Kegagalan di SEA Games dan Masa Depan Timnas U-23

timnas u 23
gambar : twitter @pssi_fai

Timnas Indonesia kembali gagal meraih gelar di pentas internasional.

Kali ini giliran tim u 23 yang harus puas membawa pulang medali perunggu dari ajang SEA Games 2017.

Meski sebenarnya tim ini tampil cukup baik namun kegagalan tetaplah kegagalan.

Kita tak seharusnya terus menerus gagal di level asia tenggara.

Saya pribadi beranggapan bahwa di antara negara-negara yang berpartisipasi di SEA Games kali ini, hanya ada satu atau dua tim yang sedikit lebih dari timnas kita.

Jika melihat pada Thailand yang lagi-lagi berhasil merebut emas di ajang ini, mereka sebenarnya bukan tim yang luar biasa. Kita bahkan sempat menahan imbang tim ini di fase grup.

Secara keseluruhan timnas selalu terlihat mampu mengontrol permainan menghadapi tim manapun.

Lalu Kenapa Timnas Kembali Gagal?

Salah satu penyebab utamanya adalah performa lini depan Indonesia yang kurang begitu garang.

Lihatlah statistik kedua penyerang utama timnas.

Marinus Wanewar dan Ezra Walian masing-masing hanya mampu mencetak sebiji gol, itupun ke gawang Timor Leste dan Kamboja yang notabene merupakan dua tim terlemah di grup.

Memang di era sepak bola modern tugas penyerang tak hanya mencetak gol saja. Tetapi melihat lawan-lawan yang dihadapi Indonesia, kedua striker timnas harusnya bisa menunjukkan performa yang lebih baik.

Selain itu saya juga merasa lini tengah timnas tampil kurang tenang. Saya sangat mengagumi Evan Dimas, tetapi penampilannya di ajang SEA Games tampak terlalu monoton.

Evan seringkali terburu-buru melakukan umpan-umpan panjang ke sisi sayap yang jauh dari efektif. Hal ini membuat serangan Indonesia mudah terbaca.

Di lini belakang secara mengejutkan timnas tampil cukup baik. Hanya saja mereka seringkali memberikan tendangan bebas / sudut yang terlalu “murah” kepada lawan.

Beruntung kemampuan duel udara lawan-lawan yang kita hadapi bisa dibilang sangat buruk. Tetapi tetap saja salah satu dari sekian banyak situasi set-piece tersebut mampu dimanfaatkan Malaysia di semifinal.

Kemudian satu hal lagi yang cukup disayangkan adalah begitu mudahnya pemain timnas mendapatkan kartu kuning. Hal ini berdampak pada pemilihan 11 pemain utama yang jarang sekali bisa full team.

Pemain-pemain utama seperti Evan Dimas, Hansamu Yama, Hargianto, Rezaldi Hehanussa, dan Marinus Wanewar bergantian absen hanya karena akumulasi kartu kuning.

Pertahankan Luis Milla

Harus diakui saya sempat meragukan kemampuan pria asal Spanyol ini setelah kegagalan di kualifikasi piala asia U 23 lalu.

Tetapi Milla menunjukkan kelasnya di ajang SEA Games.

Seperti sudah saya singgung sebelumnya, timnas asuhan Milla tak pernah terlihat kelabakan siapapun lawan yang mereka hadapi. Hansamu Yama dkk selalu terlihat tahu persis apa yang harus mereka lakukan.

Salah satu bukti betapa briliannya seorang Luis Milla adalah di pertandingan menghadapi Vietnam.

Indonesia yang tak diperkuat Evan Dimas kala itu malah harus bermain dengan 10 orang sejak pertengahan babak kedua.

Skenario ini sebenarnya biasa dialami timnas dan biasanya setelah itu mereka menjadi panik dan kalah.

Tetapi itu tidak terjadi, pertandingan berakhir imbang 0-0. Milla berhasil membuat anak-anak asuhannya bermain tenang dan bahkan mampu terus memberikan ancaman meski kalah jumlah pemain.

Setiap kali menghadapi tantangan, setiap kali ada pemain utama yang absen, Milla entah bagaimana selalu menemukan solusinya.

Dengan Asian Games yang akan bergulir kurang lebih setahun lagi, saya rasa Luis Milla patut dipertahankan.

Tim ini sudah cukup solid, mungkin hanya perlu mematangkan kerjasama dan pemahaman strategi.

Mungkin akan ada penambahan satu dua pemain baru tetapi saya rasa sebagian besar pemain yang tampil di SEA Games sangat layak dipertahankan.

Saya merasa tim ini punya potensi untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. Barangkali puncak penampilan mereka adalah di ajang Asian Games tahun depan.

Kita tak perlu khawatir karena saya yakin kali ini timnas berada di tangan yang tepat.

Vamos Milla!

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

2 replies to Kegagalan di SEA Games dan Masa Depan Timnas U-23

  1. Kayaknya dari tahun ke tahun, dilatih siapa pun, untuk menjadi juara tasanya seperti mimpi. Paling banter cuma runner up. Dan anehnya hal tersebut terus menerus terjadi 😀

    • Ya, kalau menurut saya sih karena timnas selalu bergonta-ganti skuad dan pelatih. Makanya saya berharap kali ini Luis Milla diberikan waktu yang panjang supaya dia bisa membangun tim yg benar-benar siap mental untuk menjadi juara.

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!