di Cibitung, Bekasi. Cuaca amat terik dan keringatku sudah mengucur bahkan sebelum aku meminum teh itu. Tapi aku tak peduli. Kuminum teh itu dengan sepenuh hati dan minuman itu membawaku kembali ke kampung halamanku. Ratusan kilometer dari Bekasi, di lereng gunung Merbabu, di sebuah desa paling  ujung di Kabupaten Magelang, Desa Ngablak.

Di sinilah kebiasaan minum tehku terbentuk.
Ngablak berada di ketinggian lebih dari 1000 mdpl. Suhu udara normal di desa ini rata rata mencapai 20 derajat-an.
Dengan suhu segitu, hanya orang-orang pemberani yang mandi pagi dengan air dingin. Begitu banyak orang-orang pemberani di sini , sayangnya aku tidak termasuk di antaranya.

Suhu yang dingin memaksa kami untuk minum minuman minuman yang hangat. Setahuku hampir tak ada warga desa kami yang benar-benar menjalankan anjuran dokter mengenai minum minimal 8 gelas air putih per hari.
Ada beberapa gelintir memang yang rutin minum air putih hangat setiap hari, namun saya berani taruhan kuota internet 1gb kalau air yg mereka minum kurang dari 8 gelas per hari.

Satu satunya minuman primadona di sini adalah teh.
Kalau ada tamu berkunjung ke rumah, tanpa bertanya kami akan menyajikan teh. Teh manis tentu saja. Menyajikan teh pahit atau bahkan air putih terasa tidak sopan, kecuali sang tamu sendiri yg meminta.
Di warung warung, tidak sulit mencari teh manis. Hampir semua warung yang menjual makanan matang, pasti menyediakan teh manis.
Aku sendiri, dalam sehari bisa menghabiskan tiga gelas teh bahkan lebih. Itu kalau kami punya persediaan gula pasir di rumah. Kalau tidak, frekuensinya bisa jauh turun menjadi sepertiganya alias cuma satu kali. Alasannya? Menurut lidahku, kenikmatan teh berkurang 50 persen jika rasanya pahit. Hidungku, sementara itu tidak sependapat. Baginya yang membuat teh nikmat adalah aromanya, jadi tanpa gulapun teh tetap nikmat. Sementara perut dan kerongkonganku sepakat dengan hidung walaupun mereka tak terlalu peduli dengan aroma. “kehangatan jauh lebih penting!”, kata mereka.

Kurasa aku sudah rutin minum teh sejak usia balita. Samar samar aku ingat pernah meminum botol susu (yang ujungnya dot) berisi teh manis.
Belakangan di pasar aku melihat bayi yang sedang meminum cairan berwarna coklat bening kemerahan.  Aku jadi yakin kalau aku pernah mengalami hal serupa.

Berbeda dengan di kampungku, di sini, dan mungkin di semua wilayah di bagian barat jawa tidak ada budaya minum teh manis.
Aku ingat suatu hari aku memesan teh di sebuah warung di Jakarta, aku disuguhi teh pahit. Memang itu gratis, tapi tentu saja lidahku protes.
Lebih keterlaluan lagi aku pernah memesan es teh dan si penjual dengan senyuman manis menyerahkan sebungkus es teh kepadaku yang saat kuteguk, langsung diprotes oleh lidah, kerongkongan sekaligus perutku. Ternyata cuma senyuman si penjual yang manis. Es teh itu rasanya pahit sepahit pahitnya.
Sejak saat itulah aku selalu memesan teh dengan mengucapkan tiga buah kata ini, “Teh manis anget”.

Tak terasa aku meneguk segelas besar tehku sampai habis tak bersisa. Keringatku mengucur semakin deras, tapi aku puas.
Dalam hati aku berharap, dimanapun aku berada aku bisa terus menikmati tehku, teh manis anget.

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

0 replies to Teh Manis Anget

  1. Hai mas Firman, salam kenal. Wah dari Magelang yaa ga sama dong dengan saya yang dari Malang. beda huruf “ge” doang sih ya hehe..

    sama sih waktu kali pertama merantau ke Jakarta, teh yang ada adalah teh tawar. Sedangkan kebiasan istilah “teh” di Malang adalah teh manis.

    Sekarang sih sudah mulai biasa bahkan suka sehabis makan meneguk segelas teh tawar anget.

    • Haha salam kenal mas. Podo wong Jowo-ne mas haha

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!