Tips Menulis dari Prie G.S.

eq54w9myfn6xfd28p92g
tips menulis/ cloudfront.net

Prie G.S. adalah orang pertama yang membuat saya kagum akan keindahan sebuah tulisan. Saya rutin membaca tulisan-tulisan beliau di harian Suara Merdeka sejak kira-kira sepuluh tahun yang lalu.

Kelebihan tulisan-tulisan Prie G.S.  adalah kejujuran dan keasliannya. Beliau selalu menggunakan pilihan kata yang tepat di setiap tulisannya. Itulah yang membuat tulisannya selalu terasa berbobot meski kadang topiknya  sangat sederhana.

Prie G.S. selalu bisa membungkus tulisannya dengan cantik dan menggelitik sehingga setiap orang yang membaca tulisannya mau tak mau akan tersenyum geli.

Kang Prie, sapaan akrab Prie G.S., sekarang lebih dikenal sebagai seorang budayawan. Pria asal Kendal, Jawa Tengah ini mengawali kariernya sebagai seorang Kartunis dan Wartawan di harian Suara Merdeka.

Sampai sekarang sudah tak terhitung jumlah karya seni yang dihasilkannya baik itu puisi, cerpen, kartun,dll.

Saat ini Prie G.S. sering diundang sebagai pembicara di acara-acara instansi pemerintah maupun swasta. Beliau juga rutin menulis di fans page Prie G.S. refleksi serta mengisi talkshow radio.

 

Berikut adalah tips menulis dari Prie. G.S yang saya kutip dari sebuah postingan di fans page Facebook  Prie GS-Refleksi.

 

Agar Tulisanmu Enak Dibaca dan Tahan Lama

Kamu boleh menulis dengan ragam bahasa apa saja, tapi pada awalnya menulislah dengan bahasa “formal” dengan ejaan yang benar. Kebenaran sebuah ejaan menggambarkan keterpelajaran seorang penulis. Aneh bukan jika misalnya Harry Potter ditulis dengan gaya:
“Gue pikir Voldemort tuh penyihir lebay. Gimana pendapat lo?” tanya Ron.

“Gua mah…” jawab Harry.

“Lhah Gua? Gue pakai gue kok lo pake gua. Kagak kompak kite!”

Sudah tentu tak ada ragam bahasa yang baik dan buruk, yang salah dan yang benar. Semua ada konteksnya. Tetapi sebagai pola berlatih, memulai dari yang mendasar. Itulah awal kau akan memiliki apa yang kelak disebut plastisitas bahasa.

Mengapa formalistas penting dikuasai? Bukan untuk menjadikanmu seorang formalis. Melainkan agar kau luwes di sembarang keadaan pada waktunya kelak. Formalitas itu kemampuan naik sepeda. Keluwesan itu kemampuan ngebut. Naik sepeda saja tak cukup tanpa berani ngebut. Tapi mana mungkin ngebut tanpa kemampuan bersepeda. Kemapuan pertama ini membosankan, melelahkan membutuhkan ketahanan dan keberanian. Tapi jika kau kuat hasilnya nanti akan sepadan.

Setelah kau yakin dengan kemampuan bahasa formalmu, kini menulislah dengan bahasa yang nyaris sesukamu. Mau formal, bukan formal, setengah formal, mau setengah sastra, mau sastra sekali, silakan saja. Aku belum bicara soal jenis tulisan apa yang akan kau tulis. Tapi masih kubatasi sekadar ”menulis”.

Pendekatan pertama yang kuanjurkan dalam menulis adalah ”kontektualitas” dan ”aktualitas” mu. Kalau kau masih muda, berbahasalah seperti jiwamu. Kalau kau sudah bau tanah sepertiku ya cerminkan ketuaanmu. Itu akan membuat nyaman pembacamu dan dirimu sendiiri. Mengapa nyaman? Karena di dalam tulisan semacam itu akan tergambar apa yang oleh Judit Carter disebut The Message of You. (wah aku mulai seperti dosen ya!)

Kini, kau sudah mulai terampil menulis. Ketrampilan pertama yang kuanjurkan adalah ketrampilan “intelektual”. Ketrampilan ini akan membuatmu terlihat pintar (syukur pintar beneran). Awal-awal aku menulis teknik ini banyak kupakai. Sebutlah banyak buku dan banyak pakat sebagai alat.

Misalnya:
“Di dalam teori gelombang, Alvin Tofler menegaskan adanya gelombang ke tiga sebagai tahapan paling ekskalatif. Itulah gelombang dengan informasi sebagai ujung tombaknya. Tetapi tesis Tofler ini memiliki kelemahan. Setidaknya menurut pandangan pakar kebatinan nuklir asal Kutub Selatan, Mukidi, infromasi tak sekuat yang dibayangkan Tofler. Menurut Bung Muk, begitu Mukidi kerap disapa, informasi masih kalah kuat dibanding fitnah.”

