Tentang Penggunaan V.A.R di Sepakbola

penggunaan var di sepakbola
gambar/tribunews.com

Eduardo Vargas, pria Chile itu tampak tak bisa menahan kegembiraannya usai tendangannya membobol gawang timnas Kamerun. Ia  merayakan golnya dengan berlari ke sisi lapangan sambil membentuk tanda hati dengan kedua tangannya dan mengacungkannya kepada puluhan ribu suporter yang memadati Otkrytiye Arena Moscow, Russia.

Rekan-rekan setimnya tak mau ketinggalan. Mereka segera mengejar Eduardo dan beramai-ramai memeluk pria yang bermain di Liga Meksiko tersebut.

‘Priiiit…prit…prit”

Sang wasit tiba-tiba meniupkan peluitnya.

Apakah gerangan yang terjadi?

Oh ternyata sang wasit baru saja mendapatkan pesan dari asistennya melalui alat komunikasi jarak jauh yang dikenakannya.

Sang asisten yang bertugas memantau pertandingan dari sebuah ruangan stadion yang di dalamnya terdapat beberapa layar tv besar tampaknya melihat bahwa Eduardo sudah terlebih dulu berada di posisi offside sebelum menceploskan bola ke gawang.

Wasit pun menganulir gol tersebut dan para pemain Chile , termasuk Eduardo tak bisa menyembunyikan ekspresi kekecewaannya.

Menjelang pertandingan berakhir Eduardo lagi-lagi berhasil membobol gawang Kamerun. Sayang, gol itu juga tidak disahkan karena hakim garis mengangkat benderanya tanda telah terjadi pelanggaran.

Kamera pun kembali menyorot wajah Eduardo, kali ini ia terlihat seperti marah, ekspresi wajahnya seolah-olah ingin berkata, “Yaelah sit..sit.., salah apa sih gue sama elo? Masa tiap gue ngegolin dianulir mulu?”

Priiiit….prit..prit

Lho kok? Wasit tiba-tiba meniup peluit lagi. Kali ini ia mengesahkan gol Eduardo!

Lagi-lagi karena ada info dari asistennya yang mengawasi di balik layar TV itu!

Eduardo yang tadinya sudah lemas pun merayakan golnya itu dengan memeluk rekan-rekannya yang sedang melakukan pemanasan di tepi lapangan.

 

Kejadian di atas mungkin akan sering kita temui pada pertandingan-pertandingan internasional di masa mendatang.

Hal ini merupakan akibat dari keputusan badan sepakbola dunia FIFA untuk segera menerapkan penggunaan Video Asisstant Referee (VAR) dalam pertandingan resmi.

Dengan teknologi VAR, wasit kini tak akan lagi membuat keputusan-keputusan yang salah, yang merugikan satu tim. Kalaupun salah mengambil keputusan, ia akan diberitahu oleh asistennya yang memantau setiap pergerakan di lapangan melalui kamera TV dan video replay, seperti terjadi di atas.

Masalahnya, tak semua orang setuju dengan penggunaan teknologi ini.

Mereka yang tak setuju menganggap bahwa penggunaan VAR akan membuat sepakbola kehilangan jatidirinya.

Harus diakui, salah satu penyebab olahraga ini terus digemari selama berabad-abad adalah karena banyaknya kontroversi yang ada di dalamnya. Pendukung tim yang kalah biasanya cenderung menyalahkan kinerja wasit, sedangkan pendukung lawan tentu tak terima dan akan balas menyerang.

Maka terjadilah perdebatan seru yang bisa berlangsung sampai berhari-hari.

Itulah sepakbola yang kita kenal selama ini.

Saya sendiri bukan termasuk pihak yang anti terhadap penerapan VAR. Saya selalu ingin pertandingan berlangsung adil dan saya juga benci mendengar ocehan-ocehan negatif tentang wasit yang selalu saja keluar dari pihak yang kalah.

Hanya saja saya merasa bahwa penggunaan VAR cukup mengganggu suasana menonton sebuah pertandingan. Penggunaan VAR membuat pertandingan sering terhenti di momen-momen menegangkan.

Ini karena dibutuhkan waktu beberapa saat bagi wasit untuk meninjau video replay dan kemudian mengambil keputusan.

Saya lebih setuju jika penggunaan VAR hanya digunakan jika ada permintaan dari salah satu tim. Jadi jika ada satu tim yang merasa dirugikan dengan keputusan wasit, tim itu berhak meminta wasit meninjau ulang keputusannya dengan menggunakan VAR.

Saya rasa FIFA patut meniru sistem serupa di bulutangkis. Kemarin saya baru tahu kalau setiap pemain bulutangkis  yang sedang bertanding mendapatkan dua kali kesempatan untuk mengubah keputusan wasit melalui video replay di setiap set-nya.

Sistem ini menurut saya bisa diterapkan di sepakbola untuk membatasi penggunaan VAR agar tidak terlalu berlebihan dan mengganggu mood penonton.

Memang saat ini sepertinya sulit menerima keberadaan VAR. Selama bertahun-tahun kita menonton pertandingan bola tanpa ada perubahan berarti.

Dibutuhkan waktu agar kita terbiasa dengan penggunaan teknologi di sepakbola.

Sebelum itu terjadi penggunaan VAR akan selalu terlihat konyol.

Tetapi sebenarnya masih ada yang lebih konyol dari itu, yakni andai Liga Indonesia ikut-ikutan menerapkan teknologi VAR dengan kondisi siaran sepakbola dan video replay yang masih sangat-sangat buruk.

 

 

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

5 replies to Tentang Penggunaan V.A.R di Sepakbola

  1. Saya juga kurang setuju dengan V.A.R mas. Soalnya sifat kemanusiaan wasit yg kadang salah itu membuat pertandingan lebih hidup. Jika nanti sudah resmi mengunakan video dan mengambil keputusan dari tayangan video, takutnya pertandingan nggak lagi menjadi seru jarena pelanggaran2 kecil yg bisa dimaklumi pun bakalan ikut hilang. Nanti pemainnya jadi seperti robot deh. Serba hati2.

    • Iya mas, makanya menurut saya penggunaannya lebih baik dibatasi, digunakan kalau pas wasitnya ragu atau ada protes dr pemain.

  2. Katanya sih VAR baru tahap uji coba mas, tapi mungkin akan digunakan pada piala dunia tahun depan. Liga Italia juga kabarnya musim depan bakalan pakai VAR. Kalau Indonesia sih masih lama kayaknya. 😀

    Setahu saya yang berhak mengamati VAR itu cuma asisten wasit.
    Dia nggak bakalan curang juga sih, toh Video Replay-nya ditayangkan juga di TV dan disaksikan oleh jutaan orang.

  3. masih belum bisa bayangin kalo wasit sepakbola dikasih aturan VAR kaya bulutangkis..

    • Tapi setidaknya menurut saya sistem itu lebih bagus dari sistem yang diterapin di piala konfederasi sekarang.

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!