Bayangkan jika begitu gaya tulisanmu
Tak jelek bukan?

Modal Emosional dan Menulis

Telah kujelaskan menulis secara intelektual, teknik yang membuat tulisan menjadi tampak pintar, gagah, dan ”ilmiah”. Tetapi bagiku, tulisan semacam itu baru lapis pertama dalam tiga lapis strata. Tangga berikutnya adalah menulis dengan modal emosional. Teknik ini membuat tulisan bukan lagi sekadar pintar, tetapi juga menyenangkan. Si pintar belum tentu menyenangkan bukan? Si cantik tak mesti imut bukan?
Tulisan emosional berwatak lebih reflektif dan mulai meninnggalkan aneka fashion dan snob. Tak juga mulai butuh, misalnya menulis: ”suatu siang di langit Manhattan…”, bukan karena ia sedang ingin menceritakan tentang Manhattan, melainkan karena ia ingin menegaskan bahwa ia pernah pergi sampai ke Manhattan.

Bagi pembaca berpengalaman ia, dengan intuisinya akan mengerti, mana pihak yang sedang bergaya, mana pihak yang sedang menceritakan kewajaran. Butuh waktu untuk sampai tahapan ini. Bergaya dan pamer tentu saja penting sebagai lauk-pauk. Tetapi ada titik kewajarannya. Penulis yang kehilangan kewajaran ia akan tertahan di zona teknis.

 

 

 

AuthorFirman

Penyuka sepak bola dan bacaan.

20 replies to Tips Menulis dari Prie G.S.

  1. Waw,….ketrampilan intelektual dan modal emosional.
    Menulis pinter dan menyenangkan.

    • Pengennya bisa bikin tulisan yang kayak gitu mas, tapi sekarang masih harus banyak belajar, hehehe

      • Anda bagus koq mas Firman, sudah sangat bagus, klo saya jls, masih bljar

        • Thanks mas des14, komentar yang seperti ini nih yang bikin saya semangat ngeblog, hehehe

          Tapi saya percaya sih kalau kita rajin nulis dan baca postingan-postingan blog , lama-lama tulisan kita jadi makin oke, butuh terus belajar memang.

  2. Kalau teknik yang mengutip pendapat2 ahli diatas, yg disebut tahap pertama, sebenarnya digunakan untuk menopang ide kita. Agar pembaca percaya dengan apa yang kita sampaikan. Terutama bagi penulis yg bukan siapa siapa.

  3. terimakasih postingan ini mas Firman, saya tahu Prie GS dl di Suara merdeka dan pernah lihat di TV, tapi belum pernah baca bukunya. Jd sdkt tahu ttg beliau dari postingan ini

  4. Haha kan dulu pas mas pertama kali memperkenalkan diri bilangnya begitu, des14=december fourteen.

  5. Jujur dan asli tapi kok dibungkus hehe

    • Bungkusnya transparan om, hahaha.

      Maksud saya, setiap tulisan Prie GS terasa tulus dan jujur. Hanya saja , beliau menulisnya dengan sangat cantik sehingga seremeh apapun topiknya, pembaca selalu dibuat kagum.
      Jadi yang saya maksud dengan “bungkus” di sini adalah pemilihan kata dan rangkaian kalimat.
      Bungkusnya cantik tapi isi-nya tetap asli kok, hehehe

  6. Oh iya, nanti saya coba buka, makasih infonya mas Firman

  7. prie G S adalah salah satu orang yg menginspirasi saya… saya sering ketemu dengan beliau.. apalagi pas msih dsemarang…nk guyon suka blak”an.. haha….. dasar sang penggoda

    • Hahaha emang keliatan dari tulisan-tulisannya, beliau adalah orang yang blak-blakan, tapi anehnya nggak pernah menyinggung siapapun.

      Saya malah belum pernah ketemu langsung mas, cuma ngikutin tulisan-tulisan sama siaran radio beliau. 😀

      • istilah tepatnya untuk beliau adalah “kesombongan yang indah” haha….
        klau saya alhmdulillah sering bertemu dg beliau…. wah klau pas gk on air seru mas… haha… ngakak berpahala…

        • Wah iya seru banget kayaknya, kapan2 mungkin saya harus datang ke acara2nya beliau.

          • smga bisa ksampean mas…:)

  8. Sangat menginspirasi,saya akan coba belajar yaa mas
    #ClassNewbie

  9. Pingback:

Punya pertanyaan atau pendapat lain? Jangan ragu untuk berkomentar!